NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:329
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehidupan yang Tak Lagi Ramah

Di ujung sebuah jalan di daerah Flatbush yang hampir selalu sunyi—di sana berdiri sebuah rumah yang tampak sedikit tak terawat, dengan halaman rumah yang dipenuhi rerumputan hijau dan dedaunan kering dari pohon oak yang berjatuhan di atasnya. Rumah itu tampak terlalu sunyi, terlalu kosong, dan terlalu rapuh untuk disebut sebagai tempat pulang. Namun, di sanalah seorang gadis yatim piatu tinggal, bersama adik perempuannya yang kondisinya kian melemah, juga ayah tirinya yang selalu bersikap kasar dan tidak pernah memedulikan mereka.

Rumah itu dulunya penuh dengan kehangatan, namun kini tak pernah lagi terasa sama—semakin dingin dan asing. Ya, bagi Rachel Lane, setidaknya sekitar delapan tahun yang lalu, rumah itu adalah tempat yang paling aman dan nyaman. Hingga akhirnya bencana itu pun datang.

Saat itu, Rachel baru berusia tujuh belas tahun, ketika sebuah kabar buruk datang pada sebuah malam yang seharusnya penuh dengan kehangatan, kasih sayang dan suka cita. Ia duduk di atas sofa ruang tamu bersama ibunya yang sedang menggendong Anna, adik perempuannya yang masih berusia belum genap dua tahun—menunggu kedatangan ayahnya yang pagi tadi sudah berjanji akan pulang kerja lebih awal untuk merayakan malam natal bersama.

Namun, suara dering telepon malam itu datang bagaikan petir menggelegar. Seorang polisi memberitahu bahwa Jonathan Lane, yang tidak lain dan tidak bukan adalah ayah Rachel mengalami kecelakaan lalu lintas yang hebat dan meninggal di tempat kejadian. Meredith Lane, Ibu Rachel yang berdiri di depan sofa pun langsung terduduk lemas di atas sofa di belakangnya dengan Anna yang tertidur pulas di pelukannya.

"Ibu!", teriak Rachel, menghampiri Ibunya. Ia jelas menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres, yang tengah terjadi. "Ada apa, Bu?", tanyanya dengan nada panik.

Meredith tidak langsung menjawab pertanyaan Rachel. Ia masih terdiam membeku, berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar tentang suaminya. Bahkan setetes air mata pun seakan tertahan, tak mampu menetes melewati wajahnya.

"Bu!", seru Rachel, lagi—kali ini sedikit mengguncang bahu Meredith pelan.

"Rachel. Ayahmu...mengalami kecelakaan.", jawab Meredith dengan nada datar. "Kita ke rumah sakit sekarang!", ajaknya.

Malam itu terasa seperti sebuah mimpi buruk bagi Rachel, terlebih lagi Meredith. Rumah sakit yang terasa dingin dan mencekam, suara tangis Meredith yang akhirnya pecah saat melihat tubuh suaminya yang sudah tak bernyawa, bahkan suasana di rumah duka saat upacara pemakaman berlangsung—semua pemandangan itu bahkan masih tergambar jelas di ingatan Rachel hingga sekarang.

Lalu, waktu pun terus berjalan—siang berganti malam, musim demi musim silih berganti—namun kepergian sosok Jonathan yang selama ini selalu membuat rumah terasa aman, masih menetap sebagai luka yang tak kunjung sembuh. Kehilangan itu membuat suasana rumah yang dulunya hangat perlahan semakin muram. Bahkan tidak jarang Rachel memergoki Ibunya terdiam sendirian saat tengah malam—Meredith tenggelam dalam lamunan sambil menatap kosong ke pigura berisi foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tengah, yang terkadang juga disertai air mata yang membanjiri wajahnya dengan isak tangis yang tertahan. Dan Rachel pun menyadari bahwa duka tentang kehilangan itu, mungkin hanya sang waktu yang sanggup menyembuhkannya.

Hingga akhirnya kenyataan pahit pun kembali menampar mereka. Ketika Anna berusia hampir tiga tahun, kondisinya tiba-tiba memburuk. Ia sering demam berulang tanpa sebab yang jelas, tampak pucat dan lemas, bahkan mimisan. Dan, vonis dokter pun datang seperti sebuah cambuk yang menyakitkan. Anna terdiagnosis Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) dan harus menjalani terapi atau penanganan medis berkelanjutan.

Saat itulah, sebuah realitas akhirnya berhasil mengalahkan duka yang masih tersimpan atas kepergian Jonathan. Sebuah realitas bahwa hidup terus berjalan. Meredith menyadari bahwa ia membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk memenuhi kebutuhan terapi dan penanganan medis untuk Anna. Dan ia juga membutuhkan biaya untuk Rachel bisa menyelesaikan tahun terakhir sekolahnya.

Oleh karena itu, Meredith pun akhirnya mulai bangkit dari keterpurukannya. Ia mulai mencari pekerjaan—apapun, asal bisa memenuhi kebutuhan pengobatan dan sekolah kedua putrinya. Dari pagi ke pagi, Meredith bekerja banting tulang, berusaha keras menghidupi mereka tanpa mengenal lelah.

Baru setelah Rachel menyelesaikan sekolahnya, ia mulai bekerja untuk membantu perekonomian keluarga dan membantu meringankan beban yang selama ini dipikul oleh Meredith. Keadaan memaksa Rachel menjadi dewasa sebelum dirinya benar-benar siap.

Kehidupan mereka pun setelah itu berangsur-angsur membaik. Kerja keras Meredith dan Rachel selama ini akhirnya membuahkan hasil, dengan terapi dan pengobatan medis yang diperoleh Anna. Bahkan Meredith dan Rachel pun mulai berhasil berdamai tentang kepergian Jonathan. Kini, mereka mulai kembali tersenyum, berbincang hangat dan membayangkan tentang masa depan, tanpa harus mengingat kepergian Jonathan sebagai jangkar yang menahan mereka untuk tetap melanjutkan hidup.

Lalu, badai pun kembali datang menghampiri kebahagiaan kecil yang mulai hadir di tengah keluarga mereka. Malam itu, Meredith tiba-tiba mengundang seorang pria untuk makan malam bersama di rumah. Pria itu bernama Sam. Ia datang dengan senyuman yang tenang dan kata-kata yang manis—tentang betapa ia mencintai Meredith, betapa ia ingin melindungi Rachel dan Anna, dan betapa ia ingin menghadirkan kembali kehangatan dan kebahagiaan yang utuh di keluarga mereka.

Saat itu, Rachel jelas tidak tahu kemana takdir akan membawanya dengan kehadiran Sam di tengah keluarga mereka. Meskipun ia sempat memiliki setitik keraguan tentangnya, namun ia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Meredith dengan membiarkan keraguan itu tumbuh. Meredith sudah terlalu lama berjuang sendiri untuk kebahagiaan Rachel dan Anna tanpa memedulikan kebahagiaannya sendiri, dan Rachel tidak ingin keraguannya menjadi alasan kebahagiaan itu runtuh.

"Aku dan Sam... kami akan menikah. Ibu tahu ini mungkin tidak mudah untukmu bisa menerima. Tapi, ayahmu pasti juga ingin aku bahagia." , kata Meredith suatu malam, suaranya terdengar lembut tapi lelah.

Rachel pun mengangguk pelan, meski dadanya terasa sesak. "Aku akan mendukung selama itu bisa membuat Ibu bahagia." , katanya, disambut pelukan hangat Meredith yang mengakhiri obrolan mereka malam itu.

Pernikahan itu pun berlangsung beberapa bulan setelah Meredith mendapat restu dari Rachel—dengan sederhana, tanpa adanya pesta yang besar dan mewah. Pesta itu digelar di halaman belakang rumah Meredith dan hanya dihadiri oleh Rachel, Anna dan beberapa kerabat Sam.

Kehadiran Sam sebagai sosok suami bagi Meredith dan ayah tiri bagi Rachel dan Anna awalnya terkesan begitu baik. Di tahun pertama pernikahannya, ia sering membuat Meredith tersenyum dengan perhatian dan sikap lembut yang ditunjukkannya. Sementara itu, kepada Rachel dan Anna, Sam bersikap normal layaknya seorang ayah tiri—tidak hangat, tapi juga tidak angkuh dan dingin. Semua itu cukup untuk membuat semua orang percaya bahwa keputusan yang diambil Meredith untuk menikahi Sam itu benar.

Hingga akhirnya, perubahan itu datang perlahan—menyelinap pelan seperti bau alkohol yang awalnya samar, lalu menetap dan memenuhi udara. Di tahun kedua, sikap Sam mulai berubah—atau memang topengnya saja yang akhirnya terlepas. Ia mulai bersikap tidak baik, dengan sering pulang larut malam atau bahkan tidak pulang, berbicara dengan nada tinggi atau bersikap kasar kepada Meredith. Tidak hanya itu, botol-botol minuman keras pun mulai banyak bermunculan di sudut dapur, yang Rachel tahu dengan sengaja Meredith berusaha sembunyikan, namun tidak pernah benar-benar tersembunyi. Tagihan demi tagihan pun berdatangan tanpa penjelasan—yang jika Meredith coba tanyakan pasti akan langsung mendapat balasan berupa teriakan, makian dan amarah dari Sam.

Saat itu, Anna masih berusia sekitar enam tahun, saat rumah semakin terasa seperti ruang yang penuh dengan tekanan. Ia masih terlalu kecil untuk bisa memahami situasi yang sedang terjadi di rumah mereka. Ia hanya tahu, ada sosok pria bernama Sam yang hadir dengan status sebagai ayah, meski tak pernah benar-benar terasa seperti itu. Sementara Rachel, meskipun ia semakin beranjak dewasa, namun tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membela ibunya. Yang ia takutkan, jika ia sampai salah mengambil langkah dengan ikut campur ke dalam pertikaian di antara ibunya dan Sam, itu justru akan memancing amarah Sam dan semakin memperburuk keadaan.

Hingga akhirnya, suasana rumah berubah begitu tegang dan berbahaya, ketika untuk pertama kalinya Rachel dan Anna mendengar pertikaian di antara ibunya dan Sam begitu jelas—tidak lagi sembunyi-sembunyi seperti biasanya. Malam itu terdengar bentakan keras, disusul bunyi barang-barang pecah yang membuat Anna menjerit ketakutan. Dan sejak saat itu, Rachel semakin sering memergoki Meredith mulai sering menangis diam-diam di kamar mandi atau di dapur saat dirasa tidak ada seorang pun di rumah itu yang akan melihatnya.

"Bu, ini salah. Aku tidak bisa terus-terusan membiarkan Sam menyakiti ibu.", kata Rachel di suatu pagi ketika ia mendapati beberapa luka lebam di lengan dan wajah Meredith, yang dengan susah payah ia coba sembunyikan dengan baju berlengan panjang dan atau riasan yang tebal.

"Tidak, Rachel. Ini bukan karena Sam. Ibu hanya tidak sengaja terjatuh di kamar mandi.", bohong Meredith, berusaha menutupi sikap kasar Sam terhadap dirinya di hadapan Rachel.

Rachel jelas tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia jelas tahu bahwa apa yang baru saja ia dengar dari mulut Meredith hanyalah sebuah kebohongan yang sengaja dibuat untuk melindungi Rachel dan Anna dari Sam. Ia sudah tahu semuanya, hanya saja ia tidak tahu bagaimana harus menghentikannya. Setiap kali ia ingin melawan Sam, ia harus berpikir dua kali untuk melakukannya. Ia tidak ingin Sam semakin murka dan hal tersebut semakin berimbas buruk terhadap Meredith, dirinya dan juga Anna.

Namun, sikap Sam lambat laun tidak mampu lagi disembunyikan oleh Meredith. Dampak perlakuan buruk dan kasarnya berimbas pada kesehatan mental dan fisiknya. Meredith perlahan semakin sering jatuh sakit. Awalnya hanya kelelahan, lalu menjadi rasa nyeri di bagian tubuh tertentu dan kepala yang tak kunjung hilang. Saat itu, dokter menyebutkan kondisi Meredith yang memburuk diakibatkan oleh stres berkepanjangan.

Melihat kondisi kesehatan Meredith yang tak kunjung membaik, membuat Rachel semakin khawatir. Dengan sisa keberanian yang tertinggal, ia akhirnya berbicara pada Sam dan memberitahunya penjelasan dokter tentang kondisi kesehatan ibunya. Rachel meminta Sam agar lebih memperhatikannya dan menjaganya. Namun, Sam tampak tidak menunjukkan kepedulian sedikit pun. Setiap kata yang keluar dari mulut Rachel seolah hanya bualan yang tidak perlu didengarkan.

Tak lama kemudian, bencana besar lainnya pun kembali datang. Kondisi kesehatan Meredith semakin memburuk, hingga akhirnya ia menyerah. Meredith meninggal, mengikuti kepergian Jonathan.

Hal tersebut membuat Rachel begitu terpukul hingga rasanya tak sanggup lagi bangkit dan melanjutkan hidup. Kalau tidak karena Anna yang masih sangat membutuhkannya, mungkin ia sudah mengakhiri hidupnya saat itu. Sementara bagi Sam, kepergian Meredith sama sekali bukanlah sebuah masalah—ia tidak tampak kehilangan atau bahkan menyesali perbuatannya.

Setelah kepergian Meredith, kehidupan Rachel tidak berubah menjadi lebih baik—bahkan mungkin saat itulah titik terendah dalam hidupnya berada. Sam tampak tidak mau mengangkat kaki dari rumah peninggalan Meredith dan Jonathan itu—ia bahkan memberi klaim bahwa dirinya berhak atas rumah itu, karena bagaimana pun ia masih tetap suami Meredith. Rachel pun tidak punya pilihan lain, selain harus mengajak Anna tetap tinggal di sana bersama Sam. Ia tidak punya kekuatan untuk melawan Sam. Dan ia juga tidak punya apapun yang bisa dipertaruhkan untuk membawa Anna pergi dari rumah itu.

Lalu, waktu pun terus berjalan tanpa ampun—dan Sam tampak semakin tenggelam dalam dunianya. Hutang-hutangnya semakin bertambah banyak, perilaku buruknya semakin menjadi-jadi, dan orang-orang asing mulai berdatangan ke rumah—pria-pria dengan tatapan dingin dan tubuh besar yang selalu mencari keberadaan Sam untuk menagih hutang. Tidak jarang mereka berbicara kasar dan mengancam akan mengambil paksa rumah mereka jika Sam tak kunjung melunasi hutangnya.

"Sssst! Jangan keluar, Anna. Kita aman di sini.", bisik Rachel suatu ketika, saat keadaan di luar rumah sudah terlalu berbahaya dengan kedatangan beberapa pria penagih hutang yang dipenuhi amarah tersebut. Yang bisa ia lakukan hanya mengajak Anna bersembunyi di kamar, mengunci pintu, mematikan lampu, dan menunggu suara-suara itu pergi. Dan Anna yang tengah ketakutan pun hanya bisa mengangguk dan memeluk bantal erat-erat.

Lalu, perlahan-lahan Sam pun semakin jarang pulang. Entah karena kesibukannya, atau itu hanya bagian dari rencananya untuk menghindari para pria penagih hutang yang terus berdatangan ke rumah. Dan sejak saat itu, Rachel selalu hidup dalam kewaspadaan. Kehadiran Sam di rumah selalu seperti sebuah ancaman bagi Rachel dan Anna dengan setiap perkataan dan perilakunya yang mengintimidasi. Namun, ketidakhadirannya di rumah juga membuat Rachel cemas, terutama ketika para pria penagih hutang itu mulai datang dan menjadikan rumah mereka sebagai sebuah ancaman yang nyata.

Belum lagi kondisi kesehatan Anna yang mulai memburuk lagi. Hal tersebut terjadi karena semenjak kepergian Meredith, upah hasil bekerja Rachel seringkali diambil paksa oleh Sam. Ia menyebut uang itu sebagai hutang budi yang harus dibayarkannya karena menurutnya selama ini Rachel dan Anna selalu merepotkannya. Dan Sam sudah merasa berbaik hati membiarkan Rachel dan Anna tinggal dan hidup dengannya. Padahal, Rachel sudah bekerja banting tulang mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk biaya terapi dan pengobatan Anna.

Potongan demi potongan perjalanan hidupnya yang pahit itu memenuhi pikirannya malam ini. Rachel tengah berdiri di dapur dengan lampu kuning yang menyala redup, memandangi panci berisi air panas yang sudah lama mendidih. Lalu, suara batuk pelan terdengar—batuk yang terdengar rapuh, seolah paru-parunya ikut lelah menghadapi hidup yang tidak pernah terasa ramah lagi. Suara batuk itu berasal dari Anna yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur di kamar sebelah.

Dengan gerakan cepat, Rachel pun langsung mematikan kompor, menuang air panas tadi ke dalam gelas, lalu membawanya menuju kamar Anna. Di dalam sana, tubuh Anna tampak semakin kurus dengan wajah pucat, bersembunyi di balik selimut tebal di atas tempat tidurnya.

"Rachel! Sakit...", keluh Anna dengan suaranya yang lemah dan lirih.

"Iya, Sayang. Anna harus bertahan, ya! Rachel janji, secepatnya Anna akan kembali menjalani terapi dan mendapatkan pengobatan seperti dulu.", katanya, terdengar lebih seperti sebuah harapan dibandingkan janji.

"Anna minum dulu, ya! Setelah itu tidur.", lanjutnya, membantu Anna duduk perlahan untuk meneguk air hangat dari gelas yang baru saja dibawanya. Setelah itu, ia membaringkan kembali tubuh Anna, merapikan selimut yang menutupi tubuhnya, mengecup kening kecil Anna yang terasa hangat, lalu beranjak pergi untuk bersiap pergi bekerja.

Saat ini, usia Rachel baru dua puluh lima tahun, tapi pundaknya sudah memikul terlalu banyak peran—sebagai kakak, orang tua dan penopang hidup Anna. Semua peran itu ia jalankan bersamaan sekaligus, tanpa adanya waktu dan ruang untuk bisa mengeluh.

Dari pagi hingga sore, Rachel bekerja di sebuah rumah makan kecil dengan upah yang tidak seberapa. Lalu, malam harinya, ia lanjut bekerja di sebuah minimarket yang berlokasi tidak terlalu jauh dari rumah. Semua itu dilakukannya demi Anna—agar ia bisa memberikan makanan yang layak untuk Anna, juga mengusahakan kembali terapi dan pengobatan Anna yang sudah cukup lama terhenti.

“Kau tidak lelah, Rachel? Kau sudah bekerja terlalu keras.” tanya Ashley, salah satu rekan kerjanya di minimarket pada suatu malam.

Rachel hanya mengangkat bahu. “Entahlah, Ashley. Sepertinya kata 'lelah' sudah lama hilang dari kamus hidupku.”, balasnya, dengan senyuman yang rapuh.

Setiap malam, Rachel selalu pulang larut dengan kondisi tubuh yang tampak sudah mati rasa. Ia berjalan pelan, agar tidak membangunkan Anna—berjalan menuju kamarnya di ujung lorong. Di dalam sana, ia membanting tubuhnya di atas tempat tidur, sembari menatap atap di atasnya, seolah atap akan memberinya jalan keluar atas permasalahan yang sedang memenuhi isi pikirannya.

"Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membiarkan Anna menahan sakit terlalu lama. Dia harus segera mendapatkan kembali terapi dan pengobatannya. Berapapun biayanya dan apapun caranya. Aku harus bisa mengusahakannya.", gumamnya lirih, hingga akhirnya rasa kantuk mulai menguasainya dan membawanya terjatuh dalam alam mimpi.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!