Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Lo nggak usah naik ojek, Do. Biar gue yang anter lo ke sana," kata Ohang sumringah.
"Lah, gimana kalau ketahuan?" tanya Edo sambil menyisir rambut.
"Nggak akan. Gue kan mau pake masker sama helm. Plus minjem motor matic Abang gue. Jadi aman!" Ohang menaik-turunkan alisnya.
Edo menyeringai lebar. "Oke, deh. Gue ikut apa kata lo aja, Hang."
Ohang mengangguk, ikut bersiap untuk mengantar Edo ke rumah Salma.
Motor matic yang dikendarai Ohang melaju melewati gang kecil yang cukup sepi. Ia sama sekali tidak terlihat ragu karena memang sudah mengetahui lokasi rumah Salma. Rumah perempuan itu berada cukup jauh dari rumah-rumah warga lainnya sehingga suasana di sekitar terasa lengang.
Beberapa menit kemudian, Ohang memperlambat laju motor ketika sebuah rumah berpagar besi mulai terlihat di depan mereka.
"Itu rumahnya Salma, Hang?" tanya Edo memastikan.
"Iya. Itu rumahnya," jawab Ohang santai.
Begitu sampai di depan gerbang, Ohang menghentikan motor. "Turun, Do."
Edo segera turun dari motor. "Lo langsung pergi?" tanyanya.
"Ya iyalah. Kalau gue kelamaan nongkrong di sini malah bisa mengundang pertanyaan." Ohang kembali menaikkan kaca helmnya. "Nanti kalau urusan lo sudah selesai, kabarin gue. Gue jemput."
Edo mengangguk. "Oke."
"Jangan sampai ketahuan warga."
"Tenang aja."
Ohang kemudian memutar gas dan segera meninggalkan rumah Salma.
Edo berdiri di depan gerbang sambil memperhatikan motor Ohang yang semakin menjauh. Setelah suara kendaraan itu menghilang di tikungan, ia mengambil ponsel dari saku. Belum sempat menghubungi Salma, pintu rumah perempuan itu sudah terbuka. Edo langsung memasukkan kembali ponselnya.
Tak sampai lima menit, Salma keluar dari dalam rumah. Perempuan itu mengenakan gaun malam tipis yang membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas.
Salma berjalan cepat menuju gerbang. Sesampainya di sana, ia terlebih dahulu celingak-celinguk ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada seorang pun yang melihat. Setelah merasa aman, ia segera membuka kunci gerbang. "Cepat masuk, Do," bisiknya. Edo langsung melangkah mendekat. Salma menarik lengan lelaki itu masuk ke halaman, kemudian buru-buru menutup dan mengunci kembali gerbangnya.
"Sepi banget, Teh," ujar Edo sambil melihat keadaan sekitar.
"Makanya aku suruh kamu datang sekarang." Salma membuka pintu rumah dan kembali melihat ke belakang sebelum mempersilakan Edo masuk.
Begitu Edo berada di dalam, Salma segera menutup pintu rapat-rapat. Menguncinya sebanyak dua kali.
Rumah itu benar-benar sunyi. Tidak terdengar suara anak kecil ataupun orang lain.
"Anak Teteh benar-benar nggak ada?" tanya Edo sekali lagi.
"Nggak ada. Sudah aku bilang, dia menginap di rumah neneknya." Salma kemudian berjalan menuju ruang tengah. "Ayo, duduk."
Edo mengikutinya sambil tersenyum penuh arti.
"Kamu mau minum apa?" tanya Salma.
"Apa saja, Teh. Air putih juga boleh."
Salma mesem. "Tunggu sebentar ya, aku buatkan minum dulu."
Edo mengangguk.
Salma berlalu pergi dari ruangan itu.
"Anjir!" Edo memukul pahanya pelan. "Kayaknya si janda itu udah gatel berat. Segala kacamatanya diperlihatkan. Hihihi..." Terkikik Edo di akhir ucapannya. "Nah, ini kesempatan gue buat merekam. Mana tahu ruangan ini bakal jadi saksi pergulatan kami." Ia mengambil ponsel, dan memposisikan kamera di tempat yang bisa mereka semua kegiatan dengan jelas. Setelahnya, Edo kembali duduk di tempat semula.
Tak lama, langkah kaki terdengar mendekat. Salma muncul membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk dan sepiring kue bolu. "Silakan diminum, Do dan dicicipi kuenya," katanya dengan gerakan anggun. Seolah sengaja ingin menunjukan kemolekan tubuhnya.
Edo menelan ludah, menatap Salma yang menggoda. "Terima kasih, Teh."
"Sama-sama, Do." Salma menjatuhkan bokongnya tepat di sebelah Edo, memepet tubuh lelaki berusia dua puluh satu tahun itu.
Untuk sesaat, tak ada obrolan di antara mereka. Edo meminum jus yang disuguhkan Salma sampai nyaris habis.
Barulah setelah itu, Salma berdeham dan bertanya, "Do, serius kamu suka sama aku?"
Inilah momen yang Edo tunggu-tunggu sejak tadi. Dan tanpa berpikir panjang, ia menjawab. "Serius, Teh. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama Teteh. Foto Teteh yang waktu itu aku sukai, benar-benar mengalihkan duniaku," dusta Edo meyakinkan.
Kedua pipi Salma seketika merona. "Ah, kamu mah bisa aja, Do. Gombal."
"Aku tidak menggombal, Teh. Apa yang kukatakan barusan adalah fakta," bisik Edo sambil meraih kedua tangan Salma dan menciumnya.
"Do..." Salma melirih.
"Aku cinta sama Teteh," kata Edo menatap iris hitam Salma dengan lekat.
"Do..." Sedikit demi sedikit, Salma beringsut merapati tubuh Edo. "Aku juga cinta sama kamu, tampan." Wajahnya mendekat ke wajah Edo.
"Anjir!" Edo memekik kaget dalam hatinya. Tapi ia kemudian bersorak gembira, masih dalam hati. "Yess! Nggak perlu mengeluarkan bujukan maut. Si Salma udah nyium duluan. Kayaknya dia emang butuh belaian, dan kehangatan juga. Hahaha...!" batin Edo begitu berisik, berbanding terbalik dengan bibirnya yang tengah membalas liar ciuman Salma.
Salma mengerang pelan dalam pagutan itu, lalu berbisik, "Do. Kita pindah ke kamar, yuk!"
"Oke, Teh. Ayo."
Salma bangkit lebih dulu, menarik tangan Edo.
"Sebentar, Teh." Edo menahan tarikan itu, ia mengambil ponselnya terlebih dahulu. "Lanjut rekam lagi di kamar," kekehnya dalam hati.
"Ayo, buruan, Do," rengek Salma menarik kencang tangan Edo.
"Iya, Sayangku. Ayo." Dalam langkah itu, bibir Edo menyeringai puas. Hatinya bersorak gembira karena rencananya dan Ohang berjalan lancar.
Begitu masuk ke kamar, Salma segera melucuti setiap helai benang yang menempel di tubuhnya. Edo sampai menganga dibuatnya. "Edo... ayo!" Wanita itu sudah merebah di atas ranjang.
Edo terkekeh. "Sabar dulu, Teh." Sebelum meluruhkan helai benang di tubuhnya, Edo menyimpan ponselnya di tempat sempurna dengan posisi kamera seperti tadi. "Mantap! Adegan demi adeganku dan Salma pasti akan terekam dengan jelas. Ohang pasti akan bahagia. Dan uang satu juta yang dia janjikan serta bonusnya... akan menjadi milikku." Lagi-lagi Edo bersorak penuh kemenangan dalam benaknya.
Setelah memastikan kamera on dengan baik, ia pun langsung naik ke atas ranjang. "Siap, Teh?"
"Iya, Sayang." Salma mengangguk.
"Oke, Teh." Edo menjalankan tugasnya dan detik berikutnya, jeritan Salma mengudara menyebut nama Edo Perwira.
Di tempat yang berbeda, suasana masih dipenuhi suara mesin jahit yang saling bersahutan. Mia duduk tegak di depan mesin jahitnya. Kedua tangannya sibuk mengarahkan kain yang terus bergerak di bawah jarum. Matanya sesekali berpindah dari jahitan ke potongan kain di hadapannya. "Fokus, Mia. Jangan sampai salah jahit," gumamnya pada diri sendiri.
Namun, entah kenapa sejak beberapa menit terakhir pikirannya terasa tidak tenang. Mia menarik napas panjang, lalu kembali berkonsentrasi. "Aduh!" Ujung jarum mesin jahit tiba-tiba menusuk jarinya. Mia spontan menarik tangannya. Setitik darah langsung muncul di ujung jarinya. "Astagfirullah..." bisiknya sambil meringis.
Ia segera mematikan mesin, memencet jarinya yang tertusuk itu dengan jari yang lain. Menekan agar darah tak keluar lebih banyak. "Kenapa aku malah nggak fokus begini?" Mia mengambil sapu tangan dari saku celananya untuk membungkus luka kecil tersebut. Namun, baru saja ia melihat darah di jarinya, wajah Edo tiba-tiba terlintas di benaknya.
Mia terdiam. "Kenapa aku malah ingat Edo?" Dadanya mendadak terasa sesak. Mia menghela napas. "Semoga dia baik-baik saja." Perasaan aneh tiba-tiba menyelimuti dirinya. Bukan sekadar khawatir seperti biasanya, tetapi seperti ada sesuatu yang membuat hatinya gelisah tanpa alasan. Mia menatap jarinya yang terluka. "Ya Allah, jangan-jangan terjadi sesuatu sama Edo?"
"Mia!" Suara Ayu dari belakang membuat Mia tersentak.
"Iya, Bu?"
"Kenapa kamu berhenti? Barang ekspor harus segera selesai."
Mia buru-buru mengusap jarinya dengan sapu tangan "Ini, Bu. Jari saya ketusuk jarum sedikit."
Ayu mendekat dan melihat luka di jari Mia. "Kalau masih sakit, ke kamar mandi dulu, cuci lukanya. Jangan dipaksakan. Awas darahnya menetes ke baju."
Mia mengangguk. "Iya, Bu. Saya izin ke kamar mandi."
"Iya." Ayu kembali ke bagian lain untuk memeriksa pekerjaan karyawan lainnya.
Sebelum beranjak ke kamar mandi, Mia kembali menatap mesin jahitnya. Kali ini ia berusaha menyingkirkan semua pikiran buruk tentang Edo. "Ya Allah... jagalah suamiku."
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪