NovelToon NovelToon
Memburu Langit Abadi

Memburu Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: RENDY Marcelius

Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.

Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.

Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.

Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JALAN TANPA KEMBALI

Langit masih gelap saat Xuanyuan menuruni lereng gunung Awan Langit. Kabut pagi menempel di jubahnya yang lusuh, membuatnya terasa lebih berat dari yang sebenarnya. Di pinggangnya, Pedang Tulang Hitam yang patah beradu pelan dengan batu setiap kali ia melangkah bunyi yang rendah, dalam, seperti detak jantung yang tidak pernah berhenti.

Ia tidak tahu ke mana ia pergi. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak boleh menoleh ke belakang.

Setelah berjalan sekitar tiga jam, hutan di bawah gunung mulai menipis. Pepohonan raksasa digantikan oleh semak belukar dan tanah kering yang berwarna kemerahan. Di kejauhan, terlihat garis kabut abu-abu yang memisahkan hutan dari jalan raya utama jalan yang menghubungkan sekte-sekte kecil di wilayah ini dengan Kerajaan Langit Timur.

Xuanyuan berhenti sejenak di sebuah mata air. Ia berlutut, membasuh wajahnya dengan air dingin yang jernih. Saat ia menatap bayangannya di permukaan air, tangannya terangkat perlahan menyentuh kain mantra hitam yang menutupi mata kirinya.

Ia teringat tatapan Hu San kemarin. Ketakutan yang tulus. Seakan ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini.

"Apakah aku benar-benar monster?" batinnya.

"Monster adalah sebutan yang diberikan orang yang takut pada apa yang tidak mereka pahami." suara Lang Wuyan terdengar pelan dari dalam cincin perak. "Mata itu bukan kutukan, Xuanyuan. Itu kompas. Hanya saja... kompas itu menunjuk ke arah yang membuat Langit gemetar."

Xuanyuan menghela napas dalam-dalam, lalu berdiri kembali. Ia menegaskan ikat pinggangnya, memastikan pedang patahnya terpasang kuat.

"Baiklah. Kompas ini akan menunjuk ke mana saja. Aku akan mengikutinya."

Saat ia melangkah keluar dari semak belukar, suara langkah kaki terdengar dari depan. Bukan satu atau dua — puluhan.

Xuanyuan mundur perlahan, menyembunyikan tubuhnya di balik batang pohon tua. Dari kejauhan, ia melihat rombongan kuda berjalan lambat di jalan berdebu. Panji-panji berkibar di atas kereta kayu berukir emas gambar seekor burung yang mencengkeram pedang.

"Itu panji Kerajaan Langit Timur," batinnya.

Namun, bukan kemewahan yang membuat jantungnya berhenti berdetak. Di belakang kereta utama, terikat dengan rantai besi yang tebal, berjalan deretan tahanan. Pakaian mereka compang-camping, wajah mereka penuh luka, dan di antara mereka ada seseorang yang ia kenal.

Kakek Meng.

Seorang petani tua yang dulu sering memberinya ubi rebus saat ia masih kecil dan kelaparan di gerbang sekte. Pria yang pernah berkata, "Anak baik, jangan biarkan dunia mengubah matamu."

Kini kakek Meng berjalan tertatih-tatih, kakinya berdarah, matanya kosong. Seorang prajurit menendang punggungnya, membuat pria tua itu jatuh ke tanah berdebu.

"Lebih cepat, sampah tua! Para bangsawan butuh tenaga kerja di tambang besi utara!" teriak prajurit itu, mengangkat cambuk.

Xuanyuan mencengkeram gagang pedangnya. Jantungnya berpacu begitu cepat hingga ia takut suaranya akan terdengar. Ia tahu ia tidak seharusnya ikut campur. Ia sendirian, tidak punya tempat, tidak punya kekuatan. Tapi saat ia melihat cambuk itu turun dan kakek Meng yang tidak lagi berusaha menghindar sesuatu di dalam dirinya retak.

Tangan kirinya gemetar. Kain mantra di matanya terasa panas.

"Jangan bodoh, Xuanyuan. Kau akan mati sia-sia," bisik Lang Wuyan. "Tapi... jika kau tidak bisa menahan diri, ingat satu hal: mata itu bukan senjata untuk dipamerkan. Itu jendela. Dan jendela yang terbuka terlalu lebar akan memanggil hal-hal yang tidak siap kau hadapi."

Cambuk itu melesat ke bawah.

"TIDAK!"

Xuanyuan melompat keluar dari persembunyian. Ia tidak berteriak. Ia hanya bergerak lebih cepat dari yang ia kira mungkin. Pupil Gandanya berputar di balik kain, dan dalam sekejap, ia melihat segalanya: pergeseran lengan prajurit, arah angin, titik lemah pada sambungan rantai di pinggang kakek Meng.

Ia tidak mengayunkan pedang dengan teknik. Ia hanya menebas dengan keberanian murni.

Klang!

Ujung pedang patahnya menghantam gagang cambuk, membelah kayu hingga terputus. Prajurit itu terhuyung mundur, terkejut bukan karena kekuatan serangan itu tapi karena rasa dingin yang menjalar dari bilah patah itu ke tangannya.

"Siapa kau?!" prajurit itu menarik pedangnya.

Xuanyuan berdiri di depan kakek Meng, tubuhnya gemetar tapi punggungnya lurus. Pedang patahnya diangkat, menunjuk ke tanah, tetapi aura yang memancar dari dirinya membuat lima prajurit yang ada di sana ragu untuk maju.

"Pergilah," kata Xuanyuan pelan, tapi suaranya terdengar jelas di keheningan pagi. "Atau langit hari ini akan melihat sesuatu yang tidak akan ia lupa."

Prajurit yang memimpin tertawa, meski matanya waspada.

"Seorang budak lusuh dengan pedang patah? Tangkap dia! Hidup-hidup, bos akan senang melihat binatang liar ini."

Tiga prajurit maju bersamaan.

Xuanyuan tidak mundur. Ia tidak tahu teknik bertarung. Tapi matanya — Pupil Gandanya melihat setiap gerakan sebelum terjadi. Ia menunduk, menghindari tebasan pertama, lalu mengayunkan pedang patahnya ke atas bukan ke musuh, tapi ke rantai yang mengikat kakek Meng.

Besi tua itu bergetar, lalu patah dengan bunyi yang nyaring.

"Lari, Kakek Meng! Ke hutan!" bisiknya cepat, sambil menangkis serangan kedua dengan punggung pedang.

Kakek Meng menatapnya dengan mata yang kabur. "Anakku... kau..."

"LARI!"

Pria tua itu tersentak, lalu merangkak mundur dan menghilang ke dalam semak belukar.

Sekarang Xuanyuan sendirian. Empat prajurit mengelilinginya. Panik mulai merayapi dadanya. Ia tidak bisa mengalahkan mereka semua. Ia tahu itu. Tapi ia tidak akan berlutut.

"Tutup matamu. Tarik napas. Dan biarkan pedang itu bernafas bersamamu," suara Lang Wuyan terdengar tegas. "Jangan berpikir. Hanya lihat."

Xuanyuan menutup matanya yang tertutup kain. Ia membiarkan Pupil Gandanya mengambil alih sepenuhnya. Dunia di sekitarnya berubah warna, suara, waktu semuanya melambat. Ia melihat aliran Qi yang lemah di tubuh setiap prajurit. Ia melihat celah di pertahanan mereka yang bahkan mereka sendiri tidak sadari.

Saat ia membuka matanya kembali meski tertutup kain ada perubahan.

"Kalian yang memilih ini," katanya.

Ia melangkah maju.

Tebasan pertama tidak mengenai siapa pun tapi angin yang menyertai bilah tulang hitam itu begitu dingin hingga prajurit itu mundur ketakutan. Tebasan kedua membelah baju zirah di lengan prajurit kedua, bukan membunuh tapi melukai cukup dalam untuk menghentikannya. Ia tidak membunuh. Ia hanya menebas keinginan mereka untuk bertarung.

Namun, musuh tidak berhenti. Prajurit keempat mengayunkan tombak ke arah dadanya dari samping. Xuanyuan berusaha menangkis, tapi ia terlambat. Ujung tombak menembus bahu kirinya. Nyeri tajam meledak. Darah segar menetes ke tanah.

Ia mencengkeram gagang tombak itu dengan tangan kiri, menariknya keluar sambil menahan erangan. Wajahnya pucat, tapi matanya yang tertutup kain menatap lurus ke arah pemegang tombak itu.

"Kau melukai seseorang yang belum siap mati," katanya.

Darah dari luka di bahunya menetes ke pegangan Pedang Tulang Hitam. Saat darah menyentuh tulang hitam itu, pedang itu bergetar hebat. Cahaya merah samar menyelimuti bilah patahnya.

Xuanyuan mengayunkan pedang itu ke bawah. Satu ayunan sederhana.

Gelombang tekanan meledak keluar. Tanah di depannya terbelah. Empat prajurit terlempar mundur, berguling di debu, pusing dan ketakutan. Mereka menatap anak itu yang berdiri berdarah, dengan pedang patah yang memancarkan aura kematian kuno dan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, mereka merasa sedang menatap bukan seorang pemuda, melainkan sebuah bencana alam yang mengambil bentuk manusia.

"Lari," kata Xuanyuan lemah, menunjuk ke arah jalan dengan ujung pedangnya. "Sebelum aku lupa caranya berhenti."

Mereka tidak butuh diperingati dua kali. Prajurit yang tersisa berbalik dan naik ke atas kereta, memacu kuda dengan panik, meninggalkan debu dan ketakutan di belakang mereka.

Xuanyuan berdiri sendirian di tengah jalan. Bahunya terasa terbakar. Kakinya lemas. Ia hampir jatuh, tapi tangannya mencengkeram gagang pedang itu begitu kuat hingga kuku-nya memutih.

Ia tidak menang. Ia hanya... bertahan.

"Itu bodoh. Itu juga hal paling berani yang pernah kulihat dalam ratusan tahun," kata Lang Wuyan. "Tapi sekarang mereka tahu kau ada. Dan mereka akan kembali dengan lebih banyak orang. Kau tidak bisa tinggal di sini."

"Aku tahu," bisik Xuanyuan, menekan lukanya. Darah merembes di antara jarinya. "Aku hanya... tidak bisa membiarkan mereka menindas orang yang tidak berdaya."

Ia berjalan tertatih ke sisi jalan, duduk di atas batu besar, dan menatap ke arah jalan yang terbentang luas di depannya. Kerajaan Langit Timur terlihat jauh di sana bayangan menara yang samar di cakrawala.

"Ke sana," katanya pelan, menunjuk ke arah itu. "Mereka menuju ke sana. Dan aku akan mengikuti. Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk memastikan kakek Meng selamat. Dan untuk mencari tahu... sejak kapan membebaskan orang yang tertindas menjadi kejahatan di dunia ini."

Ia berdiri, membersihkan debu dari jubahnya, dan melangkah ke depan. Bahunya sakit, tapi langkahnya lebih mantap dari sebelumnya.

Di belakangnya, di tempat ia berdiri tadi, tetesan darahnya di tanah berwarna merah kemerahan perlahan diserap oleh tanah. Dan jauh di langit, di atas awan yang tak terjangkau, sebuah mata tertutup perlahan seakan senang.

Perjalanan menuju Kerajaan Langit Timur baru saja dimulai. Dan di belakangnya, di Sekte Awan Langit, Hu San berlutut di depan aula utama, wajahnya pucat pasi, melaporkan kepada para tetua tentang anak yang membawa pedang iblis.

1
Eka P
h
Predi Siswanto
kapan kuat nya kalau kayak gini ini bukan pemburu langit tapi pemburu sampah bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!