Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Asrama Kelas Bawah dan Aturan Baru
Masuknya Cheon Ryeon sebagai peringkat pertama ujian seleksi langsung menimbulkan kegemparan kecil di lingkungan pengajar Akademi Kultus Iblis. Namun, bagi para murid elit dari klan-klan atas, hasil tersebut dianggap tak lebih dari "keberuntungan bodoh" seorang anak klan bawah yang memanfaatkan kelengahan Ma Cheon-Wo.
Akademi Kultus Iblis dibangun di atas lahan berundak di lereng Pegunungan Shiwan. Pembagian fasilitasnya sangat kejam dan mencerminkan hierarki kekuasaan yang kaku:Meskipun Ryeon meraih peringkat pertama, aturan tertulis Akademi menyebutkan bahwa pembagian gedung asrama tetap didasarkan pada peringkat asal klan pada tahun pendaftaran.
Akibatnya, Ryeon dan Tang Jin-Bao tetap dilempar ke Asrama Bangsal Bawah—sebuah kompleks bangunan kayu tua yang berbau lembap dan terletak tepat di dekat jurang tempat pembuangan sampah Akademi.
"Cih! Bener-bener tidak adil!" omel Jin-Bao sambil melempar tas kainnya ke atas ranjang kayu yang berdecit kencang. "Bos kan dapat peringkat satu! Harusnya kita dapat kamar di Paviliun Elit yang ada kolam air panasnya! Kenapa malah dilempar ke barak busuk ini?!"
Ryeon duduk tenang di tepi ranjangnya, menepuk pelan Kasur jerami yang agak berdebu.
"Tempat ini justru lebih menguntungkan buat kita, Jin-Bao," sahut Ryeon datar.
Jin-Bao mengeripkan matanya bingung. "Menguntungkan dari mananya? Atapnya saja bolong begini!"
"Paviliun Elit itu diawasi penuh oleh mata-mata dari klan-klan besar," jelas Ryeon sambil meregangkan jemari tangannya. "Setiap gerak-gerikmu, obat yang kau racik, atau sirkulasi Ki yang kau latih bakal langsung dicatat oleh instruktur klan mereka. Di sini? Tidak ada satu pun pengawas yang peduli dengan apa yang kita lakukan di dalam gua atau belakang barak."
Jin-Bao manggut-manggut. "Benar juga... tapi makanan di sini cuma nasi basi dan sayur bening dingin, Bos!"
"Soal makanan dan bahan baku, kita bisa atur sendiri," jawab Ryeon tenang.
Belum sempat Jin-Bao membalas, pintu kayu asrama yang sudah agak miring itu didorong kasar dari luar.
BAM!
Dua orang pemuda berusia sekitar dua belas tahun melangkah masuk. Tubuh mereka tegap, dipenuhi bekas luka tebasan di lengan, dan mengenakan seragam abu-abu lusuh. Dari aura dingin yang memancar dari tubuh mereka, terlihat jelas bahwa mereka adalah murid senior kelas bawah yang sudah menginjakkan kaki di awal Ranah Pembentukan (Solidification).
"Siapa yang namanya Cheon Ryeon di sini?!" teriak salah satu dari mereka yang bertubuh jangkung dengan mata juling.
Seluruh penghuni baru di dalam bangsal—sekitar dua puluh anak dari klan-klan kecil—langsung gemetaran dan merapat ke dinding. Mereka tahu betul aturan tidak tertulis di Asrama Bangsal: murid senior selalu meminta "Pajak Perlindungan" dari setiap anak baru.
Ryeon berdiri santai dari ranjangnya. "Aku. Ada perlu apa?"
Pria jangkung itu menatap Ryeon dari atas ke bawah, lalu meludah ke lantai kayu.
"Bocah sombong dari Klan Cheon, ya?" cemoohnya dingin. "Dengar baik-baik! Namaku Gao Shan, penguasa Asrama Bawah ini! Di sini tidak peduli kau dapat peringkat berapa di ujian hutan, setiap anak baru wajib menyerahkan setengah jatah batu energi dan lima puluh koin perak setiap minggu kalau mau tidur tenang!"
Jin-Bao yang berdiri di belakang Ryeon mendadak menghela napas panjang, memegangi dahinya sambil menggelengkan kepala.
"Masih ada saja orang yang suka cari penyakit..." gumam Jin-Bao pelan.
"Kau bilang apa, Bocah Gempal?!" bentak rekan Gao Shan yang bertubuh kekar sambil mencabut pisau belati berkarat di pinggangnya. "Mau kuiris lidahmu?!"
Gao Shan melangkah mendekati Ryeon, menunjuk dada Ryeon dengan jarinya yang kotor. "Serahkan uang dan batu energimu sekarang, atau—"
TAK!
Sebelum Gao Shan sempat menyelesaikan kalimatnya, Ryeon menggerakkan tangan kanannya kilat bagaikan bayangan.
Dua jarinya menepuk lembut bagian dalam pergelangan tangan Gao Shan yang sedang menunjuknya. Titik totokan itu langsung memutus pasokan saraf refleks di pergelangan tangan Gao Shan.
"Ugh?!" Gao Shan terbelalak saat mendapati jarinya mendadak mati rasa dan terkulai lemas.
Ryeon tidak memberi jeda. Dengan gerakan biomekanika yang sangat mulus, dia melangkah satu sentimeter ke dalam ruang tembak lawan, meraih siku Gao Shan, lalu memutarnya ke belakang mengikuti tumpuan sendi bahu.
KLEK!
"AAAGH!" Gao Shan menjerit histeris saat tubuh besarnya dipaksa berlutut menghantam lantai kayu akibat kuncian sendi yang sangat presisi.
"Gao Shan!" rekannya yang bertubuh kekar kaget setengah mati dan langsung menerjang maju sambil mengayunkan belatinya ke arah leher Ryeon.
Ryeon bahkan tidak menoleh ke arah serangan itu.
JEK!
Sebuah jarum tipis berbahan baja mikro-karbon meluncur kilat dari samping, menancap tepat di titik saraf paha pria kekar itu. Jin-Bao yang berdiri santai di belakang Ryeon baru saja menjentikkan jarinya dengan senyum tipis.
Pria kekar itu langsung hilang keseimbangan, jatuh tersungkur mencium lantai kayu tepat di samping Gao Shan yang sedang Meringis kesakitan.
Hanya butuh waktu lima detik. Dua penguasa senior Asrama Bawah yang ditakuti anak-anak baru... dilumpuhkan tanpa usaha berarti.
Anak-anak baru di dalam bangsal menatap kejadian itu dengan mata melotot dan mulut terbuka lebar.
Ryeon menunduk, memandangi Gao Shan yang gemetaran di bawah kuncian tangannya.
"Mulai hari ini, aturan di Asrama Bawah berubah," ucap Ryeon dengan suara datar namun penuh dengan tekanan aura membunuh yang dingin. "Tidak ada pajak perlindungan. Tidak ada pemerasan. Siapa pun yang berani mengganggu anak-anak di barak ini... bakal berakhir seperti kalian berdua."
"I-iya! Kami mengerti! Lepaskan... tanganku mau patah!" jerit Gao Shan ketakutan setengah mati.
Ryeon melepaskan kuncian tangannya, menyapu jubah hitamnya yang berdebu. "Sekarang keluar. Dan bawakan peta lengkap jalur tambang tua di belakang asrama ini sebelum besok pagi."
Kedua senior itu langsung merangkak bangun dan lari terbirit-birit keluar dari bangsal seperti dikejar setan.
Keheningan melingkupi seluruh ruangan. Anak-anak baru di dalam bangsal menatap Ryeon bukan lagi sebagai sesama murid kelas bawah, melainkan sebagai sosok pelindung yang tak terjangkau.
Malam harinya, di atap kayu asrama yang menghadap langsung ke arah tebing tambang tua, Ryeon duduk sendirian sambil menikmati angin malam yang dingin.
Jin-Bao melangkah naik ke atap membawa dua buah botol air minum, lalu duduk di samping Ryeon.
"Bos," kata Jin-Bao sambil menyerahkan satu botol air. "Peta tambang tua itu sudah dapat dari si Gao Shan tadi. Tapi katanya tempat itu berbahaya banget. Banyak monster serangga beracun dan gas asam."
Ryeon menerima botol air itu, menatap ke arah kegelapan bukit tambang di kejauhan.
"Gas asam dan serangga beracun itu justru indikator terbaik," ujar Ryeon menyunggingkan senyum misterius. "Itu artinya di dalam sana ada endapan Batu Kristal Sulfida dan logam langka yang belum pernah ditambang oleh Kultus."
"Buat apa material itu, Bos?" tanya Jin-Bao heran.
"Buat bikin tungku pemurnian tingkat lanjut dan senjata kustom untuk kelompok kita," jawab Ryeon tegas. "Di Akademi ini, kita butuh lebih banyak anggota. Dan orang-orang terbuang di Asrama Bawah ini... adalah bahan baku terbaik untuk membentuk pasukan pertama kita."
Jin-Bao menatap mata Ryeon yang berkilat di dalam kegelapan malam. Dia tahu bahwa roda takdir yang dirancang oleh mantan jenderal ini telah mulai berputar, dan tak ada satu pun faksi di Kultus Iblis yang bakal sanggup menghentikannya.