Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Reruntuhan di Balik Kabut
Tiga hari setelah pertemuan di aula utama, kabar tentang Festival Penentuan sudah menyebar ke seluruh penjuru Kerajaan Chu.
Di paviliun timur, Chu Feng duduk bersila di lantai kamarnya, batu kultivasi tergeletak diam di hadapannya seperti biasa. Ia sudah mencoba selama tiga jam. Tidak ada perubahan.
"Kau memang keras kepala," gumamnya sendiri, setengah menyindir diri sendiri.
Bukan berarti Chu Feng benar-benar tidak memiliki apa pun. Bertahun-tahun ia diam-diam mempelajari kitab-kitab lama di perpustakaan istana yang sudah berdebu dan tidak disentuh siapa pun—kitab strategi perang, catatan formasi kuno, bahkan gulungan usang tentang alkimia dasar. Ia menghafal kelemahan setiap teknik bela diri yang pernah ditunjukkan saudara-saudaranya di lapangan latihan. Ia tahu persis siapa di antara enam pendukung utama pangeran lain yang sebenarnya bisa dibeli dengan harga yang tepat.
Yang tidak ia miliki, hanya satu: qi. Fondasi paling dasar dari segala kultivasi di dunia ini. Tanpanya, semua pengetahuan yang ia kumpulkan hanya akan menjadi kertas kosong.
Lao Sun masuk membawa nampan berisi makanan malam, wajahnya sedikit tegang.
"Yang Mulia, hamba mendengar sesuatu dari pedagang yang baru kembali dari perbatasan barat kerajaan."
"Katakan."
"Katanya... reruntuhan tua di Lembah Kabut kembali menunjukkan tanda-tanda aneh. Cahaya di malam hari, suara-suara tanpa sumber. Beberapa pemburu yang mencoba masuk tidak pernah kembali."
Chu Feng mengangkat alis. Lembah Kabut. Ia mengenal tempat itu—reruntuhan yang konon lebih tua dari Kerajaan Chu sendiri, terletak di perbatasan barat yang jarang dijamah karena medannya yang berbahaya dan kabut yang tidak pernah benar-benar hilang bahkan di siang hari.
"Sejak kapan tanda-tanda itu muncul?"
"Sekitar seminggu ini, Yang Mulia. Tepat sejak..." Lao Sun ragu sejenak. "Tepat sejak malam ketika langit sempat retak."
Chu Feng terdiam.
Ia juga melihatnya malam itu—sebagian besar penduduk kerajaan melihatnya. Sebuah keretakan aneh membelah langit selama beberapa detik, disertai kilatan cahaya keemasan yang jatuh entah ke mana, sebelum semuanya kembali normal seolah tidak terjadi apa-apa. Banyak yang menganggapnya pertanda buruk. Beberapa tetua istana bahkan mengadakan ritual penenang selama tiga hari berturut-turut.
Chu Feng tidak pernah percaya pertanda semacam itu datang tanpa alasan.
Keesokan malamnya, ketika seluruh istana sudah terlelap dan hanya penjaga malam yang berjaga di gerbang utama, seorang sosok berjubah gelap menyelinap keluar dari paviliun timur, melewati tembok belakang yang jarang dipatroli, menuju kuda yang sudah disiapkan Lao Sun tanpa banyak bertanya.
"Yang Mulia yakin ingin pergi sendirian?" bisik Lao Sun cemas, memegangi tali kekang kuda.
"Kalau aku membawa pengawal, kabarnya akan sampai ke telinga Kakak Kedua sebelum matahari terbit," jawab Chu Feng, menaiki kuda dengan gerakan yang jauh lebih gesit dari yang biasa ia tunjukkan di depan umum. "Aku hanya ingin melihat. Tidak lebih."
Ia tahu ini berisiko. Seorang pangeran yang "tidak berbakat" menyelinap keluar istana sendirian menuju reruntuhan berbahaya bukanlah keputusan yang bijak jika dilihat dari luar. Tapi rasa penasaran yang tumbuh sejak mendengar kabar dari Lao Sun tidak bisa ia abaikan begitu saja—terutama dengan Festival Penentuan yang semakin dekat, dan dirinya yang masih belum memiliki satu pun kartu di tangan.
Kalau ada sesuatu di reruntuhan itu, akulah yang harus menemukannya lebih dulu. Bukan Kakak Keenam. Bukan siapa pun yang lain.
Perjalanan menuju Lembah Kabut memakan waktu hampir semalam penuh. Ketika fajar mulai merambat di ufuk timur, Chu Feng menambatkan kudanya di tepi hutan yang membatasi lembah, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Kabut di sini benar-benar tidak wajar. Ia menyelimuti segalanya, membuat jarak pandang menyusut hingga beberapa langkah saja, dan meski matahari sudah terbit, cahayanya tidak mampu menembus lebih dari sekadar cahaya keabu-abuan yang suram.
Chu Feng berjalan perlahan, waspada terhadap setiap suara. Kitab-kitab yang ia pelajari mengajarkan bahwa tempat seperti ini—reruntuhan kuno yang menyimpan energi aneh—sering kali dihuni oleh sisa-sisa formasi pertahanan purba yang masih aktif, atau lebih buruk, makhluk yang terperangkap di dalamnya selama beribu tahun.
Setelah hampir satu jam berjalan menembus kabut, ia akhirnya menemukannya.
Sebuah struktur batu raksasa, setengah terkubur tanah dan ditumbuhi akar-akar pohon purba, menjulang di hadapannya seperti reruntuhan sebuah kuil—atau mungkin istana—yang sudah tidak dikenali lagi bentuk aslinya. Ukiran-ukiran di dindingnya sudah aus dimakan waktu, tapi Chu Feng masih bisa mengenali beberapa pola yang mirip dengan simbol-simbol kuno yang pernah ia baca di perpustakaan istana. Simbol yang bahkan tidak dikenali oleh para tetua paling terpelajar sekalipun.
Dan di tengah reruntuhan itu, memancar dari sebuah celah di bawah tanah—
Cahaya keemasan yang samar.
Detak jantung Chu Feng mengencang. Bukan karena takut. Melainkan karena sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika mana pun yang pernah ia pelajari, tiba-tiba merasa... tertarik. Seolah cahaya itu memanggil namanya secara langsung.
Ia melangkah turun ke celah tersebut, menyusuri tangga batu yang nyaris runtuh, menuju sumber cahaya di kedalaman reruntuhan.
Ruangan di bawah tanah itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan—sebuah aula bundar dengan langit-langit tinggi yang dipenuhi ukiran serupa dengan yang di luar, kini jauh lebih jelas terlihat karena cahaya keemasan yang memenuhi ruangan.
Dan di tengah ruangan, melayang beberapa jengkal dari lantai batu, tergantung sebuah benda kecil.
Sebuah pecahan tulang.
Bukan tulang biasa. Permukaannya memancarkan cahaya keemasan yang berdenyut seperti detak jantung, dan retakan-retakan halus di sekujurnya bersinar seolah ada sesuatu yang hidup mengalir di dalamnya.
Chu Feng berdiri terpaku di ambang ruangan, matanya tidak bisa lepas dari benda itu.
Apa ini...
Sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, pecahan tulang itu bergetar hebat—dan cahaya keemasannya tiba-tiba meledak memenuhi seluruh ruangan, memaksa Chu Feng menutup mata dan mengangkat lengan untuk melindungi wajahnya.
Ketika ledakan cahaya itu perlahan mereda, Chu Feng membuka mata—dan mendapati pecahan tulang itu sudah melayang tepat di hadapannya, seolah telah menunggunya selama ini.
"Akhirnya..."
Suara itu bergema langsung di dalam kepalanya, bukan melalui telinga—suara yang terdengar tua, lelah, namun dipenuhi kelegaan yang begitu dalam hingga terasa seperti beban jutaan tahun baru saja terangkat.
"Aku menemukan wadah yang mampu menanggungku."
Chu Feng melangkah mundur setengah langkah, tangannya secara refleks meraih pisau kecil yang selalu ia sembunyikan di balik jubahnya—satu-satunya senjata yang biasa ia bawa, meski ia tahu itu tidak akan berguna banyak melawan apa pun yang sedang berbicara padanya sekarang.
"Siapa kau?" tanyanya, suaranya tenang meski jantungnya berdegup kencang.
Hening sejenak. Lalu suara itu terdengar lagi, kali ini dengan nada yang hampir menyerupai... kesedihan.
"Aku bukan siapa-siapa."
"Aku hanyalah bagian dari sesuatu yang pernah disebut..."
"Dewa."
Sebelum Chu Feng sempat bertanya lebih jauh, pecahan tulang itu melesat ke arahnya dengan kecepatan yang tidak sempat ia hindari, menembus jubahnya, menembus kulitnya, langsung menuju tulang belakangnya sendiri.
Rasa sakit yang meledak setelahnya tidak bisa ia bandingkan dengan apa pun yang pernah ia rasakan seumur hidup. Seolah setiap ruas tulang belakangnya dibakar dan dibekukan secara bersamaan, berulang kali, tanpa henti. Ia jatuh berlutut, tangannya mencengkeram lantai batu dingin, tubuhnya bergetar hebat menahan teriakan yang nyaris lolos dari tenggorokannya.
Bertahanlah, pikirnya, mengeratkan rahang. Kalau aku mati di sini, semuanya akan sia-sia.
Detik-detik berlalu terasa seperti berjam-jam. Dan tepat ketika kesadarannya mulai menipis, rasa sakit itu perlahan surut, digantikan oleh sensasi hangat yang mengalir ke seluruh tubuhnya—seperti darah baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, mengisi setiap sudut dalam dirinya yang selama ini terasa kosong.
Chu Feng terengah-engah, bersandar pada lantai dingin reruntuhan, matanya menatap langit-langit berukir di atasnya.
Dan untuk pertama kalinya seumur hidup, ia merasakannya—
Qi.
Mengalir di dalam tubuhnya, lemah namun nyata, seperti aliran sungai kecil yang baru saja menemukan jalannya setelah bertahun-tahun tersumbat.
"Jangan takut," suara itu terdengar lagi, kini lebih lembut, seolah berbicara dari dalam dirinya sendiri. "Aku bukan datang untuk mengambil hidupmu. Aku datang untuk memberikannya kembali—sebagian dari apa yang pernah hilang."
Chu Feng bangkit perlahan, bersandar pada dinding batu, napasnya masih memburu. "Apa yang telah kau lakukan padaku?"
"Aku telah bersatu dengan tulang belakangmu. Mulai sekarang, sebagian dari kekuatanku adalah milikmu. Tapi ini hanyalah satu pecahan dari yang seharusnya jauh lebih besar."
"Lebih besar? Maksudmu ada yang lain?"
"Ratusan juta yang lain," jawab suara itu, dan untuk pertama kalinya Chu Feng merasakan sesuatu seperti kepahitan dalam nada suaranya. "Tersebar di seluruh penjuru dunia. Sebagian menjadi batu. Sebagian menjadi darah dalam nadi makhluk yang tak pernah tahu apa yang mengalir di tubuh mereka. Sebagian bahkan telah menjadi debu yang terinjak tanpa disadari."
Chu Feng terdiam, mencerna setiap kata yang baru saja ia dengar. Sebuah kebenaran yang jauh lebih besar dari sekadar perebutan takhta kerajaan kecil mulai terbentang di hadapannya—meski ia belum sepenuhnya memahami seberapa besar itu.
"Kenapa aku?" tanyanya akhirnya. "Dari sekian banyak orang di dunia ini, kenapa kau memilihku?"
Hening sejenak sebelum jawaban itu datang, dan kali ini terdengar seperti senyuman dalam suara yang sudah lama tidak tertawa.
"Karena kau tidak mencariku untuk kekuasaan, Pangeran Ketujuh."
"Kau mencari karena penasaran. Dan hanya jiwa semacam itulah yang mampu menanggung beban yang akan datang."
Chu Feng menatap ke arah kegelapan di atas ruangan itu, ke arah dunia yang tiba-tiba terasa jauh lebih luas dari sekadar Kerajaan Chu dan lima benua yang ia kenal dari peta-peta usang di perpustakaan istana.
Ia tidak tahu apa yang baru saja dimulai malam itu.
Tapi satu hal sudah pasti—
Pangeran yang dulu dianggap tidak berbakat, yang selama bertahun-tahun bersembunyi di balik ketenangan palsu, kini membawa sesuatu di dalam tubuhnya yang bahkan tidak bisa dibayangkan oleh saudara-saudaranya sendiri.
Dan Festival Penentuan yang tinggal beberapa minggu lagi, tiba-tiba terasa jauh lebih kecil dari yang pernah ia bayangkan.