Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.
Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.
Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.
Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Pernikahan
Pagi itu, langit di atas Ibukota Kekaisaran Yan tidak berani menampilkan awan mendung. Cahaya matahari musim semi menyinari lautan sutra merah yang membentang menutupi hampir setiap inci Kediaman Utama Keluarga Wu. Ribuan lampion roh berbentuk naga dan phoenix melayang anggun di udara, menyebarkan aroma cendana dan bunga persik yang menenangkan jiwa.
Sebuah acara pernikahan dadakan antara Duke Wu Xuan yang diisukan sekarat dengan seorang putri dari keluarga mantan pejabat yang baru saja turun kasta. Namun, tidak ada satu pun faksi, sekte, atau klan bangsawan yang berani absen. Halaman utama kediaman Wu kini dipenuhi oleh lautan manusia berwajah kaku yang menyembunyikan keterkejutan dan ketakutan di balik senyum sopan mereka.
Suara terompet cangkang naga laut berbunyi tiga kali, membelah hiruk-pikuk obrolan para tamu. Udara di halaman utama mendadak menjadi sangat padat, seolah gravitasi baru saja dilipatgandakan.
Dari balik pintu aula utama, siluet seorang pria melangkah keluar.
Seluruh mata terpaku pada sosok itu, dan detik berikutnya, napas ratusan tamu yang hadir terhenti secara serentak.
Wu Xuan melangkah dengan keanggunan seorang dewa yang turun ke bumi fana. Dia mengenakan Hanfu pernikahan berwarna merah darah yang ditenun dari benang emas esensi murni. Rambut putih keemasan panjangnya diikat longgar dengan mahkota giok. Wajahnya yang luar biasa tampan—dengan garis rahang tajam dan mata emas kristal yang setenang jurang maut—membuat para kultivator wanita di kerumunan itu tanpa sadar menahan napas mereka.
"Astaga... apakah itu benar-benar Duke Agung Wu Xuan? Ternyata rumor tadi malam tidak di besar-besarkan? Wajahnya memang tampan." bisik seorang putri bangsawan dengan pipi merona merah terang, matanya terpaku penuh damba hingga lupa berkedip. "Ketampanannya... ini bahkan jauh melampaui lukisan masa mudanya di masa lalu!"
"Aku dengar itu bukan sekedar penunda peremajaan atau penekanan usia?" Ucap seorang patriark keluarga kecil. "Itu adalah rekonstruksi tubuh dan usia yang legendaris."
"Hebat sekali."
"Aku percaya. Ini tidak masuk akal. Bukan hanya kembali muda, lihatlah wibawanya," gumam seorang nyonya dari sekte besar, tanpa sadar meremas kipas sutranya dengan gugup. "Auranya begitu agung dan mendominasi. Berdiri di hadapannya saja membuat kakiku lemas. Hanya dengan satu senyuman darinya, aku merasa rela menyerahkan diri!"
"Sang Serigala Tua telah berganti kulit menjadi Naga Surgawi. Tubuh yang begitu kuat, karisma penguasa... ini adalah kelahiran tiran sejati," sahut seorang jenderal veteran dengan suara parau, tak mampu menyembunyikan kekaguman dan ketakutannya sekaligus.
Namun, bagi para monster tua dan pejabat tingkat tinggi, bukan hanya ketampanan surgawi atau wibawa absolut itu yang membuat mereka bergetar hingga ke sumsum tulang.
Di belakang punggung Wu Xuan, melayang sebuah Aksesoris Dao.
Itu adalah sebuah roda pendaran cahaya yang terbuat dari pemurnian hukum alam semesta. Roda itu berputar pelan tanpa suara, memancarkan perpaduan warna biru dari palung samudra terdalam, emas dan hijau zamrud dari akar kayu surgawi. Di dunia kultivasi, memiliki aura yang meluap adalah tanda seseorang baru mencapai Ranah Primordial Suci tahap awal. Namun, mampu memadatkan hukum kosmik menjadi sebuah Aksesoris Dao fisik yang melayang di belakang punggung... itu adalah lambang absolut dari Primordial Suci Sejati. Primordial Suci Tahap Menengah.
Hanya dalam semalam.
Para monster tua yang hadir saling bertukar pandang melalui telepati, mata mereka memancarkan teror yang tak bisa disembunyikan.
"Tahap menengah... Jadi Avatar raksasa semalam bukanlah ilusi. Sang Serigala Tua tidak hanya bangkit, dia telah melampaui batasan fisik kuno," bisik seorang jenderal tua dengan bibir bergetar.
Belum selesai keterkejutan mereka tentang Aksesoris Dao tersebut, pandangan para tamu beralih ke deretan kursi kehormatan Keluarga Wu. Di kursi yang diukir dengan lambang naga muda—kursi yang secara absolut selalu diduduki oleh Wu Shan sebagai pewaris klan—kini duduk sosok yang sama sekali berbeda.
Wu Guan duduk di sana dengan postur punggung yang tegak lurus, mengenakan jubah kebesaran Pangeran Wu Pertama. Di sebelahnya duduk Wu Ling. Sementara Wu Shan... yang arogan itu bahkan tidak terlihat batang hidungnya di halaman ini.
"Angin telah benar-benar berubah. Putra mahkota Keluarga Wu telah diganti," bisik seorang menteri dengan wajah pucat.
Di saat yang sama, alunan musik kecapi zither yang lembut mulai mengalun. Dari ujung karpet sutra merah, Qin Wuyan melangkah masuk.
Jika Wu Xuan adalah perwujudan dari penguasa yang mematikan, maka Qin Wuyan hari ini adalah perwujudan dari dewi musim semi. Dia mengenakan gaun pengantin Hanfu merah yang menjuntai indah, dihiasi sulaman phoenix emas yang seolah hidup. Wajah cantiknya yang murni dan polos kini dipoles dengan riasan tipis yang mempertegas keanggunannya, namun tertutup oleh cadar pengantin. Langkahnya pelan, sedikit gugup, namun ada kelembutan yang belum pernah ada sebelumnya di dalam mata jernihnya.
Wu Xuan melangkah maju untuk menyambutnya. Di hadapan ratusan pasang mata yang mengamati setiap gerak-geriknya, Wu Xuan mengulurkan tangannya dengan kelembutan yang membuat rumor tentang kekejamannya pada orang lain terasa seperti kebohongan.
Qin Wuyan meletakkan tangannya yang gemetar ke atas telapak tangan Wu Xuan yang lebih besar dan hangat.
"Kau terlihat sangat sempurna hari ini," bisik Wu Xuan pelan, suaranya hanya bisa didengar oleh gadis itu. Sebuah senyum tulus yang memabukkan terukir di wajahnya.
Wajah Qin Wuyan merona merah, kecantikannya semakin memancar. Rasa gugupnya seketika mencair saat merasakan energi yang menenangkan mengalir dari genggaman suaminya.
Pemandangan romantis dan penuh keagungan itu disaksikan oleh seluruh tamu, namun menjadi siksaan neraka bagi satu orang. Di sudut deretan kursi keluarga, Yan Melin berdiri mematung. Wanita itu mengenakan gaun kelas atas dengan giok bewarna ungu di pinggangnya menandakan status selirnya, sebuah penurunan drastis dari plat giok emas status utama.
Melihat bagaimana pria yang dulu memujanya kini menatap wanita lain dengan pandangan yang begitu dalam, serta menyadari bahwa posisi di atas singgasana utama itu kini diambil alih oleh gadis muda dari keluarga rendahan, hati Yan Melin hancur. Wajah cantiknya memerah padam karena campuran amarah, cemburu, dan rasa malu yang tak tertahankan. Napasnya memburu. Dia tidak sanggup lagi melihat orang yang dahulu mencintainya bersanding dengan orang lain. Dengan tangan mengepal erat dan air mata penyesalan yang menggenang, Yan Melin membalikkan badan dan meninggalkan halaman perjamuan, pergi ke dalam kedalaman paviliunnya. Wu Xuan yang menyadari kepergiannya hanya melirik sekilas dari sudut matanya tanpa peduli.
Prosesi pernikahan berlanjut ke tahap yang paling sakral. Wu Xuan menuntun Qin Wuyan menuju ruangan di mana Qin Han duduk.
Mantan menteri agung itu tampak seolah menua sepuluh tahun dalam semalam, namun pada saat yang sama, beban yang selama ini menghancurkan pundaknya telah terangkat. Qin Han menatap putrinya dalam balutan gaun pengantin, air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Kemarin, dia mengira putrinya akan hancur karena penolakan status. Hari ini, putrinya menjadi Nyonya besar dari keluarga paling menakutkan di kekaisaran.
Wu Xuan dan Qin Wuyan membungkuk dalam-dalam, memberikan penghormatan kepada sang ayah.
"Jaga dia, Duke Wu Xuan... kumohon, jaga putriku," isak Qin Han dengan suara bergetar saat menerima cawan teh dari Wu Xuan. "Dia adalah satu-satunya nyawa yang kumiliki."
Wu Xuan menatap Qin Han dengan tenang. Tidak ada arogansi dari seorang Primordial Suci, yang ada hanyalah kebijaksanaan seorang pria rasional. "Mulai detik ini, dia adalah langit bagi kediaman Keluarga Wu. Tidak ada badai yang akan menyentuhnya, Ayah Mertua. Aku menjaminnya dengan sisa umurku."
Mendengar janji absolut dari seorang Primordial Suci tahap menengah, tangis Qin Han pecah. Dia memeluk putrinya erat-erat sebelum melepaskannya.
Pemandangan emosional itu sakral dan diamati oleh para tamu. Segera setelah prosesi penghormatan selesai, ratusan pesan telepati melesat di udara. Faksi-faksi yang kemarin menjauhi dan menertawakan Keluarga Qin, kini saling berebut untuk mencari celah. Mereka diam-diam menginstruksikan tetua klan mereka untuk mengirimkan hadiah dan mencoba menjilat Qin Han. Mantan pejabat kelas tiga itu kini telah menjadi mertua dari satu dari 5 duke kekaisaran.
Setelah upacara selesai, Wu Xuan menuntun istrinya naik ke atas panggung utama, duduk di singgasana ganda yang terbuat dari giok merah.
Wu Xuan bersandar dengan santai, mengamati para tamunya. Sesekali, dia memiringkan kepalanya, membisikkan sesuatu ke telinga Qin Wuyan.
"Kau tahu, Jika aku tidak melihatmu kemarin aku tidak tahu bahwa dunia ini memiliki dewi suci," goda Wu Xuan dengan suara rendah dan berat, sambil menggenggam satu tangan Qin Wuyan.
Qin Wuyan yang mendengarnya menahan tawa, menutupi bibirnya dengan lengan gaun sutranya. Rona merah menjalar hingga ke telinganya. "Suamiku, Sebutan Dewi suci tidak pantas untukku apa lagi, banyak orang yang sedang melihat ke arah kita."
"Biarkan mereka melihat," balas Wu Xuan dengan senyum tenang yang mematikan. "Aku ingin mereka melihat Istriku tersenyum, agar mereka tahu jika senyummu itu hilang, maka kepala mereka juga akan hilang."
Wajah Wuyan semakin memerah. Kombinasi antara kalimat kejam namun penuh perlindungan, ditambah dengan suara Wu Xuan yang begitu maskulin, membuat jantung gadis itu berdegup kencang. Pria ini sangat berbahaya, tapi entah mengapa, Wuyan tidak pernah merasa seaman ini seumur hidupnya.
Di tengah suasana yang mulai rileks, suara penjaga gerbang kembali menggema.
"Yang Mulia Pangeran Mahkota Yan Shen, tiba!"
Kerumunan terbelah. Pangeran Mahkota Yan Shen melangkah masuk, diikuti oleh para pengawalnya. Wajah pemuda itu dihiasi senyum diplomatik yang sempurna, meskipun setiap langkahnya ke arah panggung terasa seperti meminum racun. Rencananya untuk mengendalikan Keluarga Wu melalui Lin Huyan, dan kini dia harus memberikan selamat kepada pria yang menghancurkan rencananya.
"Salam yang mulia Duke Xuan, Salam Nonya Qin Wuyan," sapa Yan Shen, menangkupkan kedua tangannya. Matanya sempat melirik ke arah Aksesoris Dao di punggung Wu Xuan, dan pupilnya menyusut karena teror yang ditahannya. "Keluarga Kekaisaran Yan memberikan restu atas penyatuan agung ini. Sebagai hadiah, kami membawakan Jubah Sutra Delapan Formasi Kuno."
Para tamu tersentak. Itu adalah artefak pertahanan kelas atas peninggalan Permaisuri terdahulu, sangat langka dan berharga.
Wu Xuan tidak berdiri. Dia hanya tersenyum tipis dari atas singgasananya. "Hadiah yang sangat bermakna, Pangeran mahkota. Namun tetap saja arah angin (politik) begitu tidak menentu, bukan begitu?"
Kata-kata itu diucapkan dengan nada santai, namun Yan Shen bisa merasakan sindiran mematikan di baliknya 'aku seperti angin bebas dan tidak bisa kalian prediksi'. Sang Primordial tahu apa yang Pangeran Mahkota rencanakan. Yan Shen memaksakan sebuah tawa. "Hahaha...Tentu saja, Duke Xuan. Angin memang bisa berubah kapan saja."
Menyusul sang Pangeran, berbagai faksi besar lainnya maju satu per satu, mempersembahkan gunung harta karun, pil spiritual tingkat tinggi, dan artefak kuno sebagai bentuk ketundukan mereka pada kekuasaan baru Keluarga Wu.
Di penghujung acara, ketika langit sore mulai berubah menjadi jingga, Wu Guan dan Wu Ling melangkah maju ke depan singgasana.
Kedua pemuda itu berlutut serempak. Mereka membungkuk dalam-dalam hingga dahi mereka menyentuh lantai.
"Hormat kami kepada Ayahanda," ucap Wu Guan dengan suara lantang. Kemudian, dia menoleh ke arah Qin Wuyan yang usianya mungkin seumuran dengannya, namun tidak ada sedikit pun keraguan di matanya. "Dan hormat kami yang terdalam kepada Ibunda."
Qin Wuyan terkejut, namun segera memulihkan keanggunannya. Dia mengangguk lembut, menerima penghormatan itu.
Wu Xuan berdiri, suaranya menggema ke seluruh penjuru kediaman, memastikan tidak ada satu pun telinga di ibukota yang melewatkannya.
"Mulai hari ini, Tuan Muda Pertama Wu Guan dan Tuan Muda Kedua Wu Ling adalah pilar penerus kediaman utama. Darah dagingku yang sah," dekrit Wu Xuan. "Dan mereka yang di bawah kalian, ketahuilah: Menghormati mereka sama dengan menghormati para tetua klan. Menghormati Nyonya Utama Qin Wuyan, sama dengan menghormatiku."
Titah absolut itu mengunci struktur kekuasaan. Tidak akan ada lagi yang berani menyebut kata 'anak haram' di kekaisaran ini.
Malam akhirnya turun, menggantikan kebisingan pesta dengan keheningan yang intim.
Di dalam Kamar Utama Patriark yang kini dihiasi oleh lilin-lilin merah dan ornamen pernikahan, Qin Wuyan duduk di tepi ranjang awan hangat. Kain penutup wajah berwarna merah masih menutupi wajahnya. Tangannya bertaut gugup di atas pangkuannya.
Pintu kamar terbuka perlahan. Langkah kaki Wu Xuan terdengar mendekat.
Pria itu berdiri di depannya. Dengan gerakan yang sangat lembut, Wu Xuan menggunakan tongkat giok kecil untuk menyingkap kain penutup wajah tersebut.
Wajah Qin Wuyan terekspos dalam cahaya lilin spiritual yang temaram. Mata bulatnya yang jernih menatap ke atas, bulu matanya bergetar pelan. Kecantikannya di malam ini melampaui segala deskripsi kata-kata; murni, rapuh, namun memancarkan daya tarik kewanitaan yang mulai mekar.
"Kau tidak perlu setegang itu," ucap Wu Xuan, duduk di sebelahnya. Dia menyingkirkan tongkat giok itu, lalu menyelipkan helaian rambut yang jatuh ke belakang telinga istrinya.
"Aku... aku hanya belum terbiasa, Suamiku," cicit Wuyan, wajahnya sedemerah tomat.
Wu Xuan tersenyum maklum. Dia tahu malam ini adalah malam yang panjang. Namun, sebelum hal lain terjadi, rasionalitasnya mengambil alih. Dia membalikkan telapak tangannya, memunculkan sebuah pil berwarna perak dari dalam cincin penyimpanannya.
"Apa aku juga harus minum itu suamiku?" tanya Wuyan bingung.
"Tidak. Ini hanya untukku," jawab Wu Xuan. "Tubuhku saat ini memancarkan esensi Ranah Primordial Suci tahap menengah. Fisikmu yang berada di tingkat awal Ranah Jiwa tidak akan sanggup menahan gesekan aura atau persentuhan Yang-murni dariku. Jika aku memaksakannya, tubuhmu akan terluka parah dari dalam."
Mata Wuyan membulat, tersentuh oleh kelembutan dan perhatian pria yang ditakuti seluruh dunia ini. Bahkan di saat seperti ini, Wu Xuan masih memikirkan keselamatannya.
Tanpa ragu, Wu Xuan menelan pil tersebut. Seketika, aura lautan kekuatan yang mengerikan di dalam tubuhnya menyusut. Aksesoris Dao di punggungnya memudar dan menghilang. Kultivasinya ditekan secara paksa hingga turun menyamai Ranah Roh, membuatnya sepenuhnya aman untuk disentuh oleh Wuyan.
Tepat pada detik itu, suara mekanis sistem berdenting di kepalanya.
[Ding!]
[Sistem Random Aktif!]
[Mendeteksi Host akan melakukan penyatuan Yin dan Yang dengan karakter takdir penting (Qin Wuyan). Tindakan Host menekan kultivasi demi keselamatan partner memicu hadiah afinitas.]
[Selamat! Host mendapatkan: Teknik Kultivasi Ganda (Harmoni Samudra dan Kayu Surgawi).]
[Catatan: Teknik ini akan menyelaraskan trauma fisik/mental partner dan memadatkan fondasi Qi mereka secara eksponensial tanpa rasa sakit. Mengubah penyatuan fisik menjadi resonansi gairah dan spiritual absolut.]
Senyum Wu Xuan semakin dalam, memancarkan pesona maskulin yang tak tertahankan. Sistem ini benar-benar tahu apa yang ia butuhkan di waktu yang tepat.
Wu Xuan menoleh kembali pada istrinya. Dia meraih kedua tangan kecil Wuyan yang dingin, menggenggamnya dengan kehangatan maskulinnya.
"Malam ini," bisik Wu Xuan, suaranya berubah serak dan memabukkan. "Lupakan tentang masa lalu. Malam ini... aku sepenuhnya milikmu, dan kau sepenuhnya milikku."
Tanpa menunggu jawaban, Wu Xuan meraup bibir Wuyan. Lumatan pertamanya lembut, mengecap manisnya kepolosan gadis itu. Namun dengan cepat, ciuman itu berubah liar dan menuntut. Lidah Wu Xuan menerobos masuk, membelit lidah Wuyan yang kaku, memaksanya untuk membalas tarian basah yang memabukkan itu.
"Nngh..." Wuyan mengerang pelan, kedua tangan lembutnya mencengkeram kerah Wu Xuan. Kepalanya terasa pening, pasokan oksigennya direnggut paksa oleh dominasi suaminya.
Sementara bibir mereka terus bertaut, tangan besar Wu Xuan tidak tinggal diam. Ia menyusuri lekuk tubuh Wuyan, menarik simpul gaun sutra merah itu dengan satu tarikan ahli. Pakaian luar yang mewah itu meluncur jatuh ke lantai giok, menyisakan Wuyan hanya dalam balutan penutup dada sutra tipis dan pakaian dalam, yang tak lama kemudian juga disingkirkan oleh sang Patriark.
Seketika, kulit putih mulus Wuyan terekspos sempurna di bawah cahaya lilin.
Di balik wajahnya yang setenang dan sedominan tiran, batin Wu Xuan sebenarnya sedang menjerit keras.
'Sialan,' umpat Wu Xuan dalam hatinya, napasnya nyaris tercekat. 'Selama dua puluh empat tahun hidupku di Bumi, aku sudah melihat banyak wanita cantik, tapi ini... ini sama sekali tidak masuk akal! Kulitnya bercahaya seperti dewi surgawi, lekuk tubuhnya adalah mahakarya. Supermodel tercantik di duniaku dulu bahkan tidak layak menjadi pelayan pencuci kakinya. Persetan dengan rasionalitas, hormon di dalam jiwaku meraung-raung. Rasanya aku ingin membuang semua kesabaran ini dan langsung melahapnya sampai habis detik ini juga!'
Meski batinnya bergejolak buas dan tidak sabaran, Wu Xuan menekan insting liar itu dengan tekad seperti tiran yang mendominasi. Ia harus mempertahankan wibawanya. Namun, sorot mata emasnya tidak bisa berbohong; tatapan itu menelusuri setiap inci tubuh istrinya dengan rasa lapar yang seolah ingin memangsanya hidup-hidup.
Udara dingin kamar menyapu kulit pualamnya, membuat Wuyan tersentak sadar. Secara naluriah, karena rasa malu yang amat sangat, gadis polos itu menyilangkan kedua lengannya untuk menutupi dadanya yang terangkat naik-turun dengan cepat.
"Kau malu?" goda Wu Xuan dengan suara rendah dan serak. Tangannya dengan mudah menyingkirkan lengan Wuyan dan menjepitnya di atas kepala gadis itu di atas ranjang. "Jangan ditutupi. Kau sangat indah."
"Ah..." Tubuh rapuh Wuyan bergetar saat bersentuhan langsung dengan dada bidang Wu Xuan yang dipenuhi otot keras. Kontras antara kepolosan Wuyan dan maskulinitas dominan Wu Xuan menciptakan ketegangan yang membakar udara di sekitar mereka.
Mata Wuyan berkaca-kaca, napasnya tersengal. "Suamiku... aneh... tubuhku terasa aneh..." cicitnya, Wuyan tidak mengerti mengapa bagian bawah perutnya berdenyut panas dan pusat gairahnya mulai mengeluarkan cairan hangat yang membasahi pahanya.
Seiring dengan sentuhan Wu Xuan yang menjelajahi setiap bukit dan lembah tubuhnya, Teknik kultivasi ganda dari akar Samudra dan Kayu Surgawi diaktifkan.
Energi Yang milik Wu Xuan yang kini sehangat air mengalir menembus pori-pori Wuyan. Seketika, sensitivitas gadis itu meledak. Saat bibir Wu Xuan turun ke ceruk lehernya, lalu mengisap lembut puncak bukit kembarnya yang ranum, Wuyan memekik nyaring. Tubuhnya melengkung bagaikan busur.
"Ah! J-Jangan digigit... Suamiku... uhh!" erangnya kacau. Kepolosannya membuat reaksinya begitu jujur, meronta namun pada saat yang sama tubuhnya secara otomatis mendorong dirinya lebih dekat ke arah sentuhan pria itu.
Wu Xuan membiarkan tangannya turun ke perut datar istrinya, lalu menyusup ke tempat yang paling rahasia dan basah. Saat jari panjangnya mengusap kelopak lembut itu, Wuyan menjerit tertahan, air mata menetes dari sudut matanya akibat stimulasi yang terlalu tajam dan asing.
"Kau sudah sangat siap untukku," bisik Wu Xuan, suaranya dipenuhi kepuasan maskulin.
Tanpa ragu lagi, Wu Xuan memposisikan dirinya. Diiringi oleh aliran Qi yang menenangkan dari teknik kultivasi ganda untuk memastikan gadis itu tidak merasakan sakit robekan dari malam pertamanya, Wu Xuan menembus pertahanannya dalam satu dorongan halus namun penuh tenaga.
"AAHHH!" Wuyan menjerit keras. Kedua matanya terbuka lebar, menatap langit-langit ranjang. Rasa penuh energi 'yang' menjejali bagian terdalam tubuhnya. Tidak ada rasa sakit yang menyiksa, yang ada hanyalah ledakan kelebihan beban sensorik dan ekstasi murni yang tiba-tiba menghantam otaknya.
Wu Xuan tidak memberinya waktu untuk bernapas. Setelah memastikan Wuyan terbiasa dengan ukuran dan keberadaannya, ia mulai bergerak. Ritmenya kuat, dalam, dan tanpa ampun. Setiap dorongannya adalah perwujudan dari dominasi absolut seorang tiran, mengirimkan gelombang kenikmatan surgawi yang membakar sisa rasionalitas gadis polos itu menjadi debu.
"Ah! T-Terlalu dalam... ahh! Suamiku... pelan-pelan...!" erang Wuyan, isakannya pecah di tengah kamar yang memanas. Gadis itu tidak lagi bisa berpikir jernih. Jemari lentiknya mencoba mencubit punggung kokoh suaminya, meninggalkan bekas merah kemarahan gairah, sementara kakinya melingkari pinggang Wu Xuan secara naluriah, menarik pria itu semakin dalam tanpa ia sadari.
"Panggil namaku, Wuyan," geram Wu Xuan, mempercepat ritmenya. Gesekan basah dari penyatuan mereka terdengar nyaring di ruangan itu. Batin Wu Xuan benar-benar dibuat kewalahan oleh seberapa nikmat dan pasnya gadis ini untuknya, tetapi ia tidak membiarkan wajahnya menunjukkan apa pun selain kekuasaan. "Aku milikmu malam ini?"
"Xu... Xuan! Ahh! Suamiku... aku tidak kuat lagi... uhh!"
Teknik kultivasi ganda itu berputar liar. Penyatuan mereka menciptakan resonansi antara energi Kayu yang menumbuhkan dan energi Samudra yang menenggelamkan. Wu Xuan memegang kendali penuh atas istrinya. Ia membawa Wuyan melayang ke puncak kenikmatan surgawi, memaksanya melepaskan orgasme pertamanya yang menggelegar hingga tubuh Wuyan melengkung kebelakang, lalu tanpa mencabut kejantanannya, Wu Xuan menariknya kembali ke dalam pusaran gairah yang lebih gila.
Keringat menetes dari kening Wuyan. Kepolosan gadis itu hancur seutuhnya, digantikan oleh hasrat seorang wanita yang menuntut penyatuan. Ia tak lagi menahan suaranya; erangan parau dan desahan liarnya bergema memenuhi malam. Peluh membanjiri tubuh keduanya, menyatukan mereka dalam kilauan keringat yang memabukkan. Setiap kali Wu Xuan menghantam titik terdalamnya, energi murni meresap masuk, memadatkan fondasi Qi Wuyan dengan kecepatan mengerikan.
Menjelang fajar, setelah entah untuk keberapa kalinya Wuyan dilemparkan ke batas maksimal ekstasi yang bisa ditanggung oleh tubuhnya, energi kultivasi ganda itu mencapai klimaks spiritualnya bersamaan dengan semburan hangat benih Wu Xuan di dalam rahim istrinya.
Ledakan energi murni meresap ke dalam inti dantian Wuyan, mengangkat kultivasinya menembus kemacetan, melonjak langsung ke tingkat puncak Ranah Jiwa dalam satu malam.
Gadis itu akhirnya benar-benar hancur dalam kenikmatan. Tubuhnya yang memerah dan gemetar akhirnya ambruk tertidur di atas ranjang, sama sekali kehabisan tenaga, terengah-engah dengan dada yang naik turun dengan cepat.
Wu Xuan berbaring di sampingnya, menarik tubuh Wuyan yang lemas, telanjang, dan lengket oleh keringat ke dalam pelukan dadanya yang lebar. Ia tersenyum puas, mengelus punggung polos istrinya dan mengecup dalam kening gadis yang masih bergetar kecil akibat sisa-sisa orgasme.
Villain itu telah sepenuhnya ditaklukkan, diubah menjadi Nyonya Utama yang sesungguhnya.
Wuyan memejamkan matanya, menggesekkan wajahnya ke dada suaminya mencari kehangatan, lalu tertidur pulas dengan senyum lelah yang sangat puas di bibirnya yang lembut. Di bawah cahaya fajar yang menyingsing, kepatuhan dan cinta gadis itu telah terpaku selamanya.
Bersambung...