Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zhao Nathan
Sosok di depannya hanya berdiri diam, tatapannya tajam namun menyimpan sesuatu yang sulit diartikan. Bibirnya sedikit melengkung, seperti menahan senyum tipis.
”Sudah lama tidak bertemu,” ucapnya pelan, suaranya rendah dan begitu familiar di telinga.
Jantung Natalia berdegup keras. Tubuhnya masih dalam posisi siaga, namun kini dipenuhi kebingungan dan emosi yang bercampur aduk.
Tanpa berkata apa-apa, Natalia melangkah maju dengan tergesa, lalu langsung memeluk pria tampan di hadapannya. ”Kakak?” suaranya bergetar, seolah takut ini hanya ilusi.
Pria itu sempat tertegun, namun kemudian balas memeluk adiknya dengan erat. Tangannya mengusap lembut punggung Natalia, seakan menenangkan semua luka yang selama ini ia pendam.
Mereka berdua terdiam dalam pelukan itu cukup lama. Lima tahun kerinduan, penyesalan, dan luka seolah tumpah dalam satu momen tanpa kata.
Setelah beberapa saat, Natalia perlahan melepaskan pelukan itu. Matanya sudah berkaca-kaca saat ia menatap wajah kakaknya.
”Apa yang kakak lakukan di kekaisaran ini?” tanyanya lirih.
Pria tampan itu mengangkat tangannya, lalu menjentikkan pelan kening Natalia. ”Tentu saja aku ke sini,” jawabnya santai. ”Setelah mendengar adikku disakiti oleh keluarga bajingan itu.”
Mata Natalia kembali memanas. Tanpa ragu, ia kembali memeluk kakaknya dengan erat.
”Maafkan aku, Kak,” bisiknya penuh penyesalan. ”Waktu itu ... aku justru membela Andrian dan melawan kalian semua.”
Masih terpatri jelas dalam ingatan Natalia, ia membela Andrian dan keluarganya habis-habis, meski sang kakak telah melarangnya. Tapi iaa juatru membenci sang kakak mengira telah menghalangi cintanya tapi ternyata semua perkataan sang kakak benar. Andrian bukan pria baik.
Pria tampan yang mengenakan hanfu hitam itu tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Natalia dengan lembut. ”Sudah, aku sudah memaafkanmu sejak lama,” ucapnya ringan. ”Lupakan saja semua itu.”
Natalia menggigit bibirnya, rasa bersalah semakin menyesakkan dada. Ia menunduk, tidak berani menatap mata kakaknya.
Zhao Nathan memperhatikan adiknya dengan seksama. Alisnya perlahan berkerut saat melihat kondisi Natalia yang jauh lebih kurus dari yang ia ingat.
”Kau sangat kurus,” gumamnya dengan nada berubah dingin. ”Apa keluarga bajingan itu tidak memberimu makan?”
Natalia terdiam. Ia tidak menjawab, namun justru itu yang membuat kemarahan Nathan semakin membara.
Tatapan pria itu langsung berubah tajam. ”Aku akan membuat mereka membayar semuanya,” ucapnya dingin. ”Aku bersumpah, sekarang ikut kakak. Ayo kita pulang sekarang juga.”
Natalia buru-buru menggeleng. ”Tidak, Kak,” katanya cepat.
Nathan menatapnya tajam. ”Kau masih ingin membela mereka?” suaranya mulai mengeras.
Natalia kembali menggeleng, kali ini lebih tegas. ”Tidak. Perasaanku pada Andrian sudah tidak ada lagi,” ucapnya pelan namun pasti.
Nathan terdiam sejenak. ”Lalu kenapa kau menolak ikut denganku pulang?” tanyanya.
Natalia menarik napas panjang. ”Karena aku ingin membalas mereka sendiri,” jawabnya. ”Aku yang membantu mereka sampai berada di posisi sekarang. Jadi biarkan aku juga yang mengembalikan mereka ke tempat asalnya.”
Nathan mengernyit, jelas tidak sepenuhnya setuju. ”Itu berbahaya,” katanya singkat.
”Aku tahu,” sahut Natalia. ”Tapi ini tanggung jawabku.” Ia menatap kakaknya dengan serius. ”Aku juga akan mengurus perceraian dengan Andrian.”
Nathan mengepalkan tangannya, jelas masih tidak rela. Namun melihat tekad di mata Natalia, ia akhirnya menghela napas panjang.
”Baiklah,” ucapnya akhirnya. ”Kalau begitu, setelah kau bercerai, kau akan pulang ke kekaisaran, bukan?”
Natalia terdiam. Tatapannya perlahan meredup.
”Tidak,” jawabnya pelan.
Nathan langsung mengernyit. ”Kenapa?” tanyanya.
Natalia menunduk. ”Ayahandq ... pasti tidak ingin bertemu denganku lagi,” ucapnya lirih.
Pikirannya langsung melayang ke lima tahun lalu. Pertengkaran hebat dengan sang ayah, penolakan keras terhadap pernikahannya dengan Li Andrian, dan keputusan nekatnya meninggalkan keluarga.
Tapi ada hal lain yang membuat Natalia semakin nekat, karena sang ayah ingin menikahi seorang wanita bangsawan.
Natalia bahkan dengan keras kepala mengganti marganya menjadi Xu, mengikuti mendiang ibunya. Semua itu terasa begitu jelas di ingatannya.
Nathan menghela napas, lalu kembali menjentikkan kening Natalia.
”Dasar adik bodoh,” katanya sambil menggeleng.
Natalia meringis, lalu menatap kakaknya dengan wajah cemberut. ”Sakit, Kak,” protesnya pelan.
Nathan tersenyum tipis. ”Kau tahu?” ucapnya. ”Ayah tidak pernah menikah dengan wanita itu.”
Natalia tertegun. ”Apa?” bisiknya tak percaya.
”Dan saat tahu kau disakiti keluarga Li,” lanjut Nathan, suaranya mulai serius, ”ayah sangat murka. Ia bahkan ingin datang dan meratakan keluarga itu dengan tanah.”
Mata Natalia membelalak.
”Tapi aku menghentikannya,” tambah Nathan. ”Aku bilang biarkan aku yang datang lebih dulu.”
Air mata Natalia akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. ”Ayah ... tidak membenciku?” tanyanya lirih.
Nathan menggeleng pelan. ”Setiap malam, ayah merindukanmu,” ucapnya lembut. ”Meskipun di depan kami ia terlihat baik-baik saja.”
Ia menatap adiknya dalam-dalam. ”Aku sering melihatnya memandangi lukisanmu dan ibu. Secara diam-diam. Bahkan saat tidur, ia memeluk lukisan itu.”
Napas Natalia tercekat.
”Ia sudah kehilangan dua wanita yang sangat ia sayangi dalam hidupnya,” lanjut Nathan pelan. ”Dan itu adalah pukulan terbesar baginya.”
Air mata Natalia semakin deras. ”Lalu ... kenapa waktu itu ayah ingin menikahi wanita itu?” tanyanya dengan suara bergetar. ”Apa semudah itu ia melupakan ibu?”
Nathan menghela napas panjang. ”Ia melakukan itu ... karena kamu,” jawabnya akhirnya.
Natalia terdiam.
”Ayah sering melihatmu menangis setelah ibu pergi,” lanjut Nathan. ”Bahkan setelah dua tahun berlalu.”
Suara Nathan melembut. ”Ia pikir, kamu butuh sosok ibu lagi.”
Natalia membeku di tempat. Semua amarah yang selama ini ia simpan perlahan runtuh.
Air matanya jatuh tanpa henti.
Nathan langsung menariknya ke dalam pelukan lagi. ”Sudah,” bisiknya pelan. ”Kau tidak sendiri lagi.”
Tak berapa lama, suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah semak-semak. Beberapa pria muncul dari balik pepohonan, mengenakan hanfu sederhana yang tidak mencolok, tapi aura mereka tidak bisa disembunyikan.
Mereka segera berhenti beberapa langkah dari Natalia dan Zhao Nathan, lalu menundukkan kepala dengan hormat. ”Salam hormat untuk Putri Natalia,” ucap mereka serempak dengan suara datar.
Natalia sedikit terkejut, namun segera menenangkan dirinya. Ia mengangguk pelan, menjaga sikapnya tetap tenang meski situasinya berubah cepat.
”Kalian tidak perlu terlalu formal di sini,” ucapnya singkat. ”Bangkitlah.”
Para prajurit itu mengangkat kepala, namun tetap berdiri dengan sikap hormat.
Belum sempat suasana kembali tenang, suara langkah tergesa terdengar dari kejauhan. Disusul suara teriakan yang penuh kepanikan.
”Nyonya! Nyonya Natalia!” suara Wulan menggema, napasnya terengah saat ia berlari mendekat.
Begitu melihat Natalia berdiri dengan selamat, wajah Wulan langsung berubah lega. Ia hampir menangis saat menghampiri majikannya.
”Nyonya, apakah Anda baik-baik saja?” tanyanya cemas, matanya memeriksa tubuh Natalia dari atas hingga bawah.
Natalia tersenyum tipis. ”Aku baik-baik saja, Wulan. Jangan khawatir,” jawabnya lembut.
Namun saat pandangan Wulan bergeser ke pria di samping Natalia, tubuhnya langsung membeku. Matanya membelalak lebar, napasnya seakan tertahan.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung menunduk dalam-dalam. ”Salam hormat untuk Putra Mahkota Nathan,” ucapnya dengan suara gemetar penuh hormat.
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah