Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.
Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.
Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.
Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.
Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.
Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
Malam semakin larut ketika sunyi mulai merayap di dalam istana mewah berlantai tiga milik Hanum. Setelah badai emosi yang menguras tenaga tadi siang di mana dia harus menyiram mantan suami dan keluarga benalunya dengan air selang taman Hanum mengira malam ini dia akhirnya bisa menghela napas lega.
Rumahnya sudah kembali tenang, hanya menyisakan suara tawa kecil dari kedua anak kembar telatnya, Kayla dan Kenzie, yang sedang asyik mewarnai di ruang tengah.
Namun, ketenangan itu terusik ketika suara bel rumah berbunyi, menggema di seluruh penjuru ruangan yang luas. Hanum mengerutkan keningnya. Siapa yang bertamu jam segini? batinnya heran. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat. Tidak biasanya ada kerabat atau rekan bisnis Papanya yang datang tanpa membuat janji terlebih dahulu.
Dengan langkah anggun namun waspada, Hanum berjalan menuju pintu utama. Begitu daun pintu jati besar itu terbuka, pasokan udara di paru-paru Hanum seolah tersedot habis. Sepasang matanya terbelalak sempurna, menatap tidak percaya pada dua sosok pria yang berdiri di atas teras rumahnya.
"Papa...? Kak Tian...?" bisik Hanum, suaranya tercekat di tenggorokan.
Jantung Hanum berdegup kencang karena rasa kaget yang luar biasa. Kedua pria itu Papa tiri Hanif dan kakak tirinya, Tian seharusnya saat ini masih berada di luar negeri untuk mengurus ekspansi bisnis mereka. Setahu Hanum, jadwal kepulangan mereka masih dua atau tiga bulan lagi. Tapi sekarang, mereka berdiri tegak di depannya dengan setelan formal yang tampak sedikit kusut, menandakan mereka langsung menuju ke sini begitu menginjakkan kaki di bandara.
Sebelum Hanum sempat mencerna keterkejutannya, dua pasang kaki kecil tiba-tiba berlari kencang dari arah dalam rumah, melewati tubuh Hanum begitu saja.
"Opaaa!!! Om Tian!!!"
Kayla dan Kenzie berteriak histeris dengan wajah yang seketika berubah cerah benderang. Kedua anak kembar itu langsung menghambur, menempel ketat seperti perangko. Kenzie langsung memeluk erat kaki sang opa, sementara Kayla dengan manja merentangkan kedua tangannya minta digendong oleh Tian.
Pemandangan itu seketika mencairkan atmosfer dingin yang sempat dibawa oleh kedua pria itu. Papa tiri Hanif langsung berlutut, memeluk Kenzie dengan senyum hangat yang sangat tulus, sementara Tian meskipun wajahnya tetap kaku dan kaku seperti biasa tanpa ragu langsung mengangkat Kayla ke dalam dekapannya, menepuk-nepuk punggung keponakan tirinya itu dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut menyakiti anak kecil itu. Bagi Tian, kedua anak ini adalah pengecualian dari seluruh sikap dinginnya di dunia.
Hanum yang melihat itu hanya bisa terpaku di ambang pintu. Namun, sebagai wanita yang peka, Hanum menangkap ada sesuatu yang berbeda dari ekspresi wajah Papa mertuanya. Di balik senyum hangat untuk sang cucu, tersimpan sebersit kabut tebal penuh amarah, kekecewaan, dan rasa bersalah yang amat sangat mendalam.
Papa tiri Hanif perlahan melepaskan pelukannya dari Kenzie, lalu mengusap rambut anak laki-laki itu. "Kayla, Kenzie... Opa dan Om Tian mau bicara sebentar sama Mama, ya? Bagaimana kalau kalian main di ruang permainan di atas dulu?" tanya Papa dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin.
Kedua anak kembar itu kompak menggelengkan kepala. "Nggak mau, Opa! Kenzie mau sama Opa di sini, Kenzie kangen," rengek Kenzie sambil memeluk lengan opanya lebih erat. Kayla di gendongan Tian juga ikut mengerucutkan bibirnya, menolak untuk diturunkan.
Papa tiri Hanif tersenyum tipis, lalu menatap kedua cucunya bergantian dengan binar mata yang penuh kasih. "Opa janji, setelah urusan Opa dengan Bunda selesai, besok Opa akan membawa Kayla dan Kenzie menginap di hotel tempat Opa menginap. Kita akan berenang, beli es krim yang banyak dan main sampai puas. Bagaimana? Setuju?"
Mendengar janji itu, Hanum sedikit kaget. Dia menatap Papa mertuanya dengan dahi berkerut, menyadari bahwa Papa tirinya Hanif benar-benar sudah tidak menganggap rumah mewah tempat Ibu Rahma tinggal sebagai rumahnya lagi, hingga memilih tinggal di hotel.
Di sisi lain, janji menginap dan berenang sukses membuat pertahanan Kayla dan Kenzie runtuh. "Wah, beneran Opa? Asyik! Ayo Kenzie, kita siap-siap beresin mainan dulu di atas!" seru Kayla bersemangat setelah Tian menurunkannya dengan lembut. Kedua anak itu pun langsung berlari menaiki tangga menuju lantai atas dengan tawa yang kembali renyah.
Setelah bayangan kedua anaknya menghilang di belokan tangga, keheningan kembali menyergap. Hanum mempersilakan Papa mertua dan Tian untuk duduk di sofa ruang tamu. Tian memilih duduk di sofa tunggal, mengambil posisi sebagai pengamat dengan melipat kedua tangannya di depan dada, sementara Papa tiri Hanif duduk di sofa panjang, tepat berhadapan dengan Hanum.
Ruangan itu mendadak terasa begitu emosional. Papa tiri Hanif menatap Hanum dengan pandangan yang sangat dalam pandangan seorang ayah yang sedang menatap anak kandungnya sendiri yang baru saja terluka parah. Mereka semua saat ini duduk di ruang tamu.
"Hanum..." Papa tiri Hanif membuka suara, suaranya bergetar menahan gejolak rasa bersalah di dalam dadanya. "Kenapa kamu melakukan ini pada dirimu sendiri, Nak?"
Hanum tertegun, menatap sang papa mertua dengan bingung. "Maksud Papa...?"
"Kenapa kamu tidak membagi lukamu kepada Papa? Kenapa kamu hanya diam dan menanggung semuanya sendirian saat laki-laki bejat itu menyakitimu?"
tanya Papa tiri Hanif dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Papa sudah tahu semuanya, Hanum. Papa sudah tahu tentang pernikahan siri Hanif dan kelakuan menjijikkan Rahma di rumah ini tadi siang. Orang-orang Papa di sini sudah melaporkan semuanya semenjak beberapa hari lalu."
Pria paruh baya itu mencengkeram lututnya sendiri, menahan rasa sesak di dadanya. "Yang membuat hati Papa paling hancur adalah... kenapa kamu justru menyembunyikan ini dari Papa? Kamu menanggung rasa sakit diselingkuhi, dihina oleh mertuamu sendiri, hanya demi menjaga kehormatan Hanif di depan Papa? Mengapa kamu sekuat itu, Hanum?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Papa mertuanya itu seketika meruntuhkan seluruh pertahanan yang sudah dibangun Hanum selama berhari-hari ini.
Selama ini, Hanum dikenal sebagai wanita yang tangguh, mandiri, dan tidak pernah goyah oleh badai apa pun. Di depan karyawannya, di depan para pelayan rumah, bahkan di depan Hanif tadi siang, Hanum berdiri kokoh layaknya batu karang yang tak bisa hancur.
Namun malam ini, di hadapan pria paruh baya yang statusnya hanyalah papa tiri dari suaminya, benteng kokoh itu runtuh total. Air mata yang sejak kemarin dia tahan dengan sekuat tenaga, akhirnya menetes juga membasahi pipinya. Bahunya bergetar hebat, dan isak tangis yang selama ini dia sembunyikan di dalam kamar mandi kini pecah di ruang tamu itu.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Hanum benar-benar merasa bersyukur. Dia bersyukur karena di tengah-tengah keluarga Hanif yang layaknya iblis dan benalu, Tuhan masih menyisakan mertua tiri yang kebaikannya luar biasa seperti pria di depannya ini. Papa tiri Hanif tidak pernah membedakannya, selalu membelanya, dan selalu memperlakukannya dengan penuh hormat melebihi anak kandung sendiri.
Tian yang duduk di seberang sana tetap diam seribu bahasa. Wajahnya sekaku es batu, menjadi pengamat yang tenang di sudut ruangan. Namun, jika ada yang memperhatikan dengan detail, rahang tegas Tian tampak mengeras dan tatapan matanya melembut saat melihat Hanum menangis. Tian tahu betul betapa menderitanya Hanum menghadapi adik tirinya yang tidak tahu diuntung itu.
"Maafkan Papa, Hanum... Maafkan Papa yang tidak bisa mendidik anak bawaan itu dengan benar," ucap Papa tiri Hanif dengan suara yang serak karena menahan tangis. Beliau menundukkan kepalanya di depan menantunya. "Papa gagal menjagamu. Padahal dulu, Papa yang meminta kamu secara terhormat dari Papamu untuk dinikahi oleh Hanif. Papa yang menjamin kehidupanmu akan bahagia bersama dia. Tapi kenyatannya, anak itu justru memberimu neraka."
Hanum menggelengkan kepalanya dengan cepat, menghapus air matanya dengan tisu. "Tidak, Papa... Ini bukan salah Papa. Ini murni pilihan hidup Mas Hanif sendiri. Papa sudah terlalu baik kepada Hanum selama ini, bahkan lebih dari cukup."
Setelah Hanum mulai bisa menguasai emosinya dan tangisnya mereda, Papa tiri Hanif kembali memperbaiki posisi duduknya. Beliau menatap Hanum dengan tatapan yang kini berubah menjadi serius dan formal.
"Hanum, Papa mau tanya satu hal... Apakah keluarga kandungmu, apakah Papa dan Mamamu sudah tahu tentang masalah ini?" tanya beliau dengan nada cemas.
Hanum menarik napas dalam-dalam, lalu menggelengkan kepala pelan. "Belum, Papa. Hanum belum menceritakan apa pun kepada Papa dan Mama. Hanum tidak ingin membuat mereka jantungan atau drop karena memikirkan masalah rumah tangga Hanum. Rencananya, besok setelah berkas gugatan cerai selesai diurus oleh pengacara, baru Hanum akan datang ke rumah orang tua Hanum untuk menjelaskan semuanya."
Papa tiri Hanif mengangguk-angguk paham, ada rasa hormat yang kian besar di hatinya melihat cara menantunya ini berpikir dengan sangat matang dan dewasa. Namun, beliau juga tahu bahwa masalah ini bukan lagi sekadar masalah rumah tangga biasa, melainkan sebuah penghinaan besar bagi keluarga besar Hanum yang terpandang.
"Bagus kalau begitu," ucap Papa tiri Hanif dengan tegas. Beliau kemudian menatap lurus ke dalam sepasang mata menantunya. "Kalau begitu, besok... Papa minta kamu membawa Papa untuk ikut menghadap ke keluargamu. Papa ingin ikut bersamamu menemui orang tuamu."
Hanum sedikit terkejut mendengarnya. "Papa mau ikut?"
"Ya," jawab Papa tiri Hanif tanpa ragu sedikit pun. "Bagaimanapun juga, dulu Papa yang datang secara terhormat untuk melamarmu untuk Hanif. Dan sekarang, saat pernikahan ini hancur karena kebejatan anak itu, Papa juga yang harus bertanggung jawab secara jantan untuk mengembalikanmu kepada orang tuamu. Papa ingin meminta maaf secara langsung di depan Papa dan Mamamu karena gagal menjaga menantu kesayangan Papa ini. Papa ingin mereka tahu, bahwa Papa berada sepenuhnya di pihakmu, bukan di pihak Hanif."
Mendengar ketulusan dan tanggung jawab yang begitu besar dari sang papa mertua, hati Hanum kembali menghangat. Rasa perih akibat pengkhianatan Hanif seolah terobati oleh kehadiran dua pria yang saat ini berada di rumahnya untuk melindunginya.
Hanum tersenyum tulus, sebuah senyuman yang sudah lama tidak terukir di wajah cantiknya. "Baik, Papa. Besok pagi kita akan pergi bersama ke rumah orang tua Hanum. Terima kasih banyak, Papa... Terima kasih sudah selalu ada untuk Hanum dan anak-anak."
Papa tiri Hanif mengangguk lega, sementara Tian di sudut ruangan akhirnya berdiri, membetulkan kancing jasnya yang kaku dengan gerakan tenang. Meskipun tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menenangkan, kehadiran Tian di samping papanya malam itu sudah cukup menjadi bukti bahwa seluruh kekuatan dan kekuasaan keluarga besar mereka kini berdiri kokoh di belakang Hanum, siap menghancurkan siapa saja yang telah berani mengusik ketenangannya.
Tusuk niiih 🤺🤺🤺🤺🤺 ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....