Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Kematian Sang Pangeran
Hutan Terlarang tidak pernah ramah kepada siapa pun yang berani memasukinya, tetapi bagi Zhou Li, ketidakramahan itu justru adalah alasan mengapa ia datang.
Kabut tipis menggantung di antara pepohonan tua yang batangnya lebih besar dari lingkar tiga orang dewasa. Cahaya matahari sore nyaris tak sanggup menembus kanopi daun yang rapat, hanya menyisakan garis-garis keemasan yang jatuh malas ke tanah berlumut. Di kejauhan, burung-burung berhenti berkicau—pertanda bahwa sesuatu yang lebih besar sedang bergerak.
"Yang Mulia, kita sudah terlalu jauh," bisik salah satu pengawal, suaranya bergetar. "Para tetua sudah memperingatkan—Hutan Terlarang bukan tempat manusia biasa."
Zhou Li—pemuda berusia sembilan belas tahun dengan jubah biru tua kerajaan yang kini kotor terkena lumpur dan sobek di beberapa bagian—hanya tertawa kecil. Rambutnya yang diikat asal-asalan menjuntai di bahunya, dan matanya berbinar dengan rasa ingin tahu yang tak pernah padam sejak ia kecil.
"Kalau begitu justru harus kulihat sendiri," katanya, melangkah maju tanpa ragu. "Kalian boleh menunggu di sini."
Tak seorang pun pengawal berani mengikutinya lebih jauh. Zhou Li tersenyum tipis—senyum yang sama yang selalu membuat ayahandanya, sang Raja, menghela napas panjang, dan yang membuat gurunya berhenti mengajarinya strategi karena "otak Pangeran Keempat lebih tertarik pada peta harta karun daripada peta perang."
Ia tidak peduli. Sejak kecil, Zhou Li tahu satu hal tentang dirinya: ia bukan orang yang dilahirkan untuk duduk di atas takhta. Ada delapan saudara lain yang jauh lebih pantas—yang lebih pintar berpolitik, lebih tajam berstrategi, lebih ambisius mengejar kekuasaan. Zhou Li hanya ingin tahu apa yang ada di balik gerbang tua yang menjadi legenda di seluruh Kerajaan Zhou.
Ia tidak menyangka bahwa keingintahuan itu akan menjadi kesalahan terakhirnya.
Suara dahan patah terdengar dari balik kabut. Zhou Li berhenti, tangannya secara reflleks menggenggam gagang pedang pendek di pinggangnya—pedang latihan yang jarang ia pakai sungguhan.
Dari balik kegelapan pepohonan, sepasang mata merah menyala muncul. Lalu tubuh besar itu keluar sepenuhnya: seekor serigala raksasa dengan bulu sehitam malam, tingginya melebihi kuda perang, dan taringnya memantulkan cahaya senja seperti bilah pedang.
Serigala Bayangan Tingkat Tua.
Zhou Li tidak tahu nama itu. Yang ia tahu hanyalah bahwa makhluk di hadapannya jelas bukan binatang biasa. Auranya menekan udara di sekitarnya, membuat dada Zhou Li terasa sesak hanya dengan berdiri di dekatnya.
"Mundur... pelan-pelan," gumamnya pada diri sendiri, kaki mulai melangkah surut.
Namun serigala itu lebih cepat.
Ia melesat seperti bayangan yang lepas dari tubuhnya sendiri. Zhou Li sempat mengangkat pedangnya—gerakan refleks yang ia pelajari dari latihan seadanya di istana—tetapi kekuatan mereka bagai langit dan bumi. Cakar besar menghantam dadanya sebelum ia sempat berteriak.
Rasa sakit itu datang sekilas, tajam dan panas, lalu semuanya menjadi dingin.
Pandangannya kabur. Langit sore yang keemasan berputar di atasnya, lalu perlahan menggelap.
Begini rupanya rasanya mati, pikirnya, aneh betapa tenangnya pikiran itu muncul. Padahal aku bahkan belum sempat melihat apa yang ada di balik gerbang itu.
Kesadaran Zhou Li memudar bersama detak jantung terakhirnya.
Di suatu tempat yang sangat jauh—di dunia lain yang sama sekali berbeda—seorang pemuda bernama Zhou Chen sedang duduk di sudut perpustakaan kotanya, larut dalam buku tebal tentang sejarah dinasti kuno. Ia baru saja menyeruput kopi yang mulai dingin ketika rasa pusing tiba-tiba menyerangnya, disusul kegelapan yang menelan seluruh penglihatannya.
Ia tidak pernah tahu apa yang menimpanya di dunianya sendiri. Yang ia rasakan berikutnya hanyalah sensasi jatuh—jatuh tanpa akhir, tanpa arah, seolah dirinya ditarik melalui celah antara dua realitas yang tak seharusnya bersentuhan.
Lalu, tiba-tiba, ia bisa bernapas lagi.
"Yang Mulia! Yang Mulia Pangeran Keempat!"
Suara-suara panik itu adalah hal pertama yang didengar Zhou Chen ketika kesadarannya kembali. Ia membuka mata perlahan—dan langsung disambut langit-langit kayu berukir naga yang asing, serta wajah-wajah cemas beberapa orang berpakaian seperti pengawal dari drama kolosal yang pernah ia tonton.
"Di mana... aku?" Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya—lebih muda, lebih dalam dari suaranya yang biasa.
"Yang Mulia sadar! Cepat panggil tabib istana!" salah satu pengawal berteriak, lalu berlari keluar ruangan.
Zhou Chen—atau lebih tepatnya, jiwa yang kini menempati tubuh yang bukan miliknya—duduk perlahan. Ia menatap kedua tangannya sendiri: tangan yang lebih ramping, lebih muda, dengan bekas luka kecil di pergelangan yang bukan miliknya.
Di seberang ruangan, sebuah cermin perunggu besar berdiri, memantulkan sosoknya.
Wajah asing menatapnya balik. Pemuda tampan berusia sekitar sembilan belas tahun, dengan mata tajam dan rahang yang tegas, mengenakan jubah kerajaan biru tua yang setengah robek dan berlumur darah kering.
Zhou Chen membeku.
Ini bukan wajahku.
Ingatan mulai mengalir masuk—bukan ingatannya sendiri, melainkan ingatan orang lain, seperti sungai yang mengalir deras ke dalam kepalanya. Nama. Wajah. Peristiwa. Hutan Terlarang. Serigala Bayangan. Kematian.
Dan yang paling penting: Zhou Li, Pangeran Keempat Kerajaan Zhou.
"Tunggu..." gumamnya pelan, suaranya bergetar antara panik dan tidak percaya. "Aku mati setelah membaca buku di perpustakaan... dan sekarang aku menjadi... seorang pangeran?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaannya, karena tidak ada yang mendengarnya selain dirinya sendiri.
Butuh waktu tiga hari bagi Zhou Chen untuk sepenuhnya menerima kenyataan barunya. Tiga hari penuh kebingungan, ketakutan, dan—diam-diam—rasa penasaran yang tak bisa ia tekan. Sebagai orang yang dulunya menghabiskan hidup di tengah tumpukan buku, gagasan bahwa ia kini benar-benar berada di dalam dunia yang dulu hanya bisa ia baca dalam novel-novel fantasi, membuat sebagian kecil dari dirinya—entah kenapa—merasa hidup kembali.
Namun kenyataan pahit menyertainya.
Dari ingatan Zhou Li yang lama, ia mengetahui bahwa Kerajaan Zhou bukanlah kerajaan besar. Di mata kerajaan-kerajaan lain di Benua Timur, Zhou hanyalah wilayah kecil yang lemah, tanpa sekte besar, tanpa pasukan kuat, tanpa ahli bela diri yang disegani. Sewaktu-waktu bisa ditelan begitu saja.
Dan yang lebih buruk—di dalam istana ini sendiri, ada delapan saudara tiri yang masing-masing memiliki ambisi terhadap takhta, sementara Pangeran Keempat yang "asli" dikenal sebagai pangeran petualang yang bodoh dan tidak berguna, tanpa dukungan, tanpa kekuatan, dan tanpa nilai politik sama sekali.
Sempurna, pikir Zhou Chen sambil menghela napas panjang, duduk sendirian di kamarnya yang temaram. Aku terlempar ke tubuh yang paling lemah, di kerajaan yang paling lemah, di tengah perebutan takhta yang bisa membunuhku kapan saja.
Ia menatap ke luar jendela, ke arah menara utama istana yang menjulang di kejauhan.
Di dunia lamanya, ia hanya seorang mahasiswa biasa yang gemar membaca dan menganalisis—sejarah, strategi, logika di balik peristiwa-peristiwa besar. Ia tidak tahu ilmu bela diri. Ia tidak tahu politik istana. Ia bahkan tidak tahu cara memegang pedang dengan benar.
Tapi ada satu hal yang ia yakini: bertahan hidup di dunia ini akan membutuhkan lebih dari sekadar keberanian nekat yang dimiliki Zhou Li yang lama.
Ia membutuhkan informasi. Dan yang lebih penting lagi, ia membutuhkan cara untuk melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain.
Malam itu, tanpa sengaja mengikuti dorongan dari ingatan Zhou Li tentang sebuah "ruang rahasia" yang pernah ia temukan saat bermain-main di masa kecil, Zhou Chen menyusup ke bagian tersembunyi di bawah perpustakaan istana—satu-satunya tempat di seluruh kerajaan yang, ironisnya, membuatnya merasa sedikit seperti di rumah.
Ruangan itu berdebu, nyaris terlupakan, penuh dengan gulungan-gulungan kuno dan satu altar batu di tengahnya. Di atas altar itu, tergeletak sebuah benda kecil menyerupai kristal gelap berbentuk mata, berkilau lemah di tengah kegelapan.
Zhou Chen mendekat, rasa penasaran mengalahkan akal sehatnya yang biasanya berhati-hati.
"Apa ini...?"
Begitu jarinya menyentuh permukaan dingin benda itu, sebuah sensasi menyengat menjalar dari ujung jarinya hingga ke matanya sendiri. Ia terjatuh berlutut, memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut hebat, seolah sesuatu sedang membakar dirinya dari dalam.
Lalu, semuanya berhenti.
Ia membuka mata perlahan—dan dunia di hadapannya telah berubah.
Di depan matanya, melayang huruf-huruf bercahaya yang tidak terlihat oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri:
MATA DEWA ANALISIS — TERBANGUN Kemampuan Pasif: Analisis Objek dan Makhluk Hidup
Zhou Chen terdiam. Napasnya tercekat.
Perlahan, ia menoleh ke arah seekor tikus kecil yang kebetulan melintas di sudut ruangan—dan seketika, informasi mengalir masuk ke dalam benaknya, secepat dan sejelas membaca kalimat di sebuah buku:
Tikus Ladang Usia: 4 bulan Kondisi tubuh: sehat, kaki kanan belakang sedikit lemah akibat cedera lama
Zhou Chen menatap tangannya sendiri dengan mata terbelalak, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut—melainkan karena sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan sejak kematiannya.
Rasa penasaran yang menyala-nyala.
"Kalau begitu..." gumamnya pelan, seulas senyum tipis mulai terbentuk di wajah yang bukan wajahnya sendiri, "...semua hal di dunia ini punya kelemahan yang bisa dianalisis?"
Ia belum tahu betapa jauh kemampuan ini akan membawanya. Ia belum tahu bahwa di balik takhta Kerajaan Zhou yang kecil dan lemah ini, tersimpan jalan menuju sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Yang ia tahu hanyalah satu hal sederhana: hidupnya sebagai Pangeran Keempat baru saja dimulai.