Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INTEROGASI DAN FLOWCHART
Koridor sepi di lantai dua Mega Mall itu berbau seperti campuran antara karpet berdebu dan parfum air freshener lemon yang terlalu menyengat. Jauh dari hiruk-pikuk arena ice skating dan alunan musik dangdut yang berisik, tempat ini adalah lokasi sempurna untuk adegan konfrontasi dramatis. Dan Kevin, dengan naluri sinetronnya yang sangat tajam, telah menyeret Vania ke sini tepat setelah melihat Raka dan Larasati tertawa bahagia di atas es.
Punggung Vania menabrak dinding dingin berhias wallpaper bermotif geometris tahun 90-an. Kevin berdiri di depannya, kedua tangannya menumpu di dinding di sisi kiri dan kanan kepala Vania, mengurungnya dalam ruang sempit yang berbau cologne mahal dan amarah yang dipaksakan.
"Apa permainanmu, Vania?" desis Kevin, suaranya rendah dan bergetar. Matanya yang gelap menatap tajam ke wajah Vania, mencari-cari tanda penyesalan atau ketakutan. "Kau pikir dengan mendorong mereka berdua, kau bisa lolos dari aku? Kau pikir aku akan diam saja melihat Raka dan Larasati semakin mesra?"
Vania menatap pria di depannya. Dia tidak berkedip. Dia hanya menatap lurus ke arah "kamera" imajinernya yang melayang di dekat lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit.
Kalian lihat kan? batin Vania pada penonton tak terlihat. Dia berakting lagi. Naskahnya udah basi, Kevin. Akting lo kaku banget. Dia pura-pura marah karena Larasati direbut Raka, padahal matanya dari tadi melirik ke bibirku tiap tiga detik. Ini bukan villain yang mau merebut Female Lead. Ini villain yang lagi ngambek karena diabaikan mainannya. Kasihan banget, sih.
Kevin mengira Vania terdiam karena takut. Dia mencondongkan wajahnya lebih dekat, napasnya yang hangat menerpa kulit leher Vania. "Dengar baik-baik. Aku masih menginginkan Larasati. Aku akan menghancurkan Raka. Aku akan merebut apa pun yang dia cintai, dan kau tidak bisa menghentikanku. Kau harusnya cemburu, Vania! Kau harusnya..."
"Kau harusnya pakai baju yang lebih tipis, Tuan Kevin," potong Vania datar, suaranya membosankan dan sama sekali tidak dramatis.
Kevin terhenti. Mulutnya yang tadi siap melancarkan pidato ancaman terbuka sedikit. "Apa?"
Vania menghela napas panjang. Dia mendorong dada bidang Kevin dengan telapak tangannya, memaksa pria itu mundur selangkah sehingga ada ruang untuk bernapas. "Tuan Kevin, mari kita bedah psikologismu. Aku tidak punya papan tulis di sini, jadi kita pakai diagram alir imajiner. Tolong fokus."
Vania mengangkat tangan kanannya, menggunakan jari telunjuknya untuk menggambar kotak-kotak tak terlihat di udara di antara mereka.
"Kotak satu," ucap Vania, suaranya berubah menjadi nada presentasi yang sangat profesional. "Kevin melihat Raka dan Larasati mesra di arena ice skating. Reaksi awal Kevin: Marah. Tapi tunggu, mari kita analisis sumber kemarahannya. Apakah karena Larasati? Tidak. Jika kau benar-benar mencintai Larasati, kau akan menyewa detektif untuk mengikutinya, bukan berdiri di sini memakai mantel bulu setebal kasur pegas di Jakarta yang suhunya 33 derajat Celsius."
Kevin menatap jari Vania yang bergerak-gerak di udara. Alisnya berkerut. "Aku... aku memakai ini karena..."
"Kotak dua," Vania mengabaikan protesnya, menggambar panah imajiner dari kotak pertama ke kotak kedua. "Sumber kemarahan yang sebenarnya: Kevin merasa terancam. Bukan karena Raka merebut Larasati, tapi karena Kevin merasa terancam karena Vania tidak lagi memperhatikannya. Vania sibuk mengatur jadwal Raka, Vania sibuk memberi tips pada Larasati, dan Vania sama sekali tidak melihat Kevin yang sedang kepanasan di pojokan kafe."
Wajah Kevin memerah. Bukan karena panas, tapi karena argumen itu terlalu akurat dan menusuk. "Aku tidak butuh perhatianmu! Aku adalah ancaman terbesar di kota ini! Aku..."
"Kotak tiga," Vania melanjutkan, menggambar lingkaran besar di udara. "Kesimpulan: Anda bukan cemburu pada Raka. Anda hanya attention seeker. Anda bertingkah seperti anak kecil yang membanting mainannya di lantai supermarket karena ibunya tidak membelikan cokelat. Perbedaannya, mainan Anda adalah nyawa orang lain, dan supermarketnya adalah sinetron ini."
Hening.
Kevin menatap ruang kosong di udara tempat Vania menggambar diagram itu. Otaknya yang terbiasa memproses skema bisnis dan intrik keluarga mengalami short-circuit total. Dia menatap Vania, lalu menatap udara, lalu kembali menatap Vania. Kata-kata seperti attention seeker dan analogi anak kecil di supermarket itu menghancurkan seluruh aura dark romance yang tadi dia bangun dengan susah payah.
"Kau... kau menyamakan aku dengan anak kecil?" suara Kevin terdengar serak, penuh dengan rasa tidak percaya dan sedikit terluka. "Aku akan menghancurkanmu, Vania. Aku bersumpah..."
"Kau tidak akan menghancurkan siapa pun, Tuan Kevin. Kau cuma butuh tidur siang dan minum air putih," balas Vania santai, merapikan gaunnya yang sedikit kusut. "Sekarang, jika kau selesai dengan drama internalmu, aku mau kembali ke kafe. Hot chocolate-ku pasti sudah dingin."
Tepat saat Vania berbalik badan untuk pergi, suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor.
Raka dan Larasati berjalan berdampingan. Tangan Raka menggenggam tangan Larasati dengan erat, dan senyum manis terukir di wajah sang heroine. Mereka terlihat sangat bahagia, sangat couple goals, dan sangat menjengkelkan bagi siapa pun yang sedang berada di tengah krisis eksistensial.
Raka berhenti melangkah saat melihat Kevin dan Vania di koridor sepi itu. Tatapan Raka yang tadi lembut saat menatap Larasati, seketika berubah menjadi tajam dan penuh permusuhan saat menatap Kevin.
Dan di sinilah momen wajib sinetron terjadi.
Wusssshhh.
Angin kencang berhembus di dalam koridor tertutup itu. Rambut Raka yang disisir rapi berkibar gagah. Mantel tebal Kevin yang sudah membuatnya berkeringat pun berkibar dramatis. Lampu neon di atas kepala mereka berkedip-kedip, memberikan efek pencahayaan yang sangat sinematik dan tidak masuk akal secara fisika.
Raka melangkah maju, menempatkan tubuhnya di antara Kevin dan Vania. Tatapan death stare tingkat tinggi dipancarkan dari matanya.
"Lepaskan dia, Kevin," ucap Raka, suaranya berat dan penuh dengan kebencian yang dihafal di luar kepala. "Kau tidak pantas berada di dekatnya. Kau hanya akan membawa bencana ke dalam hidupnya."
Kevin tertawa kecil. Tawa yang sinis dan meremehkan. Dia menatap Raka dari atas ke bawah, menatap sweater hitam yang dikenakan pria itu dengan tatapan jijik.
"Aku berada di mana pun aku mau, Raka," balas Kevin, suaranya dingin dan mengintimidasi. "Dan untuk informasi, Vania lebih suka berada di dekatku. Benar kan, Sayang? Kau lebih suka pria yang bisa memberimu dunia, bukan pria yang hanya bisa memberimu roti tawar tanpa kulit."
Vania, yang berdiri di belakang Raka, memutar matanya begitu keras hingga hampir terkilir. Dia menatap "kamera" imajinernya dengan tatapan mati rasa. Ini dia. Puncak dari segala klise. Dua pria berotot saling melempar kata-kata sinis di koridor mall, sementara aku di sini cuma pengen minum cokelat panas. Tolonglah, semesta, beri aku cuti.
"Mas Raka," Larasati menyela, suaranya lembut namun tegas. Dia menarik lengan Raka pelan. "Jangan bertengkar. Kak Vania tidak apa-apa."
Raka menoleh pada Larasati, tatapannya melunak sejenak sebelum kembali menatap Kevin dengan tajam. "Kau dengar itu, Kevin? Dia tidak menginginkanmu. Pergi dari sini sebelum aku memanggil keamanan."
Kevin menyipitkan matanya. Dia melangkah maju, hingga jarak antara dia dan Raka hanya tinggal satu jengkal. Aura dingin dari mantel bulunya bertabrakan dengan aura bersih dari jas putih Raka.
"Keamanan?" gumam Kevin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang mengerikan. "Aku pemilik saham mayoritas gedung ini, Raka. Jika ada yang harus pergi, itu adalah kau dan gadis kecil itu."
Vania menghela napas panjang. Dia melangkah keluar dari belakang Raka, berdiri di samping Kevin, dan menatap kedua pria itu dengan tatapan seorang guru TK yang sedang melihat dua muridnya berebut mainan truk.
"Cukup," ucap Vania, suaranya datar namun memotong aura tegang di antara mereka. "Kalian berdua. Turunkan ego kalian. Raka, bawa Larasati pulang. Kevin, lepaskan mantel itu sebelum kau pingsan karena heatstroke. Aku mau pulang."
BERSAMBUNG...