NovelToon NovelToon
Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Lari Saat Hamil / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nova sari

Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.

Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.

Sejak itu Lorenzo mengurungnya.

"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."

Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Lamaran Mafia

Pagi hari setelah kejadian penculikan itu, seluruh mansion De Luca masih dalam penjagaan super ketat. Di setiap sudut ada penjaga bersenjata lengkap dengan wajah tegang.

Tapi di dalam kamar utama mansion, suasananya justru sangat berbeda.

Kamar utama itu adalah kamar Lorenzo. Kamar yang sangat luas, mungkin 3 kali lebih besar dari kamar tawanan Elena. Dindingnya berwarna hitam elegan, tempat tidurnya king size dengan seprai sutra hitam. Dari jendela besar terlihat pemandangan Central Park New York yang indah di pagi hari.

Malam tadi, untuk pertama kalinya, Elena tidur di kamar Lorenzo. Bukan di tempat tidur yang sama, tapi Lorenzo menyuruh menyiapkan sofa mewah di sudut kamar untuk Elena. Tapi Elena tetap tidak bisa tidur nyenyak karena malu dan gugup.

Sekarang jam 7 pagi, Elena masih terbaring di sofa itu dengan selimut tebal menutupi tubuhnya. Rambut pirangnya berantakan, wajahnya masih mengantuk.

Lorenzo sudah bangun lebih dulu. Dia sedang berdiri di depan cermin besar, memakai kemeja hitam dan jas hitamnya. Tato naga di lehernya terlihat jelas berkilau terkena sinar matahari pagi. Dia terlihat sangat tampan dan berwibawa seperti di cover novel.

Lorenzo menatap Elena yang masih tidur melalui pantulan cermin. Dia tersenyum kecil.

"Elena, bangun. Sudah pagi," kata Lorenzo dengan suara lembut.

Elena mengerjap-ngerjap matanya. "Hmm... jam berapa Tuan?"

"Jam 7. Hari ini ada acara penting. Kamu harus siap-siap. Thomas sudah menyiapkan dress untuk kamu di kamar mandi," kata Lorenzo.

Elena langsung duduk. "Acara penting apa Tuan? Meeting lagi?"

Lorenzo berjalan mendekati Elena. Dia duduk di tepi sofa, jaraknya sangat dekat. Elena bisa mencium parfum mahal Lorenzo lagi.

"Bukan meeting. Hari ini saya akan melamar kamu, Elena Rossi. Di depan seluruh keluarga Mafia De Luca dan Moretti," kata Lorenzo dengan nada serius tapi romantis.

Elena langsung kaget dan hampir jatuh dari sofa. "Me... melamar? Hari ini? Tuan serius?"

Lorenzo mengangguk. Dia mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam beludru dari saku jasnya. Dia membuka kotak itu di depan Elena.

Di dalamnya ada sebuah cincin berlian yang sangat besar dan indah. Berliannya berkilau seperti bintang. Harganya mungkin puluhan miliar rupiah. Cincin itu jauh lebih mahal daripada yang ada di toko perhiasan biasa.

"Ini adalah cincin milik ibu saya. Ibu saya bilang, berikan cincin ini hanya kepada wanita yang benar-benar kamu cintai seumur hidup kamu. Dan wanita itu adalah kamu, Elena," kata Lorenzo.

Elena menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya langsung mengalir. Dia tidak pernah membayangkan akan dilamar dengan cincin semewah itu oleh pria seganteng dan sekaya Lorenzo.

"Tuan Lorenzo... saya... saya hanya pembantu tawanan... saya tidak pantas..." kata Elena dengan suara bergetar.

Lorenzo mengambil tangan Elena yang mungil dan halus. Dia menggenggamnya dengan erat.

"Kamu bukan pembantu tawanan lagi mulai hari ini, Elena. Kamu adalah calon Nyonya De Luca. Calon istri saya. Calon ratu dari kerajaan Mafia terbesar di New York. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik di dunia ini, karena kamu sudah memberikan roti terakhir kamu untuk saya 5 tahun yang lalu," kata Lorenzo dengan tulus.

Elena menangis semakin keras. Dia mengangguk pelan.

"Iya... saya mau, Tuan Lorenzo... saya mau menjadi istri Tuan..." kata Elena dengan suara hampir tidak terdengar karena malu.

Wajah Lorenzo yang biasanya dingin langsung berubah menjadi sangat bahagia. Untuk pertama kalinya dalam 5 tahun terakhir, Lorenzo tersenyum lebar seperti anak kecil yang mendapatkan mainan yang dia inginkan.

Lorenzo langsung memeluk Elena dengan erat dan mencium keningnya.

"Terima kasih, Elena. Terima kasih sudah mau menerima lamaran seorang Mafia seperti saya," bisik Lorenzo.

Setelah itu, Elena masuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap. Di kamar mandi mewah itu sudah ada dress yang disiapkan Thomas.

Dress itu bukan dress pembantu lagi. Itu adalah dress pesta berwarna putih elegan dengan sedikit payet berlian di bagian dadanya. Dress itu sangat cantik seperti dress putri kerajaan. Ada juga high heels putih dan mahkota kecil dari bunga.

Elena memakai dress itu. Begitu melihat dirinya di cermin, Elena tidak mengenali dirinya sendiri. Dia terlihat sangat cantik, seperti Cinderella yang akan bertemu pangerannya. Rambut pirangnya yang bergelombang ditata dengan indah, matanya yang biru terlihat berbinar.

Ketika Elena keluar dari kamar mandi, Lorenzo yang sedang menunggu langsung terpaku. Matanya tidak berkedip menatap Elena.

"Cantik sekali..." kata Lorenzo pelan.

Pipi Elena merah padam. "Terima kasih Tuan... dressnya sangat cantik..."

Lorenzo berjalan mendekati Elena. Dia mengambil mahkota bunga kecil itu dan memasangkannya di kepala Elena dengan lembut.

"Seperti seorang ratu," kata Lorenzo.

Jam 9 pagi, di aula besar mansion De Luca, semua anggota penting dari keluarga Mafia De Luca sudah berkumpul. Ada sekitar 30 orang pria berjas hitam dengan wajah seram tapi berwibawa. Mereka adalah paman, sepupu, dan orang kepercayaan keluarga De Luca.

Di sisi lain, keluarga Moretti juga datang. Don Roberto Moretti datang dengan wajah tegang, dan di sebelahnya Isabella dengan dress merah menyala dan wajah penuh kebencian.

Semua orang bingung kenapa tiba-tiba Lorenzo mengundang mereka semua pagi-pagi.

Lorenzo masuk ke aula dengan menggandeng tangan Elena. Begitu mereka berdua masuk, seluruh aula langsung hening.

Semua mata tertuju pada Elena yang cantik dengan dress putihnya. Semua orang berbisik-bisik.

"Itu siapa? Cantik sekali!"

"Bukankah itu pembantu tawanan Tuan Muda?"

"Kenapa Tuan Muda menggandengnya seperti itu?"

Lorenzo membawa Elena ke tengah aula. Dia berdiri di depan semua orang dengan gagah, tato naga di lehernya terlihat jelas.

"Terima kasih untuk semua yang sudah datang hari ini. Saya mengundang kalian semua ke sini karena ada pengumuman penting yang ingin saya sampaikan," kata Lorenzo dengan suara lantang dan berwibawa.

Suasana aula menjadi sangat tegang dan hening.

"Seperti yang kalian tahu, selama ini saya tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Banyak yang menjodohkan saya dengan putri-putri keluarga Mafia lain," kata Lorenzo sambil melirik ke arah Isabella yang langsung tersenyum berharap.

"Tapi hari ini, saya ingin mengumumkan bahwa saya sudah menemukan wanita yang saya cintai. Wanita yang sudah saya cari selama 5 tahun. Wanita yang pernah menyelamatkan hidup saya dengan memberikan roti terakhirnya," lanjut Lorenzo.

Semua orang makin penasaran dan menatap Elena.

Lorenzo berlutut dengan satu kaki di depan Elena, di tengah aula, di depan 30 bos Mafia yang paling ditakuti di New York. Adegan itu sangat romantis seperti di film-film.

Lorenzo membuka kotak cincin berlian milik ibunya.

"Elena Rossi, maukah kamu menjadi istri saya? Maukah kamu menjadi Nyonya De Luca? Maukah kamu membiarkan naga ini melindungi kamu seumur hidup kamu?" kata Lorenzo dengan suara yang sedikit bergetar, menahan gugup.

Elena menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya mengalir deras. Dia tidak pernah membayangkan lamaran seindah ini.

Satu aula langsung riuh. Semua anggota Mafia De Luca kaget melihat Tuan Muda mereka yang terkenal dingin dan kejam berlutut melamar seorang pembantu.

Isabella langsung berdiri dengan marah. "TIDAK! Lorenzo! Kamu tidak boleh! Kamu tunangan saya! Kamu tidak boleh melamar pembantu murahan itu!"

Isabella mau berlari ke arah Elena, tapi Don Roberto menahan tangan anaknya. "Isabella, duduk! Jangan buat malu keluarga Moretti!"

Lorenzo tidak peduli dengan teriakan Isabella. Matanya hanya menatap Elena.

Elena dengan tangan gemetar mengangguk sambil menangis.

"Saya mau... saya mau menjadi istri Tuan Lorenzo..." kata Elena dengan suara pelan tapi jelas terdengar di seluruh aula yang hening.

Lorenzo dengan bahagia memasangkan cincin berlian itu ke jari manis Elena. Cincin itu sangat pas dan berkilau indah di jari Elena yang lentik.

Satu aula langsung bertepuk tangan meriah. Semua keluarga De Luca bertepuk tangan dan bersorak.

"HIDUP TUAN MUDA! HIDUP NYONYA DE LUCA!"

Lorenzo berdiri dan langsung memeluk Elena dengan erat di depan semua orang. Dia mencium kening Elena dengan lembut.

Mulai hari itu, Elena bukan lagi Pembantu Tawanan. Dia adalah calon Nyonya Mafia.

Tapi di sudut aula, Isabella mengepalkan tangannya sampai berdarah lagi. Dia menatap cincin berlian di jari Elena dengan tatapan penuh dendam dan iri.

"Elena Rossi... kamu merebut Lorenzo dari saya... kamu akan menyesal... pernikahan ini tidak akan pernah terjadi... saya akan pastikan kamu mati sebelum hari pernikahan itu tiba..." bisik Isabella dengan suara yang sangat menyeramkan.

Don Roberto menatap Lorenzo dan Elena dengan tatapan licik. Dia punya rencana lain yang lebih jahat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!