Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Ophelia sedang menunggu ojek online yang ia pesan di pinggir jalan ketika merasakan sesuatu yang tajam menyentuh pinggangnya.
“Jangan berteriak atau pisau ini akan langsung menancap di tubuhmu.”
Hm.
Ophelia melepas earphone yang ia pakai.
Dari tadi tidak ada satupun lagu yang diputar di sana. Ophelia sengaja membuat dirinya terlihat rentan agar siapapun yang mengikutinya akan keluar.
Tapi ternyata cuma satu orang.
Apa dia menunggu Ophelia berdiri sendiri di tempat sepi dulu? Pemikirannya benar ternyata.
“Jalan ke depan sana, jangan melawan.”
Ia mengangguk. Tapi bukannya berjalan, Ophelia menarik napas pendek dan mencari pijakan yang lebih stabil untuk bisa menghindar dari pisau yang ada di pinggangnya.
“Apa—?!”
Berhasil!
Tapi sepertinya pisau itu meleset dan menggores lengan Ophelia. Ia bisa merasakan seragamnya mulai basah karena darah.
Tidak masalah. Lengannya masih bisa digerakkan.
“Berhenti!”
Ophelia langsung berlari secepat yang ia bisa. Kalau tadi ia menurut saja mungkin nyawanya tidak akan selamat hari ini.
Dia tidak menahan semua penderitaan selama setahun terakhir cuma untuk mati sia-sia.
Ketika napasnya mulai habis, Ophelia melihat ke arah belakang. Penculik itu tidak kelihatan. Apa lari Ophelia yang terlalu kencang atau—
Buakk!!
“Lu pikir bisa pergi kemana hah?”
Dia mengambil jalan pintas?!
“Tolong—hmph!”
Mulut Ophelia ditutup menggunakan tangan dan tubuhnya diangkat ke arah gang sempit. Sialan, ini seperti yang dialami dirinya dan Airin setahun lalu!
Sebelum benar-benar sampai ke dalam gang sempit itu, Ophelia mencoba menendang, menggigit—melakukan hal yang ia bisa hingga tubuhnya akhirnya bebas.
Ophelia mengambil jarak.
Tapi setahun lalu dia baru belajar dasar-dasar taekwondo. Sekarang harusnya sudah berbeda.
Setidaknya, itu yang ingin Ophelia percaya.
Penculik itu menerjang ke arahnya, Ophelia langsung menghindar dan mencoba menendang—tapi karena panik tendangannya tidak setinggi yang ia mau.
Itu membuatnya kehilangan keseimbangan.
Memanfaatkan situasi, si penculik berusaha memukul wajah Ophelia berulang kali. Pukulan pertama membuat kepalanya benar-benar pusing, Ophelia bahkan merasakan darah mengalir dari hidungnya.
Tapi pukulan kedua bisa dihindari dan dia berhasil menggunakan siku untuk memukul balik rahang penculik itu.
Kali ini dia yang kehilangan keseimbangan.
Ophelia tidak tinggal diam dan melancarkan satu tendangan terakhir—hanya agar si penculik mundur dan membuat ruang yang cukup untuk dirinya berlari lagi.
Ophelia mesti pergi ke tempat yang ramai.
Kali ini ia tidak melihat ke belakang dan fokus berlari sampai benar-benar berada di tempat yang sering dilewati orang.
Dengan napas yang masih terengah-engah, gadis itu bersandar pada dinding sebuah toko. Luka di lengannya mulai berdenyut nyeri, membuatnya meringis pelan.
Setidaknya Ophelia masih selamat.
Ketika fokus pada napasnya, Ophelia mencium wangi yang anehnya familiar. Wangi teh atau… padang rumput? Ia tidak bisa mengingat wangi siapa itu sampai sebuah tangan mengangkat dagunya perlahan.
“Apa yang terjadi denganmu?”
Itu Aidoneus.
“...Kak Aiden?” panggil Ophelia. Ia menyipitkan mata, memastikan kalau pria yang berdiri di depannya adalah kakaknya Kaiser.
Aidoneus terlihat menatap gadis di depannya dengan dalam. Rambut yang berantakan, hidung berdarah juga mata yang terlihat tidak fokus—
“Kamu diserang? Oleh siapa?”
Ophelia menarik napas panjang dan mencoba untuk berdiri tegak. Ia bergumam sembari mengusap darah di hidungnya. “Aku tidak apa-apa.”
Kata itu membuat pria di depannya mengepalkan tangan.
Oh, kalau tidak salah ia belum memperingati Aidoneus untuk jangan memberitahu siapapun soal luka di punggungnya.
“Soal lukaku beberapa hari lalu, bisa tolong kakak lupakan soal itu?” ujarnya. Tidak sadar kalau ucapannya semakin menambah kekesalan Aidoneus. “Akan ada masalah kalau sampai orang lain tahu.”
“Kalau lukamu yang sekarang? Mesti kulupakan juga?” tanya Aidoneus dingin.
“Kalau bisa, anggap saja tidak melihat apa-apa.”
Pria di depannya terlihat ingin tertawa. Dia menarik lengan Ophelia—namun langsung berhenti ketika gadis itu meringis kesakitan.
“Apa lagi ini?” Aidoneus menatap telapak tangannya yang penuh darah.
Entah kenapa tatapan pria itu semakin gelap. Kali ini ia menggenggam tangan Ophelia, menariknya ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka.
“Aku masih bisa pulang sendiri.”
“Dengan kondisimu yang seperti ini?”
Dia… marah? Tapi kenapa?
Di dalam mobil abu-abu itu, Aidoneus mengeluarkan kotak P3K miliknya dan menyuruh Ophelia mengulurkan tangan.
“Aku bisa sendiri.”
“Tunjukkan lukanya.”
Oke, dia benar-benar marah.
Ophelia membuka jas, membuat luka memanjang di lengannya terlihat jelas di balik kemeja putih yang ia pakai.
Tidak perlu dijahit ‘kan ya?
Dengan perlahan, Aidoneus membersihkan luka itu dan memakaikan obat entah apa di atasnya. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
“Terima kasih,” ucap Ophelia pelan ketika lengannya selesai diperban.
Aidoneus menyuruh Ophelia membersihkan darah di hidungnya sementara ia terlihat mengusap wajah sembari menghela napas panjang.
Serius, dia ini kesal kenapa? Apa Ophelia membuat kesalahan?
“Aku minta maaf.”
“Atas apa?” tanya Aidoneus dingin. “Maafmu itu untuk apa?”
Ophelia terdiam. Cara itu juga tidak berhasil?
“Kamu tidak akan mengerti kalau aku hanya memintamu untuk berhenti melakukan ini ya?”
Hah?
Pria itu akhirnya bicara. “Lamarannya Chelsea. Aku membuat Ayahku setuju untuk bertemu dengan Ayah angkatmu besok agar dia menyetujui lamaran itu.”
Ophelia mengangguk pelan, ia ingat kalau Kak Arga pernah bilang kalau hal itu diurus oleh Aidoneus.
Itu memang rencana yang bagus. Jika keluarga Mahawirya—yang benar-benar dekat dengan keluarga Purnomo—sampai menawarkan kerja sama bisnis pastinya Randi tidak akan menolak.
Tapi apa hubungannya dengan situasi mereka sekarang?
“Aku bisa saja membuat Ayahku membatalkan hal itu jika kamu tetap tidak sadar.”
Tunggu.
“Apa hubungannya dengan diriku?” tanya Ophelia cepat.
“Kamu terluka separah ini tapi masih ingin pulang sendiri. Ketika akhirnya meminta bantuan kamu malah memintanya untuk orang lain. Kamu bahkan menyuruhku untuk melupakan itu semua, seakan itu tidak penting—dan kamu masih bertanya kenapa?”
“Tapi aku tidak pingsan kali ini,” ujar Ophelia pelan. “Dan soal masalah itu aku sudah menemukan solusinya.”
“Bukan itu maksudku, Ophelia.”
Aidoneus memegang kedua pundaknya. “Mintalah bantuan untuk dirimu sendiri. Hanya karena kamu bisa, bukan berarti kamu harus melakukan segalanya sendirian—apalagi dengan tubuh penuh luka.”
Ucapan teman-temannya langsung berputar di kepala Ophelia.
“Beri tahu kami.”
“Aku mungkin nggak bisa bantu, tapi setidaknya—”
…mintalah pertolongan?
Apa ini yang dimaksud oleh Airin dan Kaiser?
Ophelia kira dia sudah bisa melakukan semuanya seorang diri. Ophelia berusaha kuat agar bisa mengalahkan Ayah angkatnya, ia selalu melihat itu sebagai keharusan.
Ia hanya tidak mau kembali mati dalam keadaan menyedihkan.
Tapi karena dia memiliki orang-orang yang peduli padanya sekarang—ia tidak perlu melakukan itu semua sendirian?