NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 MUSUH BARU DAN SEBUAH RAHASIA

Hari-hari bahagia itu berlalu terlalu cepat, seperti yang seharusnya sudah Maya sadari.

Seminggu setelah malam pembukaan, Bara menerima sebuah telepon yang membuat wajahnya pucat pasi. Bukan pucat karena takut. Itu pucat karena amarah yang ditahan, pucat seorang lelaki yang mendapati wilayahnya telah dilanggar dan aturan permainan telah berubah tanpa seizinnya.

Maya menemukannya di perpustakaan, dengan ponsel masih tergenggam di tangan dan buku-buku jarinya memutih karena mencengkeramnya.

"Ada apa?" tanya Maya, menutup pintu di belakangnya.

Bara butuh waktu untuk menjawab. Ketika akhirnya bicara, suaranya bagai seutas es.

"Mahendra membuat kesepakatan."

"Kesepakatan? Dengan siapa?"

"Dengan Gustaf Wiryawan."

Nama itu jatuh di ruangan itu bagai sebuah bom. Maya mengenalnya. Semua orang di kota ini mengenal Gustaf Wiryawan. Ia mafioso generasi lama, lebih berkuasa daripada Bara, lebih haus darah, dengan koneksi di seluruh penjuru negeri. Konon ia memulai kariernya di tahun delapan puluhan, menyelundupkan barang lewat pelabuhan, dan tak seorang pun pernah berhasil membuktikan apa pun terhadapnya.

Wajahnya kerap muncul di majalah sosialita, tersenyum, berbusana serba putih, dikelilingi para politikus dan selebritas. Namun di balik topeng itu, semua orang tahu, bersembunyi seekor monster.

"Om Mahendra bersekutu dengan Wiryawan?" Maya merasa lantai bergoyang di bawah kakinya. "Kenapa dia melakukan itu?"

"Karena dia sudah putus asa," jawab Bara, meletakkan ponselnya di atas meja. "Dia kehilangan gudang-gudang di pelabuhan. Kehilangan kepercayaan rekan-rekannya. Kehilangan kendali atas perusahaan ayahmu. Dia tahu kita hampir mengajukan bukti-bukti untuk menjeratnya. Dan alih-alih kabur, dia memilih menyerang. Tapi dia tahu dia tak sanggup melawanku sendirian. Jadi dia mencari bantuan."

"Dan Wiryawan menerimanya?"

"Wiryawan selalu ingin menguasai pelabuhan. Pelabuhanku. Bertahun-tahun aku menghalanginya, karena hakim ada di pihakku dan karena anak buahku setia. Tapi kalau Wiryawan berhasil menyusupkan Mahendra ke dalam urusanku, kalau dia berhasil membuktikan bahwa akulah dalang di balik perdagangan narkoba yang justru dia sendiri danai..."

"Apa yang akan terjadi?"

Bara menatapnya. Di dalam matanya yang kelabu dan dingin, ada sesuatu yang belum pernah Maya lihat sebelumnya. Itu bukan ketakutan. Itu sesuatu yang lebih buruk. Itu kesadaran bahwa, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tak lagi menguasai papan permainan.

"Aku akan kehilangan segalanya," ucapnya. "Mansion. Uang. Bisnis-bisnis yang sah. Kebebasan. Semua yang kubangun sejak aku keluar dari jalanan. Dan aku akan menyeretmu jatuh bersamaku."

Hati Maya mencelus.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Melawan," jawab Bara, dengan ketegasan yang menenangkan Maya lebih dari seharusnya. "Melawan seperti tak pernah sebelumnya. Dan menang."

* * *

Perang itu tak diumumkan dengan bom, melainkan dengan bisik-bisik.

Korban pertama bersifat ekonomi. Dua pemasok Bara memutus kontrak mereka dalam semalam. Satu muatan barang legal ditahan di bea cukai karena "kejanggalan" yang tak seorang pun bisa menjelaskannya. Seorang hakim yang selama ini selalu memutus perkara demi keuntungan Bara tiba-tiba menerima transferan miliaran rupiah dari sebuah rekening di luar negeri, dan keesokan harinya menyatakan diri mengundurkan diri dari perkara itu.

"Wiryawan," desis Bara, memuntahkan nama itu seolah racun. "Dia membeli semua orang. Sekutuku, para hakimku, para pemasokku. Uang bukan soal baginya. Uangnya tak terbatas."

"Lalu kita?" tanya Maya. "Apa yang kita punya, yang tidak dia punya?"

Bara menatapnya.

"Kita punya sesuatu yang tak bisa dibeli dengan uang."

"Apa?"

"Kesetiaan. Anak buahku tidak menjualku karena mereka tahu aku pun tak akan menjual mereka. Anak buah Wiryawan bersamanya karena takut atau karena uang. Anak buahku bersamaku karena mereka percaya padaku. Dalam sebuah perang, itu jauh lebih berharga daripada apa pun."

Maya meletakkan tangannya di pipi Bara.

"Kalau begitu, mari kita manfaatkan itu. Jangan bertarung di medannya. Bertarunglah di medan kita sendiri."

Bara mengangguk.

"Aku butuh waktu. Dan aku butuh informasi. Bisakah ayahmu membantu kita?"

"Aku akan bicara dengannya."

"Dan aku butuh kamu berhati-hati," tambah Bara, meraih tangan Maya dan menggenggamnya erat. "Wiryawan lebih berbahaya daripada Mahendra. Mahendra hanya menginginkan uangmu. Wiryawan tak punya nurani. Kalau dia sampai tahu bahwa kamu adalah titik lemahku..."

"Aku bukan titik lemahmu," sahut Maya, dengan ketegasan yang mengejutkan dirinya sendiri. "Aku kekuatanmu. Ingat itu."

Bara nyaris tersenyum.

"Betapa aku mencintaimu," gumamnya.

"Betapa aku mencintaimu," balas Maya.

Dan di tengah badai yang mulai mengancam, secuil momen kelembutan itu bagaikan mercusuar di tengah kegelapan.

* * *

Dua hari kemudian, mereka kedatangan tamu tak terduga.

Seorang pria tua, usianya sekitar enam puluh tahun, berpakaian sederhana namun bersih. Ia memiliki janggut beruban yang tercukur asal-asalan dan sepasang mata biru yang telah menyaksikan terlalu banyak. Ia muncul di pintu mansion saat Bara sedang tak ada, dan meminta bertemu dengan "Nyonya Prakoso".

Bu Marta, yang penuh curiga, datang menemui Maya untuk meminta pertimbangan.

"Dia menyebutkan namanya?" tanya Maya.

"Katanya dia teman lama Tuan Prakoso. Dia datang untuk memperingatkan sesuatu."

Maya ragu. Namun ada sesuatu dari gambaran pria itu yang menerbitkan kepercayaan dalam dirinya. Entah karena pakaiannya yang sederhana, atau matanya yang lelah, atau cara ia menyebut nama Bara tanpa rasa takut, nyaris dengan kelembutan.

"Persilakan dia masuk," ucap Maya. "Dan hubungi Bara. Suruh dia pulang."

Pria itu masuk ke perpustakaan dengan langkah ragu, seolah takut mengotori karpet Persia dengan sepatunya yang usang. Ia duduk di ujung sofa, kedua tangan bertumpu di lutut, dan menatap Maya dengan campuran rasa ingin tahu dan sesuatu yang lain. Barangkali, pengenalan.

"Anda istrinya," ucap pria itu. Itu bukan sebuah pertanyaan.

"Saya Maya Prakoso," jawab Maya, dengan kepala tegak. "Dan Anda?"

"Nama saya Herman," ujar pria itu. "Saya mengenal Bara sewaktu dia masih kecil. Di panti asuhan terakhir tempat dia tinggal. Yang paling buruk dari semuanya."

Maya merasakan sebuah gigil.

"Panti asuhan tempat sang pengasuh yang...?"

"Tepat sekali," jawab Pak Herman, dengan kepahitan yang mengeraskan garis-garis wajahnya. "Saya juga di sana. Saya juga menderita. Tapi saya tak punya keberanian seperti yang dia miliki. Saya cuma bungkam. Saya bersembunyi. Saya selamat, tapi dengan menggadaikan jiwa saya. Bara, sebaliknya... Bara membunuh monster itu. Dan sayalah yang membantunya melarikan diri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!