Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33 - Gelang Kecil
Vania Hartono tidak suka kamar hotel yang terlalu sempit.
Tapi untuk sementara, kamar di lantai dua belas itu cukup. Tidak memakai nama Hartono. Tidak ada staf keluarga yang bisa mengadu ke Kevin. Tidak ada Mama Hartono yang menangis bertanya kenapa ia selalu membuat masalah.
Di meja, gelang emas kecil itu terletak di atas saputangan putih.
Ukurannya benar-benar kecil. Untuk bayi. Di bagian dalam ada ukiran halus.
A.S.
Vania menyentuh gelang itu dengan ujung kuku.
"Jadi ini yang membuat Nadira begitu istimewa?"
Reza duduk di sofa, melepas kacamata. "Benda itu tidak berharga kalau kita tidak tahu dipakai untuk apa."
"Aku tahu."
"Kamu yakin keluarga Santoso akan percaya?"
Vania tersenyum. "Ibu Retno sudah menunggu kabar tentang cucunya selama lebih dari dua puluh tahun. Orang yang menunggu selama itu tidak butuh bukti sempurna. Dia butuh harapan yang bisa disentuh."
Reza menatapnya dengan tidak nyaman. "Kamu bicara seperti Dewi."
"Dewi mengajariku satu hal. Orang tidak dikendalikan dengan kebohongan baru. Orang dikendalikan dengan luka lama."
Reza diam.
Keluarga Santoso bukan keluarga biasa. Letjen Purnawirawan Aditya Santoso masih dihormati di banyak lingkaran militer. Istrinya, Retno Santoso, jarang muncul sejak putri mereka, Alya Santoso, meninggal dalam kejadian yang tidak pernah dibicarakan terbuka. Yang beredar hanya potongan cerita: Alya hamil, pergi dari rumah, lalu ditemukan meninggal setelah melahirkan. Bayinya tidak pernah ditemukan.
Vania membaca cerita itu dari berkas lama yang Reza dapatkan melalui pegawai arsip yayasan.
Nama Alya Santoso.
A.S.
Itu terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
"Kamu yakin Nadira belum tahu nama Alya?" tanya Reza.
"Belum lengkap. Kalau sudah, dia pasti sudah bergerak ke keluarga Santoso."
"Arga bergerak cepat."
"Arga bergerak dengan aturan. Itu kelemahannya."
Reza tertawa pendek. "Kamu benar-benar tidak mengenal orang militer. Mereka bisa sangat tidak menyenangkan kalau keluarganya disentuh."
Vania menutup kotak gelang. "Nadira bukan keluarganya lagi. Dia sedang menggugat cerai."
"Kamu masih percaya status hukum menghentikan laki-laki yang merasa bersalah?"
Kalimat itu membuat Vania diam. Ia membenci cara Arga melihat Nadira sekarang. Bukan karena ia mencintai Arga. Tidak. Ia membenci semua perhatian yang diberikan terlambat tapi tetap terlihat agung. Kalau laki-laki terlambat mencintai, dunia menyebutnya penyesalan. Kalau perempuan terlambat merebut tempat, dunia menyebutnya ambisi.
"Aku tidak perlu Arga berhenti," kata Vania. "Aku hanya perlu Ibu Retno mulai."
"Kalau Nadira benar cucu Santoso, kamu sedang menggali lubang besar," kata Reza.
"Kalau dia benar cucu Santoso, justru dia akan mengambil semua perhatian yang seharusnya bisa kita pakai."
"Kita?"
Vania menoleh. "Kamu pikir Kevin akan jatuh kalau proyeknya hanya terganggu? Tidak. Dia akan bangkit dengan wajah korban. Tapi kalau proyek itu terkait perempuan yang ternyata cucu keluarga militer besar, Kevin makin kuat. Arga makin kuat. Nadira makin tidak tersentuh."
Reza mengepalkan tangan. "Aku tidak peduli Nadira."
"Tapi kamu peduli Kevin."
Reza tidak membantah.
Vania mengambil amplop kecil dari laci. Di dalamnya ada beberapa helai rambut yang ia dapat dari sisir bekas Nadira di apartemen lama Wijaya, sisir yang Laras sempat ambil ketika masih sering keluar masuk rumah itu. Laras mengira benda itu tidak penting. Vania tidak.
"Ini untuk tes palsu?" tanya Reza.
"Bukan palsu. Rambut ini milik Nadira. Kalau aku kirim sebagai rambutku, hasilnya akan mendekati Santoso kalau Nadira memang cucu mereka."
Reza tertawa tidak percaya. "Kamu gila."
"Aku teliti."
"DNA tidak sesederhana itu. Mereka bisa minta sampel ulang langsung darimu."
"Karena itu aku tidak akan langsung minta tes. Aku akan masuk dulu sebagai orang yang membawa barang bukti. Sebagai perempuan yang juga anak angkat, yang takut salah berharap. Ibu Retno akan melindungiku sebelum Pak Aditya sempat meminta bukti."
Ponsel Vania bergetar.
Dewi.
Ia mengangkat. "Ya?"
Suara Dewi Lestari halus. "Ibu Ratih mulai dilindungi. Paket ponsel gagal."
"Tidak masalah. Dia sudah cukup goyah."
"Nadira akan mencari saya."
"Biarkan."
"Saya tidak mau masuk penjara karena urusan keluarga Anda."
Vania tertawa pelan. "Bu Dewi, Anda menerima uang untuk mengunjungi ibu, memalsukan identitas lembaga, dan merekam tanpa izin. Penjara sudah mengetuk pintu Anda. Saya hanya memberi Anda pilihan pintu mana yang dibuka."
Dewi diam.
"Saya butuh satu hal lagi," kata Vania. "Akses ke Ibu Retno."
"Saya pernah menangani gangguan tidur beliau lewat yayasan veteran. Tapi itu sudah lama."
"Cukup. Hubungi dia. Katakan Anda punya klien yang membawa jejak cucunya."
"Itu berisiko."
"Saya bayar dua kali lipat."
"Risiko bukan cuma uang."
Vania menatap gelang di meja. "Kalau Anda mundur, saya kirim rekaman transaksi kita ke polisi. Kalau Anda maju, Anda masih punya kesempatan terlihat sebagai konsultan yang membantu keluarga menemukan anak hilang."
Dewi menghela napas. "Besok sore. Rumah Santoso."
Vania menutup telepon.
Reza berdiri. "Kamu menyeret keluarga militer. Ini bukan gosip rumah sakit."
"Takut?"
"Aku realistis."
"Kalau realistis, kamu tahu kita sudah terlalu jauh untuk mundur."
Keesokan sorenya, Vania datang ke rumah Santoso dengan pakaian sederhana. Kerudung putih, blus biru muda, tanpa perhiasan selain gelang bayi yang ia simpan dalam kotak kecil. Dewi menyambut di gerbang seolah mereka baru bertemu hari itu.
"Jangan terlalu banyak bicara," bisik Dewi. "Ibu Retno rapuh, tapi Pak Aditya tajam."
"Aku tahu memainkan rapuh."
"Itu yang membuat saya khawatir."
Vania tersenyum.
Rumah Santoso besar, tapi tidak mencolok. Banyak foto keluarga di dinding. Foto Alya Santoso ada di ruang tamu, perempuan muda dengan mata tajam dan senyum yang tidak tunduk.
Saat melihat foto itu, Vania berhenti.
Untuk pertama kalinya, rasa iri bercampur takut. Mata Alya mirip Nadira.
Ibu Retno masuk dengan langkah pelan. Rambutnya disanggul, wajahnya anggun, tapi matanya tampak seperti orang yang sudah lama tidak tidur.
"Dewi bilang kamu membawa sesuatu."
Vania menunduk. "Saya tidak tahu harus mulai dari mana, Bu."
"Mulai dari nama."
"Vania."
Ibu Retno menatapnya. "Kamu anak siapa?"
Vania membuat suaranya bergetar. "Saya juga anak angkat. Saya tumbuh di keluarga Hartono. Tapi beberapa hari lalu, saya menemukan gelang ini dari berkas lama yang disembunyikan."
Ia membuka kotak.
Gelang emas kecil itu memantulkan cahaya sore.
Ibu Retno langsung memucat.
"Aditya," panggilnya.
Pak Aditya Santoso muncul dari ruang dalam. Begitu melihat gelang itu, wajahnya berubah keras.
"Dari mana kamu dapat itu?"
Vania menunduk lebih dalam. "Saya tidak tahu, Pak. Saya hanya ingin mencari kebenaran."
Ibu Retno menyentuh gelang dengan tangan gemetar.
"Alya," bisiknya.
Dewi berdiri di belakang, suaranya lembut seperti benang. "Ibu Retno, tarik napas. Mungkin Allah sedang membuka jalan pelan-pelan."
Pak Aditya menatap Dewi tajam, lalu kembali ke Vania. "Kalau kamu mencari kebenaran, kamu harus siap tes resmi."
Vania mengangkat wajah. Matanya sudah basah.
"Saya siap, Pak. Tapi saya takut. Kalau saya salah, saya akan kehilangan harapan yang baru saya punya."
Ibu Retno langsung memegang tangannya.
"Tidak apa-apa. Kamu tidak sendiri."
Di balik air mata palsunya, Vania merasa pintu pertama terbuka.
Di mobil setelah pertemuan, Dewi tidak langsung menyalakan mesin.
"Pak Aditya tidak mudah dibohongi," katanya.
Vania menutup kotak gelang. "Karena itu kita pakai Ibu Retno dulu."
"Kalau tes diminta?"
"Aku minta waktu. Aku menangis. Aku bilang trauma. Orang yang berduka selalu takut menjadi kejam pada anak yang mungkin pulang."
Dewi menatapnya dengan sesuatu yang hampir seperti ngeri. "Anda tidak takut kalau ternyata Nadira benar cucu mereka?"
Vania melihat rumah Santoso dari kaca mobil. "Aku lebih takut hidupku kembali jadi catatan kaki di cerita orang lain."
Untuk pertama kalinya, Dewi tidak menjawab. Ia baru paham Vania bukan hanya ingin menang.
Vania ingin mengganti pusat dunia.
Dan malam itu, untuk beberapa menit, Ibu Retno memberinya pusat itu.
Vania menggenggamnya erat.
Seolah tangan itu memang sudah menjadi miliknya.