NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 — Perkenalan Resmi dengan Si Dingin

Kirana masih dilanda rasa malu ketika Bu Marlina memanggilnya menjelang siang. "Kirana, ikut saya sebentar. Pak Rangga mau bicara sama kamu."

Jantung Kirana serasa jatuh ke lantai. "Soal laptop yang tadi, Bu?"

"Sepertinya begitu," Bu Marlina tersenyum tipis, entah menghibur atau justru menahan geli. "Jangan takut, dia emang galak, tapi nggak makan orang, kok."

Kirana mengikuti Bu Marlina menuju lift menuju lantai paling atas—lantai eksekutif yang belum pernah ia injak sebelumnya. Sepanjang perjalanan, ia menyusun kata-kata permintaan maaf di kepalanya, membayangkan berbagai skenario terburuk: dipecat di hari pertama, harus mengganti laptop mahal dengan gaji yang bahkan belum ia terima, atau diomeli habis-habisan di depan seluruh staf.

Ruang kerja Rangga Arka Wijaya berada di ujung koridor, dengan pintu kaca besar bertuliskan namanya dalam huruf metalik. Bu Marlina mengetuk pelan, membuka pintu, lalu mempersilakan Kirana masuk sebelum menutup pintu dari luar, meninggalkan Kirana sendirian menghadapi sosok yang duduk di balik meja kerja besar berbahan kayu gelap.

Ruangan itu minimalis namun mewah—dinding kaca menampilkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian, rak buku tersusun rapi di satu sisi, dan di meja kerja, laptop baru sudah menggantikan yang rusak tadi pagi, mengkilap seolah baru dikeluarkan dari kotaknya.

Rangga tidak segera mendongak, masih fokus membaca sesuatu di layar. Kirana berdiri kaku di depan mejanya, tangan saling meremas di depan tubuh, menunggu dengan jantung berdebar kencang.

"Duduk," kata Rangga akhirnya, masih tanpa menatap Kirana, suaranya datar seperti tadi pagi.

Kirana buru-buru duduk di kursi seberang meja, punggung tegak seperti murid yang dipanggil kepala sekolah.

Rangga akhirnya mendongak, menatap Kirana dengan tatapan menilai yang membuat Kirana ingin menciut di tempat duduknya. "Kirana. Staf junior marketing. Hari pertama kerja."

"Iya, Pak," jawab Kirana pelan.

"Kamu tahu berapa harga laptop yang kamu rusak tadi pagi?"

Kirana menelan ludah. "Nggak, Pak. Tapi saya siap ganti rugi, meskipun mungkin harus dicicil dari gaji saya—"

"Nggak perlu," potong Rangga cepat, membuat Kirana terdiam bingung. "Perusahaan sudah punya asuransi untuk perangkat kerja. Laptopnya sudah diganti."

Kirana mengerjap. "Jadi... saya nggak perlu ganti rugi?"

"Nggak," jawab Rangga singkat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan tangan di dada, menatap Kirana lekat-lekat. "Tapi ada yang lebih penting dari itu. Ada dokumen kerja penting di laptop itu yang belum sempat aku backup. Sekarang aku harus mengulang semuanya dari awal."

"Saya... saya benar-benar minta maaf, Pak," ucap Kirana lagi, suaranya menyiratkan penyesalan tulus. "Kalau ada yang bisa saya bantu untuk mengulang dokumennya, saya siap lembur, saya siap bantu apa aja—"

"Kamu bahkan belum tahu dokumen itu isinya apa," sela Rangga, ada nada geli tersembunyi di balik ketegasannya, meski wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. "Tapi terima kasih tawarannya."

Hening sejenak. Kirana tidak yakin harus berkata apa lagi, sementara Rangga tampak mengamatinya dengan seksama, seperti sedang menilai sesuatu yang tidak bisa Kirana pahami.

"Bu Marlina bilang kamu dulu dari Wibowo Group," kata Rangga akhirnya, memecah keheningan.

Kirana menegang. "Iya, Pak. Tapi itu masa lalu. Sekarang saya cuma staf junior biasa di sini."

"Aku nggak peduli kamu dulu siapa," Rangga berkata datar, matanya tetap menatap lurus ke arah Kirana. "Aku cuma peduli kamu bisa kerja dengan baik atau nggak. Di sini, nggak ada yang namanya keistimewaan karena nama keluarga atau masa lalu. Semua orang mulai dari nol, dan dinilai dari hasil kerjanya."

Kirana mengangguk cepat. "Saya paham, Pak. Dan saya setuju banget sama prinsip itu." Sesuatu berkelebat di mata Rangga—entah terkejut, entah tertarik—sebelum kembali menghilang di balik ekspresi dinginnya. "Bagus. Karena aku nggak akan memberi keringanan buat siapa pun, termasuk kamu, hanya karena hari pertama kamu udah berantakan."

"Saya nggak minta keringanan, Pak," jawab Kirana, sedikit lebih berani dari yang ia duga sendiri. "Saya cuma minta kesempatan untuk membuktikan saya bisa kerja dengan benar, meskipun kesan pertamanya... kurang bagus."

Untuk sepersekian detik, Kirana melihat sesuatu yang mirip senyum tipis muncul di sudut bibir Rangga, meski hilang secepat munculnya, seolah pria itu buru-buru menyembunyikannya. "Kalimat yang bagus untuk orang yang baru aja menumpahkan kopi ke laptop CEO-nya di jam kerja pertama."

Kirana merasa wajahnya memanas lagi, tapi kali ini bukan karena malu semata—ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, berdesir aneh di dadanya mendengar nada suara Rangga yang untuk sesaat terdengar tidak sedingin sebelumnya.

"Kamu boleh kembali kerja," kata Rangga akhirnya, kembali menatap layar laptopnya, mengakhiri percakapan seperti menutup buku. "Tapi ingat, ini pertama dan terakhir kalinya aku memaafkan kecerobohan di divisi ini. Selanjutnya, aku harap kamu lebih hati-hati."

"Baik, Pak. Terima kasih," Kirana berdiri, membungkuk sedikit, lalu berjalan menuju pintu.

"Kirana," panggil Rangga tepat saat tangan Kirana menyentuh gagang pintu.

Kirana menoleh. "Iya, Pak?"

Rangga menatapnya sejenak, seperti mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya berkata, "Selamat datang di Arka Corporation."

Kalimat sederhana itu, diucapkan dengan nada datar khas Rangga, entah kenapa membuat Kirana tersenyum kecil saat keluar dari ruangan itu. Ia tidak tahu harus merasa apa—lega karena tidak dipecat, atau bingung dengan perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup di dadanya setiap kali mengingat tatapan tajam pria itu.

Sepanjang sisa hari itu, Kirana bekerja dengan lebih hati-hati, berusaha menyerap semua yang diajarkan Bu Marlina dan rekan-rekan lainnya, meski sesekali pikirannya melayang mengingat percakapan singkat di ruangan CEO tadi.

Sementara itu, di ruang kerjanya, Rangga duduk termenung sejenak setelah kepergian Kirana, menatap pintu yang baru saja tertutup. Sudah lama sekali sejak ada karyawan baru yang berani menatapnya langsung tanpa gemetar ketakutan, yang meminta kesempatan alih-alih keringanan, yang jujur mengakui kesalahan tanpa mencari-cari alasan.

Menarik, pikirnya lagi, mengulang kata yang sama seperti tadi pagi, sebelum akhirnya menggelengkan kepala dan kembali fokus pada pekerjaannya yang menumpuk.

Ia tidak tahu—atau mungkin belum menyadari—bahwa benih kecil sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar rasa penasaran biasa, baru saja mulai tumbuh di hatinya yang selama ini begitu terjaga dan dingin terhadap siapa pun.

🥰😘😘🥰

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!