NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Retak Yang Tak Bisa Disembunyikan

Ketegangan yang memuncak di meja itu akhirnya mencapai titik di mana tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bisa kembali ke sikap semula, karena setiap kata yang sudah terucap telah membuka sesuatu yang selama ini disembunyikan dengan rapi, dan Lisa yang duduk di tengah semua itu justru menjadi satu-satunya orang yang tetap terlihat paling tenang, seolah ia sudah memprediksi semua ini akan terjadi dan hanya menunggu waktu yang tepat untuk membiarkannya meledak dengan sendirinya.

Arvin menatap Devan dengan rahang yang mengeras, jelas tidak menyukai bagaimana pria itu berbicara seolah memiliki hak untuk ikut campur, sementara Devan sendiri tetap duduk santai tanpa sedikit pun menunjukkan tekanan, sikapnya justru semakin memperjelas perbedaan di antara mereka, satu dipenuhi emosi yang mulai sulit dikendalikan, dan yang lain tetap dingin seolah semuanya hanya bagian dari permainan yang ia nikmati.

“Sejak kapan kamu punya hak untuk bicara seperti itu?” tanya Arvin dengan nada rendah namun tajam.

Devan tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Arvin beberapa detik sebelum berkata dengan tenang, “Sejak kamu mulai bertanya hal yang bukan hakmu.”

Kalimat itu membuat Arvin langsung terdiam sesaat.

Namun bukan karena kalah.

Melainkan karena emosinya semakin naik.

Lisa yang sejak tadi mengamati akhirnya meletakkan gelasnya dengan perlahan, suara kecil dari kaca yang menyentuh meja terdengar cukup jelas di tengah keheningan yang menekan.

“Cukup,” ucap Lisa pelan, namun kali ini nada suaranya jauh lebih tegas dari sebelumnya.

Kedua pria itu langsung menoleh padanya.

Lisa menatap Arvin terlebih dahulu, matanya tenang namun dingin.

“Kamu datang ke sini untuk makan malam… atau untuk membuat keributan?” tanyanya.

Arvin terlihat sedikit terkejut dengan cara Lisa berbicara, karena tidak ada lagi kelembutan yang biasa ia kenal, hanya ketegasan yang sulit dibantah.

“Aku hanya—” Arvin mencoba menjelaskan.

Namun Lisa langsung memotong.

“Kalau kamu hanya ingin memastikan sesuatu… kamu sudah melihatnya sendiri,” katanya.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun memiliki makna yang sangat jelas.

Arvin menatap Lisa lebih dalam.

“Jadi benar?” tanyanya pelan.

Lisa tidak langsung menjawab.

Ia justru tersenyum tipis.

“Benar atau tidak… itu tidak mengubah apa pun,” ucapnya.

Jawaban itu membuat Arvin kehilangan kata-kata.

Karena untuk pertama kalinya…

Ia benar-benar tidak memiliki kendali atas situasi ini.

Di sisi lain, Luna yang sejak tadi hanya mengamati akhirnya bersandar lebih santai, matanya berkilat penuh ketertarikan.

“Wah…” katanya pelan, “ini jauh lebih seru dari yang aku bayangkan.”

Lisa meliriknya sekilas.

“Kalau kamu hanya ingin menonton… kamu bisa tetap diam,” ucap Lisa santai.

Luna tersenyum.

“Aku tidak keberatan,” jawabnya.

Namun jelas…

Ia tidak akan benar-benar diam.

Sementara itu, Devan akhirnya berdiri perlahan dari kursinya, gerakannya tenang namun langsung menarik perhatian semua orang di meja itu.

“Sepertinya makan malam ini sudah selesai,” katanya.

Arvin langsung menatapnya tajam.

“Kamu pikir kamu bisa datang dan pergi sesukamu?” katanya.

Devan menatapnya sekilas.

“Aku tidak meminta izin,” jawabnya singkat.

Kalimat itu seperti pukulan terakhir.

Arvin mengepalkan tangannya lebih kuat.

Namun sebelum situasi benar-benar berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk…

Lisa berdiri.

Gerakannya sederhana.

Namun cukup untuk menghentikan semuanya.

“Aku yang akan pergi,” katanya.

Semua mata langsung tertuju padanya.

Arvin terlihat terkejut.

“Kita belum selesai bicara,” katanya cepat.

Lisa menatapnya dengan tenang.

“Justru sudah,” jawabnya.

Ia mengambil tasnya dengan perlahan, lalu melangkah menjauh dari meja tanpa terburu-buru, meninggalkan tiga orang di belakangnya dengan suasana yang masih dipenuhi ketegangan yang belum selesai.

Namun sebelum ia benar-benar pergi…

Sebuah suara menghentikannya.

“Lisa.”

Suara itu milik Devan.

Lisa berhenti.

Namun tidak langsung menoleh.

“Apa?” tanyanya.

Devan berjalan mendekat beberapa langkah.

“Jangan terlalu jauh,” katanya pelan.

Kalimat itu terdengar seperti peringatan.

Atau mungkin…

Perhatian.

Lisa tersenyum tipis tanpa menoleh.

“Tenang saja,” katanya.

Lalu ia melanjutkan langkahnya keluar dari restoran.

Dan untuk pertama kalinya malam itu…

Ia sendirian.

Namun justru di dalam kesendirian itu…

Ia merasa lebih bebas.

Di luar restoran, udara malam terasa lebih dingin, namun Lisa menarik napas panjang seolah melepaskan semua tekanan yang tadi menumpuk, lalu ia menatap ke depan dengan mata yang kembali tajam.

“Mulai sekarang…” gumamnya pelan.

Langkahnya berhenti sejenak.

“Tidak ada lagi yang bisa mengendalikan aku.”

Namun di belakangnya…

Di dalam restoran…

Arvin berdiri dengan ekspresi yang jauh lebih gelap dari sebelumnya, matanya masih tertuju ke arah pintu tempat Lisa pergi, sementara di dalam pikirannya hanya ada satu hal yang terus berulang.

Ia mulai kehilangan Lisa.

Dan itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Ini belum selesai,” katanya pelan, lebih seperti janji untuk dirinya sendiri.

Di sisi lain, Luna menyilangkan kakinya dengan santai, menatap ke arah Devan yang kini berdiri diam dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Kamu benar-benar tidak biasa,” kata Luna.

Devan tidak menjawab.

Namun matanya tetap tertuju ke arah pintu keluar.

Sementara itu…

Di luar sana…

Permainan belum berakhir.

Justru baru saja memasuki fase yang lebih berbahaya.

Dan Lisa…

Sudah siap untuk itu. 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!