NovelToon NovelToon
Hantu Pedang Menantang Takdir

Hantu Pedang Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:101.6k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Sebuah kisah tentang seorang pria dari masa lalu yang bangkit di masa ini.

Di masa ini, ia bertemu dengan perempuan yang mirip dengan seseorang yang ia cintai di masa lalunya. Seseorang yang tidak berani ia gapai karena kondisi fisiknya yang seperti monster saat itu.

Akankah ia berhasil menyingkirkan kenangan buruk masa lalunya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perayaan Ulang Tahun Emas Pernikahan

Para tamu masih terus berbincang satu sama lain. Suara percakapan memenuhi seluruh aula. Beberapa orang membicarakan perkembangan Kota Wuye, sementara yang lain membahas keluarga-keluarga besar yang hadir malam itu.

Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya naik ke atas panggung yang berada di bagian depan aula. Ia mengenakan jubah berwarna biru tua dengan hiasan emas di bagian kerah. Setelah berdiri di tengah panggung, ia mengangkat tangannya.

“Para tamu yang terhormat.”

Suaranya terdengar cukup keras hingga percakapan di dalam aula perlahan berhenti.

“Perayaan ulang tahun pernikahan emas Patriark Wong Hung dan Nyonya Tsue Lin akan segera dimulai.”

Beberapa tamu langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah panggung.

“Mohon para tamu menempati meja yang telah disediakan sesuai dengan tempat masing-masing.”

Pria tersebut kemudian membungkuk kecil.

“Semoga malam ini menjadi malam yang menyenangkan bagi kita semua.”

Begitu pengumuman selesai, beberapa pelayan segera bergerak. Mereka mengarahkan para tamu menuju meja masing-masing. Para anggota keluarga besar yang datang bersama rombongan juga mulai berpindah tempat.

Lan Suya, Gao Rui, dan Sha Nuo ikut berjalan menuju meja yang telah disiapkan untuk Harta Langit. Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah meja yang berada tidak terlalu jauh dari bagian depan aula.

Empat orang sudah duduk di sana. Keempatnya berasal dari dua keluarga bangsawan yang juga menerima undangan dari Keluarga Wong. Begitu melihat Lan Suya dan Gao Rui datang, mereka langsung berdiri.

“Nyonya Ya, silakan duduk.”

“Pendekar Rui, senang bertemu denganmu.”

Mereka menyambut keduanya dengan ramah.

Lan Suya tersenyum dan mengangguk.

“Terima kasih.”

Gao Rui juga membalas dengan sopan.

“Senang bertemu kalian.”

Namun ketika Sha Nuo ikut berjalan menuju meja dan kemudian duduk bersama mereka, keempat orang itu sempat saling memandang. Tatapan mereka tertuju kepada Sha Nuo. Pria itu duduk dengan tenang tanpa mengatakan apa pun.

Salah seorang dari mereka terlihat ingin bertanya. Namun setelah melihat posisi Sha Nuo yang duduk bersama Lan Suya dan Gao Rui, ia akhirnya memahami sesuatu.

Mereka mengira pria itu adalah pengawal pribadi. Hal tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Beberapa tamu lain juga membawa pengawal ke dalam aula. Biasanya pengawal akan duduk di meja yang sama untuk memastikan keselamatan orang yang mereka lindungi.

Keempat orang tersebut merasa tidak enak jika membicarakan hal itu secara langsung. Mereka akhirnya memilih untuk tidak bertanya.

Salah seorang wanita dari kedua keluarga tersebut kembali tersenyum kepada Lan Suya.

“Nyonya Ya, aku mendengar Harta Langit baru-baru ini membuka beberapa kerja sama baru di Kota Wuye.”

Lan Suya mengangguk.

“Benar. Kami sedang mengembangkan beberapa usaha di wilayah ini.”

Percakapan mereka kemudian berlanjut.

Sha Nuo hanya duduk dengan tenang. Ia sesekali melihat sekeliling aula. Tidak ada tanda-tanda bahwa dirinya tertarik ikut dalam percakapan para bangsawan tersebut.

Gao Rui sendiri terlihat cukup santai. Beberapa saat kemudian, suara pembawa acara kembali terdengar.

“Para tamu yang terhormat.”

Semua orang kembali mengarahkan pandangan ke panggung.

“Mohon perhatian.”

Aula perlahan menjadi hening. Pria paruh baya itu tersenyum.

“Malam ini merupakan malam yang istimewa bagi Keluarga Wong.”

Ia mengangkat tangannya ke arah pintu besar yang berada di belakang panggung.

“Selama lima puluh tahun, Patriark Wong Hung dan Nyonya Tsue Lin telah berjalan bersama melewati berbagai masa.”

“Lima puluh tahun bukanlah waktu yang singkat.”

Suara tepuk tangan mulai terdengar dari beberapa meja.

“Dari masa muda hingga hari ini, keduanya tetap berdiri berdampingan. Karena itu, malam ini Keluarga Wong mengundang seluruh kerabat dan sahabat untuk menyaksikan perayaan lima puluh tahun pernikahan mereka.”

Pria itu kemudian berbalik.

“Marilah kita menyambut pasangan yang menjadi pusat perayaan malam ini.”

“Patriark Wong Hung dan Nyonya Tsue Lin!”

Tepuk tangan langsung memenuhi aula.

Beberapa tamu bahkan berdiri dari tempat duduk mereka. Dari pintu besar di belakang panggung, sepasang pria dan wanita perlahan berjalan keluar.

Pria itu adalah seorang lelaki tua dengan rambut yang telah memutih. Wajahnya memang sudah dipenuhi kerutan, tetapi sorot matanya masih tajam. Dialah Wong Hung, Patriark Keluarga Wong.

Di sampingnya berjalan seorang wanita tua yang mengenakan pakaian berwarna merah tua dengan hiasan emas. Itu adalah istrinya Tsue Lin.

Keduanya berjalan perlahan menuju panggung. Begitu mereka sampai di depan para tamu, Wong Hung mengangkat kedua tangannya dan tersenyum.

“Terima kasih kepada seluruh tamu yang telah menyempatkan diri datang.”

Tsue Lin berdiri di sampingnya. Wong Hung menatap sekeliling aula.

“Lima puluh tahun yang lalu, aku dan istriku memulai kehidupan bersama dalam keadaan yang jauh berbeda dari sekarang.”

Beberapa tamu tersenyum mendengar perkataannya.

“Selama lima puluh tahun ini, kami telah melewati masa-masa sulit, kebahagiaan, perselisihan, hingga berbagai perubahan dalam keluarga.”

Ia menoleh kepada Tsue Lin.

“Namun satu hal tidak pernah berubah.”

Tatapan Wong Hung menjadi lebih lembut.

“Istriku tetap berada di sisiku.”

Tsue Lin tersenyum.

Tepuk tangan kembali terdengar. Beberapa wanita bahkan terlihat tersenyum haru. Gao Rui ikut bertepuk tangan sambil tersenyum.

Ia bergumam.

“Lima puluh tahun...”

“Benar-benar lama.”

Lan Suya juga tersenyum melihat pasangan tua tersebut.

“Semoga mereka bisa terus bersama.”

Sha Nuo tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memandang Wong Hung dan Tsue Lin dari tempat duduknya.

Wong Hung kemudian memandang seluruh tamu yang hadir di kediamannya.

“Untuk malam ini, aku tidak ingin berbicara terlalu banyak.”

Ia tersenyum lebar.

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang datang.”

“Terima kasih kepada keluarga, sahabat, serta seluruh tamu yang telah menjadi bagian dari perjalanan Keluarga Wong.”

“Semoga semua orang yang hadir malam ini mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan.”

Para tamu pun memberikan respon mereka.

“Untuk Patriark Wong dan Nyonya Tsue Lin!”

Suara seseorang terdengar dari salah satu meja.

“Selamat atas lima puluh tahun pernikahan!”

“Selamat!”

“Semoga tetap bersama hingga seratus tahun!”

Suasana aula kembali meriah.

Wong Hung dan Tsue Lin tersenyum. Mereka mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya turun dari panggung.

Para pelayan mulai membawa hidangan ke setiap meja. Satu demi satu hidangan khas Keluarga Wong mulai disajikan.

Aroma makanan memenuhi seluruh aula. Musik lembut juga mulai terdengar dari sisi ruangan. Beberapa pemusik memainkan alat musik tradisional untuk mengiringi jamuan malam.

Para tamu kembali berbincang. Suasana yang sebelumnya cukup formal perlahan menjadi lebih santai.

Lan Suya mengambil cangkir tehnya. Gao Rui mulai melihat hidangan yang baru saja diletakkan di atas meja.

“Bibi, makanan di sini terlihat enak.”

Lan Suya tersenyum.

“Kalau begitu, makanlah.”

Gao Rui langsung mengambil sumpit.

Sementara itu, Sha Nuo duduk dengan tenang di sisi meja. Salah satu dari empat bangsawan yang tadi sempat memperhatikannya kembali melirik ke arahnya.

Pria itu masih merasa penasaran. Namun ia tetap tidak bertanya. Bagaimanapun, jika pria tersebut memang pengawal pribadi Lan Suya, membicarakan identitasnya secara langsung mungkin dianggap tidak sopan.

Sha Nuo sendiri sama sekali tidak memedulikan tatapan tersebut. Ia mengambil cangkir di depannya lalu menyesap teh.

Tiba-tiba saja ia berbisik pada Gao Rui.

“Rui’er bersiaplah...”

1
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
Akhmad Baihaki
hmmmmm..bikin penasaran
Aghaffar
ayoo thoor..
jgn buat penasaraan
y@y@
💥👍🏿🌟👍🏿💥
nengnong
cantik memang cantik
yayat
bakal ada apa ni pamsn nou sampe minta rui bersiap
udenk
kayaknya ada yg mau nembak nich
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Sesuatu 🔥🌽
mbono keling
💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍
Adek Darmansyah
pelit x up ny thor😭😭 jd malas kasih
Sarip Hidayat
waaah... terlalu
Nanik S
Paman Nuo.... minum tehnya gak usah pedulikan yang lain kecuali Gao Rui
Nanik S
Paman Nuo... kenapa Rui suruh bersiap memang Kejutan apa yang akan Paman Berikan 🤣🤣🤣👍👍👍
Raju: ralat. keluarga wong
total 2 replies
tariii
bersiap apa nich, paman?? jangan buat penasaran lah...🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lnjut
miss blue 💙💙💙
gou rui sama paman nuo pasti mau bikin pesta sendiri 🤣🤣🤣
angin kelana
waduh apakah akan ada penyerangan???💪💪💪
John Travolta
bagusss 👍👍👍👍👍👍
Eka Haslinda
ternyata paman Nuo benar2 gak terkenal 🤣🤣🤣
Warda Rahmawati
apakah paman nuo akan hilang disini??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!