Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Satu Langkah yang Dipaksakan
Di sudut ruang tunggu, ibunya masih menangis pelan. Air matanya tidak berhenti seharian, bahkan setelah Keenan bilang dia akan jaga malam ini. Dan di luar rumah sakit, jauh dari bau antiseptik, Nyonya Lestari sudah menerima laporan singkat dari asistennya.
“Anaknya menolak,” kata asisten itu.
Nyonya Lestari hanya tersenyum tipis sambil menatap dokumen kontrak sponsor. “Biar dia menolak dulu. Orang seperti itu biasanya butuh waktu sampai melihat ayahnya semakin lemah. Kita tunggu sampai besok malam. Setelah itu… tawaran ini tidak akan datang dua kali.”
Malam di ruang tunggu ICU terasa lebih panjang daripada shift operasi mana pun yang pernah Keenan jalani. Dia duduk di kursi yang sama sejak sore, jaket sudah terbuka, dasi yang sempat dia pakai sekarang tergeletak di tas medis. Di balik kaca, ayahnya masih terhubung dengan selang dan monitor.
Angka-angka di layar sudah sedikit membaik sejak sore, tapi belum cukup untuk membuat dokter jaga tersenyum lega. Ibunya tertidur di sudut ruangan dengan posisi membungkuk yang pasti akan membuat pinggangnya sakit besok. Air mata yang mengalir seharian sudah mengering, meninggalkan jejak garam di pipi.
Keenan menatap pantulan dirinya di kaca. Dokter bedah yang biasa memberi keputusan cepat di meja operasi sekarang tidak punya jawaban untuk pertanyaan paling sederhana, bagaimana mempertahankan rumah sakit dan nyawa ayah tanpa menjual dirinya.
Ponsel di sakunya bergetar. Pesan dari Aira. "Saya baik. Sudah makan. Tidak ada pesan baru dari orang itu. Kamu jaga ayahmu. Jangan pikirkan saya dulu."
Keenan membalas singkat. "Saya tetap kepikiran kamu. Tidur."
Dia mengunci layar, lalu berdiri. Kaki terasa kaku. Dia berjalan ke arah meja perawat dan meminta izin masuk sebentar. Setelah memakai APD, dia masuk ke ruang ICU.
Ayahnya terbaring diam. Wajahnya lebih kurus dari yang Keenan ingat minggu lalu. Keenan berdiri di sisi tempat tidur, memegang pagar besi yang dingin.
“Saya menolak tawaran itu, Yah,” bisiknya. “Ibu marah dan menangis seharian. Tapi saya tidak bisa. Kalau saya menerima, saya akan membenci setiap pagi di rumah sakit itu. Dan akhirnya saya akan membenci Ibu dan Ayah juga. Saya tidak mau itu.”
Monitor terus berbunyi stabil. Tidak ada jawaban, tentu saja. Keenan keluar lagi, melepas APD, lalu duduk kembali. Malam semakin dalam. Dia membuka laptop yang dibawa dari rumah sakit tempatnya praktik, lalu mulai membuat daftar. Saham kecil yang masih bisa dijual.
Rekan-rekan dokter yang pernah menawarkan pinjaman. Alat-alat pribadi yang bisa digadaikan. Shift tambahan di klinik swasta. Semuanya dihitung kasar. Hasilnya masih jauh dari angka yang dibutuhkan untuk operasi ayah dan menutup lubang operasional rumah sakit selama enam bulan. Tapi ada celah kecil. Cukup untuk menahan pendarahan sementara.
Pagi harinya, ibunya terbangun dengan wajah bengkak. Dia menatap Keenan yang masih di kursi yang sama. “Kamu tidak tidur.”
“Saya sudah terbiasa.” Keenan menutup laptop. “Saya akan temui Nyonya Lestari hari ini. Untuk menegaskan penolakan dan menawarkan cara lain. Saya juga sudah menghubungi tiga rekan. Ada kemungkinan pinjaman jangka pendek.”
Ibunya menunduk. Suaranya serak. “Kamu tetap keras kepala.”
“Saya tetap anak Ibu.” Keenan mengulurkan tangan, memegang jari ibunya yang dingin. “Saya tidak akan biarkan ayah kehilangan kesempatan operasi. Dan saya tidak akan biarkan rumah sakit tutup. Tapi saya tidak akan menikahi seseorang yang tidak saya pilih hanya karena takut.”
Ibunya tidak menjawab. Hanya menggenggam jari anaknya lebih erat, lalu melepaskannya. Air mata baru mulai terbentuk lagi, tapi kali ini tidak mengalir deras. Hanya menggenang.
Siang itu Keenan berdiri di ruang tamu rumah Nyonya Lestari. Rumah itu terlalu besar dan terlalu sunyi. Nyonya Lestari duduk di sofa dengan senyum yang dipraktikkan bertahun-tahun.
“Dokter Keenan,” sapa wanita itu. “Saya sudah dengar keputusanmu kemarin. Saya harap semalam memberimu waktu untuk berpikir ulang.”
“Saya datang untuk menegaskan,” kata Keenan sopan tapi tegas. “Saya menghormati tawaran Ibu. Saya mengerti niat baik di baliknya. Tapi saya tidak bisa menerima pernikahan sebagai syarat bantuan. Saya meminta waktu untuk mencari solusi lain. Dan saya meminta agar dukungan untuk operasi ayah saya tidak dibatalkan sementara saya mencari.”
Nyonya Lestari menatapnya lama. Senyumnya tidak hilang, hanya menjadi lebih tipis. “Kamu berbicara seperti orang yang masih punya banyak pilihan. Ayahmu tidak punya banyak waktu, Dokter. Rumah sakitmu juga tidak.”
“Saya tahu.” Keenan tidak duduk. “Karena itu saya di sini. Bukan untuk menawar perasaan. Tapi untuk meminta kesempatan menyelesaikan masalah tanpa menjual keputusan hidup saya.”
Wanita itu terdiam cukup lama. Lalu mengangguk pelan. “Baik. Saya beri waktu sampai akhir minggu. Bukan karena saya baik hati. Karena Livia masih ingin menunggu. Setelah itu, tawaran ini hilang. Dan dukungan sponsor akan saya tarik sepenuhnya.”
Keenan memberi anggukan singkat. “Terima kasih atas waktunya.”
Dia keluar dari rumah itu dengan langkah yang sama tegaknya seperti saat masuk. Di mobil, dia duduk diam beberapa menit sebelum menghidupkan mesin. Satu masalah belum selesai. Tapi setidaknya tidak langsung meledak hari ini.
Sore harinya dia kembali ke ICU. Ibunya sudah lebih tenang, meski mata masih merah. Keenan menceritakan hasil pertemuan itu dengan singkat. Ibunya hanya mengangguk, lalu bilang pelan, “Kamu menang lagi. Seperti biasa. Tapi suatu hari kemenanganmu akan terasa sangat sepi, Keenan.”
Keenan tidak membantah. Dia hanya duduk di samping ibunya, menatap kaca ICU yang sama.
Malam itu, sebelum shift jaga malam dimulai, dia mengirim pesan ke Aira. "Saya menolak resmi. Mereka beri waktu sampai akhir minggu. Ayah masih stabil. Saya akan kembali segera setelah ada kepastian operasi. Jangan buka pintu untuk siapa pun."
Balasan Aira datang cepat. "Baik. Urus ayahmu. Saya tidak kemana-mana."
Keenan menatap pesan itu lama. Lalu menyimpan ponsel dan berdiri ketika dokter jaga memanggilnya untuk membahas hasil lab terbaru. Di luar rumah sakit, jauh dari bau antiseptik, Nyonya Lestari menatap foto putrinya di meja kerja.
“Dia menolak lagi,” gumamnya. “Tapi akhir minggu masih panjang. Orang seperti itu biasanya mulai goyah saat melihat tagihan operasi yang sebenarnya.”
Dia menutup foto itu, lalu menekan bel memanggil asisten. “Siapkan angka terbaru biaya operasi. Saya ingin Dokter Keenan melihatnya sebelum akhir minggu. Biar dia tahu persis harga dari penolakannya.”
Sementara itu di tempat Raka, bau ban dan oli di bascam terasa lebih menyengat pagi itu. Raka sudah berada di garasi sejak subuh. Overall-nya kotor, tangan penuh bekas gemuk, wajah masih sama tegangnya seperti saat keluar dari ruang meeting kemarin. Mobil utama yang rusak sudah diangkat. Mekanik bekerja dalam diam yang tidak biasa. Tidak ada candaan, teriakan biasa soal spare part, hanya bunyi kunci pas dan napas yang ditahan.
Toni mendekat sambil membawa folder tebal. Matanya merah karena kurang tidur. “Pak Dhiren menelepon tadi malam. Mereka memberi waktu sampai sore ini. Kalau kamu belum berubah pikiran soal balapan internasional, evaluasi kontrak dimulai besok.”