NovelToon NovelToon
KAMU ADALAH MEMPELAI KU

KAMU ADALAH MEMPELAI KU

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.

Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”

Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 : HARGA DARI SEBUAH KEPUTUSAN

Pagi itu, atmosfer di kantor pusat Varell Corporation terasa jauh lebih sibuk daripada biasanya. Beberapa staf divisi teknologi informasi berjalan tergesa-gesa melewati koridor utama membawa laptop dan bundelan berkas dengan raut wajah tegang.

Adrian baru saja melangkah keluar dari lift utama ketika seorang staf muda bergegas menghampirinya.

“Pak Adrian! Akhirnya Bapak sampai juga,” panggil staf itu sembari mempercepat ritme langkahnya agar sejajar dengan sang atasan.

Adrian menoleh, menatap bawahannya dengan kening berkerut. “Kenapa? Dari caramu berlari menghampiriku, sepertinya ada hal buruk yang terjadi.”

Staf itu meringis canggung. “Anu, Pak... ada sedikit kendala pada salah satu proyek sistem yang sedang kita integrasikan dengan pihak Exco.”

Langkah Adrian seketika terhenti di tengah koridor. “Kendala lagi?” tanyanya menuntut.

“Masih bisa ditangani tim teknis kok, Pak. Saya tidak bermaksud membuat Bapak panik,” potong staf itu cepat, berusaha menenangkan.

Adrian menghela napas panjang, menatap stafnya itu lekat-lekat. “Kalau memang masih berada dalam kendali, kenapa wajahmu kaku sekali seperti orang membawa kabar duka?”

Staf itu tersenyum malu seraya menggaruk tengkuknya. “Soalnya... saya sendiri belum yakin masalahnya berhenti sampai di sini atau justru bakal melebar, Pak.”

Tanpa membuang waktu, Adrian mengulurkan tangan. “Mana laporan terbarunya? Berikan padaku.”

Staf itu dengan sigap menyerahkan sabak digital (tablet) yang dibawanya. Adrian segera mengusap layarnya, membaca sekilas jajaran data dan grafik yang masuk sejak subuh sembari kembali melangkah menuju ruangan.

“Semalam sistem server sempat mengalami downtime, Pak,” terang staf itu mengekor. “Tim kita dan tim Exco sudah melakukan mitigasi awal, tapi tadi pagi gangguan serupa muncul kembali. Beberapa data terlambat masuk, tapi sampai detik ini tidak ada data yang hilang atau korup sama sekali.”

“Bagus kalau begitu,” sahut Adrian tenang.

Raut lega perlahan terpancar di wajah staf muda tersebut. Adrian mematikan layar tablet dan mengembalikannya. “Kalau datanya aman, tidak perlu memicu kepanikan di antara karyawan hanya karena kendala teknis ringan.”

Tiba di depan pintu ruang kerjanya, Adrian memutar tubuhnya sebentar. “Tolong hubungi Direktur Teknologi. Katakan padanya untuk menghadap ke ruanganku setelah dia mendapatkan hasil analisis mendalam mengenai gangguan ini.”

“Siap, Pak. Segera saya sampaikan,” sahut staf itu sebelum berbalik menuju divisi TI.

Adrian mendorong pintu ruangannya dan mendaratkan tubuhnya di kursi kebesaran. Matanya tertuju pada berkas fisik yang tersusun di sudut meja. Varell Corporation baru saja mengambil keputusan besar dengan memilih Exco sebagai mitra strategis pengganti Valdren International. Keputusan itu sudah terlanjur diketuk dan tidak mungkin ditarik kembali hanya gara-gara gangguan teknis biasa.

Adrian menyandarkan punggungnya, memijat pelipisnya yang pening. “Semoga ini benar-benar cuma masalah penyesuaian sistem biasa,” gumamnya pelan pada ruangan yang hening.

Tak sampai setengah jam kemudian, ketukan di pintu ruangannya terdengar. Direktur Teknologi masuk bersama seorang analis utamanya dengan raut wajah yang jauh lebih tenang.

“Selamat pagi, Pak Adrian. Kendalanya murni disebabkan oleh proses sinkronisasi awal,” ujar sang direktur sembari memutar posisi laptop agar layarnya menghadap Adrian. “Ada beberapa protokol keamanan Exco yang belum sepenuhnya presisi dengan arsitektur data kita. Pihak Exco sangat kooperatif dan sudah menerjunkan tim teknis tambahan.”

Adrian menyandarkan tubuhnya, mengamati diagram di layar. “Berapa estimasi waktu yang tim kalian butuhkan?”

“Sekitar satu sampai dua hari kerja untuk memastikan kestabilannya, Pak. Hanya saja, jadwal peluncuran beberapa fitur proyek mungkin sedikit meleset dari linimasa awal.”

“Dua hari masih dalam batas toleransi. Lanjutkan saja,” pungkasi Adrian cepat. “Dan sampaikan pada seluruh tim, tidak perlu sibuk mencari-cari siapa yang salah dalam gangguan ini.”

Kening sang direktur berkerut. “Kenapa begitu, Pak?”

Adrian menatapnya lurus dengan binar tegas. “Karena aku membayar kalian untuk mencari solusi, bukan untuk mencari kambing hitam.”

Direktur TI itu tertawa kecil mendengar ucapan atasannya. “Siap, Pak. Pesan Bapak akan saya sampaikan pada tim.”

Sepeninggal bawahannya, Adrian menghela napas lega. Namun, ketika pandangannya beralih ke lembaran laporan keuangan kuartalan di sudut meja, senyum di wajahnya perlahan memudar.

Di sana tertera angka-angka pembengkakan biaya operasional pada beberapa titik proyek bersama Exco. Jumlahnya memang belum mencapai tahap krisis, tetapi cukup signifikan untuk membuat dahinya berkerut dalam.

“Jadi... harga dari sebuah peralihan mulai terasa sekarang,” bisik Adrian pada dirinya sendiri. Varell Corporation kini harus ekstra berhati-hati.

Sementara itu di gedung besar Valdren International, atmosfernya terasa jauh lebih tenang dan terkendali.

Hero sedang menekuni dokumen di balik meja kerjanya ketika pintu ruangannya diketuk pelan. Valen melangkah masuk sembari membawa sebuah stopmap tebal dan meletakkannya di samping kibor Hero.

“Ada pembaharuan menarik mengenai kondisi internal Varell Corporation, Tuan,” ujar Valen ramah.

Hero melirik dokumen tersebut tanpa riak terkejut di wajahnya. “Soal integrasi proyek mereka dengan Exco?”

“Rupanya radar informasi Anda selalu lebih cepat, Tuan,” sahut Valen tersenyum tipis seraya menarik kursi di depan Hero. “Proyek gabungan mereka mulai mengalami keterlambatan operasional dan biaya produksinya membengkak untuk menutupi kendala teknis.”

Hero membaca ringkasan data tersebut dengan tenang. “Biarkan saja. Mereka sendiri yang memilih berpasangan dengan Exco, jadi sepantasnya menanggung seluruh konsekuensinya.”

Valen mengangguk paham. “Beberapa jajaran direksi menyarankan agar kita memanfaatkan situasi ini untuk menekan Varell, supaya Adrian memohon untuk kembali bekerja sama dengan kita.”

Hero menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi. “Kalau Varell memang merasa butuh kembali pada kita, biarkan Adrian yang datang dan mengetuk pintu kantor ini sendiri.”

Hero kembali menjangkau berkas kerjanya yang lain. Namun, Valen tidak kunjung beranjak dari kursinya, malah bersedekap dada sembari menatap tuan nya dengan binar jenaka.

“Kenapa masih di sini?” tanya Hero mendongak.

“Aku cuma merasa heran saja,” gumam Valen santai. “Dahulu, jika ada mitra atau pesaing yang mencoba meremehkan Valdren, tuan akan meremukkan mereka tanpa ampun hari itu juga. Sekarang sudah berbeda?”

Hero terdiam sejenak, memandang ke luar jendela kaca di belakang mejanya. “Sekarang aku punya hal yang jauh lebih berharga untuk dipikirkan daripada sekadar meladeni permainan ego bisnis.”

“Karena Nona Laura?” cetus Valen langsung pada intinya.

Mendengar nama itu disebut, mata Hero seketika tertuju lurus pada asistennya. Valen refleks mengangkat kedua tangannya ke udara sembari tertawa lepas. “Ampun, Tuan! Saya cuma menebak-nebak saja!”

Hero menggelengkan kepala melihat tingkah asistennya. “Kalau kamu sudah tahu jawabannya, kenapa masih memancing pertanyaannya, Valen?”

“Ya... karena saya suka melihat ekspresi manusiawi tuan saat nama Nona Laura disebut,” kata Valen tanpa dosa.

Belum sempat Hero membalas, ponsel pribadinya di atas meja bergetar halus. Sebuah notifikasi pesan dari Laura muncul di layar.

Laura: Kamu masih sibuk di kantor?

Seketika itu juga, raut wajah Hero yang dingin lumer sepenuhnya, digantikan senyuman hangat di bibirnya. Jemarinya bergerak lincah membalas pesan tersebut.

Hero: Masih ada beberapa berkas. Kamu sudah selesai kelas harinya?

Laura: Sudah kok. Hari ini aku mau pulang sendiri naik busway ya, kamu tidak perlu repot-repot menjemput.

Hero: Tunggu di dalam area kampus. Jangan ke mana-mana.

Laura: Tapi kamu kan masih sibuk dengan urusan perusahaan?

Hero: Pekerjaan kantor bisa ditunda, tapi menjemputmu adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.

Valen terkekeh melihat tingkah atasannya. “Dunia memang sudah terbalik. Kalau urusan klien besar Anda suruh mengantre, tapi kalau Nona Laura yang berkirim pesan, Anda bisa langsung melupakan isi kantor ini.”

Hero berdiri dan merapikan jas hitamnya. “Memangnya ada yang salah dengan itu?”

“Sama sekali tidak salah, Tuan,” sahut Valen ikut berdiri.

Sebelum melangkah keluar ruangan, Hero memutar kepalanya menatap Valen dengan mimik serius. “Mengenai perkembangan Varell, tetap pantau dari jauh. Tapi ingat, jangan pernah coba-coba ikut campur. Pastikan masalah finansial mereka tidak sampai memengaruhi ketenangan Laura.”

Valen membungkuk hormat. “Tenang saja, Tuan Hero. Saya akan memastikan semua tetap berada di koridor bisnis yang bersih.”

Sore merayap perlahan ketika Adrian masih terduduk di balik meja kerjanya. Laporan teknis terbaru mengonfirmasi bahwa gangguan sistem berhasil diatasi total. Namun, tabel pembengkakan anggaran proyek masih membayang jelas di benaknya.

Adrian melepas kacamata bacanya lalu memandang kosong ke arah jajaran gedung pencakar langit di luar jendela. Varell telah memilih jalannya sendiri berdiri bebas tanpa naungan Valdren International. Kini, mereka harus membayar harga atas kemandirian tersebut.

“Semoga pertaruhan ini benar-benar sepadan,” bisik Adrian pelan pada kesunyian sore.

Sementara di tempat lain, sedan hitam milik Hero melaju membelah kepadatan lalu lintas menuju area kampus Laura.

Bagi Hero, krisis kecil yang menimpa Varell Corporation sama sekali tidak menarik perhatiannya sore ini. Di ujung jalan sana, ada seorang wanita yang sedang menunggunya pulang sosok yang perlahan menjadi pusat dari seluruh dunianya.

Tanpa disadari oleh kedua belah pihak, jurang pemisah antara kehidupan Adrian dan Hero kini terbentang makin jelas. Adrian dan Varell Corporation sedang tertatih-tatih membuktikan bahwa keputusan mereka adalah langkah yang tepat.

Sementara di sisi lain, Hero makin teguh bahwa pencapaian terbesar dalam hidupnya bukan lagi tentang memenangkan persaingan bisnis... melainkan tentang menjaga dan memenangkan hati seorang Laura.

1
-Thiea-
aku pun penasaran Laura. tiba-tiba muncul dan langsung ngajak nikah../Facepalm/
Prayy: sayang nya Laura belum bisa nunjukin perasaan nya🤣
total 1 replies
-Thiea-
jodohmu bukan orang sembarangan Laura. serasa dapat durian runtuh ya. 🤭
Prayy: Hero sering di perebutkan anak anak perempuan para pengusaha karena tampan 🤣
total 1 replies
-Thiea-
sudah terdeteksi Bucin sejak awal nih../Chuckle/
Prayy: iyaa karena Laura telah melewati berbagai hal yang bikin dia terluka,,itu hadiah untuk nya🤣
total 1 replies
Myz Pena
para pembaca juga penasaran siapa.si hero ini 🫣
Myz Pena: tapi dia kaya raya dan bukan orang sembarang 🤭
total 2 replies
Myz Pena
maka beruntunglah kamu laura,, bentar lagi kamu akan kèluar dari siksaan author 🤣
Prayy: karena itu terus di siksa dari awal🤣
total 1 replies
Myz Pena
pasti kaget kalian kan..
Prayy: benar karena masih muda udh terkenal tampan lagi,,jadi rebutan anak anak pengusaha 🤣
total 1 replies
Myz Pena
saking mandirinya jadi kebentuk mentalnya setangguh ini.. ini ma biar nggak ada laki2 tetap juga bisa hidup.. karena semua bisa dilakukan sendirian.. 🤭
Prayy: apa apa sendiri itu sangat menyakitkan 😄
total 1 replies
Myz Pena
pelan2 bang hero 🤭
Myz Pena
aduh perhatiannya ya🤭
Myz Pena
di jemput calon suami 🤭
Myz Pena: diantar jemput donk kalau gitu 🤭
total 2 replies
Kartika Candra Buwana
semoga kalian baik baik saja ya
Kartika Candra Buwana
wah apa ya yang akan dibahas ya?
Prayy: di bab selanjutnya akan terjawab 🙏
total 1 replies
Miu.Nuha
kakek, bawa Laura pergi dari rumah itu donk. bawa dia bersamamu aja 🥲
Miu.Nuha
gk pernah bener laura berbuat dimata kalian 😑 emang nyebelin ih ini keluarga...
Miu.Nuha
yaaa pak dosenny gk mau ngertiin 😑
sedih kan ya...
Arni Arlinawati Pratiwi💃
okay.. berrti emak mertua mu juga dong! 🗿😭
Arni Arlinawati Pratiwi💃
eee.. lu sape, maen peluk peluk, woy!!! 🗿🙄
Arni Arlinawati Pratiwi💃
gak tau lagi emak!!! thorr.. gak mau tau emak, habis ini buat laura bahagia!!! /Skull/
Prayy: iya Mak bab selanjutnya udh masuk bahagia Laura 😄
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
bener ming.. bener banget, pergi gak kamu sayang dari situ! /Skull/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
emak.. "lu brani nampar anak angkat gue!"

kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.

DUAK

"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!