Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.
Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.
Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — Berantem karena Hal Sepele
Beberapa minggu setelah rapat klien yang sukses, hubungan Kirana dan Rangga semakin berkembang ke arah yang sulit didefinisikan—bukan lagi sekadar atasan dan bawahan, tapi juga belum sepenuhnya berani disebut sebagai sesuatu yang lebih. Mereka masih sering berdebat, masih sering saling menyindir, namun kini dengan nuansa yang jauh lebih hangat dan penuh tawa dibanding sebelumnya.
Suatu siang, keributan kecil terjadi karena hal yang sebenarnya sangat sepele: pilihan menu makan siang.
"Pak, saya udah pesenin nasi padang buat makan siang tadi, tapi katanya Bapak nggak suka pedes?" tanya Bu Marlina, kebetulan menyampaikan pesan dari Rangga ke Kirana yang saat itu sedang membantu menyiapkan konsumsi rapat internal.
"Aduh, saya kira semua orang suka pedes," Kirana buru-buru mengganti pesanan, meski agak kesal karena informasi itu baru disampaikan mendadak.
Tidak lama kemudian, Rangga sendiri yang datang ke pantry, mendapati Kirana sedang sibuk mengganti menu makan siang dengan wajah sedikit kesal.
"Kenapa ribet amat sih, Pak? Tinggal bilang aja dari awal nggak suka pedes," gerutu Kirana, tidak menyadari Rangga sudah berdiri di belakangnya.
"Saya emang udah bilang dari awal," Rangga menjawab santai, membuat Kirana terlonjak kaget mendengar suara itu tiba-tiba muncul.
"Bapak nggak pernah bilang apa-apa soal itu ke saya!" Kirana membalas, sedikit merengut kesal.
"Saya bilang ke Bu Marlina minggu lalu," Rangga menjawab enteng, mengambil segelas air mineral dari kulkas pantry.
"Ya kalau bilangnya ke Bu Marlina, mana saya tahu, Pak? Saya kan bukan cenayang yang bisa baca pikiran semua orang di kantor," balas Kirana, nadanya mulai naik meski masih dalam batas sopan.
"Makanya, lain kali kalau nyiapin konsumsi, tanya dulu ke saya langsung, jangan asumsi semua orang doyan pedes," Rangga menjawab santai, meski ada nada menggoda yang tersembunyi di balik kalimat itu.
"Bapak sendiri yang susah dideketin, gimana saya mau tanya langsung?" Kirana membalas cepat, sedikit menyesal begitu kalimat itu terlontar, menyadari bisa terdengar terlalu personal.
Rangga terdiam sejenak, menatap Kirana dengan ekspresi yang sulit dibaca, sebelum akhirnya seringai tipis muncul di wajahnya. "Susah dideketin? Padahal kamu udah sering banget nyamperin saya ke lantai atas belakangan ini."
Kirana tersedak mendengar tuduhan itu, wajahnya memanas. "Itu kan karena urusan kerjaan doang, Pak! Bukan karena saya sengaja nyari-nyari alasan!"
"Oh gitu," Rangga mengangguk-angguk, nada suaranya penuh sindiran jenaka. "Padahal saya kira kamu emang sengaja cari alasan buat ketemu saya terus."
"Ish, Bapak ge-er banget sih!" Kirana membalas, meski tawa kecil lolos dari bibirnya tanpa bisa ia tahan, suasana tegang di antara mereka mencair seketika menjadi obrolan ringan yang menggemaskan.
"Saya cuma ngomong fakta," Rangga membalas, ikut tersenyum, matanya menatap Kirana dengan cara yang membuat gadis itu kembali merasakan debaran aneh di dadanya.
Percakapan itu terhenti saat beberapa karyawan lain masuk ke pantry, membuat keduanya buru-buru kembali memasang wajah profesional, meski senyum kecil masih tersisa di sudut bibir masing-masing.
Malam harinya, saat Kirana bercerita ke Dewi lewat telepon tentang keributan kecil siang itu, sahabatnya itu tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Astaga Kir, itu bukan berantem namanya, itu namanya flirting tingkat dewa," Dewi berkomentar geli, membuat Kirana buru-buru membantah.
"Nggak, Dew, itu beneran berantem kok, gara-gara masalah nasi padang doang," Kirana bersikeras, meski suaranya sendiri terdengar kurang yakin.
"Iya, berantem gara-gara hal sepele, terus abis itu malah ketawa-ketawa mesra, itu namanya berantem gemes, Kir. Klise banget malah, kayak di drama-drama," Dewi menjelaskan dengan nada seolah sudah jadi ahli dalam bidang percintaan kantor.
Kirana terdiam sejenak, memikirkan kembali momen di pantry tadi siang—cara Rangga tersenyum jahil, cara jantungnya berdebar tanpa alasan jelas setiap kali beradu argumen dengan pria itu, cara ia sendiri diam-diam menantikan pertengkaran-pertengkaran kecil semacam itu karena selalu berakhir dengan tawa dan kehangatan yang sulit dijelaskan.
"Dew," Kirana akhirnya berkata pelan, suaranya penuh keraguan. "Gimana kalau aku beneran suka sama dia?"
Hening sejenak di seberang telepon, sebelum akhirnya Dewi menjawab dengan nada yang lebih serius dari biasanya. "Kalau emang beneran suka, ya nikmatin aja perasaan itu, Kir. Jangan takut. Toh kamu udah ngelewatin banyak hal susah, masa iya takut sama perasaan sendiri?"
"Tapi dia bosku, Dew. Kalau ketahuan, bisa runyam urusannya," Kirana menggigit bibir, cemas memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
"Ya udah, jangan buru-buru diomongin ke siapa-siapa dulu. Nikmatin aja prosesnya pelan-pelan. Toh kalau emang jodoh, pasti ketemu jalannya," Dewi menenangkan, suaranya penuh keyakinan yang menular ke Kirana.
Kirana tersenyum kecil mendengar nasihat sahabatnya itu, meski hatinya masih dipenuhi kebingungan dan kekhawatiran. Namun ada satu hal yang mulai ia sadari dengan pasti—perasaannya pada Rangga bukan lagi sekadar rasa penasaran atau kekaguman semata, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih rumit, sesuatu yang semakin sulit ia sangkal setiap harinya.
Di sisi lain kota, di apartemen mewahnya yang sunyi, Rangga juga tidak bisa berhenti memikirkan pertengkaran kecil siang itu, mengulang-ulang tawa Kirana di kepalanya, senyum kecil yang tidak bisa ia tahan setiap kali mengingat cara gadis itu membalas sindirannya tanpa rasa takut.
Aku harus segera memutuskan sesuatu, pikirnya, menatap langit malam kota Jakarta dari balkon apartemennya. Sebelum perasaan ini jadi terlalu rumit untuk aku kendalikan sendiri.
Ia tidak tahu, keputusan yang akan ia ambil dalam waktu dekat justru akan membawa mereka berdua pada babak baru yang jauh lebih menantang dari sekedar pertengkaran-pertengkaran kecil yang selama ini mewarnai hari-hari mereka.
ini novel saya pertama🥰🥰