NovelToon NovelToon
Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.

Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.

Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.

Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan dan Nasehat Bu Rara

#9

Farhan masih terjebak di ruang meeting bersama orang-orang penting di dalam perusahaannya. Mereka tengah memasang tembok pertahanan setinggi dan sekuat mungkin. Demi bersiap dari serangan badai besar yang kemungkinan akan datang bersamaan dengan permintaan Dina yang ingin bercerai darinya. 

Manajer keuangan adalah orang paling sibuk saat ini, karena ia tengah memimpin perhitungan ulang aset perusahaan, termasuk investor yang harus dipastikan tetap berpihak pada Permana Group meski saham milik Pak Hermanto telah ditarik. 

“Berapa total dukungan kita saat ini?” tanya Farhan, semakin resah di tengah proses perhitungan saat ini. 

“Posisi kita masih aman meskipun persentasenya baru 50% lebih sedikit, Tuan.” 

Brak! 

“Segitu kalian bilang aman?!” bentak Farhan geram. 

Pak Jatmiko menepuk pundak Farhan, “Tenangkan dirimu, dia tak bersalah. Ayah sudah minta notaris memanipulasi dukungan saham yang dulu diberikan Hermanto pada Permana Group,” bisik Pak Jatmiko dengan tawa liciknya. 

“Lagi pula saat itu, perjanjian dibuat atas dasar kekeluargaan, tidak ada kekuatan hukum tetap selain hanya selembar materai saja. Itu urusan mudah, Ayah akan minta notaris memanipulasinya.” 

Farhan bisa bernafas lega mendengarnya, meskipun dalam hati kecilnya ia merasa bersalah, namun, keserakahan pelan-pelan mengubur perasaan tersebut. 

•••

Sementara itu, di tempat lain. 

Sarah baru saja tiba di rumah kontrakan pria simpanannya, pria itu sudah menanti kedatangan wanita yang telah sekian lama menjadikannya pria simpanan, alias gigolo. 

“Datang juga kamu, Sayangku,” sambut pria itu yang langsung memeluk serta mencium Sarah sebagaimana biasa dikala mereka berjumpa. 

Namun, Sarah menepis tubuh pria itu, seolah-olah merasa jijik. “Aku tak punya waktu lama, karena Malika kutitipkan pada mertuaku, apa yang ingin kamu bicarakan?” 

Pria itu bernama Cakra, tampilannya jelas tampan dengan tubuh sixpack menggoda iman, tak mengherankan karena itu adalah modal dagangannya. Tapi, sayang, ia tak beruang seperti Farhan, jadi Sarah tentu tetap memilih suaminya. 

 Cakra terlihat tak suka dengan sikap Sarah yang menyimpan gelagat seolah hendak menyingkirkannya. “Itu urusan gampang, tapi sebelum bicara tidakkah kau ingin dipuaskan dulu seperti biasa?” bisik Cakra sembari menjilati telinga sarah. 

“Menjauhlah, mmhhh—” Sarah menolak, namun, birahinya yang tak terpenuhi selama dua malam ini membuat mulutnya mengeluarkan suara jahanam. 

“Tidak, aku sangat mengenal tubuhmu, kamu sedang bergairah, apakah suamimu kembali mengecewakanmu?” bisikan Cakra semakin liar, tak hanya itu, kedua tangannya sudah merem as kedua bukit besar kebanggaan Sarah. 

Sarah tak menjawab, tapi wajahnya merem melek menikmati sentuhan Cakra yang semakin kasar. Tangan pria itu bahkan sudah lancang masuk ke balik rok yang dikenakannya saat ini. “Uuhhh, kamu langsung basah. Yakin mau pulang?” 

Akhirnya Sarah tak tahan, ia pun pasrah pada godaan pria simpanannya itu, lagi pula salahkan saja Farhan, kenapa dua malam ini selalu menolak bersentuhan? 

Dua manusia itu pun bergulat dengan panasnya, sebagai gigolo profesional, Cakra sangat tahu bagaimana cara memuaskan wanita-wanita yang membayarnya, hingga mereka minta nambah-nambah, pokoknya tak cukup dua kali, minimal tiga kali permainan barulah para pelanggannya puas. 

Entah berapa kali Sarah menjerit keenakan siang itu, saat tubuhnya digagahi pria tersebut. Ia benar-benar lupa bahwa saat ini, Bu Sintia sedang menunggu bersama bayinya di rumah. Bukannya segera pulang ke rumah malah bablas pasrah mendesah saat sawahnya digarap. 

Di rumahnya, Bu Sintia berkali-kali menghubungi Sarah, namun tak mendapatkan jawaban, sementara Malika sudah menangis histeris karena mencari ibunya. 

Baby sitter yang dipekerjakan oleh Sarah pun tak mampu menenangkan Malika, sementara Sarah lupa meninggalkan ASI perah untuk bayinya. 

“Duh, kemana, sih, dia?” keluh Bu Sintia kesal. Sarah tak kunjung pulang, tak juga menjawab panggilan. 

•••

Sore itu, Dina masih duduk termenung menatap perkebunan hijau milik kedua orang tuanya. 

Tak lama kemudian, Bu Rara datang menyuguhkan minuman hangat, serta sepiring singkong goreng melepuh kesukaan Ardina. 

“Wah, Mama tahu aja kalau aku sedang lapar,” kata Dina sumringah, saat melihat singkong melepuh di atas meja. 

Sungguh ajaib, karena dua hari di rumah orang tuanya, Dina sama sekali tak menolak apapun hidangan yang dibuat mamanya. Meski begitu, Bu Rara tahu bahwa putrinya lebih banyak diam sejak pulang ke rumah. 

“Ayo, makan dulu, biar bayimu dapat nutrisi.” Bu Rara langsung menyuapkan sepotong kecil singkong pada putrinya. Dan dengan lahap, Dina mengunyahnya. “Pelan-pelan saja,” tegur Bu Rara, saat melihat Dina hampir tersedak sebab ia makan buru-buru. 

“Iya, Ma. Habisnya ini enak sekali, hehehe,” ungkap Dina jujur. 

“Tadi pagi sebelum pergi, papamu menyempatkan diri cabut singkong di pojok sana, karena dia tahu ini makanan kesukaanmu.” 

“Memang Papa pergi kemana, Ma?” tanya Dina heran, sebab yang ia tahu Pak Hermanto hanyalah pensiunan biasa, yang menghabiskan waktu dengan hidup slow living.

“Kalau Mama nggak salah dengar, papamu pergi menemui teman-temannya,” jawab Bu Rara, tanpa menjelaskan maksud kepergian Pak Hermanto. 

“Pasti karena aku, ya, Ma? Maaf.” 

Ekspresi Dina kembali muram, ia jadi merasa bersalah karena kembali merepotkan kedua orang tuanya. 

“Tak perlu minta maaf, Nak. Ini juga bagian dari tugas kami sebagai orang tua, yang memperjuangkan hak anaknya.” 

Kalimat sederhana itu sukses membuat pertahanan Dina runtuh, hingga air matanya kembali jatuh. Dina menyandarkan kepala di bahu Bu Rara. 

“Ma— apa aku salah?”

“Tidak.”

“Lantas, apakah aku adalah istri yang buruk?”

“Itu juga, tidak.” 

“Lalu kenapa semuanya berakhir seperti ini?”

Perlahan, tangan Bu Rara melingkar di bahu Rara, wanita itu memeluk putrinya erat. “Karena tidak semua hal buruk yang terjadi dalam hidup adalah kesalahan orang yang mengalaminya. Bisa jadi ini hanya musibah, sebab Allah ingin menaikkan derajatmu.” 

Dina terdiam, ini pertama kalinya sejak meninggalkan rumah Farhan, ia merasa ada seseorang yang tidak meminta dirinya untuk mengerti keadaan orang lain. 

Tidak ada juga suara pembelaan Farhan pada istri mudanya, atau suara mertuanya yang meminta Dina mengalah demi Sarah. Dan yang terparah, memintanya bersabar agar Farhan merasakan memiliki anak yang normal, bukannya calon anak yang kelak akan terlahir cacat.

Di rumah ini, ia hanya menjadi seorang anak yang sedang terluka, dan butuh perlindungan. 

“Sudah, jangan menangis lagi, kamu berhak bahagia dengan jalan hidup yang kamu pilih.” 

“Iya, Ma. Aku janji akan kuat, demi anakku, demi diriku sendiri, dan juga demi menjaga martabat Papa dan Mama.” 

Tanpa mereka sadari, Pak Hermanto melihat anak dan istrinya dari balik jendela rumah, ia tersenyum melihat putrinya yang mulai bangkit, dan tidak lama-lama tenggelam dalam keterpurukan. 

“Alhamdulillah, Ya, Allah, usaha hamba tak sia-sia. Terima kasih, karena Engkau telah membuka mata hati hamba, hingga hamba bisa melihat dengan jelas, seperti apa wajah asli orang yang pernah hamba beri pertolongan.” 

1
Shee_👚
liat perkebunan sekalian liat pujaan hati ya zam, sambil berenang minum air🤭
Shee_👚
intinya azzam gak mau di panggil nama doang, harus ada embel - embelnya. gitu kan ya zam🤣
Ma Em
Ayo Zam jgn malu dan ragu2 segera bilang bahwa Azam suka sama Dina jgn ditunggu lama lama nanti Dina nya di serobot orang .
Shee_👚
cie cie azzam mulai nyaman sama panggilan mas😂
vania larasati
lanjut
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
astaga, bacanya sampai ikut ikutan gelo, senyum senyum sendiri 🤣🤣🤣🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hahaha.... iya🤣🤭
total 2 replies
Nar Sih
blm puas chat dgn dina ,eh..bpk nya wa ,lebih baik dtg lansung azam ke kebun dina biar tau dan jls
🌷Vnyjkb🌷
cieee cieee,, basabasi pakkk??? calon mantu tuuu🤣🤣
🌷Vnyjkb🌷
🤣🤣🤣🤣abg tua pasangan masdud dan mbakjan
Bunda Idza
😂😂😂😂😂😂😂😂😂 begitulah Dud Jan yang punya something
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
dyah EkaPratiwi
benar kata bunda zam
Sh
Mas Azam atau Mas Antam😂😂😂
Sh: aku ga usah banyak banyak, 9 kg qja😂😂
total 4 replies
Shee_👚
ternyata dina gak sadar🤣🤣
Shee_👚
itu baru dipanggil mas, coba kalau di panggil sayanggggg apa gak kelojotan itu jantung🤭
Shee_👚
bagus sha terus ingetin apa yang azzam lakukan😂
Shee_👚
nah itu baru nunggi balasan, ampe gelisah begitu, apa lagi nunggu balas perasaan🤣
Shee_👚
terserah mau ngomong apa, tanya aja di peres belum asi, apa mau bantu peresin🤣
Nar Sih
plong kan azam hti mu udah dibls tuh wa nya jdi senyum,,kan ,dobel up lgi kak moon🙏🥰
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!