Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebanggaan Kecil Di Gerbang Sekolah
Sinar matahari pagi membias hangat menembus celah-celah bangunan padat di pinggiran kota. Jam menunjukkan pukul 6:30 pagi ketika deru halus mesin mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan gang kontrakan sederhana tempat Alea tinggal.
Keesokan paginya jam 6:30 pagi Adrian sudah sampai di depan kontrakan Alea dengan setelan jas hitam. Potongan jasnya yang sempurna membalut tubuh jangkung dan atletis itu, memancarkan aura wibawa yang begitu dominan namun kali ini terasa hangat. Dia turun dari mobil, merapikan kancing jasnya sembari melangkah masuk ke halaman kontrakan kecil yang mulai terang disapu fajar.
"Papaaa!" teriak Azka yang sudah rapi.
Bocah tiga setengah tahun itu berlari kecil keluar dari pintu kontrakan yang terbuka lebar. Ia sudah mengenakan seragam TK-nya yang bersih, tas ransel kuning mungil tersangkut di bahunya, dan rambutnya tersisir rapi. Raut wajahnya dipenuhi binar kebahagiaan yang meluap-luap saat melihat sosok Adrian yang benar-benar menepati janjinya untuk datang.
Adrian refleks berlutut di atas ubin semen, menyambut tubuh mungil Azka yang meluncur ke dalam dekapannya. Pria yang ditakuti di dunia bawah tanah itu tertawa pelan—sebuah tawa tulus yang amat jarang terdengar dari bibirnya—lalu mengangkat tubuh kecil Azka ke dalam gendongannya.
"Pagi, Anak Papa," bisik Adrian lembut, mengecup pipi cabi Azka yang harum bedak bayi. "Sudah siap ke sekolah hari ini?"
"Sudah! Azka sudah mandi, sudah sarapan roti yang Bikin Ibu!" jawab Azka antusias sembari menunjuk-nunjuk mobil hitam mewah di depan gang. "Kita naik mobil Papa yang besar itu, kan?"
"Tentu saja, Sayang. Mulai hari ini, Papa yang akan selalu antar dan jemput Azka," jawab Adrian mantap.
Di ambang pintu kontrakan, Alea berdiri mengamati momen hangat itu. Ia mengenakan pakaian kasual sederhana siap untuk berangkat kerja ke toko bunga. Melihat binar bahagia di mata Azka yang tak pernah secerah ini sebelumnya, perasaan tenang perlahan mengalir di dalam dada Alea. Benteng pertahanannya yang keras runtuh perlahan oleh ketulusan Adrian yang tak berkurang sedikit pun.
Adrian mengalihkan pandangannya pada Alea, mengulas senyum tipis yang sarat akan kehangatan. "Pagi, Alea. Biar aku yang mengantar Azka ke sekolah, sekalian aku antar kamu ke toko bunga."
Alea menghela napas pelan, mengunci pintu kontrakannya lalu mendekati mereka berdua. "Terima kasih, Adrian... Tapi tolong jangan terlalu mencolok di sekolah Azka nanti," ucap Alea mengingatkan dengan lembut.
"Tenang saja. Hari ini aku hanya seorang ayah yang membanggakan putranya," janji Adrian penuh kepastian.
Akhirnya mereka bertiga naik mobil. Aromaterapi mewah yang menenangkan membalut kabin kendaraan bernuansa gelap itu. Azka duduk di kursi belakang dengan pelindung sabuk pengaman, matanya yang bulat tak berhenti berbinar menatap interior mobil yang serba canggih. Sementara itu, Alea duduk di samping Adrian yang memegang kemudi dengan tenang.
Sesuai permintaan Alea, Adrian terlebih dahulu mengantar Alea ke toko roti tempatnya bekerja—sebuah bangunan mungil beraroma gandum manis di sudut jalan utama.
Mobil mewah itu berhenti halus di depan toko. Alea menoleh ke belakang, mengusap lembut kepala Azka. "Azka belajar yang rajin ya, Sayang... Jangan nakal sama Bu Guru dan teman-teman."
"Siap, Ibu!" jawab Azka riang sembari memberi hormat polos.
Alea kemudian menatap Adrian sejenak. "Terima kasih, Adrian. Hati-hati di jalan."
"Sama-sama. Nanti sore aku dan Azka yang akan jemput kamu pulang kerja," balas Adrian dengan senyum tipis yang hangat. Alea hanya mengangguk pelan sebelum turun dari mobil dan melambaikan tangan.
Setelah melepas keberangkatan Alea, Adrian kembali melajukan mobilnya menuju TK tempat Azka menuntut ilmu.
Begitu mobil hitam mengkilap itu berbelok dan terparkir tepat di depan gerbang TK, perhatian para orang tua murid dan guru-guru yang berdiri di halaman seketika tersedot. Suasana riuh pagi itu mendadak hening sejenak melihat kendaraan mewah yang amat jarang melintas di area pinggiran kota tersebut.
Adrian turun terlebih dahulu. Dengan setelan jas hitamnya yang sangat rapi dan berwibawa, ia melangkah memutari mobil lalu membukakan pintu belakang untuk sang putra. Pria jangkung itu membungkuk, menggendong Azka keluar dari dalam mobil dan mendudukkannya di pundaknya dengan penuh kehangatan.
"Papaaa, Azka tinggi banget!" seru Azka kegirangan dari atas pundak sang ayah, memegangi rambut Adrian.
Anak-anak kecil yang kemarin sempat mengolok-olok Azka berdiri terpaku di dekat area taman. Mereka menatap Azka dengan mata berbinar penuh rasa kagum dan takjub. Tak ada lagi bisik-bisik ejekan, yang ada hanyalah tatapan iri melihat betapa gagahnya sosok ayah yang menggendong Azka hari ini.
"Lihat, itu Papanya Azka! Gagah banget kaya di TV!" bisik salah satu anak kecil kepada ibunya.
Adrian melangkah mantap menyeberangi gerbang sekolah. Senyum kebanggaan terukir jelas di raut wajahnya yang biasa dingin. Ia menurunkan Azka perlahan di hadapan sang guru yang menyambut mereka dengan wajah terkejut sekaligus segan.
"Pagi, Bu Guru. Saya Adrian... ayahnya Azka," ucap Adrian tegas namun sopan, memperkenalkan dirinya secara resmi di depan umum untuk pertama kalinya.
Azka mendongak menatap Adrian dengan dada menyeliup kebanggaan yang luar biasa. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, bocah kecil itu bisa tersenyum lebar di depan teman-temannya tanpa perlu merasa ragu lagi.