Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Itulah satu-satunya hal yang tersisa di dunia Reyna. Dinginnya lantai beton yang kotor, dinginnya tetesan air hujan yang merembes melalui atap bocor gudang terbengkalai ini, dan yang paling menyakitkan adalah dinginnya tatapan orang-orang yang dulu ia sebut sebagai keluarganya.
Napas Reyna tersengal-sengal, setiap tarikan udara terasa seperti menghirup pecahan kaca. Darah merembes dari luka di kepalanya, membentuk genangan gelap yang perlahan merenggut sisa-sisa panas tubuh gadis itu.
Di hadapannya, berdiri dua sosok yang menjadi pusat dunianya selama ini.
Julian, tunangan yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, sedang berdiri memayungi Clarissa, adik tirinya yang tampak gemetar atau setidaknya, berpura-pura gemetar.
"Maafkan aku, Reyna," ucap Julian. Suaranya tidak mengandung penyesalan sedikit pun. Hanya ada nada merendahkan yang membuat perut Reyna mulas. "Tapi kau harus mengerti. Clarissa sedang hamil. Anakku butuh masa depan yang aman. Dan untuk itu, perusahaan serta seluruh warisan ibumu harus atas nama kami. Kau... kau hanya akan jadi beban yang memalukan."
Reyna ingin berteriak, ingin memukul wajah tampan yang dulu ia cium dengan penuh cinta itu. Namun, tubuhnya sudah tidak lagi menuruti perintahnya.
Lalu, ada Richard Arland. Ayah kandungnya. Pria yang selalu Reyna perjuangkan pengakuannya seumur hidup. Pria yang rela Reyna korbankan masa mudanya demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan.
Richard tidak menatapnya dengan rasa bersalah. Ia menatap Reyna seolah gadis itu adalah sampah yang mengganggu pemandangan. "Bawa dia ke rumah sakit jiwa seperti yang direncanakan," perintah Richard dingin pada para pengawal yang berdiri di ambang pintu. "Dokter sudah menyiapkan surat keterangan gila. Mulai besok, Clarissa yang akan menjadi pewaris tunggal Arland Group. Tidak ada yang akan mencarimu."
Mereka tidak hanya mengkhianatinya. Mereka merencanakan ini. Seluruh cinta, seluruh pengorbanan, seluruh cinta buta yang Reyna berikan pada keluarga dan tunangannya, hanyalah sebuah lelucon kejam.
Kesadaran Reyna perlahan memudar. Bayangan wajah puas Clarissa dan punggung Julian yang menjauh menjadi hal terakhir yang dilihatnya sebelum kegelapan menelannya bulat-bulat. Ia mati. Dibuang seperti anjing rabies oleh darah dagingnya sendiri.
***
HAAKK... HAAKK... HAAKK!
Reyna tersentak bangun, matanya membelalak liar. Jantungnya berpacu begitu kencang hingga terasa ingin merobek rongga dadanya. Tangan yang gemetar segera meraba-raba tubuhnya.
Tidak ada darah. Tidak ada luka di kepala. Tidak ada dinginnya lantai beton.
Sebaliknya, jemari itu menyentuh lembaran sutra yang lembut dan hangat. Aroma lavender dan mawar.. itu adalah parfum mahal yang biasa ia pakai dan sekarang seakan menghidupkan indra penciumannya.
Reyna duduk tegak, napasnya memburu. Ia mengenali ruangan ini. Langit-langit dengan ukiran emas, tirai beludru merah marun, dan meja rias kayu mahoni di sudut ruangan. Ini adalah kamarnya. Kamar pribadinya di mansion keluarga Arland. Kamar yang ia tinggalkan lima tahun lalu, tepat setelah ia "dinyatakan" tidak stabil secara mental dan diusir dari keluarga.
"Apa... apa ini?" bisiknya. Suaranya terdengar utuh, tidak parau karena debu dan darah.
Dengan tangan yang masih gemetar, Reyna meraih ponsel di atas nakas. Layar menyala, menyilaukan matanya yang belum beradaptasi dengan cahaya.
Kamis, 14 Oktober 2021.
Ponsel itu nyaris terlepas dari genggaman. Reyna menatap layar itu lekat-lekat, seolah angka-angka digital itu adalah hantu yang akan mencekiknya.
2021.
Lima tahun sebelum kematiannya. Lima tahun sebelum ia kehilangan segalanya.
Hari ini. Tanggal 14 Oktober 2021, adalah hari di mana Richard memanggilnya ke ruang kerja. Hari di mana Julian, dengan senyum tulus palsunya, meyakinkan Reyna bahwa menandatangani surat penyerahan hak suara saham mendiang ibunya adalah "satu-satunya cara untuk menyelamatkan perusahaan dari tuntutan hukum".
Hari di mana Reyna, gadis bodoh yang haus akan cinta ayahnya, menyerahkan kunci kehancurannya sendiri dengan tangan terbuka.
Reyna perlahan turun dari tempat tidur. Kakinya yang telanjang menyentuh karpet tebal. Ia berjalan terhuyung-huyung menuju kamar mandi yang terhubung dengan kamarnya, menyalakan lampu, dan menatap pantulan di cermin besar.
Gadis di dalam cermin itu tampak pucat, dengan mata yang masih menyisakan sisa-sisa kepanikan. Namun, perlahan, kepanikan itu memudar, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih gelap. Lebih dalam.
Reyna mengangkat tangannya, menyentuh pipinya yang halus. Tidak ada bekas luka. Tidak ada kerutan akibat penderitaan di jalanan.
Ia tidak mati. Atau mungkin, Tuhan.. atau Iblis yang memberinya kesempatan kedua. Mengirimnya kembali ke masa lalu, ke titik nol di mana semua kebusukan itu dimulai.
Air mata yang dulu selalu mudah jatuh setiap kali Richard membentaknya atau Julian mengabaikannya, kini terasa menguap. Digantikan oleh rasa dingin yang merambat dari ujung kaki hingga ke jantungnya. Rasa dingin yang jauh lebih menusuk daripada lantai beton di gudang tempatnya mati.
"Kalian pikir aku masih gadis naif yang akan menangis karena pengakuan kalian?" bisik Reyna pada pantulan dirinya sendiri. Senyum tipis yang tidak mencapai mata terukir di bibirnya. "Kalian salah."
Ia bersumpah pada mendiang ibunya, pada darah yang pernah tumpah di gudang terbengkalai itu. Kali ini, ia tidak akan memberikan sedikit pun belas kasihan. Ia akan merebut kembali setiap sen yang menjadi haknya. Ia akan melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan. Dan ia akan membuat Julian, Clarissa, serta Richard, memohon pada Tuhan agar kematian di gudang itu adalah akhir yang nyata baginya.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu kamarnya memecah keheningan.
"Reyna, sayang? Kau sudah bangun?"
Suara itu. Manis, lembut, dan penuh kepura-puraan. Clarissa.
Reyna menatap pintu kamar mandi. Dulu, mendengar suara Clarissa akan membuatnya merasa bersalah dan segera berlari memeluk adik tirinya itu. Sekarang, suara itu terdengar seperti desisan ular yang siap menggigit.
"Aku sudah bangun, Kak," jawab Reyna. Suaranya terdengar tenang, bahkan sedikit lebih lembut dari biasanya. Namun di balik ketenangan itu, ada baja yang baru saja ditempa.
"Papa menunggumu di ruang kerja. Julian juga sudah datang, dia ingin mengantarmu sarapan," lanjut Clarissa dari balik pintu, nada suaranya penuh dengan kepedulian palsu yang sempurna. "Kau tahu kan, hari ini hari yang penting untuk tanda tangan dokumen perusahaan?"
Reyna menatap pantulan matanya di cermin. Mata yang kini hitam pekat tanpa cahaya kepolosan.
"Tentu, Kak," ucap Reyna, membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar. "Katakan pada Papa dan Julian... aku sudah tidak sabar untuk menandatangani 'segalanya' hari ini."