NovelToon NovelToon
Komandan Galak Itu, Suamiku

Komandan Galak Itu, Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Dokter
Popularitas:22.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"

Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.

Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Dengan wajah yang sudah merah padam, Rahma berbalik dan bergegas melarikan diri menuju kamar tidur. Melihat istrinya lari ketakutan, Sakti tersentak dan sempat melangkah mengejar untuk meminta maaf atas kekhilafan yang baru saja ia perbuat di dapur. Namun kali ini, langkah Rahma jauh lebih cepat. Secepat kilat, gadis itu berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar dan langsung memutar anak kunci rapat-rapat.

Ceklek!

Di dalam kamar, Rahma menyandarkan punggungnya di balik pintu yang tertutup rapat. Ada rasa takut yang menjalar di dalam hatinya, ia takut jika seandainya Sakti menuntut hal yang lebih jauh dari sekedar ciuman panas barusan. Jantungnya berdegup kencang bagaikan genderang perang, dan rona merah di kedua pipinya belum juga hilang. Dengan jari gemetar, Rahma menyentuh permukaan bibirnya yang terasa sedikit bengkak dan berdenyut hangat akibat pagutan suaminya. Padahal, itu adalah ciuman pertama dalam hidupnya.

Karena rasa campur aduk yang membuncah, Rahma akhirnya menjatuhkan diri ke atas ranjang tempat tidur. Ia langsung menjerit tertahan sambil menutup seluruh wajahnya dengan bantal agar jeritan histerisnya tidak terdengar sampai ke luar kamar. Kedua kakinya bergerak-gerak menendang kasur dengan heboh, memperlihatkan sikap aslinya yang mendadak kembali seperti bocah kecil yang sedang salah tingkah.

Sementara itu, Sakti yang masih berdiri di depan pintu sempat mendengar suara jeritan teredam dari dalam kamar. Bukannya marah, sebuah senyuman tipis justru terukir di wajah tegas sang Komandan. Ia mengusap bibirnya sendiri yang masih terasa basah, menyisakan jejak manis yang tertinggal.

'Kenapa bibirmu bisa begitu manis, Rahma?' batin Sakti bergejolak. Namun, ia segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat. 'Aarrkkhhh, Sakti! Fokus pada makan malam. Kau harus menyelesaikan masakan ini dan menjelaskan semuanya kepada Rahma nanti!'

Sakti pun buru-buru memutar tumitnya dan kembali ke dapur. Mengingat perutnya yang sudah mulai keroncongan, ia segera menyalakan kompor gas dan mulai menumis bumbu ulek yang sempat tertunda. Dengan cekatan, ia mengolah nasi goreng pedas gila tersebut.

Di dalam kamar, Rahma masih betah berlama-lama menyembunyikan diri di atas kasur. Namun, selang lima belas menit kemudian, aroma harum nasi goreng yang gurih dan pedas mulai menguar menembus celah bawah pintu, langsung menggugah seleranya. Seolah menjawab aroma tersebut, perut Rahma tiba-tiba berbunyi keroncongan dengan cukup keras.

"Duh, lapar banget ini... Aku ingin keluar dari kamar, tapi... tapi aku malu!" ujarnya frustrasi sambil kembali menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sementara kedua kakinya lagi-lagi tidak bisa diam karena gugup.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan di pintu kamar seketika membuat Rahma menahan napas.

"Rahma, ayo keluar dan makan... Nasi gorengnya sudah matang. Aku tunggu di meja makan, ya," ucap Sakti dari balik pintu. Nada suaranya terdengar datar dan tenang, seolah-olah tidak pernah terjadi insiden ciuman panas di antara mereka beberapa menit yang lalu.

Di luar pintu, Sakti memang sedang berusaha semaksimal mungkin untuk menenangkan hatinya dan bersikap biasa saja. Sebagai seorang perwira, ia harus selalu menjaga image dan gengsinya. Apalagi, ia mendadak teringat kembali akan ucapannya sendiri saat di rumah sakit dulu, bahwa ia tidak akan mungkin menyukai Rahma karena hatinya masih tertambat pada sang mantan kekasih.

Namun kini, semua kata-kata ketus itu justru berbalik menjadi bumerang yang menghantam dirinya sendiri. Sakti menelan ludahnya dengan susah payah. Pada kenyataannya, ia sudah tidak bisa memungkiri lagi bahwa ada rasa tertarik yang sangat kuat, atau mungkin, ia sudah mulai menyukai Rahma tanpa pernah ia sadari sebelumnya.

Sakti duduk tegak di salah satu kursi meja makan, menatap dua piring nasi goreng pedas gila yang masih mengepulkan uap hangat. Di atas meja, hidangan itu sudah tertata rapi, lengkap dengan hiasan irisan mentimun segar dan daun selada di pinggirnya. Meski penampilannya luar biasa tenang khas seorang perwira, di dalam dadanya Sakti berkecamuk rasa gelisah dan sedikit gugup yang tak bisa ia bendung semenjak insiden di dapur tadi.

Di balik pintu kamar, Rahma yang sudah tidak tahan lagi menahan cacing-cacing di perutnya yang terus berdemo akhirnya terpaksa memutar kunci. Dengan langkah pelan dan kepala sedikit tertunduk, ia melangkah menuju ruang makan.

Begitu siluet Rahma muncul, Sakti secara refleks langsung beranjak dari tempat duduknya. Ada rona merah tipis yang sempat terbit di pipi sang Komandan, namun dengan cepat ia berdehem dan memasang wajah sedatar mungkin demi menjaga ego dan wibawanya.

"Duduklah, Rahma. Kita makan dulu. Bukankah tadi kau bilang sudah lapar?" ujar Sakti, berusaha membuat suaranya terdengar sebiasa mungkin.

Rahma mengangguk pelan tanpa suara. Ia menarik kursi yang posisinya berhadapan langsung dengan Sakti, namun sengaja memposisikan dirinya duduk sejauh mungkin dari jangkauan suaminya. Saat jemari Rahma menarik sandaran kursi, Sakti dapat melihat dengan jelas bahwa tangan istrinya itu masih gemetar hebat.

'Ish... Apakah aku semenakutkan itu di matanya?' batin Sakti sedikit kesal sekaligus gemas. 'Aku ini suamimu, Rahma. Bukan setan, atau serigala lapar yang akan langsung memangsamu malam-malam begini!'

Tanpa banyak bicara lagi, makan malam pun dimulai. Suasana hening menyelimuti ruang makan yang sempit itu. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Rahma sama sekali tidak berani mendongak, apalagi menatap wajah Sakti. Ia makan dengan posisi terus menundukkan kepala dalam-dalam. Karena pikirannya tidak fokus dan ingin segera menghabiskan makanan agar bisa cepat-cepat kabur kembali ke kamar, Rahma makan dengan terburu-buru.

Uhuk!

Uhuk!

Akibatnya fatal, Rahma seketika tersedak hebat. Wajahnya langsung memerah dengan mata berkaca-kaca.

Sakti yang melihat itu langsung panik. Dengan sigap, ia menuangkan air putih dari teko ke dalam gelas, lalu menyodorkannya ke depan Rahma.

"Kamu hati-hati kalau makan. Kita ini sedang makan malam di rumah, tidak sedang dalam latihan militer atau diburu waktu operasi. Kenapa kau makan begitu cepat dan terburu-buru, Rahma?" omel Sakti, nada suaranya terdengar cemas bercampur tegas.

"M... maaf, Kak...!" jawab Rahma lirih setelah meneguk air minumnya, tetap tidak berani berkata panjang lebar.

Sakti hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri. Di dalam benaknya, ia memantapkan diri bahwa ia harus menjelaskan semuanya secara jantan setelah makan malam ini selesai. Anehnya, nasi goreng pedas gila yang biasanya membakar lidah malam ini seolah kehilangan rasa pedasnya. Lidah mereka mendadak kebas karena suasana hati keduanya sama-sama sedang dilanda rasa cemas dan gugup yang luar biasa.

Begitu suapan terakhir selesai, Rahma dengan gerakan cepat meraih piring kosong miliknya dan juga milik suaminya.

"Biar aku yang cuci piringnya, Kak. Terima kasih sudah memasak nasi gorengnya," ujar Rahma dengan nada suara yang sengaja dibuat datar.

Namun, baru saja Rahma hendak membalikkan badan menuju wastafel, pergelangan tangan kanannya tiba-tiba dicekal lembut oleh tangan kekar Sakti. Sentuhan mendadak itu sukses membuat Rahma tersentak kaget dan syok setengah mati di tempatnya berdiri.

"Ada apa denganmu, Rahma? Kenapa sikapmu menjadi aneh dan kaku seperti ini sejak tadi?" tanya Sakti heran, menatap punggung Rahma lekat-lekat.

'Duh, apakah Kak Sakti ini benar-benar tidak peka?! Kenapa dia masih bertanya kenapa aku bersikap seperti ini?' jerit Rahma bergejolak di dalam hatinya. Ia masih setia memunggungi Sakti, tak berani menatap mata tajam itu. 'Ini semua gara-gara Kakak yang seenaknya menciumku tadi! Apakah bagi Kak Sakti, ciuman di bibir itu adalah hal yang biasa dan bisa dilakukan dengan gampang?!'

Sakti yang melihat istrinya hanya diam membisu akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia melonggarkan cekalannya, lalu mulai membuka suara untuk meluruskan masalah insiden panas di dapur tadi.

"Rahma... aku ingin meminta maaf atas kejadian yang di dapur tadi," ucap Sakti dengan nada serius namun terdengar begitu lugas. "Aku mengaku salah karena begitu lancang menyentuhmu tanpa izin. Aku janji, aku tidak akan pernah melakukan hal konyol seperti itu lagi kepadamu. Tadi itu... aku hanya terbawa suasana sesaat karena panik. Jadi, anggap saja kejadian ciuman tadi tidak pernah terjadi di antara kita."

Deg!

Mendengar penjelasan Sakti yang terkesan sangat enteng dan tanpa beban, dada Rahma seketika bergemuruh hebat. Namun kali ini, rasa malunya mendadak menguap, digantikan oleh rasa geram dan sakit hati yang teramat sangat.

'Apa?! Kak Sakti bilang hanya terbawa suasana?! Setelah dia dengan enaknya mengambil ciuman pertamaku, dia menyuruhku menganggapnya tidak pernah terjadi?! Kak Sakti benar-benar menyebalkan! Pria dingin tidak punya perasaan!' batin Rahma menjerit kesal, matanya memanas menahan amarah.

Dengan sentakan kasar, Rahma langsung menarik pergelangan tangannya dari genggaman Sakti. Ia membalikkan tubuhnya sejenak, melemparkan sorot mata yang penuh dengan rasa kesal dan kecewa mendalam ke arah suaminya, sebelum akhirnya berjalan cepat menghentakkan kaki menuju dapur untuk mencuci piring.

Pyuuurrr!

Suara air wastafel dinyalakan dengan kasar oleh Rahma.

Sementara itu di meja makan, Sakti berdiri terpaku dengan wajah kebingungan. Pria tegap itu menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal, menatap koridor dapur dengan dahi berkerut dalam.

Karena merasa suasana di dalam rumah dinas itu mendadak semakin mencekik dan membingungkan, Sakti akhirnya memilih untuk melangkah keluar. Ia berjalan menuju teras rumah yang gelap dan dingin, lalu mendudukkan diri di kursi teras. Tangan kekarnya merogoh saku, mengeluarkan sebungkus rokok dan memantik apinya.

Di bawah langit malam asrama, Sakti menghembuskan asap rokoknya perlahan ke udara. Wajahnya terlihat begitu bingung, bimbang, dan dipenuhi rasa bersalah yang tidak ia mengerti ujung pangkalnya.

'Apakah perkataanku barusan ada yang salah? Aku kan berniat baik untuk meminta maaf karena kelakuanku... tapi kenapa Rahma justru terlihat sangat marah seperti itu?' tanyanya dalam hati, benar-benar buta akan perasaan seorang wanita yang baru saja ia curi hati dan ciuman pertamanya.

Bersambung...

1
Nar Sih
kalau udah ada rsa suka pasti bntr lgi cinta datang nih
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali, tinggal menunggu waktu saja kak
total 1 replies
Nar Sih
cemburu mu lucuu sakti ,dan bikin rahma sedih karena sikap mu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: bener kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
dewi rofiqoh
Benar tu sakti apa yang sama bilang, klo kamu gk segera ungkapkan rasamu pada rahma keburu diambil orang tu si rahma🤭🤭🤭
Ilfa Yarni
tau nih sakti klo suka bila g aja pake gengsian sgala liat Rahma akrab dgn laki2lain km cemburu hadeeh sakti
Uba Muhammad Al-varo
Sakti.......kena sama jebakan nya Salma,ayo jujur kamu sukakan, cintakan ke Rahma, jangan gengsi yang digedein /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ilfa Yarni
hahahaha dasar sakti gengsi setinggi la git udah tau suka sama Rahma malah tidak mau mengakuinya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh Bun 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
masih pagi wes delok sakti ambek rahma nag kasor🥱🥱🥱😁
Anonim
Aku suka
Anonim
🤭🤭🤭🤭
depoll_poll aje 😉😉😉
astagfirullah..
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
depoll_poll aje 😉😉😉
cie cie yg sakit cemburu jugaa.. hahahaha
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi
Anonim
😍😍😍
Patrick Khan
cemburu kan kau sakti🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoolll🤣
total 1 replies
Patrick Khan
q aja pengen bisa pakai motor gede lo..tp punya siapa yoan 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: apalagi aku kak, yg ada nyungsep 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
aku lupa cara ciuman 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: weleh... masa iya lupa, kak 🤣🤣🤣
kocak nih 🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
gak usah cemburu sakti ,dr adnan cuma mau bicara sbntr dgn istri mu tentang wanita pujaan nya yg kebetulan profesor nya rahma di kmpus
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😄
total 1 replies
Nar Sih
wah ..rahma hebat lho bisa bwa motor besar suami nya👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Anonim
😍😍😍😍
Ilfa Yarni
akhirnya cemburu jg km sakti mknya jgn sok jual mahal pdhl suka mantan terburuk malah difikiran yg sempurna didpn mata dianggurin
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: setuju Bunda 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!