NovelToon NovelToon
Anomali Sang Pewaris

Anomali Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Sci-Fi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Rjm10

Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Ratapan Emas

Bangkai Ksatria Elemen yang berserakan di Dataran Tunduk kini tertutup oleh lapisan abu hitam dari cerobong Behemoth Darat. Roda rantai baja armada Faksi Ketiadaan melindas sisa-sisa kemegahan Koalisi Lima Klan tanpa ampun, meratakan jalan menuju takdir yang tak bisa lagi dihindari oleh Kekaisaran Pusat.

Di geladak komando, Kaelen berdiri bagai monumen kematian. Kemenangan telak atas lima puluh ribu pasukan pelopor itu tidak meninggalkan sedikit pun euforia di wajahnya. Gauntlet obsidian di lengan kanannya berdenyut dengan ritme rendah, sesekali memancarkan uap dingin yang membekukan butiran air di udara sekitarnya.

Lyra melangkah keluar dari kabin medis. Bahunya masih dibalut perban tebal, namun ia bersikeras mengenakan sabuk senjatanya. Gadis itu berjalan menembus getaran mesin uap dan berhenti tepat di samping Kaelen. Angin utara meniup rambut pendeknya, tapi tatapan Lyra terkunci pada profil wajah Kaelen yang sedingin marmer.

"Rexor sedang berpesta dengan anggur rampasan di geladak bawah, dan Kael sibuk menghitung sisa amunisi," Lyra memecah kesunyian, suaranya mencoba terdengar santai meski ada kegetiran yang tak bisa disembunyikan. "Kau sendiri tidak turun untuk merayakan pembantaian pertamamu dalam skala perang dunia, Bos?"

Kaelen tidak menoleh. Mata ungunya tetap menatap cakrawala utara. "Perayaan adalah ilusi biokimia yang diciptakan otak untuk menghargai kelangsungan hidup. Dan kelangsungan hidup kita belum terjamin. Ada fluktuasi energi masif seratus mil dari sini. Ibukota sedang bersiap."

Lyra menelan ludah. Cara bicara Kaelen semakin hari semakin terdengar seperti teks dari buku panduan anatomi sihir milik Silas. Gadis itu mengepalkan tangannya, menahan rasa frustrasi.

"Kaelen," Lyra memanggil, kali ini nadanya jauh lebih tajam. "Lihat aku."

Butuh waktu tiga detik sebelum Kaelen akhirnya menoleh. Tatapan matanya kosong, seperti menatap menembus tubuh Lyra, bukan memandangnya sebagai manusia.

"Apa kau masih mengingat rasanya sakit?" tanya Lyra, suaranya bergetar. "Saat Varian mengkhianatimu? Saat kau hampir mati di klinik Silas karena sihir yang kau telan? Kau marah. Kau mendendam. Tapi sekarang... saat kau membunuh, kau bahkan tidak berkedip. Kau terlihat seolah kau mematikan bagian dirimu yang membuatmu peduli pada alasan kenapa kita memulai perang ini."

Jari-jari logam di gauntlet Kaelen berkedut pelan. Sebuah tanda penolakan dari sisa-sisa jiwa manusia yang terkurung di dalam penjara logika absolut. Pendar ungu di mata Kaelen berkedip sejenak, memancarkan kilatan kepedihan yang sangat singkat sebelum ditelan kembali oleh kekosongan.

"Rasa sakit menguras energi, Lyra," jawab Kaelen, suaranya kini terdengar ganda—suara manusianya berbisik di balik distorsi logam mekanis. "Artefak ini... ia tidak mengambil ingatanku. Ia hanya menghapus respons emosional agar otakku tidak hancur saat memproses kematian jutaan sel sihir setiap detiknya. Jika aku merasakan simpati pada musuh yang kuhancurkan tadi, jantungku akan meledak."

Kaelen membalikkan badannya menghadap Lyra sepenuhnya. Gauntlet raksasa itu terangkat, ujung cakar metaliknya berhenti hanya satu sentimeter dari pipi Lyra. Hawa dingin yang mematikan menguar dari logam tersebut.

"Saat kita sampai di gerbang Ibukota," Kaelen berbisik, nadanya terdengar sangat lelah, sebuah anomali dari postur sempurnanya. "Jangan berada di dekatku. Apa pun yang akan kulepaskan nanti... ia tidak akan bisa membedakan mana kawan dan mana musuh."

Lyra menatap lurus ke dalam mata ungu itu, mengangguk pelan tanpa gentar. "Aku tidak akan lari. Pastikan saja kau masih memiliki cukup sisa manusia di dalam sana untuk mengingat siapa yang harus kau bunuh."

Dua jam kemudian, cakrawala berubah. Langit kelabu yang menemani mereka sepanjang jalan tiba-tiba terbelah oleh dinding cahaya keemasan yang menjulang membelah awan.

Ibukota Kekaisaran.

Kota itu dibangun di atas dataran tinggi berbentuk mangkuk terbalik, dikelilingi oleh tembok setinggi lima puluh meter yang seluruhnya terbuat dari paduan emas murni dan pualam putih. Namun, bukan tembok fisiknya yang membuat Jenderal Kael langsung memerintahkan armada berhenti sepuluh kilometer dari gerbang.

Sebuah perisai magis raksasa berbentuk kubah menyelimuti seluruh kota. Berbeda dengan Kubah Matahari di Klan Adiwangsa yang berwarna jingga hangat, kubah ini memancarkan warna emas pucat yang menyilaukan, dipenuhi oleh ribuan wajah tak kasat mata yang berputar-putar di permukaannya layaknya jiwa-jiwa yang terperangkap dalam badai.

Dokter Silas berlari keluar dari ruang navigasi, radarnya menjerit dengan bunyi alarm peringatan tingkat maksimal. Wajah pria tua itu seputih kertas.

"Hentikan pasukan! Jangan ada yang mendekat, atau kita semua akan mati!" teriak Silas, kakinya tersandung kabel sebelum Lyra menopangnya.

Kaelen melompat turun dari geladak komando, mendarat di tanah beku, dan menatap perisai raksasa tersebut. Inti Leviathan di dadanya bergetar hebat. Untuk pertama kalinya sejak ia mendapatkan lengan mekanis itu, Kaelen merasakan sesuatu yang nyaris menyerupai rasa mual.

"Ini bukan mana elemen," gumam Kaelen, matanya menyipit, retinanya mencoba membedah komposisi kubah tersebut.

"Itu adalah Anima," Silas terengah-engah, memegangi dadanya sendiri. "Kaisar Agung yang gila itu... dia tahu kau bisa mematikan dan menyerap sihir elemen dan energi suci. Jadi dia mengubah komposisi perisai Ibukota. Dia menyambungkan generator perisai itu langsung ke jiwa jutaan warga sipil di dalam Ibukota!"

Rexor yang baru saja turun dari meriamnya mengerutkan kening. "Bahasa manusia, Pak Tua! Apa artinya itu bagi meriamku?!"

"Artinya, jika kau menembakkan Null-Bringer ke arah perisai itu, kau tidak menghancurkan keajaiban sihir!" raung Silas histeris. "Kalian akan menghancurkan jiwa jutaan orang tak bersalah yang terhubung dengannya! Perisai itu hidup! Kaisar menjadikan rakyatnya sendiri sebagai tameng daging astral!"

Keheningan seketika menyergap seluruh pasukan. Para prajurit Garda Ketiadaan, yang sebagian besar dulunya adalah rakyat jelata yang tertindas, saling berpandangan dengan horor. Membunuh ksatria di medan perang adalah satu hal, tapi memusnahkan jutaan rakyat sipil dalam satu tembakan artileri adalah kekejaman yang melampaui batas kewarasan.

Rexor membuang ludah, raut wajahnya mengeras. "Persetan dengan mereka. Jika kita tidak menembus perisai itu, kitalah yang akan dibantai oleh Garda Kekaisaran. Kaisar bermain kotor, kita balas dengan cara yang lebih kotor. Beri aku perintah menembak, Kaelen!"

Jenderal Kael melangkah maju, mencengkeram kerah Rexor. "Mereka rakyat sipil, Rexor! Petani, anak-anak, pedagang! Jika kita meratakan mereka, lalu apa bedanya kita dengan monster yang duduk di atas takhta itu?!"

"Kita menang! Itu bedanya!" balas Rexor, mendorong Kael mundur.

"Cukup!"

Suara Kaelen membelah perdebatan itu, diperkuat oleh gelombang Domain Null ringan yang memaksa Kael dan Rexor terbungkuk menahan napas. Kaelen berjalan melewati mereka berdua, langkahnya terukur, matanya tak berkedip menatap perisai jiwa di kejauhan.

Di dalam kepalanya, artefak itu memberikan kalkulasi yang sangat jernih: Serap perisainya. Abaikan korban jangkauan sekunder. Efisiensi penghancuran: 100%. Tingkat keberhasilan infiltrasi: 99.9%.

Namun, suara Lyra dari beberapa jam yang lalu bergema di sisa-sisa kesadarannya. Apa kau masih mengingat rasanya sakit?

Jika ia menghisap perisai itu, jutaan orang akan mati, dan Kaelen tahu, bagian manusia di dalam dirinya yang telah mati rasa akan terkubur selamanya di bawah lautan dosa yang tak bisa ditebus. Ia tidak akan lagi menjadi pembebas, melainkan dewa kehancuran mutlak.

"Tuanku," Jenderal Kael berlutut, suaranya memohon. "Pasti ada jalan lain. Tolong."

Kaelen berhenti tiga meter di depan garis batas terluar armada. Ia mengangkat gauntlet obsidiannya, membiarkan rune birunya menyala terang di bawah awan mendung.

"Tidak ada tembakan artileri," putus Kaelen. Suaranya terdengar hampa, namun keputusannya membawa beban moral yang sangat berat. "Kaisar mengira perisai jiwa ini akan memaksaku mundur atau mengubahku menjadi iblis yang mengorbankan rakyatnya. Dia salah."

Kaelen menoleh ke arah Silas. "Dokter. Apakah mungkin untuk menyaring mana pengikatnya tanpa menyentuh Anima (jiwa) di dalamnya?"

Silas terbelalak. "Teorinya mungkin! Jika kau memutar polaritas pusaranmu ke tingkat mikro, kau bisa membedah ikatannya. Tapi itu berarti kau harus menyentuh perisai itu secara langsung, Kaelen! Dan memisahkan sihir dari jutaan jiwa secara manual akan membebani otakmu dengan trauma jutaan manusia sekaligus. Inti Leviathan mungkin bisa menahan energinya, tapi pikiran manusiamu akan hancur lebur!"

"Maka biarkan hancur," bisik Kaelen.

Pemuda itu berbalik, menatap Lyra, Kael, Silas, dan Rexor untuk terakhir kalinya.

"Tetap di posisi kalian sampai perisai ini runtuh. Jika aku gagal, dan pikiranku hancur menjadi monster liar..." Kaelen mencabut sebuah belati baja dari pinggangnya, lalu melemparkannya hingga menancap tepat di depan kaki Lyra. "...kalian tahu apa yang harus kalian lakukan."

Tanpa menunggu jawaban, Kaelen menghentakkan kakinya. Tanah di bawahnya meledak, dan tubuhnya melesat bagai meteor hitam melintasi jarak sepuluh kilometer, langsung menuju perisai emas yang dipenuhi jeritan jutaan jiwa, bersiap mengorbankan kewarasannya demi menantang sang Kaisar Agung.

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai outhor salam kenal . mau masuk grup ku gak saling support
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ayo saling folow
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!