Siapa aku, seorang pecundang?
Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.
Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.
Tingkat Saint? Hah...
Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?
Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8 Keyakinan Mengubah Segalanya
(POV Sandra)
Di mana dia! Aku tidak dapat melihat apa pun, semuanya tampak samar.
Debu tebal ini benar-benar membatasi penglihatanku.
"Gadis kecil, aku di sini!"
Sudah terlambat. Baru saja aku menoleh, hantaman keras menerjang, melontarkan tubuhku cukup jauh hingga menghantam pembatas arena. Belum sempat aku bangkit, Godot yang tampak pucat ketakutan langsung menarik lenganku, menyeretku bersembunyi di balik reruntuhan.
"Dimana kamu~"
"Bahaya kal—"
Godot membungkam mulutku dengan cepat, memberi isyarat agar aku tetap diam tanpa suara.
"Aku mendengar sesuatu, keluarlah~"
Derap langkah kaki semakin mendekat. Bayangan gelap perlahan menutupi celah cahaya matahari yang menyelinap ke tempat persembunyian kami. Dengan napas tertahan, jemariku meraba belati di pinggang, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
"Ketemu!"
Duar!
"Sialan, di mana kamu bersembunyi!"
Untungnya Estevan salah menebak arah. Pukulan brutalnya justru menghancurkan bongkahan puing tepat di samping tempat kami meringkuk. Dari balik celah batu, kulihat tubuhnya semakin membengkak dengan urat-urat menonjol di sekujur kulitnya.
Begitu ia melangkah menjauh untuk mencari di sudut lain, Godot perlahan melepaskan dekapannya dari mulutku.
"Kita hampir mati... Untung aku sempat menyelamatkanmu."
"Apa yang terjadi padanya Tuan?"
"Dia menggunakan Teknik 'Descrusion'."
"Descrusion?"
"Biar aku singkat, Descrusion adalah kemampuan untuk mendongkrak 'Mana' secara paksa. Memang kekuatannya bertambah berkali-kali lipat. Tapi..."
Menahan napas, Godot kembali mengisyaratkan agar aku tetap diam. Sekali lagi, derap langkah kaki Estevan bergema keras. Ia memukul reruntuhan di sekitar, menghancurkan apa pun yang merintangi jalannya.
Tinju Besi bukan sekadar peribahasa. Transformasi keduanya membuat daging dan logam pedang itu menyatu, mengubah lengan Estevan menjadi senjata. Daya hancurnya luar biasa; ia sanggup meremukkan fondasi batu hanya dengan satu hantaman.
"Di mana kamu! Keluarlah!"
Gawat. Cepat atau lambat, ia pasti menemukan tempat persembunyian ini. Begitu derap langkahnya sedikit menjauh, aku langsung mendesak Godot untuk segera kabur.
"Kita harus pindah, cari tempat aman yang lain!"
"Jangan bodoh, itu bunuh diri."
"Kalau kita diam di sini, cepat atau lambat dia tetap menemukan kita!"
"Tidak. Kita bertahan di sini. Kita hanya perlu mengulur waktu."
"Maksudmu?"
"Seperti yang kubilang tadi, destruction memberinya kekuatan instan dengan bayaran jiwanya sendiri. Kekuatan itu tidak akan bertahan lama. Begitu mana di dalam tubuhnya bergejolak dan ia kehilangan kesadaran, maka..." Godot mengelus jenggotnya perlahan. "Dia akan mati."
"Kenapa dia nekat melakukan hal segila itu?!"
"Jangan tanya aku!" bentak Godot kesal. "Tapi, aku punya ide."
Senyum mengerikan terukir di wajah tua Godot.
"Gunakan kesempatan ini untuk melawannya."
"Aku enggak salah dengar?"
"Tidak! Barusan kamu sendiri yang bilang cepat atau lambat dia bakal menemukan kita. Jadi, hadapi dia—"
"Kamu berniat membunuhku, ya?!"
"Ketemu kalian!"
"Apa?!"
Tak sempat menoleh, kilatan cahaya menyilaukan menusuk mata. Pukulan brutal menghantam telak, meratakan tempat persembunyian kami dalam sekejap. Aku memejamkan mata, mengira ajalku sudah tiba. Namun, desakan tangan Godot yang menarikku berlari membuatku tersadar. Kami kini telah berteleportasi ke sudut arena yang lain.
"Kenapa tidak dari tadi!" teriakku frustrasi.
"Teleportasiku hanya berfungsi di dalam arena. Kalau aku bisa menggunakannya bebas di luar Colosseum, aku tidak akan terkurung di tempat terkutuk ini!"
"Kalian tidak akan bisa lari!"
"Tidak ada pilihan lain. Lawan dia, aku akan memberimu buff memakai sisa mana yang kumiliki!"
Sekencang apa pun kami berlari, jarak itu terus terpangkas. Estevan semakin dekat. Kalau begini terus...
"Baiklah, akan kulakukan!"
Aku berbalik, melempar bom asap pemberian Patricia untuk mengaburkan pandangannya. Pedangku sudah patah berkeping-keping; kini hanya belati kecil dan bom asap itu yang tersisa. Memanfaatkan celah untuk memberi Godot waktu bersembunyi, aku melompat menerjang, menghunjamkan belati lurus ke arah dada Estevan.
Alih-alih kesakitan, ia justru menyeringai sinis.
"Taktik murahan macam apa lagi ini?"
"Tidak mungkin!"
Seketika, seluruh tubuhku menjadi kaku. Aku terduduk pasrah di atas tanah, kehilangan kemampuan untuk menghindar. Waktu mendadak terasa melambat saat kepalan tinjunya melayang mendekat.
"Sandra!"
Di ambang Kematian, samar-samar aku mendengar suara Lyan memanggilku. Ah, sudahlah, itu pasti hanya halusinasi yang mau mati.
"Oy, dengar aku!"
Ha? Tunggu dulu...
Waktu berhenti?
Tepat detik itu, aku menyadari kejanggalan. Pukulan Estevan membeku—tidak, gerakan itu melambat secara ekstrem.
"... Menjauh, Sandra! Aku tidak kuat menahannya lebih lama lagi!"
Jangan-jangan itu bukan halusinasi. Aku mendongak cepat. Kulihat Lyan berdiri di kejauhan, merintih kesakitan sambil menyatukan kedua tangannya. Ia merapal ratusan variasi mantra berbeda dalam kecepatan kilat.
Pentagram biru terang terukir di bawah kaki Lyan, sementara pentagram merah berpendar tepat di posisiku.
Di luar area lingkaran magis itu, segalanya bergerak lambat. Aku bahkan bisa melihat mulut Kak Steven menganga lebar karena syok, serta Patricia yang refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan di tribun penonton.
Mengangguk cepat, aku berguling kencang ke samping untuk menghindari serangannya. Tepat saat aliran waktu pulih sepenuhnya, hantaman tinju Estevan mengguncang seluruh Colosseum. Lantai arena langsung terbelah menjadi dua, terangkat ke udara sebelum runtuh berkeping-keping.
Beruntung, lemparan gulingan itu membawaku mendarat di pinggir lapangan, tepat di sebelah Godot yang terkapar tak sadarkan diri.
"Kenapa kau bisa lolos?" bentak Estevan geram.
"Jangan tanya aku!" ejekku sengit.
"Tidak penting, aku akan menghabisimu sekarang!" teriak Estevan kalap. Ia berlari dengan kekuatan penuh hingga setiap pijakan kakinya meremukkan lantai arena.
"Godot, ayo bangun!" Aku mengguncang tubuh pria tua itu sekuat tenaga. "Kalau kita tidak bangun, kita mati!"
"Percuma... alihkan saja perhatiannya," rintih Godot lemah. "Manaku sudah habis, bahkan untuk berdiri saja aku tidak sanggup."
Benar juga. Pria tua itu baru saja mentransferkan seluruh sisa mananya kepadaku tadi. Pantas saja rasa sakit di tangan kananku mereda saat mencengkeram belati.
Baiklah, mau tidak mau harus kulakukan.
"Ayo, kejar aku!"
Aku mengangkat belati cadangan. Bilah yang masih tertancap di tubuhnya adalah milik Patricia, sementara belati di genggamanku adalah peninggalan terakhir kedua orang tuaku sebelum mereka menghilang.
Berkat efek buff Godot, tanganku kini cukup kuat untuk mengimbangi pergerakannya—ah, ralat. Tujuannya bukan mengalahkan, melainkan mengulur waktu.
"... Time Slowing!"
Teriakan Lyan menggema dari tribun, kembali menyeret waktu ke dalam ritme lambat. Memanfaatkan detik yang berharga, aku melesat cepat, menyayat sekujur tubuh Estevan beruntun.
Nyaris saja tebasanku merobek lehernya. Estevan lalu berteriak keras.
Benturan energi yang tercipta melalui gelombang suara, menghentikan mantra 'Time Slowing'. Estevan terlepas dari 'Debuff', lalu menoleh tajam ke arah tribun tempat Lyan berada. Tatapan mata kebencian, membuat Lyan dan orang-orang di dalam mantra pelindung meremang ketakutan.
"Aku kira ini pertandingan satu lawan satu, tapi rupanya kalian bersekongkol untuk mengalahkanku?"
Mengambil ancang-ancang, Estevan melompat tinggi lalu mendarat telak di atas kursi penonton. Keempat orang di dalam kubah terperangah, terpaku melihat betapa raksasa dan mengerikannya sosok itu.
"... Jangan mendekat!" teriak Lyan panik.
Lyan merentangkan kedua tangannya, memusatkan sisa tenaga untuk mempertebal lapisan kubah pelindung transparan.
"... Inilah balasan bagi mereka yang berani mencampuri pertandinganku!"
Bum... Bum... Bum...
Ribuan tinju bertubi-tubi menghantam kubah pelindung tanpa henti. Di tengah serangan tiada henti, Lyan berdarah-darah menahan beban hantaman beruntun tersebut, sementara Patricia, Steven, dan seorang panitia bergegas lari menyelamatkan diri menuju pintu keluar.
Tidak membuang waktu, Estevan berhenti memukul kubah. Dengan satu lompatan eksplosif, ia melesat ke arah pintu keluar dan menghantamkan kepalan besarnya untuk memotong jalur pelarian mereka bertiga.
Tepat saat tinju maut itu hampir menghabisi mereka, sebuah penghalang magis baru mendadak muncul melapisi udara. Aku tidak habis pikir seberapa besar kapasitas mana yang dimiliki Lyan hingga mampu merapal lebih dari dua pelindung sekaligus dalam waktu bersamaan.
Belum sempat mereka bernapas lega, bayangan hitam raksasa melesat dengan kecepatan kilat. Monster itu muncul tepat di belakang Lyan.
Lyan, yang terpaksa melemahkan konsentrasi kubahnya demi mempertahankan pelindung kedua, gagal mengantisipasi serangan balik. Sebuah hantaman telak mendarat di punggungnya, melontarkannya hingga menembus dinding pembatas podium.
Melihat lawannya terkapar tak berdaya, Estevan tidak langsung membunuhnya. Ia melangkah perlahan, lalu berjongkok di samping Lyan hanya untuk menikmati pemandangan yang bersimbah darah.
"Rupanya ada banyak sekali orang hebat disini. Kukira kamu cuma bocah kelas teri sok pahlawan!" cibir Estevan menyeringai lebar. "Siapa namamu?"
"Ly... Lyan..."
"Bagus juga kemampuanmu, bocah. Kamu seharusnya berterima kasih karena kuberikan kematian yang pantas—"
Tiba-tiba, Estevan mencengkeram kepalanya sendiri. Ia terhuyung mundur, lalu ambruk meringkuk dengan posisi janin.
"... Kehancurannya sudah dimulai," gumam Godot.
"Apa yang sudah dimulai?"
Godot merangkak keluar dari bawah reruntuhan. Aku segera bergegas menghampirinya, menopang bahu pria tua itu agar bisa berdiri.
"Ledakan 'Mana'."
"ARGHHHH!"
Jeritan kesakitan yang begitu nyaring menggelegar, merontokkan sisa-sisa puing di sekeliling arena. Estevan sudah kehilangan kesadarannya sepenuhnya. Ia mencoba bangkit, menggunakan kakinya yang membesar untuk menopang tubuhnya yang kini membengkak. Wajahnya bahkan sudah tidak menyerupai manusia lagi. Tangan raksasanya terulur ke depan, mencoba meraih Lyan, tetapi daging dan otot di lengannya justru menggeliat liar tanpa henti sebelum sempat menyentuh Lyan.
"Beritahu mereka, cepatlah menghindar!" Godot meremas kuat pundakku, berteriak serak. "Dia adalah bom waktu yang siap meledak!"
"Semuanya, lari!"
Mengangguk panik, aku mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhku lalu berlari menghampiri Lyan, sambil berteriak kencang menyuruh Steven, dan Patricia segera menyelamatkan diri. Sialnya, kakiku tersandung bebatuan.
Saat aku terjatuh, kilatan cahaya putih menyilaukan meledak dari tubuh Estevan. Belum sempat aku mendongak, gelombang kejut bertekanan tinggi menyapu dan menerbangkan apa saja yang ada didekatnya. Refleks, aku merengkuh sekuat tenaga sebuah tiang kokoh yang tersisa di dekatku, berpegangan erat demi menahan terjangan gelombang Ledakkan.
Saat badai energi mereda, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lanskap Colosseum berubah—Setengah bangunan itu runtuh berkeping-keping dalam hitungan detik, menyisakan puing-puing berserakan. Tempat di mana Estevan dan Lyan berdiri sebelumnya kini kosong melompong. Aku melirik ke segala arah, mencari sosok Lyan dengan jantung berdegup kencang. Tapi...
"Yo! Kau khawatir ya, Sandra?"
Air mata yang tadinya mendesak di pelupuk mataku seketika tertahan. Suara familier itu mengalihkan perhatianku. Tepat di balik reruntuhan beton, Lyan berdiri dengan kondisi mengenaskan—kulitnya nyaris gosong dan sehelai benang pun tidak menempel di tubuhnya akibat ledakan tadi.
"... Kamu menangis?"
"Tidak!" bentakku. "Lebih baik kamu mati bersama pria gila itu!"
"Oh ya ampun, aku tadi melihat air mata hampir menetes~"
"Tidak!"
"... Lyan?"
Sesuatu merangkak dari bawah reruntuhan. Dengan tubuh yang sebagian besar hancur tersisa bongkahan daging, Estevan menatap sekelilingnya, melontarkan senyum lemah, lalu berbisik:
"Selamat... kalian telah mengajarkanku tentang hidup. Manusia memang tidak bisa menyamai dewa, tapi harapan manusia itu sendirilah yang membuat dewa ada..."
Untuk terakhir kali, Estevan menatap langit yang mendung sebelum mengembuskan napas penghabisan. "Aku akan menemui kalian kembali, temanku!"
Godot yang baru saja tiba segera melangkah maju lalu menutup mata Estevan.
"Siapapun yang menggunakan Destruction, tidak akan pernah mendapat pengampunan dari dewa."
"Kenapa?" tanya Lyan.
"Mereka menyalahi kodrat yang diatur oleh empat 'Bayangan Ilahi' dengan bersekutu kepada Idea of Evil."
Bersambung...