NovelToon NovelToon
" Kota Sane " Tertinggal Diujung Dunia

" Kota Sane " Tertinggal Diujung Dunia

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Misteri / Tamat
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

"Tertinggal di Kota Sane berarti menyerahkan nyawa pada misteri yang mengintai."

Kota Sane adalah pulau indah bernuansa surga, namun memiliki aturan yang sangat ketat: hanya dibuka 4 bulan sekali dan wisatawan hanya boleh berkunjung selama 2 minggu. Bagi yang tertinggal, mitos mengatakan mereka tak pernah selamat.

Naya, mahasiswi kaya yang manja, mengalami mimpi buruk saat ketiduran di dermaga dan ditinggal kapal terakhir. Di tengah kota yang mendadak sepi bagai kota mati, Naya memohon perlindungan pada Devan—pemilik penginapan kayu yang tampan, dingin, dan tegas.

Naya rela bekerja tanpa gaji demi bisa bertahan hidup selama 4 bulan hingga kapal berikutnya datang. Namun, Devan menolak mentah-mentah kehadiran gadis manja itu.

Ketika malam mulai jatuh dan ancaman Kota Sane mengintai, sanggupkah Devan membiarkan Naya berada dalam bahaya? Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan pulau ini?

​Simpan novel ini dan ikuti kisah romansa penuh ketegangan antara Devan dan Naya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenangan pahit Devan

Nenek berdiri terpaku di tengah ruangan, matanya membelalak lebar mendengar ucapan Devan.

"Nek, siapkan segalanya..." suara Devan bergetar, napasnya makin memburu. "Aku bakal segel energi Naya pake darah hatiku. Cuma itu satu-satunya cara supaya darah asingnya gak bisa tercium sama warga ataupun duyung-duyung itu lagi."

"Kamu gila, Devan?!" bentak Nenek, suaranya melengking tinggi menahan tangis. "Darah hati itu nyawa kamu! Kamu bisa mati kalau nekat ngelakuin ritual terlarang itu!"

"Nggak ada cara lain, Nek!" potong Devan tegas, meski sudut bibirnya yang berdarah tampak kian memucat. "Aku yang bawa Naya ke sini. Aku bakal berikan—"

Brak!

Belum sempat Devan menyelesaikan kalimatnya, tubuh jangkung pria itu ambruk begitu saja ke lantai kayu. Matanya terpejam rapat, tak sadarkan diri akibat rasa sakit luar biasa dan kelelahan setelah diinterogasi habis-habisan oleh petugas pemerintah.

"Devan!" jerit Nenek histeris.

Naya yang sejak tadi bersembunyi di balik pintu langsung berlari keluar. Tanpa memikirkan tubuhnya sendiri yang masih dihinggapi demam, Naya berlutut di samping Devan. "Devan! Buka mata kamu, Van!"

Nenek menyapu air matanya kasar, menyelimuti tubuh cucunya dengan kain tebal. Malam ini terasa begitu aneh—tidak ada badai, tidak ada angin kencang, dan tak terdengar satu pun jeritan duyung. Lautan di luar sangat tenang, namun ketenangan itu justru terasa janggal dan mencekam, seolah sang samudera sedang mengintai dari kegelapan.

Dengan telaten, Naya membantu Nenek mengompres memar di wajah Devan dan merawat luka-lukanya. Di bawah remang cahaya lampu minyak, Naya menatap wajah Devan yang tertidur pulas. Pria yang biasanya bersikap dingin, galak, dan misterius itu kini terlihat begitu rapuh.

"Nenek..." bisik Naya pelan, memecah kesunyian malam. "Kenapa Devan mau berkorban sejauh ini buat aku? Padahal kita baru kenal..."

Nenek menghela napas panjang. Jemari keriputnya mengusap lembut rambut Devan yang berantakan.

"Devan itu... kasihan, Naya," gumam Nenek dengan tatapan sendu melayang ke masa lalu. "Waktu dia masih kecil, ayahnya pergi ninggalin pulau ini menuju Kota Matador. Ibunya yang nggak tahan menyusul ke sana, tapi malah ngeliat suaminya selingkuh dengan perempuan lain. Ibunya nggak sanggup nahan beban mental itu... sampai akhirnya milih mengakhiri hidupnya sendiri."

Naya menutup mulutnya, terperanjat. "Ya Tuhan..."

"Nenek sama Kakek yang besarin Devan dari kecil. Tapi pas umurnya tujuh belas tahun, Kakek juga meninggal," lanjut Nenek, air matanya menetes perlahan. "Sejak saat itu, Devan cuma punya Nenek."

Naya semakin tersentuh. Ia memberanikan diri bertanya lebih jauh, "Terus... gimana sama kehidupan asmaranya, Nek? Kenapa dia kelihatan dingin banget dan nggak pernah senyum?"

Nenek tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit. "Dulu... Devan pernah sangat mencintai seorang gadis di atas sana, di desa sebelah. Devan rela banting tulang, nyari uang buat membiayai sekolah gadis itu sampai dia sendiri nggak bisa kuliah. Tapi apa balasannya? Orang tua gadis itu ngelarang mereka berhubungan karena Devan miskin. Gadis itu akhirnya dinikahkan sama wisatawan kaya dari kota—mirip seperti kamu."

Dada Naya berdenyut nyeri mendengarnya.

"Sejak hari itu, hati Devan hancur. Dia mati rasa, nggak percaya lagi sama yang namanya cinta, dan menutup hatinya rapat-rapat," kata Nenek seraya menatap Naya dalam-dalam. "Tapi Naya... untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nenek bisa liat Devan beda ke kamu. Dia tertarik sama kamu. Cuma ya begitu... dia terlalu waspada dan takut kecewa lagi."

Naya membisu. Matanya bergetar menatap wajah Devan. Rasa bersalah dan benih-benih perasaan asing mulai tumbuh subur di dalam dadanya.

Tiba-tiba, suhu di dalam ruangan merosot tajam hingga menembus tulang. Lampu minyak di meja berkedip-kedip hebat sebelum akhirnya padam total.

Dalam kegelapan pekat itu, tubuh Devan yang sedang pingsan mendadak kejang! Dari balik bajunya, di bagian dada sebelah kiri, muncul cahaya merah menyala yang redup—mencetak pola bersisik kuno yang membakar kulitnya.

Di saat yang sama, suara bisikan gaib terdengar tepat di belakang telinga Naya:

"Waktumu hampir habis, Gadis Kota... Datangla...!"

Naya membelalakkan mata, tubuhnya membeku seketika. Napasnya tertahan di tenggorokan saat merasakan hembusan angin dingin yang amat amis berbisik tepat di tengkuknya.

​Kring! Kring! Kring!

​Manik-manik gelang kayu pelindung milik Nenek yang terikat di pergelangan tangan Devan mendadak putus begitu saja. Biji-bijinya berserakan di lantai, bergulir ke arah kegelapan sudut ruangan seolah ditarik oleh kekuatan gaib.

"Naya......Naya...."

Jangan dengerin bisikan itu, Naya!" teriak Nenek membuyarkan sihir jahat yang hampir menguasai benak Naya.

​Dengan sisa tenaganya, Nenek menarik kasar tubuh Naya mendekat ke arah Devan yang masih menggelepar. Wajah tua Nenek tampak sangat panik, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tertandingi.

​"Pegang tangan Nenek! Pegang tangan Devan, cepat!" seru Nenek setengah membentak.

​Naya yang gemetar hebat langsung menggenggam erat jemari rentan Nenek dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya meremas kuat-kuat telapak tangan Devan yang terasa sedingin es. Di saat yang sama, Nenek menyodorkan sebuah mangkuk tanah liat kecil berisi air bercampur rempah rempah...... berwarna hitam pekat beraroma rempah dan bau yang sangat menyengat.

​"Minum ramuan ini sekarang! Cuma ini yang bisa mengunci jiwa kamu dari cengkeraman makhluk itu!" perintah Nenek tanpa memberi ruang untuk membantah.

Tanpa berpikir panjang, Naya meminum cairan pahit itu sampai tandas. Rasa terbakar yang amat dahsyat seketika menjalar dari tenggorokan hingga meremukkan seluruh organ dalamnya. Pandangan Naya langsung memutih, kesadarannya tersedot hebat ke dalam kegelapan yang amat pekat.

​Brak!

​Naya ambruk, pingsan tepat di atas dada Devan.

.............

akankah Naya selamat....

Sedangkan Devan masih dalam kondisi lemah .....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!