Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Dua Beban di Satu Pundak
Chu Feng masih berlutut di tanah berdebu, giok komunikasi yang kini sunyi tergenggam erat di tangannya yang belum sepenuhnya berhenti gemetar. Fajar sudah sepenuhnya merekah, menyinari kompleks Sekte Awan Langit yang porak-poranda—bangunan-bangunan retak, tanah yang terbakar di beberapa titik, dan murid-murid yang masih bergerak lamban di antara reruntuhan kecil, merawat luka satu sama lain.
Jiang Rou berjongkok di sampingnya, tangannya masih bergetar dari pertempuran, namun cukup tenang untuk memeriksa luka di lengan Chu Feng. "Kau harus dibawa ke ruang perawatan sekarang," katanya, suaranya tegas meski jelas menahan rasa syok. "Lukamu masih berdarah."
"Sebentar lagi," Chu Feng menjawab pelan, menatap giok yang tergenggam di tangannya. Pesan Su Yue masih terngiang di kepalanya—tiga bulan, perjodohan, Klan Zhao—kata-kata yang terasa jauh lebih berat dibandingkan luka fisik yang menganga di lengannya.
"Itu dari gadis Klan Su?" tanya Jiang Rou, menyadari arah pandangan Chu Feng.
Chu Feng mengangguk singkat, tidak sanggup menjelaskan lebih jauh saat ini. Jiang Rou tidak mendesak, hanya membantu memapahnya berdiri, membawanya perlahan menuju ruang perawatan sekte yang kini dipenuhi murid-murid terluka lainnya.
Ruang perawatan sekte, biasanya sepi dan jarang digunakan, kini dipenuhi tubuh-tubuh yang terluka—beberapa hanya lecet ringan, namun ada juga yang lebih serius. Di salah satu sudut, seorang murid junior terbaring dengan luka dalam di dadanya, dua tabib sekte bekerja keras mempertahankan nyawanya.
Chu Feng menatap pemandangan itu dengan rahang mengeras. Selama ini, meski sudah memahami secara teori bahwa Aula Kegelapan Malam adalah ancaman nyata, ia belum pernah benar-benar menyaksikan akibat langsung dari keberadaannya di sekte ini—murid-murid biasa, orang-orang yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan pecahan tubuh Dewa, kini terluka atau bahkan mungkin sekarat karena keberadaannya.
Ini salahku, pikirnya pahit, duduk di salah satu ranjang kosong sementara seorang tabib mulai membersihkan dan membalut lukanya. Kalau aku tidak pernah datang ke sini, mungkin sekte ini tidak akan diserang.
Tetua Wang, yang kebetulan lewat memeriksa kondisi murid-muridnya, mendengar gumaman itu dan berhenti di dekat ranjang Chu Feng, ekspresinya serius namun tidak menyalahkan.
"Jangan menanggung beban itu sendirian, Nak," katanya, suaranya lelah namun tegas. "Aula Kegelapan Malam sudah mencari pecahan-pecahan itu selama ratusan tahun, jauh sebelum kau lahir. Mereka yang memilih untuk menyerang tempat yang melindungi hal yang mereka cari—itu bukan salahmu, itu salah mereka."
"Tapi murid-murid ini terluka karena aku ada di sini," Chu Feng membalas, suaranya tegang menahan emosi.
"Dan mereka juga terluka membela sesuatu yang mereka yakini benar," Tetua Wang menatapnya lurus. "Kau pikir sekte ini menerimamu tanpa memahami risikonya? Aku menerimamu karena aku tahu persis apa yang mungkin terjadi—dan aku memilih itu, sama seperti murid-murid lain memilih untuk bertarung malam ini, bukan karena dipaksa, melainkan karena mereka percaya pada sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri."
Kata-kata itu tidak sepenuhnya menghilangkan rasa bersalah Chu Feng, namun cukup untuk mengingatkannya bahwa menyalahkan diri sendiri tanpa henti tidak akan membantu siapa pun—yang dibutuhkan sekarang adalah tindakan, bukan penyesalan.
Jauh di wilayah tengah, di dalam kompleks megah Klan Su yang berdiri kontras dengan kesederhanaan Sekte Awan Langit, Su Yue duduk sendirian di kamarnya, giok komunikasi yang baru saja ia sembunyikan tergeletak di pangkuannya, napasnya masih memburu dari ketakutan hampir tertangkap oleh salah satu pelayan pribadi ayahnya yang mengawasinya belakangan ini.
Pintu kamarnya diketuk pelan, dan sebelum ia sempat menjawab, ayahnya sendiri—Kepala Klan Su—melangkah masuk dengan ekspresi yang jarang sekali ia tunjukkan pada putrinya: campuran ketegasan dan sesuatu yang menyerupai permintaan maaf yang enggan diucapkan.
"Su Yue," katanya, duduk di kursi dekat jendela kamarnya. "Aku tahu keputusan ini berat bagimu."
"Kalau begitu kenapa tetua tetap memutuskannya?" Su Yue membalas, suaranya bergetar menahan emosi yang sudah lama ia tahan.
"Karena Klan Su tidak berdiri sendirian di dunia ini," ayahnya menjawab, nada suaranya berat. "Aliansi dagang dengan Klan Zhao akan mengamankan posisi kita selama beberapa generasi ke depan. Perjodohan ini bukan sekadar keinginan pribadi tetua-tetua, melainkan kebutuhan untuk melindungi seluruh klan—ratusan orang yang bergantung pada stabilitas yang kita bangun."
"Dan bagaimana denganku?" Su Yue menatap ayahnya lurus, matanya berkaca-kaca namun tidak menangis. "Apakah keinginanku sama sekali tidak penting dalam keputusan ini?"
Sang ayah terdiam lama, matanya menghindar dari tatapan putrinya. "Aku tidak bisa menjanjikan bahwa keinginanmu akan menjadi prioritas utama, Nak. Tapi aku bisa menjanjikan satu hal—aku akan mencoba memberimu waktu selama yang aku bisa. Tiga bulan bukanlah keputusan final, hanya tenggat waktu yang diberikan tetua untuk kau mempertimbangkan."
Setelah ayahnya pergi, Su Yue duduk sendirian dalam keheningan kamarnya yang mewah namun terasa seperti sangkar, menatap ke luar jendela ke arah langit yang sama yang mungkin juga sedang dipandangi Chu Feng entah di mana jauh di sana.
Aku harus menemukan cara, pikirnya, tekadnya perlahan mengeras meski ketakutan masih membayangi. Aku tidak akan membiarkan hidupku ditentukan sepenuhnya oleh kepentingan orang lain—bukan tanpa perlawanan.
Kembali di Sekte Awan Langit, ketika matahari sudah sepenuhnya terbit dan sebagian besar luka-luka ringan sudah ditangani, seluruh murid dan tetua berkumpul di aula utama untuk membahas langkah selanjutnya—sebuah pertemuan darurat yang jauh berbeda suasananya dari pengumuman kompetisi beberapa minggu lalu.
"Serangan semalam adalah peringatan," kata Tetua Wang, berdiri di depan seluruh sekte dengan luka-luka kecil masih terlihat di wajahnya. "Aula Kegelapan Malam kini tahu pasti keberadaan pembawa pecahan tubuh Dewa di antara kita, dan mereka tidak akan berhenti sampai tujuan mereka tercapai."
Murid-murid yang hadir saling berbisik cemas, beberapa menatap ke arah Chu Feng dengan campuran simpati dan kekhawatiran—bukan lagi sekadar rasa kagum seperti sebelumnya, melainkan kesadaran nyata akan bahaya yang kini menyertai kehadirannya.
"Kita punya dua pilihan," lanjut Tetua Wang. "Meminta Chu Feng untuk pergi, demi keselamatan sekte secara keseluruhan—atau memperkuat pertahanan kita, mempercepat persiapan, dan menghadapi ancaman ini bersama-sama sebagai satu kesatuan."
Keheningan tegang menyelimuti aula. Chu Feng, berdiri di antara murid-murid lain dengan lengan yang masih dibalut perban, merasakan beban keputusan itu menghantam dirinya dengan berat yang luar biasa—kemungkinan bahwa demi melindungi orang-orang yang telah menerimanya dengan tulus, ia mungkin harus kembali pergi, meninggalkan satu-satunya tempat yang mulai terasa seperti rumah sejak kepergiannya dari Kerajaan Chu.
Sebelum ia sempat membuka mulut untuk menawarkan diri pergi, Liu Bo melangkah maju dengan tegas.
"Aku memilih untuk bertahan," katanya keras, suaranya menggema ke seluruh aula. "Chu Feng adalah bagian dari tim kami, bagian dari sekte ini. Kami tidak akan mengusirnya hanya karena situasi menjadi berbahaya."
Zhao Lin dan Jiang Rou mengangguk setuju di sampingnya, dan perlahan, satu per satu murid lain mulai bersuara dengan sentimen serupa—bukan seluruhnya, karena beberapa memang tampak ragu dan takut, namun mayoritas suara di aula itu condong pada keputusan untuk bertahan bersama, bukan berpisah dalam ketakutan.
Tetua Wang menatap seluruh muridnya dengan bangga yang tidak bisa disembunyikan, lalu menoleh ke arah Chu Feng.
"Sepertinya keputusan sudah dibuat, Nak," katanya, senyum tipis penuh makna terbentuk di wajahnya yang lelah. "Kita akan bertahan, dan mempersiapkan diri lebih keras dari sebelumnya—baik untuk kompetisi, maupun untuk ancaman yang mungkin datang kembali."
Chu Feng menatap sekeliling aula, dadanya dipenuhi rasa syukur yang teramat dalam bercampur dengan tekad baru yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Dua beban kini bersandar di pundaknya—melindungi sekte yang telah menerimanya sepenuh hati, dan entah bagaimana caranya, membantu Su Yue lolos dari nasib yang dipaksakan padanya di wilayah tengah yang jauh.
Aku tidak akan mengecewakan kalian, pikirnya, menatap wajah-wajah rekan-rekannya yang kini bukan lagi sekadar rekan sekte, melainkan keluarga yang ia pilih sendiri. Dan aku tidak akan menyerah begitu saja pada apa pun yang mencoba merenggut orang-orang yang kupedulikan.