Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1.Bayangan dibalik pintu
Suara dering telepon genggam di atas meja kayu kafe bergetar untuk yang kelima kalinya dalam satu jam terakhir. Aruna menyapu keringat tipis di dahi dengan punggung tangannya, lalu memandangi layar ponsel yang terus menyala menampilkan nama yang sangat ia hafal: Mamah.
Ia menarik napas panjang, menetralkan ritme dadanya yang mulai terasa sesak. Dengan jemari yang sedikit gemetar, Aruna menggeser layar dan menempelkan benda tipis itu ke telinganya.
"Aruna! Kamu ke mana saja, sih?! Ditelepon dari tadi tidak diangkat-angkat!" Suara melengking di ujung telepon langsung menyambut tanpa salam, sarat akan kemarahan yang meluap-luap.
"Maaf, Mah... Aruna lagi ramai pembeli di kafe. Baru bisa pegang HP sekarang," sahut Aruna pelan, suaranya lembut, hampir tenggelam di antara denting cangkir dan mesin espresso yang berdesis di belakangnya.
"Alasan terus! Kamu pikir uang gaji pelayan kafemu yang seberapa itu bisa bayar gaun peragaan busana kakakmu?! Kakakmu itu besok ada fashion show penting! Dia butuh gaun tambahan dan sepatunya rusak. Kamu transfer sekarang lima juta ke rekening Karin!"
Aruna terdiam sejenak. Angka lima juta rupiah bukan jumlah yang kecil baginya. Gaji bulanannya sebagai pelayan kafe bahkan tak mencapai angka itu secara utuh. Selama tiga tahun sejak lulus SMA, separuh lebih gajinya selalu habis disedot oleh tuntutan keluarga yang tak pernah ada habisnya.
"Mah... uang tabungan Aruna tinggal dua juta. Itu pun buat bayar kontrakan dan makan Aruna bulan ini—"
"Halah! Jangan pelit sama keluarga sendiri!" potong Mamahnya cepat, tanpa membiarkan Aruna menyelesaikan kalimatnya.
"Kakakmu itu calon model papan atas! Kalau dia sukses, kamu juga yang enak. Masa sama kakak sendiri perhitungan sekali? Pokoknya Mamah tidak mau tahu, kirim apa yang kamu punya sekarang. Kalau kurang, kamu cari pinjaman!"
Klik.
Panggilan diputus sepihak. Aruna perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Layar itu kembali gelap, memantulkan bayangan wajahnya sendiri—wajah yang pucat, mata yang kelelahan, dan bibir tipis yang terkatup rapat.
Tidak ada pertanyaan apakah Aruna sudah makan, bagaimana kabarnya, atau apakah ia lelah bekerja berdiri seharian dari pagi hingga malam.
Bagi keluarganya, Aruna Rasyara hanyalah mesin pencetak uang darurat dan tempat menampung segala beban yang tak ingin dipikul oleh Karin, anak kesayangan mereka.
Aruna memejamkan mata sejenak, menghela napas berat, mencoba menahan rasa panas yang merambat ke matanya. Ia tidak boleh menangis di tempat kerja. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu terlihat tegar.
"Woy, Na! Malah melamun!"
Sebuah tepukan mendarat cukup keras namun ramah di bahunya, membuyarkan lamunan Aruna.
Terlihat Rian, rekan kerjanya yang selalu ceria dengan celemek kafe yang sedikit miring, berdiri sambil membawa nampan berisi cangkir-cangkir kosong.
"Duh, mukanya langsung ditekuk gitu kayak baju belum distrika seminggu," goda Rian sambil memiringkan kepala.
"Pasti telepon dari negara api ya?"
Aruna terkekeh pelan, mencoba menyembunyikan gurat kesedihannya.
"Nggak kok, Yan. Cuma... biasa, masalah rumah."
"Masalah rumah apa masalah nagih utang?" celetuk Mbak Maya, senior mereka di kafe, yang baru keluar dari dapur sambil membawa wadah tisu.
"Na, kamu itu masih muda, cantik, rajin. Tapi kalau mukamu cemberut terus pas servis pelanggan, nanti tips kita dipotong Pak Bos, loh. Senyum dong, senyum! Nih, liat Rian, mukanya pas-pasan tapi senyum terus makanya banyak pelanggan kakek-kakek yang kasihan."
"Sembarangan Mbak Maya kalau ngomong! Kakek-kakek darimana, itu pelanggan setia tahu!" protes Rian dengan nada dramatis, membuat Aruna tak bisa menahan tawa kecilnya.
Di kafe kecil ini, di antara candaan konyol Rian dan omelan penuh perhatian Mbak Maya, Aruna merasa sedikit bernapas. Ini adalah tempat perlindungan kecilnya dari kenyataan pahit di luar sana.
Tempat di mana ia diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar pelayan keluarga yang harus selalu mengalah.
"Nanti malam kamu shift sampai tutup kan, Na?" tanya Mbak Maya sambil mengelap meja bar.
"Iya, Mbak. Sampai jam sepuluh," jawab Aruna seraya merapikan letak cangkir di rak.
"Bagus deh. Nanti kita makan martabak bareng ya, Rian yang bayar karena kemarin dia dapet tips lima puluh ribu dari pelanggan meja empat!"
"Lho, kok aku lagi?! Mbak Maya tega banget sama anak yatim piatu finansial kayak aku!" seru Rian yang langsung disambut derai tawa hangat dari staf kafe lainnya.
Aruna tersenyum tipis. Untuk sejenak, beban di dadanya sedikit terangkat.
Namun, rasa cemas kembali menyelinap ketika mengingat pesan singkat dari Mamahnya yang baru saja masuk: 'Mamah dan Papah tunggu kamu di restoran hotel Merapi jam 8 malam ini. Pakai baju yang rapi. Jangan memalu-malukan.'
Aruna menatap pesan itu dengan kening berkerut. Restoran hotel? Untuk apa orang tuanya yang biasanya hemat—kecuali untuk urusan Karin—mengundangnya makan di restoran mewah? Firasat buruk perlahan merayapi benaknya, tetapi ia menepisnya cepat.
Mungkin... mungkin kali ini orang tuanya akhirnya ingin merayakan ulang tahunnya yang terpaut beberapa minggu lalu? Atau sekadar ingin makan bersama sebagai keluarga?
Secercah harapan naif—harapan yang selalu Aruna pelihara sejak kecil meski berkali-kali dipatahkan—kembali tumbuh secara tidak rasional di dadanya.
Malam harinya, tepat pukul delapan, Aruna berdiri di depan pintu kaca berkilau sebuah restoran mewah di kawasan Jakarta Selatan. Baju terbaik yang ia miliki—sebuah kemeja krem sederhana dan rok kain hitam—terasa sangat kontras dengan gaun-gaun elegan dan setelan jas mahal yang dikenakan para tamu lain yang lalu lalang.
Seorang pelayan mengarahkannya ke sebuah ruang privat di sudut restoran. Begitu pintu digeser, Aruna melihat Papah dan Mamahnya duduk membelakangi pintu. Di samping mereka, Karin tampak anggun dengan gaun merah menyala dan riasan tebal yang sempurna.
"Aruna, akhirnya datang juga kamu. Duduk!" perintah Papahnya, Pak Rendra, dengan nada dingin tanpa basa-basi.
"Maaf, Pah, Mah... jalanan agak macet tadi," ucap Aruna pelan seraya menduduki kursi kosong di samping Karin.
Karin menatap Aruna dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang penuh cemooh. "Duh, Na... kamu pakai baju apa sih? Kusam banget. Nanti kalau ada kolega Papah yang lewat kan malu-maluin."
"Sudah, jangan diributkan," potong Mamah cepat. Mamah lalu memajukan tubuhnya ke arah Aruna, matanya memancarkan ketegangan yang aneh.
"Aruna, sebentar lagi akan ada tamu penting Papah yang datang. Kamu diam saja, menurut, dan jangan banyak bicara."
"Tamu penting? Siapa, Mah?" tanya Aruna bingung.
Sebelum Mamahnya sempat menjawab, pintu ruangan privat itu terdorong terbuka.
Seorang pria melangkah masuk. Sosoknya tinggi, tegap, dengan rahang tegas dan tatapan mata yang sangat tajam memancarkan dominasi alami.
Ia mengenakan setelan jas hitam membalut kemeja gelap tanpa dasi—tampak sangat elegan, namun aura di sekelilingnya begitu dingin hingga membuat udara di ruangan seketika terasa membeku.
Kaivan Adikara.
Aruna pernah melihat wajah itu beberapa kali di majalah bisnis papan atas. Seorang pengusaha muda sukses yang memimpin Adikara Group, sosok yang dikenal dingin, tanpa ampun di dunia bisnis, dan sangat tertutup soal kehidupan pribadinya.
Di belakang Kaivan, berdiri dua orang pengawal berbadan tegap yang dengan sigap menutup kembali pintu ruangan.
"Maaf saya terlambat, Pak Rendra," suara Kaivan terdengar berat dan dalam, tanpa nada ramah sedikit pun. Ia tidak tersenyum saat menjabat tangan Papah dan Mamah Aruna.
"Oh, tidak apa-apa, Pak Kaivan! Kami juga baru saja sampai," jawab Papah Aruna dengan sikap yang sangat kontras—tampak membungkuk-membungkuk penuh rasa hormat dan pengabdian yang dipaksakan. "Silakan duduk, Pak."
Kaivan duduk di seberang Aruna. Pandangan matanya yang tajam menyapu seisi meja, hingga akhirnya mendarat tepat pada wajah Aruna yang menunduk dalam.
_Bersambung