NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Logika Kekecewaan

Pagi itu, koridor utama Gedung Fakultas Ekonomi terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Suara derap langkah ratusan mahasiswa yang bergegas menuju kelas masing-masing menciptakan simfoni kebisingan yang kacau. Di tengah hiruk-pikuk itu, Liana berdiri bersandar pada dinding marmer yang dingin, sementara Derby Neeson berdiri sangat dekat dengannya—terlalu dekat untuk standar kesopanan kampus.

Liana mengenakan rok mini hitam dan blus tipis yang memperlihatkan lekuk bahunya, sebuah upaya sadar untuk kembali ke citra lamanya sebagai "ratu clubbing". Derby, dengan seringai angkuhnya, melingkarkan satu tangannya di pinggang Liana, menarik gadis itu hingga tubuh mereka hampir tak berjarak.

"Lihat itu," bisik seorang mahasiswa yang lewat, "Liana benar-benar tidak punya urat malu. Setelah ditegur Pak Morgan kemarin, dia malah semakin menjadi-jadi dengan pacar premannya."

Liana mendengar itu, namun ia justru menengadahkan wajahnya, tertawa dengan nada yang sengaja dikeraskan. Matanya terus melirik ke ujung lorong, menunggu kemunculan sosok yang ingin ia hancurkan pertahanannya.

Dan sosok itu muncul.

Morgan Bruggman berjalan dengan langkah yang ritmis dan tenang. Ia membawa tas kerja kulitnya di tangan kanan, sementara tangan kirinya yang masih terbalut perban tipis tersembunyi sebagian di balik saku jas abu-abunya. Wajahnya tetap seperti porselen—beku, tanpa cela, dan sepenuhnya terkendali.

Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa meter, Derby sengaja merunduk, membisikkan sesuatu ke telinga Liana sambil mencium pipi gadis itu dengan gerakan yang lambat dan provokatif. Liana melirik Morgan tepat saat pria itu lewat di samping mereka. Liana tersenyum lebar, sebuah senyuman penuh kemenangan yang ditujukan langsung ke mata cokelat gelap suaminya.

"Pagi, Pak Morgan," ucap Liana dengan suara manja yang dibuat-buat, sengaja menekankan setiap suku kata.

Morgan tidak berhenti. Ia bahkan tidak menolehkan kepalanya sedikit pun. Matanya tetap lurus menatap ke depan, seolah-olah Liana dan Derby hanyalah rintangan visual yang tidak perlu diproses oleh otaknya. Satu-satunya reaksi yang terlihat hanyalah gerakan rahangnya yang sedikit mengeras, sebuah kontraksi otot yang sangat samar namun tertangkap oleh mata Liana yang haus akan reaksi.

Morgan melewati mereka begitu saja. Langkah sepatunya yang mantap terus menjauh tanpa ragu.

Liana merasakan kepuasan yang dibalut dengan kekecewaan mendalam. Ia berhasil memanasi pria itu di depan umum, namun Morgan tetap menjadi sang "Dewa Logika" yang tak tersentuh.

"Sudahlah, Sayang. Robot itu tidak punya rasa," Derby terkekeh, mencubit dagu Liana. "Tapi tenang saja, aku punya kejutan kecil yang akan membuat sistemnya mengalami error total hari ini."

Satu jam kemudian, Morgan masuk ke dalam kantor pribadinya yang sunyi. Ia meletakkan tasnya di atas meja, lalu menghela napas panjang. Kejadian di koridor tadi sebenarnya telah menggoreskan luka yang sangat dalam di batinnya, namun ia telah melatih dirinya selama bertahun-tahun untuk menekan emosi demi profesionalisme.

Morgan duduk di kursi kebesarannya. Matanya tertuju pada sebuah amplop cokelat besar yang terletak tepat di tengah meja kerjanya. Tidak ada nama pengirim, hanya tertulis: 'Untuk Profesor yang Terlalu Kaku'.

Morgan meraih pemotong kertas perak. Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan presisi, ia menyayat segel amplop tersebut. Saat ia menarik isinya keluar, tumpukan foto polaroid berserakan di atas meja kayunya yang mengkilap.

Darah Morgan seolah berhenti mengalir.

Foto-foto itu memperlihatkan Liana dan Derby dalam berbagai pose yang sangat liar. Ada foto di mana mereka berada di dalam klub malam yang gelap, dengan Liana yang tertawa lepas dalam pelukan Derby yang tidak senonoh. Ada foto di mana Derby mencium leher Liana dengan kasar, dan yang paling parah, foto di mana Liana tampak setengah sadar di bawah pengaruh alkohol sementara Derby memamerkan kepemilikannya.

Foto-foto itu diambil jauh sebelum pernikahan mereka, namun Derby sengaja mengirimkannya sekarang untuk menghina Morgan.

Morgan mencengkeram pinggiran meja hingga kayu itu seolah akan retak di bawah tangannya. Napasnya mulai memburu, tidak lagi teratur seperti biasanya. Gejolak di hatinya membara—sebuah perpaduan antara api cemburu yang purba dan rasa bersalah yang mencekik.

Aku gagal, batin Morgan berteriak.

Ia teringat janjinya pada Liam Shine. Ia berjanji akan menjaga Liana, memastikan gadis itu tetap berada di jalan yang benar, dan melindunginya dari pengaruh buruk. Namun, melihat foto-foto ini, Morgan merasa seolah-olah ia telah membiarkan permata yang dipercayakan kepadanya diinjak-injak di lumpur.

Morgan mengambil salah satu foto, jari-jarinya yang gemetar menyentuh wajah Liana yang tampak bahagia namun tersesat di dalam foto itu. Ada rasa perih yang luar biasa menyadari bahwa Liana pernah memberikan sisi "liar" itu kepada pria seperti Derby, sementara bersamanya, Liana hanya menunjukkan kemarahan dan kebencian.

"Liana ..." bisik Morgan, suaranya pecah.

Tiba-tiba, rasa cemburu itu berubah menjadi kemurkaan yang gelap. Morgan merasa dikhianati oleh situasi ini. Ia merasa tidak berdaya meskipun ia memiliki segalanya. Logikanya mulai kalah oleh insting posesif seorang suami yang istrinya sedang dihina oleh masa lalunya sendiri.

Morgan berdiri dengan kasar hingga kursi kerjanya terdorong ke belakang dan membentur rak buku. Ia menyapu seluruh foto-foto itu dari mejanya dengan satu gerakan tangan yang emosional. Foto-foto itu melayang di udara sebelum mendarat dengan berantakan di atas lantai porselen.

Morgan berjalan menuju jendela, menatap ke arah halaman kampus dengan mata yang berkilat penuh amarah. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat hingga perban di tangannya mulai memerah lagi karena luka yang kembali terbuka.

"Kau ingin bermain-main, Derby?" geram Morgan. "Kau tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh pria yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan selain kehormatan istrinya."

Rasa lalai dalam menjaga amanah Liam membuat Morgan merasa sangat rendah. Ia merasa dirinya gagal sebagai pelindung. Namun, di saat yang sama, sisi lelakinya terbakar hebat. Ia tidak bisa lagi hanya menjadi dosen yang diam melihat istrinya dilecehkan secara visual melalui "hadiah" sampah ini.

Pintu kantornya diketuk pelan.

"Pak Morgan? Ini saya, Liana. Saya ingin mengumpulkan esai—"

Liana membuka pintu dan terhenti di ambang pintu. Matanya tertuju pada lantai, di mana foto-foto mesranya dengan Derby berserakan dengan sangat jelas. Liana membelalak, wajahnya seketika pucat pasi. Ia segera mengenali foto-foto itu—itu adalah malam-malam tergelapnya sebelum bertemu Morgan.

Liana mendongak, menatap punggung Morgan yang masih membelakanginya. Bahu pria itu naik-turun dengan ritme yang sangat cepat.

"Morgan ... aku bisa jelaskan ... itu foto lama ..." suara Liana bergetar hebat.

Morgan berbalik perlahan. Wajahnya tidak lagi dingin; ada ekspresi hancur yang bercampur dengan amarah murni di matanya. Ia tidak lagi memakai topeng dosennya.

"Apakah ini yang kau banggakan, Liana?" tanya Morgan, suaranya sangat rendah namun mengandung getaran yang menakutkan. Ia melangkah mendekati Liana, melewati foto-foto itu tanpa menginjaknya, seolah-olah menyentuh foto itu dengan sepatunya saja akan mengotori dirinya.

"Derby yang mengirimnya, bukan aku!" seru Liana, air mata mulai mengalir.

Morgan berhenti tepat di depan Liana, mengurung gadis itu dengan kehadirannya yang terasa sangat menyesakkan. "Aku tidak peduli siapa yang mengirimnya. Yang aku peduli adalah kenyataan bahwa aku telah bersumpah untuk menjagamu, namun aku membiarkan pria rendahan itu merusakmu hingga seperti ini."

Morgan mencengkeram rahang Liana dengan sangat lembut namun tegas, memaksa gadis itu menatap matanya yang sedang membara. "Kau adalah istri Morgan Bruggman. Dan mulai detik ini, aku tidak akan membiarkan 'debu' mana pun menyentuh kulitmu, bahkan dalam bentuk kenangan sekalipun."

Liana terpaku. Ia melihat kecemburuan yang jujur di mata Morgan—sesuatu yang selama ini pria itu sembunyikan di balik kontrak lima tahunnya. Hati Liana yang keras mulai goyah. Ia menyadari bahwa ia baru saja membangunkan monster yang selama ini tertidur di dalam diri pria paling sabar di dunia itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!