NovelToon NovelToon
Jebakan Hati Gadis Cupu

Jebakan Hati Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.

Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Malam itu, Jakarta sedang diguyur hujan deras. Arlan duduk di kursi belakang mobil operasionalnya yang kedap suara, menatap butiran air yang berkejaran di kaca jendela. Jamuan makan malam dengan para investor baru saja selesai, tapi kepalanya terasa berat. Bukan karena alkohol, tapi karena keheningan yang tiba-tiba terasa menyesakkan.

Ia menyandarkan kepala, memejamkan mata sejenak. Entah mengapa, aroma parfum salah satu tamu wanita di acara tadi—aroma melati yang samar—membangkitkan sebuah memori yang sangat spesifik.

Aroma melati yang murah. Aroma yang dulu sering tercium dari seragam seorang gadis yang selalu duduk di bangku paling depan.

"Lulu," gumam Arlan hampir tak terdengar.

Pikiran Arlan melayang ke masa tujuh tahun silam. Ia mengingat dengan sangat jelas bagaimana Lulu menatapnya dengan penuh pemujaan, seolah Arlan adalah pusat semestanya. Ia ingat betapa mudahnya ia memanipulasi gadis berusia 16 tahun itu hanya dengan satu atau dua kata manis. Baginya saat itu, menghancurkan Lulu adalah sebuah pencapaian; sebuah bukti bahwa ia bisa memiliki kendali mutlak atas hidup seseorang.

Arlan membuka matanya, menatap lurus ke depan. Ekspresinya datar, tanpa rasa penyesalan yang dramatis. Baginya, apa yang terjadi pada Lulu adalah konsekuensi dari kebodohan gadis itu sendiri.

"Dunia itu keras. Gue cuma ngasih dia pelajaran lebih awal," pikir Arlan dingin.

Namun, ada satu hal yang tak bisa ia pungkiri. Di antara semua orang yang pernah ia temui—para model, pengusaha wanita kelas atas, hingga putri pejabat—tidak ada satu pun yang menatapnya dengan ketulusan yang sama seperti gadis berkacamata itu. Semua orang yang mendekatinya sekarang hanya menginginkan uangnya, jabatannya, atau nama besar Wiraguna Group.

Arlan sedikit menyeringai tipis, sebuah seringai yang penuh keangkuhan. Ia membayangkan di mana Lulu sekarang. Dengan nilai yang hancur dan reputasi yang ia rusak di depan seluruh angkatan, Arlan yakin hidup Lulu tidak akan jauh-jauh dari penderitaan. Mungkin dia sekarang hanya menjadi pekerja rendahan di pinggiran kota, atau mungkin sudah menikah dengan pria biasa yang sama membosankannya dengan hidup gadis itu dulu.

"Gue penasaran apa lo masih hidup, Lu," batin Arlan sambil memperbaiki posisi duduknya.

Ia sama sekali tidak merasa perlu mencari tahu. Baginya, Lulu hanyalah sebuah bab lama dalam bukunya yang sudah ia tutup dan ia buang kuncinya. Arlan yang sekarang, dengan tinggi 193 cm dan kekuasaan mutlak di tangannya, merasa tidak ada satu pun hal dari masa lalu yang bisa menyentuhnya lagi.

Mobilnya berhenti di depan lobi penthouse pribadinya. Arlan turun dengan langkah tegap, kembali menjadi CEO yang tidak punya celah. Ia meninggalkan bayangan Lulu di dalam kegelapan mobilnya, yakin bahwa mereka berdua sudah berada di dua dunia yang berbeda dan tidak akan pernah bersinggungan lagi.

Arlan tidak tahu bahwa dunia jauh lebih sempit dari yang ia bayangkan, dan "pelajaran" yang ia berikan pada Lulu tujuh tahun lalu telah menciptakan seorang wanita yang akan memberinya pelajaran yang jauh lebih menyakitkan.

Arlan memutar gelas wiskinya, memperhatikan bagaimana es batu itu membentur dinding kaca dengan bunyi denting yang monoton. Ia merasa konyol karena membiarkan pikiran tentang Lulu bertahan lebih dari sepuluh detik di otaknya. Sebagai seorang pria yang biasa mengendalikan arah perusahaan bernilai triliunan rupiah, memikirkan seorang gadis dari masa SMA adalah bentuk degradasi intelektual yang tidak bisa ia toleransi.

Namun, semakin ia mencoba mengusirnya, semakin detail memori itu muncul. Ia ingat bagaimana tangan Lulu yang kecil gemetar saat menyerahkan surat cinta pertamanya di belakang laboratorium biologi. Ia ingat betapa culunnya gadis itu dengan poni yang dipotong miring, sangat tidak proporsional dengan otak jeniusnya yang bisa melahap soal-soal olimpiade dalam hitungan menit.

"Variabel yang lemah," gumam Arlan, suaranya berat dan serak.

Baginya, Lulu adalah personifikasi dari kelemahan manusia yang paling ia benci: kepercayaan yang buta. Arlan telah menghabiskan tujuh tahun terakhir untuk memastikan tidak ada seorang pun yang bisa melakukan hal yang sama padanya. Ia membangun tembok setinggi 193 cm dalam bentuk otoritas dan ketidakterikatan emosional. Baginya, jenggot yang kini menghiasi rahangnya bukan sekadar gaya, melainkan topeng kedewasaan yang menyembunyikan sisi predator yang ia asah sejak muda.

Ia berdiri dari sofa kulitnya, berjalan menuju rak buku di sudut kantor penthouse-nya. Tangannya meraih sebuah kotak kayu hitam yang tersembunyi di balik barisan buku-buku ekonomi makro. Di dalamnya, tidak ada perhiasan atau uang. Hanya ada sebuah kunci loker sekolah tua yang ia simpan sebagai trofi kemenangan pertamanya. Kunci itu adalah saksi bisu saat ia berhasil merampas harga diri Lulu di depan seluruh angkatan.

Arlan menatap kunci itu dengan mata yang dingin dan tak terbaca.

"Lo pasti benci banget sama gue, Lu," Arlan tersenyum miring, sebuah ekspresi yang tampak sangat maskulin sekaligus mengerikan di bawah cahaya lampu redup. "Tapi benci lo nggak ada gunanya. Di dunia ini, yang punya kuasa yang nulis sejarah. Dan sejarah lo... gue yang nulis."

Ia membayangkan jika suatu hari nanti, entah bagaimana, ia berpapasan dengan Lulu di jalanan Jakarta. Ia membayangkan Lulu yang mungkin sudah tampak kusam dimakan beban hidup, menatapnya dengan rasa takut yang sama seperti tujuh tahun lalu. Pemikiran itu memberikan kepuasan ego yang aneh bagi Arlan. Ia menyukai kenyataan bahwa ia adalah alasan di balik hancurnya hidup seseorang. Itu membuatnya merasa seperti Tuhan.

Arlan kembali ke meja kerjanya, menyalakan laptop, dan mematikan lampu ruangan hingga hanya cahaya layar yang menerangi wajahnya yang tegas. Ia harus fokus pada proyek ekspansi Wiraguna Group ke pasar internasional. Ia tidak punya waktu untuk bernostalgia tentang "anak kecil" yang mungkin sekarang sedang kesulitan membayar kontrakan di pinggiran kota.

Namun, di sudut hatinya yang paling gelap, ada sebuah tantangan yang tak terucap. Arlan seolah menunggu seseorang yang cukup berani untuk menjatuhkannya dari puncak menara ini. Selama tujuh tahun, hidupnya terasa terlalu mudah. Semua orang tunduk padanya. Semua wanita menyerahkan diri padanya. Semua musuh bisnisnya bertekuk lutut.

"Dunia ini jadi ngebosenin kalau nggak ada lawan yang sebanding," batin Arlan.

Ia tidak sadar bahwa di belahan dunia lain, variabel yang ia anggap lemah itu telah berevolusi menjadi anomali yang akan meruntuhkan seluruh kalkulasinya. Arlan menutup kotak kayu hitam itu dengan bunyi klik yang tajam, seolah menutup bab tentang Lulu untuk selamanya. Ia kembali menjadi sang CEO predator, sang penguasa Jakarta yang merasa tidak tertandingi, sama sekali tidak menduga bahwa badai yang sesungguhnya sedang mengemas koper di Kanada, siap untuk menerjang menaranya yang angkuh.

Arlan mematikan layar laptopnya, berdiri, dan melangkah menuju kamar tidurnya dengan keangkuhan yang tetap terjaga. Besok adalah hari besar bagi perusahaannya, dan ia tidak akan membiarkan bayangan gadis 16 tahun mengganggu tidurnya. Baginya, Lulu sudah mati. Dan mayat tidak bisa membalas dendam—setidaknya, itulah yang ia yakini selama tujuh tahun ini.

1
Valent Theashef
mreka bakal ketemu lagi tp entah brp th..
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Valent Theashef
bgus,liat coba end ny apakh mreka brsma ???
Siska Dores
😍
Valent Theashef
penuh tantangan suka deh film novel kyk gni,
Dewi Yanti
ko ada cowo ky reno yg jahat bgt
Siska Dores
next kak
Siska Dores
lanjutt kak
Siska Dores
next kak
Siska Dores
greget bngt
Siska Dores
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!