NovelToon NovelToon
IBU TIRI PENYELAMATKU

IBU TIRI PENYELAMATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.

Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.

Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan "Pilihan A", Tenda Kamuflase Militer, dan Tragedi Nasi Liwet Pramuka

"Pilihan A," ucap Tania mantap. Jari telunjuknya mengetuk keras selembar surat edaran berlogo Gerakan Pramuka yang tergelar di atas meja makan.

Xander, Dea, Dirga, dan Freya yang sedang sarapan serempak menghentikan aktivitas mereka.

"Ibu tidak sudi mengambil Pilihan B dan membayar iuran katering seratus lima puluh ribu rupiah," lanjut Tania dengan mata menyipit, menghitung-hitung angka di kepalanya. "Seratus lima puluh ribu itu kalau Ibu belanjakan di Pasar Anyar, sudah dapat ayam dua ekor, beras lima kilo, tempe, tahu, sama kerupuk se-RT! Kemah sekolah ini mau merampok kita? Tidak bisa. Kita ambil Pilihan A: Orang tua ikut mendampingi dan memasak logistik untuk regu!"

Dea menghela napas pasrah, menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya. "Bu, ini Persami. Perkemahan Sabtu Minggu untuk anak kelas satu. Ibu nggak perlu ikut repot masak di hutan..."

Namun, mata Xander justru berbinar terang. Sang Dominus Umbrae tiba-tiba berdiri dari kursinya dengan postur tegap layaknya jenderal yang baru saja menerima deklarasi perang.

"Pilihan A. Mendampingi ke medan liar dan mengamankan suplai logistik," gumam Xander, aura membunuhnya menguar bercampur dengan kegembiraan yang meluap-luap. "Ini adalah operasi survival hutan tingkat lanjut! Dirga! Freya! Siapkan perlengkapan! Kita butuh tenda bivouac tahan cuaca ekstrem, Night Vision Goggles, ransum MRE kelas militer, tablet pemurni air beracun, dan perimeter ranjau inframerah! Kita berangkat ke hutan!"

TAK!

Sebuah sendok sayur mendarat di dahi Xander.

"Ranjau-ranjau gundulmu, Mas!" omel Tania sambil mengacungkan sendok sayurnya. "Ini kemah Pramuka di Hutan Pinus Pancawati, bukan invasi ke Vietnam! Nggak ada ranjau, nggak ada kacamata malam! Dirga, masukin wajan penggorengan yang paling besar ke bagasi! Freya, tolong ulek bumbu kuning buat ayam ungkep sekarang!"

"SIAP, NYONYA!" seru kedua assassin elit itu serempak, langsung berlari ke dapur mencuci tangan, mengabaikan rencana taktis bos besar mereka. Xander hanya bisa tersenyum kaku sambil mengusap dahinya, bersyukur ia punya istri yang selalu tahu cara menjaga kakinya tetap menginjak bumi.

Sabtu siang di Bumi Perkemahan Hutan Pinus Pancawati, udara terasa sejuk, diwarnai suara peluit pembina Pramuka dan tawa anak-anak SMA.

Di area perkemahan Regu Melati tempat Dea berada, pemandangan kontras yang sangat absurd sedang terjadi. Sementara orang tua murid lain bersusah payah mendirikan tenda dome tipis warna-warni sewaan yang meliuk-liuk tertiup angin, Xander dan Dirga baru saja selesai membangun markas mereka.

Tenda keluarga Hapsburg bukanlah tenda dome. Itu adalah tenda taktis militer berukuran empat kali enam meter berwarna kamuflase gurun, lengkap dengan pasak baja yang ditanam menggunakan palu godam. Bahannya terbuat dari kevlar ringan antipeluru dan antiair, berdiri sekokoh bunker nuklir di tengah-tengah lautan tenda plastik murahan.

"Tuan," lapor Dirga melalui earpiece, padahal ia hanya berjarak dua meter dari Xander yang sedang memegang kompas militer. "Perimeter utara aman. Saya sudah menyebarkan serbuk belerang untuk mencegah ular berbisa, dan memasang kamera pendeteksi gerak di radius lima puluh meter."

"Bagus. Pastikan tidak ada anak laki-laki dari regu lain yang berani mendekati tenda Regu Melati. Jika ada yang melanggar batas, lumpuhkan dengan panah bius," balas Xander serius.

"Mas Xander! Dirga! Udah main walkie-talkie-nya?!" panggil Tania dari area belakang tenda. "Sini bantuin potong kayu bakar! Ibu-ibu lain udah mulai pada masak air nih!"

Di area dapur umum darurat, Tania sudah menggelar tikar, talenan, dan sebuah panci liwet tradisional yang bawahnya hitam legam. Ia mengenakan kaus Persit (Persatuan Istri Tentara) lungsuran entah dari mana, lengkap dengan celana training dan topi pancing.

Baru saja Xander mengambil kapak untuk membelah kayu, sebuah tawa meremehkan terdengar dari lapak sebelah.

"Hahaha! Lihat ini, Jeng. Ada yang mau masak pakai kayu bakar sama panci gosong. Kampungan sekali."

Tania menoleh. Di sebelah lapaknya, berdiri Pak Johan—ayah dari Rio, kapten basket yang pernah dihukum makan sambal terasi oleh Tania. Pak Johan adalah pejabat daerah yang sombongnya minta ampun. Ia dan istrinya juga memilih "Pilihan A" hanya untuk pamer.

Di lapak mereka, berdiri sebuah tenda glamping mewah yang dibawa oleh dua orang porter sewaan. Pak Johan sedang memutar tombol sebuah kompor gas lipat berbahan bakar butane bermerek Snow Peak yang harganya mencapai belasan juta rupiah. Di atasnya terdapat panci teflon berkilau.

"Zaman sekarang kemah itu harus elegan, Bu Tania," sindir Pak Johan sambil membusungkan dada, melirik sinis ke arah panci liwet Tania. "Kami bawa daging sapi Wagyu A5 dan kompor portabel impor dari Jepang. Kita ini di alam, tapi perut harus tetap VIP. Kalau pakai kayu bakar, yang ada nasi Ibu bau asap dan gagal matang."

Tania tersenyum tipis, jenis senyuman yang biasanya mendahului sebuah bencana alam. Ia memutar-mutar pisau dapur di tangannya dengan kelincahan seorang pemain sirkus.

"Oh, gitu ya Pak?" balas Tania santai. "Saya sih orangnya tradisional. Bagian terbaik dari berkemah itu ya bau asapnya. Lagipula, kompor impor kalau kena angin gunung suka manja, lho."

"Hah! Tidak mungkin! Ini anti-angin!" congkak Pak Johan, memantik api kompornya. Api biru menyala sempurna. Ia mulai meletakkan potongan daging sapi mahal ke atas wajan pipih. Bau harum butter mulai tercium. Rio yang berdiri di samping ayahnya menjulurkan lidah ke arah Dea.

Dea hanya memutar bola matanya, lalu menekan beberapa tombol di smartwatch-nya untuk mengecek arah angin dan kelembapan udara. "Tiga... dua... satu," gumam Dea pelan.

Tiba-tiba, hembusan angin kencang bertiup turun dari celah lereng gunung.

Api biru di kompor mahal Pak Johan bergoyang hebat, lalu PSTTT—padam seketika. Sistem katup keamanannya mendeteksi penurunan suhu ekstrem dan otomatis mengunci aliran gas butane yang memang tidak dirancang untuk suhu dingin dataran tinggi Indonesia.

"Lho? Lho? Kok mati?" Pak Johan panik, menekan-nekan pemantiknya berkali-kali. Tidak ada api yang keluar. Daging Wagyu seharga jutaan rupiah itu kini teronggok pucat dan dingin di atas teflon, lemaknya membeku jadi gumpalan putih menjijikkan.

Tania tertawa renyah. "Tuh kan, saya bilang juga apa. Kompor mahal bapak lagi masuk angin."

Tania lalu menoleh ke arah suaminya. "Mas Xander. Buktikan kualitas api kita."

Xander menyeringai lebar. Mantan pembunuh bayaran itu menancapkan kapaknya ke sebatang gelondongan kayu pinus hingga terbelah dua dengan satu pukulan raksasa. Ia menyusun kayu itu dengan formasi piramida tepee yang sempurna.

"Dirga, serahkan flamethrower taktisnya," Xander menadahkan tangan.

"EH! Sembarangan!" sentak Tania, memukul lengan Xander. "Nggak usah pakai penyembur api segala! Mau bakar satu hutan?! Pakai ini!"

Tania menyodorkan sepotong ban dalam bekas sepeda motor dan sebuah korek gas Tokai seribuan.

Dengan wajah sedikit kecewa, Xander menerima korek itu. Meski begitu, dengan teknik bertahan hidup kelas elit, ia menyalakan karet ban itu, menaruhnya di bawah ranting kering, dan dalam waktu kurang dari satu menit, api unggun besar berkobar stabil menantang angin gunung.

Tania menaruh panci liwet raksasanya di atas perapian. Setengah jam kemudian, aroma magis menyebar ke seluruh penjuru area perkemahan. Wangi beras yang dimasak dengan serai, daun salam, bawang merah, potongan ikan asin jambal roti, dan cabai rawit utuh mengalahkan semua aroma makanan mahal mana pun. Disusul dengan Freya yang membakar ayam ungkep bumbu kuning di atas panggangan kawat sederhana, menciptakan kepulan asap yang memancing cacing di perut siapa saja yang menciumnya.

Anak-anak Pramuka dari regu lain, bahkan dari Regu Harimau tempat Rio berada, mulai berkumpul di sekitar tenda Hapsburg dengan wajah memelas dan air liur menetes.

"Wangi banget, Bu..." rengek salah satu teman Rio. "Kami laper. Pak Johan dari tadi ngutak-ngatik kompornya nggak nyala-nyala."

Tania yang sedang mengipasi ayam bakarnya menggunakan kipas sate bambu, tersenyum keibuan. "Ayo sini kumpul! Ibu masak nasi liwet porsi kuli! Dirga, Freya, gelar daun pisangnya sekarang!"

Dirga dan Freya—dua assassin yang dulu biasa menggelar karpet merah untuk dewan mafia—kini dengan cekatan menggelar daun pisang memanjang di atas tanah. Tania menumpahkan nasi liwet berasap itu merata, menatanya dengan ayam bakar, sambal terasi, dan lalapan.

Anak-anak Pramuka bersorak kegirangan dan langsung makan bersama dengan gaya bancakan yang sangat merakyat dan hangat. Dea makan di samping ibunya sambil tersenyum lebar. Baginya, sistem keamanan tercanggih di dunia tidak ada apa-apanya dibanding nasi liwet buatan ibunya.

Di seberang mereka, Pak Johan dan keluarganya duduk kedinginan di depan kompor mahal yang mati, menatap sedih ke arah daging Wagyu mentah mereka.

Xander yang sedang mengunyah ayam bakar menatap keluarga arogan itu. Insting kejam mafianya berbisik untuk membiarkan mereka kelaparan sebagai hukuman, namun ia melihat Tania mengambil sebuah piring kertas, mengisinya penuh dengan nasi liwet, ayam, dan ikan asin, lalu berjalan mendekati tenda Pak Johan.

"Nih, Pak, dimakan," ucap Tania santai, menyodorkan piring itu. "Di gunung itu udaranya dingin. Kalau cuma makan gengsi, nanti bapak hipotermia. Udah, dimakan aja, gratis kok."

Pak Johan yang wajahnya memerah karena malu, akhirnya menelan ludah dan menerima piring itu dengan tangan gemetar. Saat ia memasukkan suapan pertama ke mulutnya, matanya membelalak. Rasa gurih ikan asin dan pedasnya sambal terasi menghancurkan semua keangkuhannya dalam sekejap.

"E-enak sekali, Bu Tania..." gumam Pak Johan, mengunyah rakus layaknya orang yang belum makan tiga hari. Rio pun ikut mencomot ayam bakar dari piring ayahnya sambil menangis terharu.

Tania hanya menepuk bahu Pak Johan pelan lalu kembali ke tendanya sendiri, duduk di sebelah Xander yang menatapnya dengan pandangan penuh puja-puji.

"Kau benar-benar penyihir, Tania," bisik Xander merangkul bahu istrinya. "Kau menundukkan musuh yang paling arogan hanya dengan beras dan ikan asin. Bahkan Kaelen Sang Eksekutor tidak punya teknik penundukan psikologis sehebat ini."

Tania tertawa, menyuapkan sepotong tempe ke mulut suaminya. "Makanya, Mas, jangan meremehkan Pilihan A. Kadang, hal yang kelihatannya paling repot, justru menghasilkan kehangatan yang nggak bisa dibeli pakai uang."

Malam itu, di bawah langit Hutan Pinus Pancawati yang bertabur bintang, tenda kamuflase militer Xander von Hapsburg tidak berfungsi untuk menahan serangan musuh, melainkan menjadi tempat berlindung paling hangat bagi sekelompok anak Pramuka yang kekenyangan makan nasi liwet. Dan bagi Xander, operasi bertahan hidup kali ini adalah misi paling sukses yang pernah ia jalankan.

1
sunaryati jarum
Mantaaap technologynya
sunaryati jarum
Bermimpilah setinggi langit Baskoro,bilang jatuh nanti langsung remek
sunaryati jarum
Makin penasaran
sunaryati jarum
Perang antara klan
sunaryati jarum
Wonder woman kamu Tania
sunaryati jarum
baru mampir
Icita: Tks KK, semoga betah y.. sehat selalu
total 1 replies
ceuceu
ga kebaca alur ceritanya,ternyata beda dari prediksi pembaca,keren sih
ceuceu
Baru mulai baca.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor
Icita: mkasih kk, sehat selalu..💪💪
total 1 replies
Nica
sangat suka dan luar biasa...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!