NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Senyum yang Harus Ditahan

Pagi hari di Jakarta menyambut Alya dengan kehangatan yang amat berbeda. Setelah malam yang emosional di rumah rahasia perbukitan—malam di mana ia menemukan sketsa bunga matahari tua dan menyadari bahwa Kai telah menjaganya sejak belasan tahun lalu—Alya kembali menapakkan kakinya di realitas Jakarta.

Ia kembali mengenakan 'topeng'-nya. Sebagai seorang wanita yang anggun, tenang, dan masih berstatus sebagai istri sah dari Rendy.

Pagi itu di meja makan rumah mereka, Rendy duduk seraya menyesap kopi hitamnya. Namun, matanya tidak bisa lepas memandangi Alya yang sedang menuangkan air putih ke gelasnya. Rendy mengernyitkan dahi. Ada sesuatu yang berubah secara drastis dari diri Alya.

Dulu, Alya adalah wanita yang selalu merasa cemas, sering menatapnya dengan pandangan curiga, dan mudah sekali dipengaruhi emosi jika Rendy terlambat pulang atau bersikap dingin. Namun belakangan ini—terutama pagi ini—Alya tampak teramat tenang. Tatapan matanya jernih, menguasai keadaan, dan memancarkan rasa percaya diri yang tidak pernah Rendy lihat sebelumnya.

Aura itu justru membuat Rendy menjadi penasaran dan merasa kian tersaing.

"Al..." panggil Rendy pelan, meletakkan cangkir kopinya ke atas piring kecil.

Alya menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang amat manis—senyuman yang melapis penuh rahasia di baliknya. "Iya, Rendy?"

"Kamu... kok kelihatan beda banget hari ini?" tanya Rendy, memiringkan kepalanya sedikit. "Biasa kamu suka nanya aku mau ke mana, sama siapa, atau sibuk meriksa ponselku. Tapi belakangan ini kamu tenang-tenang saja. Kamu nggak cemburu lagi kalau aku sibuk di luar?"

Alya terkekeh pelan—sebuah tawa halus yang menyejukkan namun tak tersentuh.

"Kenapa harus cemburu, Rendy?" balas Alya tenang, merapikan letak kerah kemeja Rendy dengan gerakan tangan yang santai. "Aku kan istrimu. Aku percaya kamu tahu mana yang baik dan mana yang salah untuk pernikahan kita. Lagipula, aku ingin menjadi istri yang lebih dewasa untukmu."

Rendy terpana sejenak. Kata-kata Alya meresap ke dalam hatinya, memberinya rasa bangga sekaligus dorongan ego pria yang melambung. Alya benar-benar sudah tunduk padaku, bisik Rendy dalam hatinya, merasa bahwa ia telah memenangkan hati Alya kembali secara mutlak.

Namun Rendy tidak pernah tahu, kedewasaan dan ketenangan Alya lahir dari kenyataan bahwa hati wanita itu sudah tidak lagi menyisa ruang sedikit pun untuknya. Hati Alya kini sepenuhnya milik Kai Aditya.

Di sisi lain, Siska tidak tinggal diam. Merasa posisinya terancam setelah melihat Alya kembali bersikap manis pada Rendy, Siska mulai melancarkan aksi nekatnya.

Siang itu di lorong kantor area divisi operasional, Siska sengaja menghadang langkah Rendy yang baru saja keluar dari ruang rapat. Siska mengenakan gaun ketat berwarna merah muda, memoles wajahnya dengan riasan manja yang sengaja memancing perhatian.

"Rend..." panggil Siska dengan nada suara mendesah, pura-pura oleng dan menyandarkan tubuhnya ke lengan Rendy. "Aduh, kepalaku agak pusing deh... Boleh tolong pegangin sebentar nggak?"

Rendy refleks menahan pinggang Siska. "Siska? Kamu kenapa? Kalau sakit kenapa nggak izin pulang aja?"

Siska mendongak, menatap mata Rendy dengan tatapan sayu yang penuh pancingan. "Aku pusing memikirkan kita, Rend... Aku takut Alya merebut kamu sepenuhnya dari aku. Kamu ingat kan janji kamu waktu kita di Bali dulu? Kamu bilang cuma cinta sama aku..."

Tanpa mereka sadari, Alya berdiri beberapa meter di balik sudut lorong kaca. Alya memperhatikan interaksi itu dengan pandangan datar.

Alya sengaja membiarkan Siska bergerak bebas. Ia tidak memergoki mereka, tidak mengamuk, dan tidak melabrak seperti wanita tersakiti pada umumnya. Tujuannya sangat jelas: biarkan Siska dan Rendy merasa di atas angin, biarkan mereka menggali lubang kehancuran mereka sendiri hingga bukti kebusukan dan perselingkuhan mereka terbuka sepenuhnya di depan publik tanpa Alya harus mengotorkan tangannya sendiri.

Alya merogoh ponselnya, menekan tombol panggil ke nomor Kai.

"Kai..." bisik Alya pelan saat panggilannya terhubung.

"Iya, Sayang?" suara Kai terdengar hangat di seberang telepon.

"Siska mulai beraksi," ujar Alya seraya menatap Rendy yang kini mengusap pelan rambut Siska di lorong. "Malam ini di perjamuan makan malam kolektor seni perusahaan, mereka pasti bakal buat gerakan lagi."

Di seberang sana, hembusan napas Kai terdengar agak berat. "Alya... kamu yakin harus terus menerus menyaksikan kepalsuan mereka? Kamu tidak perlu menyiksa dirimu sendiri berpura-pura mesra dengan pria itu."

Alya tersenyum tipis, menggenggam ponselnya lebih erat. "Ini bagian dari rencanaku, Kai. Aku butuh mereka menunjukkan wajah asli mereka di depan semua jajaran direksi malam ini. Kamu ingat janji kamu kan? Percaya sama aku."

Keheningan melingkupi sambungan telepon itu sejenak sebelum Kai menjawab dengan suara rendah yang sarat akan rasa protektif.

"Saya percaya padamu, Alya," bisik Kai tegas. "Tapi ingat... ada batas untuk kesabaran saya."

Malam harinya, Perjamuan Makan Malam Kolektor Seni diselenggarakan di Ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta. Acara ini dihadiri oleh puluhan pengusaha papan atas, investor asing, serta jajaran eksekutif dari berbagai lini bisnis.

Alya tampil sangat memukau dengan gaun malam berpotongan A-line berwarna hitam elegan. Leher jenjangnya dihiasi kalung mutiara simpel, dan rambut mewahnya dibiarkan terurai dengan gelombang halus. Di sampingnya, Rendy mengenakan setelan tuksedo hitam, menggandeng lengan Alya dengan raut wajah amat bangga.

Namun di sudut ballroom yang agak tersembunyi, Kai Aditya berdiri tegap dengan jas serba hitamnya. Pria itu memegang gelas sampanye di tangannya, berdiri bagaikan penguasa malam yang memancarkan aura dingin dan dominan.

Pandangan mata Kai yang tajam lurus mengunci ke arah Alya dan Rendy.

Saat Alya dan Rendy menyapa beberapa relasi bisnis di tengah ruangan, Rendy tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggang Alya secara posesif. Rendy menunduk, bisik-bisik di telinga Alya seraya tertawa, lalu mencium pipi Alya di depan beberapa rekan pengusaha.

Klek.

Tangan Kai yang memegang pegangan gelas kristal seketika mengepal sangat erat. Buku-buku jarinya memutih. Pembuluh darah di punggung tangannya menyembul jelas. Pemandangan Rendy menyentuh dan mengecup Alya membakar dada Kai dengan rasa cemburu dan murka yang teramat membara.

Bagi Kai, melihat wanita yang dijaganya selama belasan tahun—wanita yang teramat dicintainya—disentuh oleh pria pembohong dan licik seperti Rendy adalah sebuah siksaan batin yang amat berat.

Namun Kai tidak bisa bergerak. Kata-kata Alya sebelum acara dimulai terus bergema di kepalanya: “Jangan lakukan apa pun, Kai. Jangan bereaksi. Aku ingin mereka menunjukkan wajah asli mereka sendiri di hadapan publik.”

Kai menahan napasnya dalam-dalam, memejamkan mata sejenak untuk menekan amarahnya yang hampir meledak, lalu menyesap minumannya secara perlahan.

Saya bisa menahan amarah saya untukmu, Alya... bisik Kai dalam hatinya dengan mata yang membara dingin saat membuka matanya kembali. ...Tapi saya tidak tahu berapa lama saya bisa menahan diri kalau tangan kotor itu terus menyakitimu.

Tiba-tiba, Siska melangkah masuk ke area ballroom. Mengenakan gaun malam berwarna merah menyala dengan belahan dada rendah, Siska langsung mencuri perhatian beberapa tamu.

Melihat Rendy sedang merangkul pinggang Alya, mata Siska memancarkan rasa iri dan emosi yang meluap. Siska sengaja melangkah cepat menghampiri mereka berdua, membawa dua gelas cangkir minuman.

"Selamat malam, Pak Rendy, Bu Alya..." sapa Siska dengan suara manis yang dibuat-buat, memotong pembicaraan Rendy dengan rekan bisnisnya. "Maaf mengganggu waktunya sebentar. Pak Rendy, ini ada berkas proposal proyek seni luar negeri yang harus Bapak periksa sekarang. Sangat mendesak."

Rendy agak tersentak, lalu melirik Alya dengan perasaan canggung. "Oh... berkas proyek itu ya, Siska?"

Siska memajukan tubuhnya sangat dekat dengan Rendy, sengaja menyenggolkan lengannya ke dada Rendy di depan mata Alya. "Iya, Pak Rendy... Bisakah kita bicara sebentar di lounge samping? Cuma sebentar kok..."

Melihat pergerakan Siska, Alya bukannya marah atau memotong. Sebaliknya, bibir indah Alya justru menyunggingkan senyum anggun yang teramat tenang.

Alya melirik ke arah Kai yang berdiri beberapa meter di barisan belakang.

Alya tahu Kai sedang memperhatikannya dengan mata yang sarat akan ketegangan dan rasa cemburu yang ditahan setengah mati. Dan Alya memutuskan untuk mempercepat permainan caturnya malam ini.

Alya berbalik sepenuhnya menghadap Rendy. Dengan gerakan yang sangat lembut dan manja—sesuatu yang sengaja ia lakukan agar Siska yang berada di dekat mereka membakar cemburu—Alya mengulurkan kedua tangannya, merapikan dasi tuksedo Rendy, lalu menyandarkan kepalanya sejenak di dada Rendy.

"Sayang..." bisik Alya dengan suara lembut yang bisa didengar jelas oleh Siska dan beberapa tamu di sekitar mereka. "...kalau urusan pekerjaannya mendesak, kamu selesaikan saja dulu sama Siska. Aku bakal tunggu kamu di sini sambil minum teh. Nanti setelah selesai, kita pulang bareng ya?"

Rendy benar-benar terpukau dan kaget oleh sikap mesra Alya yang begitu tiba-tiba di depan umum! Dadanya membumbung penuh kemenangan. Rendy merasa diakui dan dicintai secara luar biasa oleh Alya.

"Tentu, Sayang! Terima kasih ya, kamu perhatian sekali," jawab Rendy antusias, lalu tanpa ragu merengkuh bahu Alya dan mengecup kening Alya dengan penuh rasa bangga.

Wajah Siska seketika berubah merah padam! Gigi Siska bertaut rapat menahan amarah dan kehancuran harga diri melihat Alya bersikap sangat manis dan mendapat kecupan mesra dari Rendy di depan matanya sendiri. Rencana Siska untuk memamerkan kedekatannya dengan Rendy malam ini hancur berantakan!

Namun, di sudut ruangan lain... situasi jauh lebih tegang.

Kai Aditya menyaksikan seluruh adegan itu dari awal hingga akhir. Melihat Alya bersandar di dada Rendy, memanggil pria itu dengan sebutan 'Sayang', dan membiarkan Rendy mengecup keningnya di depan banyak orang... membuat pertahanan kontrol diri Kai retak hebat.

Rahang tegap Kai mengeras kaku. Matanya yang tajam memancarkan kilatan emosi yang begitu pekat dan pekat—perpaduan antara cemburu yang membakar, rasa memiliki yang mendalam, dan amarah yang sulit dibendung lagi.

Gelas kristal di tangan Kai bergetar pelan karena tekanan jari-jarinya yang terlampau kuat.

Alya perlahan melepaskan pelukan Rendy, membiarkan Rendy dan Siska melangkah pergi menuju area lounge. Saat Rendy berbalik, Siska sempat menatap Alya dengan tatapan penuh kebencian yang amat tajam— persis seperti yang Alya prediksikan. Siska dipastikan akan melakukan tindakan nekat dan ceroboh malam ini juga karena terbakar rasa cemburu yang memuncak.

Setelah Rendy dan Siska menghilang di balik pintu lounge, Alya memutar tubuhnya perlahan.

Pandangan mata Alya langsung bertemu dengan pandangan mata Kai.

Kai berdiri mematung di sana, menatap Alya dari kejauhan tanpa menyunggingkan senyum sedikit pun. Tatapan Kai malam ini bukanlah tatapan pelindung yang tenang, melainkan tatapan pria yang sedang terluka dan cemburu besar karena wanita yang dicintainya baru saja memeluk pria lain—meskipun Kai tahu itu semua hanyalah bagian dari sandiwara dan perangkap catur Alya.

Alya menghembuskan napas pelan. Dadanya mendadak berdesir oleh rasa bersalah sekaligus haru yang amat dalam. Ia tahu persis betapa beratnya beban yang harus dipikul Kai malam ini—berpura-pura tidak peduli, menahan amarah, dan menyaksikan wanita yang dijaganya belasan tahun berpura-pura mesra dengan musuhnya sendiri.

Alya melangkah perlahan mengitari kerumunan tamu, berjalan menuju tempat Kai berdiri.

Ketika Alya sudah berada satu langkah di hadapan Kai, keheningan menyelimuti mereka berdua di tengah bisingnya musik perjamuan.

Kai menunduk, menatap Alya dengan suara yang teramat rendah, dalam, dan serak oleh rasa emosional yang ditahannya.

"Permainanmu malam ini..." bisik Kai, suaranya bergetar tipis, "...sangat luar biasa, Alya."

Alya mendongak, menatap mata Kai yang dipenuhi bayangan rasa cemburu yang amat nyata.

"Kai..." bisik Alya pelan, jemarinya bergerak refleks ingin menyentuh lengan Kai, namun ia menahannya karena mereka berada di area terbuka. "Maafkan aku... Aku tahu ini berat buat kamu."

Kai menatap bibir Alya yang baru saja dicium keningnya oleh Rendy, lalu menghembuskan napas panjang yang terasa panas dari dadanya.

"Saya tahu ini cuma sandiwara," tutur Kai pelan, matanya mengunci pandangan Alya rapat-rapat. "Saya tahu kamu melakukan ini untuk memancing Siska dan Rendy jatuh ke dalam lubang mereka sendiri. Tapi melihat kamu memeluknya... melihat dia menyentuhmu..."

Kai menggantungkan kalimatnya, mengepalkan tangannya di balik saku jasnya.

"...membuat saya sadar," sambung Kai dengan tatapan penuh kepastian dan kerinduan yang memabukkan, "...bahwa kesabaran saya ada batasnya, Alya. Dan malam ini... batas itu sudah hampir habis."

Alya terpana, dadanya berdebar-debar kencang mendengar kejujuran emosi dari Kai.

Pembaca dan Alya sendiri kini dihadapkan pada satu pertanyaan besar yang menggantung tebal di udara perjamuan malam itu: Dengan rasa cemburu yang kian membakar dan amarah yang berada di ambang batas... sampai kapan Kai Aditya sanggup berpura-pura tenang dan membiarkan Alya berada di dalam dekapan pria lain?

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!