Sebuah kisah tentang seorang pria dari masa lalu yang bangkit di masa ini.
Di masa ini, ia bertemu dengan perempuan yang mirip dengan seseorang yang ia cintai di masa lalunya. Seseorang yang tidak berani ia gapai karena kondisi fisiknya yang seperti monster saat itu.
Akankah ia berhasil menyingkirkan kenangan buruk masa lalunya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Ulah Gao Rui
Suasana di dalam Kedai Makan Bulan Kesembilan kini terasa jauh lebih canggung setelah Xian Lung dan Gong Suyen pergi. Beberapa saat lalu mereka masih berbicara dengan penuh percaya diri, tetapi sekarang hanya tersisa Lan Suya, Sha Nuo, dan Gao Rui di meja tersebut.
Anehnya, Lan Suya dan Sha Nuo justru sama-sama merasa malu. Keduanya masih duduk di kursi masing-masing. Tidak ada yang mengatakan apa-apa. Pandangan mereka sama-sama tertuju ke meja, seolah-olah makanan yang sudah hampir habis itu tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk diperhatikan.
Mereka baru saja berpura-pura menjadi sepasang kekasih di hadapan orang lain. Lebih parah lagi, Sha Nuo bahkan sempat memanggil Lan Suya dengan sebutan Ya’er. Memikirkan hal itu saja sudah cukup membuat suasana di antara mereka terasa aneh.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Tiba-tiba terdengar suara cekikikan.
“Hehehe...”
Lan Suya mengangkat wajah. Sha Nuo juga perlahan menoleh.
Gao Rui ternyata sudah tidak mampu menahan tawanya. Pemuda itu memegangi perut sambil tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha! Paman... Bibi... wajah kalian tadi benar-benar lucu!”
Sha Nuo langsung meliriknya dengan tatapan tajam. Ia mengumpat Gao Rui dalam hatinya.
“Bocah biadab. Bocah kurang ajar.”
“Berani sekali kau menertawakan diriku..”
Sha Nuo jelas tidak pernah menyangka Gao Rui akan membuat ide segila itu untuk menyelamatkan muka Lan Suya. Awalnya ia bahkan merasa bocah itu benar-benar sudah kehilangan akal ketika tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya adalah kekasih Lan Suya.
Namun setelah dipikir-pikir kembali, ide Gao Rui malam ini memang cukup brilian. Jika bukan karena kebohongan itu, mungkin Lan Suya akan semakin sulit menghadapi Xian Lung. Bahkan sekarang, Xian Lung dan Gong Suyen sampai kabur meninggalkan Kota Wuye malam itu juga.
Lan Suya sendiri sebenarnya cukup kesal melihat Gao Rui terus tertawa. Namun ia tidak mengatakan apa-apa. Bagaimanapun juga, bocah itu memang berniat membantunya.
Gao Rui akhirnya berhasil mengurangi tawanya, meskipun wajahnya masih penuh kegembiraan.
“Paman, Bibi, kalian lihat tadi wajah perempuan itu?” katanya sambil terkekeh. “Kesombongannya langsung hilang setelah tahu siapa paman!”
Ia kembali tertawa.
“Hahaha!”
Lan Suya menggeleng pelan. Sha Nuo juga hanya menghela napas. Pada akhirnya, keduanya justru tersenyum.
Mereka tahu Gao Rui memang tidak bermaksud mempermalukan mereka. Bocah itu hanya merasa puas karena rencananya berhasil dengan sempurna.
“Sudahlah,” kata Lan Suya sambil berdiri. “Ayo kita kembali ke penginapan.”
Gao Rui segera bangkit.
“Baik, Bibi.”
Sha Nuo ikut berdiri. Ia mengambil jubahnya sebelum berjalan mengikuti keduanya. Baru beberapa langkah meninggalkan lantai atas, Gao Rui tiba-tiba berhenti.
“Tunggu.”
Lan Suya menoleh.
“Ada apa?”
Gao Rui menunjuk meja makan mereka.
“Tapi kita belum membayar makanan kita ini, Bi.”
Lan Suya terdiam sesaat, lalu tersenyum.
“Orang-orang kita di bawah pasti sudah membayarnya. Ayo.”
“Oh...”
Gao Rui mengangguk. Mereka bertiga kemudian turun ke lantai bawah. Beberapa anggota Harta Langit yang masih berada di sana segera berdiri ketika melihat Lan Suya datang.
“Nyonya Ya.”
Lan Suya mengangguk.
“Kita kembali ke penginapan.”
“Baik.”
Tidak lama kemudian, seluruh rombongan keluar dari kedai makan.
Malam di Kota Wuye masih ramai, tetapi mereka tidak berhenti lagi di tempat lain. Setelah menyelesaikan urusan di kota ini, mereka memang sudah waktunya kembali beristirahat.
Perjalanan menuju penginapan berlangsung tenang. Beberapa waktu kemudian, rombongan akhirnya tiba di tempat mereka menginap. Para anggota Harta Langit berpencar menuju kamar masing-masing setelah memberikan salam kepada Lan Suya dan Sha Nuo.
Gao Rui juga langsung kembali ke kamarnya. Bocah itu bahkan tidak membutuhkan waktu lama untuk tertidur. Begitu tubuhnya menyentuh tempat tidur, ia langsung terlelap dengan nyenyak seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa malam ini.
Lan Suya justru berbeda. Ia masih belum tidur.
Di dalam kamarnya, wanita itu duduk di tepi tempat tidur dengan wajah sedikit gelisah. Pandangannya kosong ke arah langit-langit kamarnya. Entah mengapa, satu kalimat terus terngiang-ngiang di dalam pikirannya.
“Ya’er...
Itu hanya sebuah panggilan. Namun semakin ia mengingatnya, wajah Lan Suya justru terasa semakin panas.
“Kenapa aku memikirkannya lagi...”
Lan Suya mengusap pipinya sendiri. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia tahu Sha Nuo hanya mengucapkan panggilan itu karena mereka sedang berpura-pura menjadi kekasih. Tidak ada alasan lain. Meski begitu, setiap kali mengingat suara Sha Nuo ketika mengucapkannya, perasaan aneh kembali muncul di dalam hatinya.
Lan Suya akhirnya menarik napas panjang lalu berbaring. Ia mencoba memejamkan mata. Namun wajah Sha Nuo kembali muncul dalam pikirannya.
“Benar-benar aneh...”
Di kamar lain, Sha Nuo juga belum tidur. Pria itu berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Kedua tangannya berada di belakang kepala. Malam ini seharusnya sudah berakhir. Namun pikirannya justru tidak bisa tenang.
Wajah Lan Suya kembali muncul dalam benaknya. Wajah yang sangat mirip dengan seseorang dari masa lalu, Ye Lian.
Sha Nuo terdiam. Kemiripan itu selalu membuatnya merasa seolah-olah masa lalu kembali berada di hadapannya. Tatapan, senyum, bahkan beberapa ekspresi Lan Suya terkadang membuat kenangan lama muncul tanpa izin.
Namun hari ini, untuk pertama kalinya, sebuah kesadaran mulai terbentuk dalam hati Sha Nuo. Lan Suya bukan Ye Lian.
Wanita yang berada di Kota Wuye bersamanya hari ini adalah Lan Suya. Ia memiliki kehidupannya sendiri, kepribadiannya sendiri, serta jalan hidupnya sendiri.
Sha Nuo memejamkan matanya.
“Jika dia menghadapi masalah dan jika ada seseorang yang mencoba menyakitinya...”
Sha Nuo membuka kembali matanya. Tatapannya perlahan menjadi tegas.
“Apa pun yang terjadi... aku akan melindunginya.”
Keputusan itu tidak membutuhkan alasan panjang. Sha Nuo hanya tahu satu hal. Kali ini, ia tidak akan membiarkan seseorang yang berada di sisinya terluka.
...******...
Pagi akhirnya tiba di Kota Wuye.
Cahaya matahari mulai menerobos masuk melalui jendela besar ruang makan Penginapan Kayu Mawar. Suasana di dalam penginapan sudah cukup ramai. Para tamu mulai menikmati sarapan, sementara para pelayan sibuk membawa makanan dari dapur menuju meja-meja yang telah terisi.
Di salah satu meja, Gao Rui sedang menikmati sarapannya dengan lahap. Di hadapannya duduk Sha Nuo yang juga sedang ikut makan.
“Paman,” kata Gao Rui setelah menelan makanannya, “hari ini kita akan ke cabang Harta Langit terlebih dahulu, kan?”
Sha Nuo mengangguk.
“Benar. Setelah itu kita pergi melihat lokasi yang akan digunakan untuk membangun Penginapan Kayu Mawar yang baru.”
Gao Rui mengangguk-angguk.
“Kalau begitu, hari ini seharusnya tidak terlalu lama.”
“Belum tentu,” jawab Sha Nuo santai. “Urusan bisnis biasanya lebih merepotkan daripada bertarung.”
Gao Rui tertawa kecil.
“Kalau begitu Paman lebih memilih bertarung?”
Sha Nuo mengangguk cepat.
“Jelas.”
Gao Rui langsung tertawa.
Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari arah tangga. Lan Suya muncul dari lantai atas. Wanita itu mengenakan pakaian sederhana namun tetap terlihat anggun. Rambut panjangnya terurai rapi di belakang tubuhnya. Begitu melihat Gao Rui dan Sha Nuo, ia langsung berjalan menghampiri mereka.
“Sudah mulai sarapan?”
Gao Rui mengangguk.
“Sudah, Bibi. Duduklah.”
Lan Suya kemudian mengambil tempat duduk di sisi meja. Seorang pelayan segera datang membawakan sarapan untuknya.
Mereka bertiga kemudian makan bersama. Suasana pagi itu jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya. Tidak ada pembicaraan mengenai Xian Lung, Gong Suyen, ataupun kejadian ketika mereka berpura-pura menjadi kekasih. Gao Rui pun tampaknya cukup tahu diri untuk tidak kembali menggoda keduanya.
Meski begitu, beberapa kali tatapan Lan Suya dan Sha Nuo tanpa sengaja bertemu. Setiap kali hal itu terjadi, salah satu dari mereka akan segera mengalihkan pandangan. Gao Rui yang melihatnya hanya menahan senyum.
Setelah sarapan selesai, Lan Suya meletakkan sumpitnya.
“Kalau begitu, kita berangkat sekarang.”
Gao Rui mengangguk.
“Baik, Bibi.”
Sha Nuo juga berdiri.
“Cabang Harta Langit berada tidak terlalu jauh dari sini?”
“Tidak,” jawab Lan Suya. “Kita bisa sampai dalam waktu singkat. Setelah memeriksa cabang itu, kita langsung menuju lokasi tanah yang akan digunakan untuk Penginapan Kayu Mawar.”
Mereka bertiga kemudian meninggalkan meja.
Namun saat Lan Suya, Gao Rui, dan Sha Nuo hendak keluar dari ruang makan, tidak ada seorang pun di antara mereka yang menyadari bahwa sejak beberapa saat lalu terdapat seseorang yang memperhatikan mereka.
Di salah satu meja yang agak jauh dari tempat mereka duduk, seorang perempuan duduk dengan tenang. Perempuan itu mengenakan pakaian berwarna putih keabu-abuan. Wajahnya terlihat biasa saja, tidak terlalu mencolok. Ia bahkan tidak banyak memperhatikan keadaan sekitar.
Di atas meja di hadapannya terdapat sebuah cangkir teh yang belum disentuh. Di samping cangkir tersebut terdapat selembar kertas. Perempuan itu perlahan mengambil kertas tersebut. Lalu menuliskan sesuatu di sana.
“Lan Suya - Harta Langit”
jgn buat penasaraan