Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah menikah
"Aduh, makan tuh pelan-pelan dong, Sayang." ujar Arum sibuk cari muka di depan Devan.
Raka yang melihat aksi ibunya cuma bisa memutar bola mata malas.
"Baru denger nama Anggun aja kamu langsung tersedak gitu. Kenapa? Dia cantik banget, kan? Kamu pasti seneng banget kalau Mama sama Papa jodohin sama dia. Anggun itu udah cantik, terpandang, lembut, karirnya juga oke banget." cerocos Arum panjang lebar tanpa henti.
"Iya, Papa juga setuju banget kalau kamu sama dia. Kelihatan serasi." tambah Fandi ikut menimpal.
Devan langsung meraih gelas airnya dan meminumnya sampai kandas. Gimana bisa dia menerima perjodohan konyol ini, sementara statusnya sendiri sekarang sudah resmi jadi suami orang?
"Kenapa nggak sama Raka aja kalian jodohinnya?" tanya Devan santai, wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Lho, kok malah Raka? Dia kan adik kamu, mana boleh ngelangkahi kamu! Harusnya kamu duluan yang nikah." protes Arum.
"Umur kamu itu udah mateng, udah waktunya berkeluarga. Kamu nggak pengen punya rumah tangga sendiri? Nanti malah keburu jadi perjaka tua." sahut Fandi menyela.
"Masalahnya, Devan udah nikah, Pa." potong Devan tenang.
Satu kalimat itu sukses bikin suasana meja makan mendadak hening seketika. Mereka bertiga melotot kaget. Bahkan Arum yang tadinya lagi minum langsung tersedak hebat.
*Uhuk! Uhuk! Uhuk!*
"Apa?! Kamu udah nikah?! Kapan? Sama siapa?!" cerca Arum panik.
"Jangan bercanda kamu! Kalau kamu beneran nikah, kenapa Papa sampai gak tahu sama sekali?!" cerce Fandi tak kalah kaget.
"Aduh, gawat kalau Devan beneran udah nikah." bisik Arum dalam hati, mendadak gelisah setengah mati.
Rencana Arum menjodohkan Devan dengan anak temannya sebenarnya cuma demi mengamankan jatah warisan. Dia takut seluruh harta kekayaan suaminya bakal jatuh ke tangan Devan sendirian, mengingat Raka cuma anak tiri di keluarga itu.
"Kenapa kamu nggak ngenalin calon istri kamu dulu ke Mama sama Papa? Harusnya kenalin dulu dong, jangan asal main nikah aja. Siapa tahu dia cewek nggak bener!" celetuk Raka sinis.
Mendengar adik tirinya seenaknya menghina istrinya sebagai cewek tidak benar, tangan Devan langsung terkepal kuat di bawah meja. Dari dulu adik tirinya ini memang suka cari gara-gara.
"Iya, lagian sederajat nggak sama keluarga kita? Jangan-jangan dia cuma mau mengincar harta kamu aja." tambah Arum memanasi suasana.
"Menikah itu gak harus pilih wanita yang kaya atau sederajat sama kita. Tante juga bukan siapa-siapa kalau bukan karena dinikahi sama Papa saya." balas Devan menohok.
Kata-kata Devan barusan benar-benar menusuk tepat di jantung Arum, membuat napas wanita itu menahan kesal luar biasa.
"Sudah, stop!" potong Fandi dengan nada tegas sebelum istrinya makin emosi. "Kamu beneran udah nikah, Devan?" tanya sang ayah, masih berupaya mencari kepastian.
"Iya, Devan serius. Aku udah nikah sama wanita baik-baik, kalian tenang aja. Dia bukan cewek matre yang menghalalkan segala cara cuma demi harta. Bahkan dia mikirnya aku cuma kuli bangunan biasa."jawab Devan, sengaja menembak halus ibu dan adik tirinya.
Arum yang merasa tersindir langsung membatin kesal, *"Sialan, kurang ajar banget! Berani-beraninya nyindir gue! Memangnya siapa sih istrinya? Palingan juga cuma cewek kampungan!"*
"Terus kenapa kamu nikah gak kasih tahu Ayah? Nenek kamu tahu soal ini?" cecar Fandi.
"Belum ada yang tahu. Kita nikah karena hal tak terduga, dan aku merasa dia memang jodoh yang ditakdirkan buat aku. Dia orangnya sangat baik dan sederhana. Aku gak sengaja kenal dia pas lagi pegang proyek di daerah perkampungan." jelas Devan jujur.
Mata Arum makin membola lebar mendengarnya. "Apa?! Jadi kamu nikahi gadis kampung?! Ya ampun, mau ditaruh mana muka kita? Apa kata orang nanti kalau tahu anak pengusaha Fandi Wijaya nikah sama cewek kampung?!" celetuk Arum tidak terima.
"Terus apa kata orang kalau tahu pengusaha sekelas Fandi Wijaya nikahi wanita kayak Tante? Tante kan cuma wanita biasa, gak ada yang bisa dibanggain. Saya aja gak pernah mempermasalahkan Ayah saya nikahin Tante, lalu kenapa Tante yang malah sibuk ngurusin pernikahan saya?" cercas Devan tanpa ragu sedikit pun.
"Mau saya nikah sama siapa pun, itu bukan urusan Tante. Ibu kandung saya sendiri gak pernah ngajarin saya buat membeda-bedakan status sosial orang lain." tegas Devan.
Arum dan Raka seketika mengepalkan tangan erat-erat. Kata-kata Devan telak membungkam dan merendahkan mereka.
"Pa, lihat tuh anak kamu! Aku ini kan ibunya juga, padahal aku gak ada maksud apa-apa, aku cuma mau yang terbaik buat dia." adu Arum pura-pura terzalimi. Wajahnya langsung dipasang tampang sedih agar dibela suaminya.
"Walaupun Mama bukan ibu kandung Kak Devan, tapi Mama sayang banget sama Kakak. Mama udah nganggap Kak Devan kayak anak sendiri." sahut Raka ikut-ikutan berakting.
"Benarkah begitu? Kalau memang nganggap seperti anak kandung sendiri, harusnya dukung apa pun pilihan aku. Sama seperti yang mendiang Ibu lakukan." balas Devan santai.
Lagi-lagi Arum dan Raka dibuat skakmat tak berkutik.
"Sudah-sudah, jangan merusak suasana gara-gara perdebatan ini. Kalau kamu memang sudah nikah, bawa istri kamu ke sini, kenalkan sama Papa dan Mama." potong Fandi menengahi.
"Baiklah, nanti kapan-kapan Devan kenalkan." jawab Devan seadanya.
Merasa sudah malas berlama-lama menatap dua orang bermuka dua itu, Devan langsung berdiri. "Devan udah selesai makan, mau ke kamar dulu," pamitnya lalu melangkah pergi. Berhubung hari sudah makin malam, mau tak mau dia terpaksa menginap di rumah ayahnya malam ini.
Sepeninggal Devan, Arum langsung kembali kompor. "Pa, Papa beneran merestui mereka? Hati-hati loh sama orang kampung, bisa aja istrinya Devan itu bukan cewek benar. Lagian mereka nikah cuma karena ketidaksengajaan, bukan karena cinta." bisik Arum memanas-manasi suaminya.
"Iya, bener kata Mama. Kita sama mereka jelas beda. Dulu Papa kan kenal sama Mama karena saling cinta, beda sama Kak Devan yang nikah karena 'terlanjur'" tambah Raka memprovokasi.
Fandi hanya mengangguk-angguk pelan. "Ya mau gimana lagi, Devan sudah terlanjur nikah sama dia. Tapi kita kan belum pernah ketemu. Setidaknya kita kenal dulu baru bisa menilai." ujar Fandi.
Arum menyunggingkan senyum sinis. Dalam hatinya dia sudah membayangkan yang tidak-tidak. *"Tebakan gue pasti gak meleset, cewek itu pasti bau, dekil, jelek, dan kampungan!"* batin Arum penuh prasangka buruk.
Memang benar, Devan sedang menangani proyek di kawasan pemukiman yang lokasinya tak begitu jauh dari kampung halaman Aira. Masih di kota yang sama, bedanya rumah Aira berada di celah gang sempit perkampungan, sementara rumah Devan berdiri megah di kawasan pusat kota.
"Aku juga mikirnya gitu, Ma. Kok bisa-bisanya Kak Devan mau nikah sama cewek kampung? Nggak nyangka aja seleranya serendah itu." celoteh Raka santai, sementara Fandi hanya diam, mulai diliputi rasa penasaran dengan sosok istri baru Devan.
Saat ini, Devan memegang kendali penuh atas perusahaan besar warisan dari keluarga almarhum ibunya. Ia sama sekali tak pernah mengincar apalagi mengharapkan harta atau perusahaan milik ayahnya. Untuk apa? Toh, ibu tiri dan saudara tirinya cuma benalu yang haus harta.
Lagipula, perusahaan keluarga almarhum ibunya jauh lebih raksasa ketimbang bisnis milik ayahnya. Jadi tak perlu heran kalau Devan bisa santai bergonta-ganti mobil mewah. Ibunya adalah anak tunggal, yang artinya seluruh kekayaan fantastis itu jatuh tepat ke tangannya tanpa sisa.
...****************...
Keesokan paginya, Devan tampak terburu-buru hendak pergi. Dadanya sudah bergemuruh tak sabar ingin segera pulang dan mendekap sang istri. Baru ditinggal sehari semalam saja rasanya rindu ini sudah menyiksa setengah mati.
"Devan, mau ke mana kamu? Nggak sarapan dulu?" tegur Fandi yang sudah duduk rapi di meja makan bersama istri dan anak tirinya.
"Maaf, Pa. Devan nggak ikut sarapan, mau langsung berangkat aja. Ada proyek yang harus segera dicheck." kilah Devan beralasan. Jujur saja, ia sudah muak dan tak betah berlama-lama di rumah ayahnya sendiri.
"Ya sudah, hati-hati di jalan." sahut Fandi pasrah.
Tanpa berlama-lama, Devan langsung melengos pergi begitu saja tanpa menyalami Fandi apalagi Arum.
"Lihat tuh, Pa! Kenapa sih Devan makin nggak punya sopan santun?" cerocos Arum begitu bayangan Devan menghilang. "Di sini ada orang tua, main asal nyelonong pergi gitu aja! Harusnya pamit, salim dulu sama orang tua!"
"Mungkin Devan buru-buru, Ma. Lagian jarak dari sini ke lokasi proyeknya kan lumayan jauh." ujar Fandi berusaha berpikir positif dan menenangkan.
"Buru-buru gimana? Semalam aja dia nggak ada salim-salimnya sama Mama! Cuma Papa doang yang disalimi. Padahal Mama ini juga ibunya loh!" sungut Arum makin menjadi-jadi.
"Iya, iya... nanti lain kali Papa tegur." potong Fandi cepat, malas memperpanjang keributan di meja makan pagi-pagi begini.
**Bersambung**