NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBANGKITAN DAN JUS JERUK YANG MENCURIGAKAN

Nadia membuka matanya.

Hal pertama yang ia rasakan bukanlah hangatnya matahari pagi atau suara klakson kendaraan Jakarta, melainkan hawa dingin yang menusuk tulang dari seprai satin yang licin. Ia mengerjapkan mata, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya redup di sekitarnya. Langit-langit kamar itu terlalu tinggi. Sebuah lampu gantung kristal raksasa tergantung di tengah, memantulkan cahaya remang-remang yang membuat seluruh ruangan terlihat seperti interior museum barang antik.

Tiba-tiba, penglihatan Nadia menyempit.

Tepi-tepi ruangan menjadi kabur, dan fokus pandangannya tertarik secara paksa ke satu titik: wajahnya sendiri. Rasanya ada lensa kamera raksasa yang tidak terlihat, perlahan-lahan mendorong masuk ke ruang pribadinya, memperbesar setiap detail pori-pori di hidungnya.

"Mundur!"

Nadia refleks menyibak udara kosong di depannya dengan tangan, suaranya serak karena baru bangun tidur. "Pori-pori gue belum di-blur! Ini resolusi 4K, woy! Jaga jarak!"

Efek zoom-in itu seolah terhenti sejenak, seolah "kamera" imajiner itu bingung dengan reaksinya, sebelum akhirnya perlahan menarik diri. Penglihatan Nadia kembali normal, ruangan yang luas dan megah itu kembali utuh di matanya.

Nadia mengucek matanya kasar. Apa-apaan ini? Aku tidur nonton layar HP lagi sampai matanya minus? Atau ini mimpi aneh karena kemarin makan sambal kepedesan?

Ia duduk di tepi kasur yang besarnya bisa untuk menampung sepuluh orang. Kakinya menyentuh karpet tebal berwarna merah marun yang empuknya tidak masuk akal. Nadia mulai memperhatikan sekelilingnya. Ini bukan kamarnya di apartemen sewaan seluas 21 meter persegi. Ini adalah kamar tidur orang gila yang punya uang terlalu banyak.

Perabotan kayu jati gelap dengan ukiran rumit berdiri kokoh di setiap sudut. Bingkai foto berlapis emas menghiasi dinding yang dilapisi wallpaper bermotif bunga damask. Gorden beludru tebal menutupi jendela besar, menyisakan celah kecil yang membiarkan satu sinar matahari masuk—tepat jatuh di atas meja rias. Desain interiornya sangat spesifik. Sangat familiar. Ini adalah desain interior rumah orang kaya Indonesia di tahun 1995.

Click.

Pintu kayu solid terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan seragam maid hitam-putih yang disetrika licin tanpa satu pun kerutan masuk dengan langkah tegap. Wajahnya datar, tatapannya kosong, persis seperti figuran sinetron yang hanya diberi instruksi "berjalan dari pintu ke meja". Di tangannya, ia membawa nampan perak yang berkilau.

"Selamat pagi, Nona Vania," ucap pelayan itu dengan nada monoton. "Ini sarapan Nona."

Nadia—yang otaknya masih berusaha memproses panggilan 'Nona Vania'—menatap nampan perak itu.

Di atas nampan yang terlihat seperti biasa dipajang di museum sejarah itu, terdapat dua potong roti tawar putih. Kulit rotinya sudah dipotong rapi, menyisakan bagian tengahnya yang lembut dan membosankan. Di sampingnya, berdiri tegak sebuah gelas tinggi berisi cairan berwarna oranye terang. Terlalu oranye. Oranye-nya tidak masuk akal, seperti cairan pembersih lantai merek ternama.

Nadia menatap piring itu. Lalu menatap pelayan itu. Lalu kembali menatap roti tawar tanpa kulit.

"Bu..." Nadia memulai, suaranya datar. "Ini sarapan?"

"Iya, Nona. Roti tawar dan jus jeruk, sesuai permintaan Nyonya."

Nadia menghela napas panjang. Napas yang keluar dari paru-parunya terasa berat, membawa serta rasa frustrasi yang tiba-tiba muncul tanpa alasan jelas.

Tentu saja. Tentu saja begini. batinnya. Di sinetron tahun 90-an, orang Indonesia yang super kaya raya, yang punya mansion seluas lapangan bola, nggak pernah sarapan nasi uduk, bubur ayam, atau minimal soto betawi. Mereka selalu, SELALU, sarapan roti tawar tanpa kulit dan jus jeruk. Logikanya ke mana, Bu? Di mana serat makanannya? Di mana proteinnya? Aku rindu GoFood. Aku rindu kopi susu gula aren. Aku rindu makanan yang punya rasa!

"Terima kasih. Taruh di sana," ucap Nadia pasrah, memutuskan untuk tidak memperdebatkan nilai gizi sarapan ini dengan pelayan yang terlihat siap pingsan jika diajak berdiskusi.

Pelayan itu mengangguk kaku dan mundur, menutup pintu dengan suara klik yang pelan.

Nadia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi yang terhubung langsung dengan kamarnya. Lantainya terbuat dari marmer putih dingin. Keran airnya berlapis emas. Bahkan sikat giginya pun terlihat seperti barang antik yang harus diasuransikan. Ia menyalakan air, menampungnya dengan tangan, dan menyiramkannya ke wajah. Air dingin itu menyegarkan, tapi tidak menghilangkan rasa aneh yang mengganjal di dadanya.

Ia menatap ke atas, menatap cermin besar di atas wastafel.

Nadia membeku. Napasnya terhenti di tenggorokan.

Wajah yang menatapnya dari balik cermin bukanlah wajah Nadia Kirana, staf admin berusia 28 tahun dengan kantung mata tipis dan rambut yang selalu diikat asal-asalan.

Wajah di cermin itu tajam, elegan, dan menakutkan. Tulang pipinya tinggi, alisnya melengkung sempurna dengan tatapan yang secara alami terlihat merendahkan. Rambutnya dipotong bob sebahu, disisir rapi tanpa satu helai pun yang berani bergerak. Bibirnya merah alami, dan kulitnya seputih porselen.

Ini adalah wajah Vania. Antagonis wanita dari sinetron Bunga Ditepi Jurang.

Crack.

Rasa sakit yang tajam dan menyilaukan meledak di dalam tengkoraknya. Nadia mencengkeram tepi wastafel marmer, buku-buku jarinya memutih. Ia tidak berteriak, tapi matanya terpejam rapat saat gelombang informasi asing memaksa masuk ke dalam memorinya.

Bunga kamboja yang jatuh ke jurang. Tertawa histeris di tengah hujan. Raka yang menatapnya jijik. Larasati yang menangis. Kevin yang tersenyum dingin sambil memegang dagunya. "Kau tidak akan pernah bahagia, Vania."

Ingatan itu bukan miliknya, tapi rasanya seperti ia telah mengalaminya sendiri. Rasa sakit itu mereda secepat datangnya, menyisakan Nadia yang terengah-engah, menatap cermin dengan mata terbelalak.

Dia bukan sedang bermimpi. Dia tidak sedang tertidur di depan TV.

Dia ada di dalam Bunga Ditepi Jurang. Sinetron yang biasa ia tonton bersama almarhumah ibunya setiap malam sebelum sang ibu menghembuskan napas terakhir tiga tahun lalu. Ibunya selalu menangis di setiap episode, sementara Nadia kecil selalu mengeluh betapa tidak logisnya jalan cerita itu.

Dan sekarang, Nadia ada di tubuh Vania. Karakter yang di episode 150 akan dituduh melakukan berbagai kejahatan, kehilangan akal sehatnya, dan mati tragis dengan terjatuh dari tebing curam saat mencoba menyelamatkan Raka.

"Aku..." bisik Nadia pada bayangannya sendiri. Suaranya bergetar. "Aku mati di episode 150."

Panic attack. Itu yang sedang ia rasakan. Jantungnya berdetak kencang, telapak tangannya berkeringat dingin. Dia harus keluar dari sini. Dia harus mencari cara untuk pulang. Dia hanya ingin hidup tenang, makan nasi padang, dan tidur tanpa harus memikirkan apakah besok ada rapat dengan manajer yang galak.

Tapi sebelum otaknya sempat merumuskan rencana pelarian, suara dentuman keras menggetarkan pintu kayu kamarnya.

BOOM. BOOM. BOOM.

Tiga ketukan. Berat. Otoriter. Penuh ancaman.

Nadia tersentak, punggungnya menabrak wastafel marmer.

"Vania."

Suara itu bariton, dalam, dan dingin. Suara yang terdengar seperti es batu yang dihancurkan di dalam blender. Suara yang membuat bulu kuduk di seluruh tubuh Nadia berdiri tegak. Ia tahu suara itu. Setiap penonton Bunga Ditepi Jurang tahu suara itu.

"Buka pintunya. Kita perlu bicara."

Kevin.

Pria yang ditakdirkan menjadi antagonis utama. Pria yang di naskah asli seharusnya sedang merencanakan cara untuk menghancurkan hidup Vania. Dan sekarang, dia berdiri di balik pintu kamar Nadia, menunggu dengan kesabaran yang mengerikan.

Nadia menatap gagang pintu kuningan itu, yang perlahan mulai berputar.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!