Novel ini bergenre horor komedi yang menghibur meski horor. Cinta bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja. Termasuk cinta Mbak Kunti kepada Nurdin, bestienya yang notabene-nya manusia. Karena patah hati, Mbak Kunti pindah ke daerah lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Lubi Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT SALAH SERVER (25)
Penulis: Linda Lubi
Cuaca dalam kondisi berkabut. Dari Kalimantan ke seluruh Sumatera dan Aceh. Belum lagi daerah yang lain. Benar-benar meresahkan. Membuat aktifitas tidak kondusif.
Mbak Kunti yang kini selalu rajin berburu kuliner, jadi mager mau keluar. Ia akan menggunakan kesaktiannya dalam bersihir. Apa boleh buat. Ia akan membeli kuliner dengan sihirnya. Tergantung. Kalau pedagangnya kaya, Mbak Kunti mengambilnya tanpa membayar. Kalau pedagangnya sepi, maka ia tidak akan mengambil kembaliannya.
"Buk, sarapan yang saya pesan tadi mana? Kami mau pulang." Tanya pelangan Bu Siti.
"Ini di siii...loh kok nggak ada?" Bu Siti kelabakan.
Dia ingat betul sudah membungkus 2 bungkus nasi gurih. Tapi kok nggak ada? Apa dia lupa?
"Sebentar ya dek, Ibuk bikin lagi." Bu Siti tepuk jidat.
Jangan sampai ia dibilang sudah pikun. Nanti pelanggan-pelanggannya justru nggak percaya lagi jika masakannya bersih. Orang pikun mana mungkin bersih. Ihhh. Bu Siti mode panik.
Mbak Kunti sudah mengumpuli nasi gurih, kopi, dan kue-kue. Mbak Kunti juga mencuri piring dan sendok Bu Siti. Karena selain nasi gurih, ia juga mengambil lontong Medan. Pakai telur dan teri sambal. Harus ada piring dan sendok karena berkuah.
Semua makanan itu ia sihir menjadi awet dan tidak basi. Akan ia makan dari pagi, siang dan malam. Gkgkgk.
Ternyata lontong Medan memang mantap. Gurih dan endul. Beda dengan lontong di Jawa. Nggak sekomplit lontong Medan. Ada gulai nangka, tauco, serundeng, ikan teri balado, telur balado dan kerupuk merah putih. Dalam hitungan detik lontong sudah habis. Gragas banget Mbak Kunti. Hihihi.....
Abang Kunti juga tidak mau bersusah payah keliling mencari makanan. Ia dengan sihirnya, mengambil makanan dalam hitungan detik. Lantai rumah pohonnya sudah tersedia mie gomak, nasi campur, kopi dan kue serabi. Clinggg.
Dalam kondisi berkabut dan nelangsa begini, Abang Kunti lebih memilih menggunakan kesaktiannya daripada digebukin manusia karena ketahuan mencuri. Ia nggak punya duit untuk membeli.
Ia makan dengan lahap. Kue serabi dan kopi lebih bestian. Ia memakannya sebagai makanan penutup setelah makan mie gomak. Rasa andaliman dan kecombrangnya kuat banget. Enaknya sadis banget. Yang belum pernah coba, ayo merapat.
Kabut asap ini membuat mataku perih. Manusia pasti jauh lebih tersiksa. Selain mata, mereka juga pasti sesak napas. Ada apa sih ini? Aku kayak ketinggalan berita saja. Harusnya radarku jauh lebih cepat daripada manusia.
Aku menikmati kopi penuh perasaan. Jadi ingat Mbak Kunti. Ia kan doyan banget minum kopi. Sebenarnya kami jodoh. Sama-sama anomali. Kebanyakan kuntilanak dan kuntilanang memang suka makan yang berbau amis dan darah. Terutama darah bayi yang lebih gurih.
Apalagi yang penyuka terasi dan penyimpan terasi, pasti mereka doyan dan jadi penghuni rumah manusia yang doyan masak pakai terasi. Terutama sambal terasi.
Aku jadi mengantuk. Lebih baik aku tidur saja. Siapa tau bisa bermimpi Mbak Kunti. Ihihihi.
Mbak Kunti menikmati lontong Medan-nya dengan puas. Rasanya juara. Kalau begini bisa tiap hari dah ia curi lontong Bu Siti. Karena Mbak Kunti tak ingin meninggalkan uang tanpa kembalian. Bu Siti pedagang sukses. Hilang 1 sampai 3 bungkus kan nggak rugi. Uang Bu Siti banyak soalnya.
Mbak Kunti berusaha adil. Pedagang yang kurang laris dagangannya akan dia beli. Walau makanannya dengan cara mencuri juga tapi kan ia tinggalkan selembar uang merah.