NovelToon NovelToon
The Last Horizon: Zero To Heroes

The Last Horizon: Zero To Heroes

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Lamunan Malam

Siapa aku, seorang pecundang?

Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.

Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.

Tingkat Saint? Hah...

Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?

Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1 Awal Baru

"Hey! Apakah dia masih hidup?"

"Entahlah, tapi sepertinya—"

Saat aku mengerjap membuka mata, hal pertama yang kulihat adalah dua orang remaja sedang merogoh isi saku pakaianku. Menyadari aku sadar, mereka langsung terperanjat kaget. Untuk mencairkan ketegangan, sang gadis berinisiatif menegurku lebih dulu. Namanya Sandra, seorang gadis bertubuh kurus kering dengan penampilan kusut dan balutan kain goni kasar sebagai pakaian.

Ia menyikut pemuda di sebelah kanannya, lalu memperkenalkan pemuda itu sebagai kakaknya, Steven, yang usianya tiga tahun lebih tua darinya. Steven memiliki postur tubuh yang sedikit lebih bidang dengan otot-otot yang mulai terbentuk, meski kerangka tulang rusuknya tetap menonjol akibat kekurangan gizi di balik pakaian karung goni serupa.

Sandra dan Steven tidak memiliki marga. Orang tua mereka digolongkan sebagai kaum buangan dari bangsa yang telah lenyap, sehingga Hukum Eris melarang mereka menyandang nama keluarga. Hal serupa juga pasti akan menimpa diriku jika sisa-sisa perlawanan kerajaan asalku runtuh sepenuhnya di bawah invasi kekaisaran.

"Namaku Lyan Clament," ucapku pelan sambil menyodorkan tangan untuk berjabat, berusaha tampak tenang. Sandra langsung menyambut uluran tanganku tanpa ragu. "Kira-kira... di mana kita sekarang?"

"Istarloth," jawab Steven singkat. "Masyarakat setempat menyebutnya 'Tanah Gambut'."

"Meski disebut tanah gambut," Sandra menimpali sambil memungut segenggam tanah kering di dekatnya lalu meniupnya hingga berhamburan, "wilayah ini sama sekali tidak subur. Sejak invasi Kekaisaran baru-baru ini, kami dipaksa bekerja bagai budak untuk memasok logistik mereka." Sandra menghela napas panjang, lalu berbalik untuk mengambil botol kulit airnya.

"Bahkan air pun..." Ia meneguk isinya, sebelum wajahnya berubah muram saat menyadari botol itu sudah kosong. "… Sangat sulit ditemukan. Semuanya dirampas oleh Count Maxus!"

Ia membanting wadah kosong itu ke tanah dengan kesal. Steven, yang sudah menduga reaksi adiknya, sigap memungut botol tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam ikatan kainnya.

Benar juga. Di mana sungai yang telah membawaku sampai ke tempat ini? Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan rawa kering yang merekah akibat kemarau panjang, dihiasi pipa-pipa besi besar yang terus mendengung, menyedot sisa air sumur hingga benar-benar tandus.

"Kamu pasti kelelahan?"

Tanpa sadar, Steven sudah melangkah mendahuluiku. Namun Sandra berbalik, menawarkan diri untuk membawaku ke tempat suku mereka menetap. Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah mereka. Peringatan para prajurit kekaisaran tentang ancaman bandit di luar sana mendadak terngiang kembali. Secara diam-diam, tanganku meraba belati cadangan yang kusembunyikan di balik saku—era kedamaian benar-benar telah mati, dan aku tidak boleh lengah, meski mereka tampak seperti orang-orang yang kelaparan.

Selama perjalanan, Sandra dan Steven beberapa kali terlihat saling berbisik sambil mencuri pandang ke arahku dari belakang. Ketika aku menoleh untuk memastikan, Sandra buru-buru mengalihkan perhatian dan menunjuk ke sebuah cakrawala di hadapan kami.

"Lihat itu," ucapnya.

Berdiri megah di tengah gersangnya lanskap, sebuah menara jam kuno peninggalan masa lalu tampak menjulang tinggi—sebuah monumen mati yang jarumnya telah berhenti.

"Kota Lorenso," sebut mereka, merujuk pada wilayah yang kini dicap sebagai zona buangan. Sandra lantas menceritakan bagaimana invasi Kekaisaran dua dekade silam telah menghancurkan peradaban bangsa mereka hingga berkeping-keping. Kota Lorenso yang kini kami lewati hanyalah deretan reruntuhan kuno tak berpenghuni—sebuah daerah tanpa hukum tempat para bandit dan kriminal menetap.

Permukiman resmi terletak tepat di pinggiran kota mati tersebut, di bawah kendali gubernur lalim bernama Count Maxus. Pilihan terbagi dua: hidup sebagai budak di tanah sendiri atau berjuang mengais dan membunuh sesama untuk mendapatkan makanan. Berpikir realistis itu perlu, namun tekanan rasa malu menghantui.

"Lalu, kenapa kalian memilih hidup di bawah kendali Count Maxus?" tanyaku penasaran.

"Tentu saja karena alasan keamanan," jawab Steven, mendahului adiknya.

"Benar!" sambung Sandra, mengiyakan. "Walaupun nasionalisme mendesak kami untuk bergabung dengan gerakan perlawanan bawah tanah, kota mati itu jauh lebih berbahaya. Tanpa aturan, tempat itu penuh orang-orang biadab. Meskipun Kekaisaran memperlakukan kami seperti budak dengan upah tak layak, setidaknya mereka masih menegakkan hukum terhadap pembunuh dan pencuri."

Tak lama kemudian, tujuan kami terlihat. Beberapa prajurit kekaisaran berzirah berbalut kain merah dengan lambang naga tampak berjaga ketat, membawa tombak panjang yang menjulang melebihi tinggi badan mereka. Di belakang mereka, sebuah dinding pagar kayu palisade berdiri kokoh.

"Tunggu!"

Saat kami hendak melangkah masuk, seorang penjaga berbadan tambun memicingkan mata, menyadari model pakaian asing yang kupakai. Ia langsung memanggil rekan-rekannya untuk melakukan penggeledahan.

"Dia teman kami, Pak!" sergah Sandra panik, berusaha menghadang para prajurit yang mulai mengerumiku.

Peringatan itu diabaikan begitu saja. Sang penjaga gemuk tetap merangsek dan menggeledah tubuhku. Sialnya, belati cadanganku berhasil ditemukan dan disita, meski untungnya mereka tidak menemukan cincin pemberian Ibu yang kusembunyikan rapat-rapat. Kedua bersaudara itu mengembuskan napas lega begitu gerbang kayu berderit membuka jalan, dan kami langsung bergegas masuk tanpa membuang waktu.

"Nah... Selamat datang di permukiman!" seru Sandra sambil merentangkan tangan, memperkenalkan lingkungan sekitar. "Meskipun Kekaisaran tidak pernah memberinya nama resmi, kami menyebut tempat ini Landmine."

"Nama itu dibuat Sandra karena sebagian besar dari kami dipekerjakan sebagai penambang," tambah Steven menjelaskan. "Zona permukiman ini terbagi tiga, semuanya melingkari reruntuhan Kota Lorenso dengan tugas dan wilayah kerja yang berbeda-beda..."

"...Dan tujuan kita adalah—" Sandra memotong penjelasan Steven, lalu menunjuk antusias ke arah bangunan paling layak di tempat itu—setidaknya bukan sekadar gubuk. "Guild! Kita akan mendaftarkanmu untuk melihat apa class milikku. Aku sendiri seorang Fighter, sedangkan..." ia menyikut rusuk kakaknya.

"Aku Thief," jawab Steven dengan nada datar dan lelah.

Begitu pintu didorong terbuka, bunyi gemerincing bel langsung menyambut kedatangan kami. Beberapa orang asing sempat menatapku dengan penuh curiga, tetapi perhatian mereka teralihkan saat seorang prajurit kekaisaran masuk untuk melakukan inspeksi rutin harian. Sandra menyuruhku duduk di sebuah kursi bar kayu, sementara ia dan Steven mengurus sesuatu di meja pelayanan yang dijaga oleh seorang wanita. Tatapan waspada pelayan itu sejak awal sudah membuatku merasa tidak nyaman.

"Lyan!" seru Sandra, memanggilku mendekat. "Sekarang giliranmu, tunggu di sini ya." Ia menyerahkan secarik nomor urut, sementara kedua bersaudara itu bersiap memantau dari dekat.

"Letakkan tanganmu di atas bola kristal itu."

Saat giliranku tiba, telapak tanganku mendadak terasa dingin dan bergetar hebat. Dulu, Ayah pernah berpesan bahwa aku baru boleh menjalani tes ini saat berusia delapan belas tahun.

Begitu kulitku menyentuh permukaannya, kristal tersebut seketika berpendar dalam cahaya yang menyilaukan. Sebuah proyektor hologram mendadak melompat ke udara, memproyeksikan indikator statistik yang terus merangkak naik dengan kecepatan mengerikan. Mendongak ke atas, ekspresi sang pelayan yang tadinya tampak acuh tak acuh seketika berubah drastis—rahangnya terbuka lebar dalam kebisuan.

Beberapa orang dewasa di sudut ruangan mulai menghentikan aktivitas mereka, mengamati dengan saksama saat angka-angka indikator itu mencapai puncaknya.

"Tingkat... Saint?!" teriak pelayan itu histeris. "Itu mustahil!"

Wanita di balik meja—yang belakangan memperkenalkan dirinya sebagai Kaslana—terkesiap, menatapku seolah aku adalah makhluk asing.

"Siapa namamu, Nak?" tanya Kaslana dengan suara gemetar.

"Namaku Lyan..."

Tunggu! Aku harus menyembunyikan marga dan menutupi dari mana aku sebenarnya berasal.

"Y-ya, benar! Namaku Lyan dari permukiman Landmine!" jawabku terbata-bata, terdengar begitu tidak meyakinkan.

"Baiklah!" Kaslana menyerahkan selembar sertifikat resmi. Begitu jemariku menyentuhnya, kertas itu mendadak larut menjadi butiran debu bercahaya yang meresap ke dalam kulit. "Kau sekarang resmi terdaftar sebagai seorang penyihir Tingkat Saint. Selamat datang di Guild!"

Penyihir? Bukankah itu—

"Di mana party-mu?" Suara Kaslana langsung memotong kebingunganku. "Kau tidak punya rekan? Dengan kemampuan sihir dan kapasitas mana tingkat Saint, kau bisa dengan mudah bekerja langsung untuk Kekaisaran."

"Kami party-nya!" teriak Sandra spontan. Ia melompat turun dari kursi bar dan langsung meraih pena yang disodorkan Kaslana untuk mendaftarkan party baru.

"Tunggu sebentar!" sergahku cepat sebelum ujung pena itu menorehkan tanda tangan di atas lembar pendaftaran. "Kalian tidak pernah memberitahuku apa pun soal ini!"

"Yah... Kalau soal itu—"

"Tunggu sebentar ya, Mbak Kaslana. Ada urusan yang harus kami selesaikan di luar," potong Steven. Ia segera menarik lengan Sandra dan menyeretku keluar dari gedung Guild.

Begitu sampai di ruang terbuka, aku langsung melepaskan cengkeraman mereka. "Jadi, apa penjelasan kalian?!" tuntutku tajam.

"Ma—"

"Dengarkan dulu," potong Steven sambil mengeluarkan sebuah liontin zamrud kusam dari balik bajunya. "Fungsi benda ini mirip dengan bola kristal di Guild—bisa mendeteksi tingkat potensi seseorang, meski tidak seakurat alat mereka. Tapi sejak kau sadar dari pingsan di sungai, liontin ini terus memancarkan cahaya terang, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya."

"Itu tetap bukan alasan untuk menyeretku masuk party tanpa izin!" Bentakku tak terima.

"Dengar," sambung Steven dengan nada melunak, sementara tangannya menahan Sandra agar tidak ikut memotong. "Kami sudah lama berusaha membentuk party, tapi orang-orang yang kami rekrut selalu berakhir meninggalkan kami."

"Sial?" tanyaku curiga.

"Bukan karena sial—"

"Mereka kabur karena tidak adil dalam pembagian hasil jarahan," potong Steven jujur. "Sebuah party resmi minimal harus beranggotakan tiga orang." Ia menepuk pundakku, memasang wajah memelas penuh harap. "Kumohon, bergabunglah!"

Bukan karena aku ingin. Tapi intuisiku berteriak bahwa sendirian di tempat asing sama saja dengan bunuh diri. Lagipula, menolak mereka sekarang pun percuma—mereka sudah tahu nama belakangku, dan Steven yang tadinya kupikir remaja pendiam ternyata jauh lebih cerdik dan manipulatif. Dia kapan saja bisa memberitahu semua rahasiaku.

Aku tidak punya pilihan lain.

"Baiklah, aku bergabung," desahku pasrah.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
ka mau masuk grup aku gak tempat berbagi cerita . dan saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!