Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Yang Menyembuhkan
Langkah kaki Alea masih sedikit pelan, namun binar kebahagiaan di wajahnya tak lagi bisa disembunyikan. Udara segar di luar rumah sakit menyapa hangat kulitnya setelah sepuluh hari menghabiskan waktu di dalam kamar perawatan VIP.
Akhirnya rawat inap selesai. Di hari ke-10, Alea kembali ke rumah dengan Adrian dan Azka.
Adrian melingkarkan lengan tegapnya di pinggang Alea dengan sangat protektif, membantu wanita itu berjalan menuju mobil hitam mewah yang sudah terparkir di depan lobi utama rumah sakit. Sementara itu, Azka melompat-lompat kecil di samping mereka sambil memegang erat ujung gaun sang ibu, seolah tak ingin berjarak walau hanya satu senti.
"Hati-hati, Sayang," bisik Adrian lembut saat membukakan pintu mobil dan membantu Alea duduk nyaman di kursi penumpang.
"Aku sudah jauh lebih sehat, Adrian. Luka operasinya juga sudah mengering," tutur Alea seraya mengulas senyum manis yang mengikis habis bayang-bayang trauma berdarah sepuluh hari lalu.
"Tetap saja, kamu belum boleh terlalu lelah," balas Adrian tegas namun sarat akan perhatian mendalam. Ia mengecup kening Alea sejenak sebelum menggendong Azka masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju mulus membelah jalanan kota menuju kediaman utama Adrian yang kini telah dijaga dengan sistem keamanan tingkat tinggi. Tidak ada lagi ancaman dari Mama Adrian maupun pihak-pihak yang bermaksud jahat, karena sang ayah dan Rian telah memastikan proses hukum berjalan tanpa cela di kepolisian.
Setibanya di mansion, pintu gerbang tinggi terbuka lebar. Para pekerja dan pengawal berbaris rapi memberikan salam hormat, menyambut kepulangan sang nyonya rumah dan calon pewaris utama keluarga tersebut.
Azka langsung berlari gembira menuju ruang tengah yang sudah dihiasi balon-balon lucu dan mainan baru yang disiapkan Adrian untuk menyambut ibunya. "Ibuu! Lihat, rumah kita baguuus sekali!"
Alea menghentikan langkahnya di tengah ruangan, menatap sekeliling dengan mata berkaca-kaca. Rasa hangat melingkupi dadanya saat menyadari betapa besarnya usaha Adrian untuk membuat tempat ini terasa seperti rumah sejati bagi dirinya dan Azka.
Adrian berjalan mendekati Alea dari belakang, merangkulkan kedua tangannya di pinggang Alea dan menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.
"Selamat datang di rumah kita yang sebenarnya, Alea," bisik Adrian dengan suara bass yang amat menenangkan. "Setelah semua badai ini berlalu, aku ingin meresmikan hubungan kita minggu depan. Kamu siap menjadi istriku sepenuhnya?"
Alea menoleh pelan, menatap sepasang mata elang Adrian yang kini penuh dengan cinta dan pengabdian. Dengan senyum tulus yang memancar indah dari wajahnya, Alea mengangguk pelan.
Dekapan hangat itu terasa begitu menenangkan, seolah menghapus seluruh rasa sakit dan ketakutan yang pernah singgah di antara mereka.
Adrian memeluk Alea dengan hati-hati. Lengan tegapnya yang biasa tegas melingkar dengan amat lembut di sekeliling tubuh wanita itu, memastikan tak ada tekanan sedikit pun yang mengenai bagian punggung Alea yang masih dalam proses pemulihan.
Alea menyandarkan kepalanya di dada tegap Adrian, mendengarkan detak jantung pria itu yang berpacu teratur. Rasa aman yang luar biasa merayapi seluruh sudut hatinya. Di tempat inilah—di dalam pelukan pria yang dahulu begitu asing dan kini menjadi pelindung terutamanya—Alea akhirnya menemukan kedamaian sejati.
"Terima kasih, Adrian..." bisik Alea pelan, mengusap punggung jas Adrian dengan jemarinya. "Terima kasih sudah tidak pernah menyerah pada kita..."
Adrian memejamkan mata erat-erat, meresapi aroma harum tubuh Alea yang sangat dirindukannya. Ia mengecup rambut Alea berulang kali dengan penuh kehangatan.
"Akulah yang harus berterima kasih, Alea," balas Adrian dengan suara rendah yang bergetar tulus. "Kamu sudah bertahan sejauh ini demi Azka, dan demi aku. Kamu adalah hadiah terbaik yang pernah hadir dalam hidupku."
Di tengah momen haru itu, terdengar langkah kaki mungil berlari mendekati mereka. Azka yang tadinya sibuk melihat balon-balon di sudut ruangan, kini menarik-narik ujung jas ayahnya dengan wajah cemburu yang menggemaskan.
"Papaaa! Azka mau ikut peluk Ibu jugaaa!" seru bocah itu memanyunkan bibirnya.
Adrian dan Alea terkekeh pelan. Adrian segera merendahkan tubuhnya, menggendong Azka ke dalam dekapan mereka sehingga keluarga kecil itu menyatu dalam satu pelukan yang amat hangat dan utuh.
"Anak Jagoan Papa tidak boleh ketinggalan," tutur Adrian seraya mengacak lembut rambut Azka, disambut tawa geli dari bocah kecil itu.
Di ambang pintu utama, Papa Adrian berdiri menatap kehangatan bertiga dari kejauhan dengan senyum lega yang mengulas di wajah tuanya. Pria tua itu tahu, terlepas dari segala masa lalu dan kekacauan yang pernah terjadi, keluarga kecil putranya kini telah utuh dan tak tergoyahkan.