NovelToon NovelToon
Crimson Vows

Crimson Vows

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Mafia / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: yao na

Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 — Puing-Puing Kepercayaan

Perang di pelabuhan berakhir dengan kemenangan pahit bagi keluarga Moretti — mereka berhasil mempertahankan wilayah mereka, tapi dengan korban yang tidak sedikit di kedua belah pihak, dan sebuah kebenaran yang mengguncang fondasi keluarga Gerald hingga ke akarnya.

Gerald mengunci dirinya di ruang kerja pribadinya selama dua hari penuh setelah pertempuran itu, menolak menemui siapa pun, termasuk Yao. Ia memutar rekaman dari flashdisk itu berulang kali — suara ayahnya sendiri, dingin dan penuh perhitungan, memerintahkan pembantaian seluruh keluarga Conti demi menutupi kejahatan finansialnya sendiri.

"Bereskan masalah Conti. Semuanya. Jangan sisakan siapa pun yang bisa bersaksi."

Kata-kata itu terngiang di kepala Gerald seperti kutukan, mengubah setiap kenangan masa kecilnya bersama ayahnya menjadi sesuatu yang menjijikkan dan penuh kepalsuan.

Yao menunggu di luar pintu ruang kerja itu setiap hari, tidak memaksa masuk, hanya memberikan ruang yang Gerald butuhkan sambil tetap menunjukkan bahwa ia tidak akan pergi.

Pada hari ketiga, pintu itu akhirnya terbuka. Gerald keluar dengan wajah lelah, mata merah karena kurang tidur, tapi ada sesuatu yang baru di sana — sebuah kejernihan yang lahir dari kehancuran.

"Seumur hidupku aku berusaha pantas menerima warisan ayahku," katanya pelan, duduk di sebelah Yao di lorong mansion yang sunyi. "Sekarang aku tahu warisan itu dibangun di atas darah wanita yang kucintai."

Kata "cinta" itu menggantung di udara, kata pertama yang pernah Gerald ucapkan secara langsung, meski dalam konteks yang paling menyakitkan yang bisa dibayangkan.

"Gerald," bisik Yao, air mata mengalir di pipinya. "Kau bukan ayahmu. Apa yang dia lakukan bukan salahmu."

"Benarkah?" tanya Gerald pahit. "Aku sudah bertahun-tahun melindungi kerajaannya, rahasia-rahasianya, kebohongan-kebohongannya. Bukankah itu membuatku ikut bersalah?"

"Tidak," jawab Yao tegas, meraih wajah Gerald dengan kedua tangannya, memaksa pria itu menatap matanya. "Kau adalah anak berusia delapan tahun yang tidak tahu apa-apa saat itu terjadi. Kau bukan pilihan ayahmu, Gerald. Kau pilihanmu sendiri — dan pilihanmu sekarang adalah menghadapi kebenaran ini bersamaku, bukan bersembunyi darinya."

Untuk pertama kalinya sejak pengungkapan mengerikan itu, Gerald membiarkan dirinya menangis — bukan tangisan lemah, tapi tangisan pembebasan dari beban yang telah ia pikul tanpa sadar sepanjang hidupnya.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" bisiknya akhirnya, kepalanya bersandar di bahu Yao.

"Kita cari Enzo," jawab Yao tegas. "Dan kita selesaikan ini bersama — sebagai sekutu, bukan sebagai musuh yang diwariskan oleh dosa orang tua kita."

Gerald mengangkat kepalanya, menatap Yao dengan mata yang masih basah namun penuh tekad baru. "Ada satu hal lagi yang perlu kulakukan sebelum itu," katanya pelan. Ia bangkit, menarik Yao untuk berdiri bersamanya, lalu membawanya menuju ruang duduk keluarga di mana sebuah potret besar Salvatore Moretti tergantung megah di atas perapian — potret yang telah menghiasi ruangan itu sejak Gerald masih kecil.

Tanpa berkata apa pun, Gerald mengambil potret itu dari dinding, menatapnya lama dengan campuran kemarahan dan kesedihan yang mendalam. "Kau bukan pahlawan yang kupikir dulu," bisiknya pada gambar ayahnya. "Tapi aku tidak akan mewarisi kebohonganmu."

Ia membawa potret itu ke perapian dan, dengan tangan yang stabil meski hatinya hancur, melemparkannya ke dalam api yang menyala. Yao berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya erat, menyaksikan bersama-sama saat masa lalu yang penuh kepalsuan itu terbakar menjadi abu.

1
yao na
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!