Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lempuyangan , 04.15 WIB
Arlan memacu motor bebeknya membelah Jalan Margonda yang masih basah. Aspal hitam itu memantulkan lampu-lampu jalanan seperti klise film yang baru saja dicuci—mengkilap, licin, dan berbahaya. Angin malam menembus jaket denim hijau lumutnya, namun Arlan tidak peduli. Pikirannya melayang pada potongan negatif film 35mm yang kini terasa menghangatkan saku dadanya.
Ia tiba di Stasiun Senen tepat saat jarum jam menunjukkan pukul 00.15. Suasana stasiun di tengah malam terasa mencekam namun sibuk dengan cara yang ganjil. Bau besi berkarat, asap rokok, dan aroma minyak kayu putih dari penumpang yang tertidur di lantai menyambutnya. Arlan menarik tudung jaketnya lebih dalam, matanya menyisir setiap sudut peron dengan waspada. Ia merasa setiap orang yang lewat adalah sang "Pencuri Momen".
"Kereta Matarmaja tujuan Malang via Yogyakarta, masuk di jalur tiga," suara penyiar stasiun bergema, terdengar parau dan dingin.
Arlan melangkah cepat menuju loket go-show. Beruntung, ia mendapatkan satu kursi sisa di kelas ekonomi. Saat ia melangkah masuk ke dalam gerbong yang remang, ia merasakan getaran di sakunya. Sebuah SMS masuk.
"Perjalanan yang berani, Arlan. Tapi ingat, di kereta yang bergerak, sinyal lebih mudah hilang. Jangan lepaskan tasmu, atau kamu akan kehilangan lebih dari sekadar sejarah kakekmu."
Arlan tersentak, menoleh ke kiri dan kanan dengan liar. Siapa pun pengirimnya, dia ada di sini. Di stasiun ini, atau mungkin... di dalam gerbong ini. Ia segera duduk di kursinya, memeluk tas ranselnya erat-erat di pangkuan. Ia mengunci pandangannya ke jendela kaca yang kusam.
Saat kereta mulai merayap keluar dari stasiun, Arlan mengeluarkan kamera analognya. Ia tidak membidik objek di luar, melainkan pantulan dirinya sendiri di kaca jendela. Wajahnya tampak lelah, matanya merah karena kurang tidur dan amarah.
"Lo mau main analog, kan?" bisik Arlan pelan pada bayangannya sendiri. "Gue bakal kasih lo drama yang nggak akan sanggup lo cuci di ruang gelap mana pun."
Di tengah deru mesin kereta yang berirama, Arlan mulai menyusun rencana. Ia tahu Maya sedang dalam bahaya emosional di Yogyakarta, dan sang Pencuri Momen menginginkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar skandal foto. Potongan film kakeknya—sebuah catatan rahasia dari medan konflik masa lalu—adalah kunci yang mematikan.
Tiba-tiba, lampu gerbong berkedip-kedip lalu padam total selama beberapa detik. Dalam kegelapan pekat itu, Arlan merasakan sebuah tangan dingin menyentuh bahunya dari arah belakang kursi.
"Fokusnya jangan meleset, Arlan," sebuah suara berat berbisik tepat di telinganya, nyaris tenggelam oleh bunyi gesekan roda kereta pada rel.
Arlan spontan berbalik dan menyalakan lampu kilat (flash) kameranya secara manual. BLAAST! Cahaya putih menyilaukan meledak di dalam gerbong yang gelap.
Dalam sepersekian detik cahaya itu muncul, Arlan sempat melihat sesosok pria mengenakan topi pet tua dengan luka parut di sepanjang pipi kirinya—wajah yang sangat mirip dengan pria di latar belakang foto kakeknya puluhan tahun silam. Pria itu tersenyum tipis sebelum kegelapan kembali menyapu.
Saat lampu gerbong kembali menyala normal, kursi di belakangnya sudah kosong. Hanya ada sebuah bau menyengat bahan kimia film yang tertinggal di udara.
Arlan mencengkeram sabuk tasnya hingga buku-buku jarinya memutih. Yogyakarta bukan lagi sekadar tempat untuk meminta maaf pada Maya. Yogyakarta adalah tempat di mana ia harus mencuci seluruh rahasia berdarah keluarganya di bawah cahaya kebenaran, atau ia akan membiarkan hidupnya berakhir sebagai sebuah frame yang hangus terbakar cahaya.
"Tunggu gue, May," bisiknya sambil menatap sinyal ponselnya yang kembali menunjukkan tanda silang. "Kali ini, gue nggak akan memotret dari jauh. Gue akan jadi bagian dari gambarnya."
Kereta Matarmaja terus melaju, membelah malam menuju Jawa Tengah, membawa seorang fotografer yang kini berhenti menjadi pengamat dan mulai menjadi pemburu.
Udara fajar di Yogyakarta menyambut Arlan dengan tusukan dingin yang menembus serat jaket denim hijaunya. Stasiun Lempuyangan masih diselimuti kabut tipis dan sisa-sisa kantuk para penumpang. Arlan melangkah turun dari gerbong ekonomi, kakinya terasa kaku setelah berjam-jam duduk dalam posisi siaga. Matanya menyapu peron, mencari sosok pria bertopi pet atau siapa pun yang tampak terlalu memperhatikan kedatangannya.
Tangannya meraba saku rahasia. Potongan negatif itu masih di sana. Dingin dan keras.
Ia tidak langsung menuju pintu keluar utama. Arlan tahu, jika sang "Pencuri Momen" benar-benar ada di kereta tadi, dia pasti menunggunya di gerbang tap-out. Arlan memilih memutar, melewati jalur teknis di samping depo lokomotif yang remang. Bau solar dan besi panas memenuhi indranya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar kuat di saku celana. Arlan berhenti di balik bayangan gerbong barang tua yang berkarat. Satu bar sinyal muncul—sinyal Lempuyangan yang tidak stabil namun cukup untuk menerima satu pesan gambar.
Foto itu masuk. Layarnya menampilkan Maya.
Bukan foto "mesra" palsu seperti sebelumnya. Ini adalah foto Maya yang sedang berjalan sendirian menuju Galeri Seni di daerah Mantrijeron, diambil dari jarak sangat dekat—mungkin hanya lima meter di belakangnya. Maya tampak membawa tabung gambar besar, wajahnya terlihat lelah di bawah lampu jalan yang kekuningan. Di bawah foto itu tertulis:
"Dia sudah bangun sepagi ini untuk mengejar mimpinya. Sayang sekali jika mimpinya harus berakhir di trotoar yang sepi. Saya menunggumu di Tugu, Arlan. Sendiri. Bawa 'sejarah' itu, atau biarkan Maya menjadi sejarah."
Rahang Arlan mengeras. Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun. Bajingan ini tidak hanya bermain dengan mentalnya, tapi kini secara terang-terangan menguntit Maya.
Ia segera berlari menuju pangkalan ojek di luar stasiun. "Pak, ke Tugu! Cepat!"
Di atas motor yang melaju kencang membelah kesunyian Jalan Abu Bakar Ali, Arlan mengeluarkan kamera analognya. Ia memasukkan gulungan film baru. Tangannya yang gemetar kini menjadi tenang—ketenangan yang aneh, seperti saat ia sedang mencari fokus pada objek yang bergerak cepat.
Ia menyadari sesuatu. Sang Pencuri Momen ingin dia datang ke Tugu, titik pusat Yogyakarta, tempat yang paling terbuka. Itu adalah jebakan overexposure. Dia ingin Arlan merasa telanjang di bawah sorotan lampu kota.
Sampai di perempatan Tugu yang legendaris, Arlan turun. Monumen putih itu berdiri kokoh di tengah persimpangan yang masih sepi dari kendaraan. Arlan berdiri di trotoar, mengatur napasnya. Ia melihat seorang pria duduk di bangku taman dekat trotoar, membelakanginya, mengenakan jaket parka hitam dengan tudung yang menutupi kepala.
Arlan melangkah mendekat. Jantungnya berdentum seirama dengan langkah kakinya di atas konblok. "Gue udah di sini," geram Arlan. "Lepasin Maya. Berhenti ngikutin dia."
Pria itu tidak menoleh. "Kamu tahu, Arlan... kakekmu dulu melakukan hal yang sama. Dia pikir dia bisa menyimpan rahasia perang hanya dalam selembar negatif film. Dia pikir dia pahlawan." Suaranya berat, serak, persis seperti bisikan di kereta tadi.
Pria itu perlahan berdiri dan berbalik. Ternyata bukan pria bertopi pet dengan luka parut. Pria ini jauh lebih muda, mungkin seumuran dengan pak Hendra, dosen fotografinya. Wajahnya bersih, kacamata frame tipis bertengger di hidungnya. Ia memegang sebuah kamera mirrorless terbaru dengan lensa telephoto yang panjang.
"Siapa lo?" tanya Arlan, tangannya bersiap di dalam saku jaket.
"Panggil saja saya Kurator," pria itu tersenyum tipis. "Saya yang akan memastikan koleksi kakekmu kembali ke tangan yang tepat. Foto di perbatasan itu bukan cuma soal konflik, Arlan. Itu soal lokasi bunker logistik yang tertimbun. Lokasi yang nilainya jauh lebih mahal daripada seluruh galeri Maya."
Kurator itu mengangkat kameranya, membidik Arlan. Klik. Lampu flash menyambar wajah Arlan.
"Sekarang, serahkan filmnya. Atau saya tekan tombol 'kirim' pada folder foto Maya yang sedang... katakanlah, dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan di depan galeri sekarang."
Arlan terdiam. Ia melihat ke arah kamera pria itu. Ia sadar, ini bukan lagi soal fotografi. Ini adalah perang informasi. Namun, Arlan tersenyum. Sebuah senyuman yang membuat si Kurator mengernyitkan dahi.
"Lo bilang tadi kakek gue pikir dia pahlawan?" Arlan melangkah maju, tidak takut lagi pada lensa tele itu. "Kakek gue bukan pahlawan karena dia nyimpen rahasia. Dia pahlawan karena dia tahu kapan harus menghancurkan sebuah 'momen' supaya nggak disalahgunakan orang kayak lo."
Arlan mengeluarkan potongan negatif itu dari sakunya. Sebelum si Kurator bisa bereaksi, Arlan menyalakan pemantik api Zippo milik kakeknya yang selalu ia bawa.
Wusss!
Api kecil itu menyambar ujung film seluloid yang sangat mudah terbakar. Dalam sekejap, potongan sejarah yang diperebutkan itu menjadi abu hitam yang terbang tertiup angin fajar Yogyakarta di depan Tugu.
"LO GILA!" teriak si Kurator, mencoba meraih sisa film yang terbakar.
"Filmnya sudah hangus," ucap Arlan dingin. "Dan sinyal gue baru aja balik. Gue udah kirim lokasi lo sekarang ke Tito dan tim keamanan kampus di Jogja lewat share location darurat sejak gue turun dari ojek tadi. Lo nggak punya kartu as lagi."
Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar di kejauhan, mendekat dari arah Jalan Mangkubumi. Si Kurator panik, ia berbalik dan berlari menuju mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana, meninggalkan Arlan yang berdiri sendirian di bawah bayangan Tugu.
Arlan merosot duduk di trotoar. Napasnya tersengal. Ia mengeluarkan ponselnya. Sinyal penuh. Sebuah pesan masuk dari Maya:
"Lan? Kamu di Jogja? Aku baru sampai galeri dan denger suara sirine. Kamu nggak apa-apa? Aku... aku minta maaf soal kemarin. Aku percaya kamu."
Arlan memejamkan mata. Kali ini, fotonya tidak perlu tajam. Dunianya tidak perlu sempurna. Sinyal yang blur itu akhirnya kembali jernih, bukan karena teknologi, tapi karena ia berani menghancurkan masa lalu demi melindungi apa yang nyata di depan matanya.