Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: DEMAM DI MALAM HUJAN
Mahesa membuka mata karena air menetes di pipinya.
Dingin. Bukan air mata—air mata sudah lama ia lupa cara mengeluarkannya—tapi air hujan yang jatuh dari atap seng berlubang. Lubang yang semakin besar tiap tahun. Hujan yang semakin deras malam ini. Ia berbaring di tikar plastik bekas, di pojok kamar, di tempat yang selalu basah pertama kali saat hujan. Tempat yang menjadi miliknya sejak Bima lahir dan butuh kasur gantung. Sejak Mahesa dipindahkan dari tengah—yang kering—ke pojok—yang bocor.
Kaki kanannya terasa panas. Sangat panas. Seperti ada api di dalam tulang. Bukan panas demam biasa. Panas yang berbeda. Panas yang dari dalam daging yang tumbuh tanpa izin. Ia menggerakkan jari-jari kaki. Sulit. Seperti menggerakkan batu. Seperti menggerakkan sesuatu yang bukan miliknya lagi.
Dua tahun sudah sejak gigitan nyamuk itu. Dua tahun sejak kakinya mulai berubah. Dan tiap hari, rasanya semakin berat. Semakin panas. Semakin... asing.
"Pak," bisiknya. Suara tidak keluar. Tenggorokan kering. Seperti debu. Seperti jalan di musim kemarau.
Ia mencoba lagi. Lebih keras. "Pak!"
Ayah terbangun. Di sebelahnya. Di tikar yang sama, tapi bagian yang lebih kering, lebih dekat ke dinding. Ayah yang harus bangun jam tiga untuk ke tambang pasir. Ayah yang hanya tidur empat jam setiap malam. Ayah yang punggungnya semakin membungkuk tiap tahun.
"Kenapa, Mas?" Suara ayah serak. Penuh dengan tidur yang terputus.
"Sakit, Pak."
Ayah meraih. Di kegelapan malam yang hanya diterangi kilat sesekali. Tangan kasar. Tangan yang bekerja di tambang. Tangan yang memegang belincong. Tangan yang pernah menggendong Mahesa—saat masih kecil, saat kakinya belum begini—menyentuh dahi.
"Panas," ayah berkata. Bukan tanya. "Demam."
Mahesa mengangguk. Tapi ayah tidak bisa melihat di gelap. Hanya merasa. Hanya tahu dari getaran tubuh anaknya.
Ayah duduk. Menggerakkan tubuh besar—tapi semakin kurus, semakin ringkih—ke arah kaki Mahesa. Tangan yang sama menyentuh kaki kanan. Yang hangat. Yang bengkak. Yang dua kali lebih besar dari kaki kiri.
"Jatuh?" tanya ayah.
"Tidak, Pak."
Ayah diam. Tangannya masih di kaki Mahesa. Memegang. Tidak mengelus. Tidak menepuk. Hanya memegang. Seperti memegang sesuatu yang akan hilang. Seperti mencoba memahami apa yang tidak bisa dipahami.
"Tiga hari ini makin besar," Mahesa berkata. Suara kecil. Seolah salah. Seolah ia yang memilih kakinya begini. Seolah ia yang minta.
Ayah tidak menjawab. Tidak ada jawaban. Tidak ada uang untuk dokter. Tidak ada obat. Hanya malam yang panjang. Hanya hujan yang terus turun.
"Ibu," panggil ayah pelan. Tidak ingin membangunkan Bima. "Ibu, Mahesa panas."
Ibu terbangun. Di seberang ruangan. Di kasur gantung yang diikat ke langit-langit—supaya Bima tidak kedinginan di lantai tanah. Ibu turun hati-hati. Supaya ayunan tidak mengganggu tidur Bima.
"Apa?" Suara ibu. Tidak marah. Tidak sayang. Hanya tanya. Hanya refleks.
"Demam. Kakinya... merah."
Ibu mendekat. Di kegelapan, Mahesa bisa mencium bau sabun dari tangan ibu. Bau yang selalu ada. Bau yang dulu menenangkan. Bau yang mengingatkannya pada waktu—saat ibu masih memandikannya, masih menyisir rambutnya, masih ada.
Tangan ibu menyentuh dahi. Dingin. Basah—dari hujan yang masuk dari jendela, dari pekerjaan yang belum selesai.
"Panas," ibu berkata. Sama seperti ayah. Sama seperti yang Mahesa rasakan. "Ambil air. Buat kompres."
"Kendi kosong," ayah menjawab. "Belum ambil dari sumur."
Ibu menghela napas. Panjang. Berisi banyak hal. Berisi malam-malam seperti ini. Berisi anak sakit tanpa obat. Berisi hidup yang tidak pernah mudah.
"Pakai yang tersisa," kata ibu. "Di panci."
Ayah berdiri. Perlahan. Tubuh lelah yang harus bangun dalam tiga jam. Berjalan ke dapur gelap. Mengambil panci berisi air minum untuk besok. Air untuk masak. Air yang sekarang jadi kompres.
Mahesa berbaring lagi. Menggigil. Meski kakinya terbakar, tubuhnya menggigil. Dingin dari dalam. Panas di permukaan. Seperti api dan es bersamaan.
Bima terbangun. Di kasur gantung. Menangis. Bukan tangis sakit. Bukan tangis lapar. Tangis gangguan. Tangis karena suara. Karena gerakan. Karena malam yang tidak tenang.
"Bising!" Bima berteriak. Kecil. Lima tahun. Yang tidak mengerti. Yang tidak perlu mengerti. "Mau tidur!"
Ibu bergerak cepat. Ke kasur gantung. Mengayun. "Ssst... adik tidur. Ssst... nggak apa-apa."
"Mahesa berisik!" Bima menangis lebih keras. Menarik selimut. Menutupi telinga.
Mahesa menutup mulut. Dengan tangan. Menahan suara. Menahan batuk. Menahan napas. Menahan segalanya.
Ayah kembali. Dengan kain basah. Air yang seharusnya untuk minum. Yang sekarang untuk kompres. Untuk Mahesa. Untuk anak pertama. Yang dulu disayang.
Ayah duduk. Di tikar. Di sebelah Mahesa. Mengangkat kepala anaknya, meletakkan kain basah di dahi. Dingin. Sementara. Segera hangat karena demam.
"Kaki," kata Mahesa lemah. "Kakinya juga."
Ayah mengangguk. Mahesa mengangkat kaki kanan dengan susah payah. Berat. Seperti mengangkat karung beras. Seperti mengangkat batu tambang. Seperti mengangkat sesuatu yang bukan bagian tubuhnya—tapi melekat.
Ayah meletakkan kain basah di pergelangan kaki. Di tempat paling panas. Di tempat bekas gigitan nyamuk yang tak kunjung hilang. Yang semakin merah. Yang semakin besar.
"Kenapa?" tanya ayah. Bukan ke Mahesa. Bukan ke ibu. Bukan ke siapa-siapa. Ke langit-langit bocor. Ke hujan. Ke malam yang tidak menjawab.
"Tidak tahu, Pak," jawab Mahesa. Meski ayah tidak bertanya padanya.
Ibu masih di kasur gantung. Mengayun Bima. Menyanyikan lagu yang dulu—pernah—dinyanyikan untuk Mahesa. "Bintang kejora... bersinar di pagi buta..." Tapi sekarang untuk Bima. Selalu untuk Bima.
Ayah berbaring lagi. Di tikar. Di sebelah Mahesa. Tidak ada jarak. Tapi ada jarak. Satu meter dari kasur gantung. Tapi seperti dua dunia.
"Pak." Mahesa berbisik. "Pak, aku sakit."
Ayah tidak menjawab. Tidak dengan kata. Tapi dengan tangan. Tangan kasar. Tangan lelah. Tangan yang memeluk bahu Mahesa. Menariknya ke dada. Ke tempat yang bisa mendengar detak jantung. Ke tempat yang—dulu, saat Mahesa masih kecil, saat segalanya belum berubah—selalu jadi tempat aman.
Mahesa menangis.
Tidak bisa ditahan. Air mata yang ia lupa cara mengeluarkannya. Yang keluar sekarang. Panas. Di pipi. Di dada ayah.
"Ssst..." ayah berkata. Suara paling lembut yang pernah Mahesa dengar dari mulut serak karena debu tambang. "Ssst, Mas. Tidur. Besok sembuh."
Tapi ayah tidak yakin. Mahesa tahu. Ia bisa merasakan ketidakyakinan di pelukan. Di suara. Di detak jantung yang terlalu cepat untuk orang yang bilang "sembuh".
Ibu berkata dari seberang. "Tidur. Besok sembuh." Tapi suara ibu tidak yakin. Lebih tidak yakin dari ayah. Lebih jauh. Lebih... pergi.
Bima sudah tidur. Di kasur gantung. Di pelukan ibu. Di dunia hangat. Di dunia kering.
Mahesa di pelukan ayah. Panas. Menggigil. Kaki kanan terbakar. Tapi yang paling sakit bukan kaki. Bukan demam. Bukan hujan yang menetes di sampingnya.
Yang paling sakit adalah... ini. Pelukan yang terlalu singkat. Ayah yang harus tidur. Yang harus bangun tiga jam lagi. Yang tidak bisa memeluk sepanjang malam.
Ayah melepaskan. Perlahan. Menarik tangan. Menutup mata. Tidur. Karena harus. Karena tidak ada pilihan.
Mahesa sendiri. Di tikar. Di pojok. Di tempat air menetes.
Ia geser sedikit ke kiri. Ke tempat lebih kering. Tapi tidak jauh. Karena di mana pun ia geser, air mengikuti. Atau mungkin—pikirnya dalam demam yang mulai mengaburkan—mungkin ia yang selalu di tempat air menetes. Mungkin ia yang membawa hujan.
Ia menutup mata. Mencoba tidur. Mencoba percaya kata ayah: besok sembuh.
Tapi kakinya terbakar. Dan hujan terus turun. Dan air terus menetes.
Jam berlalu. Mahesa terjaga. Tidur sebentar. Bangun lagi. Karena panas. Karena dingin. Karena kaki yang tak bisa diposisikan nyaman.
Ayah bangun jam tiga. Seperti biasa. Seperti tiap malam. Tidak peduli hujan. Tidak peduli anak demam. Tidak peduli—atau peduli, tapi harus pergi.
"Pak," Mahesa memanggil saat ayah berdiri.
Ayah menoleh. Di kegelapan. "Iya, Mas?"
"Jangan... jangan lupa makan."
Ayah diam. Sejenak. Lalu berkata: "Kamu juga. Minum. Banyak."
Ayah pergi. Langkah kaki berat. Lelah. Yang akan bekerja delapan jam di tambang. Untuk apa? Untuk ini? Untuk malam-malam seperti ini?
Mahesa sendiri. Benar-benar sendiri. Ibu dan Bima di kasur gantung. Ayah di tambang. Hujan di atap. Demam di tubuh.
Tapi ada sesuatu. Di tangan kirinya. Yang tidak ia sadari sebelumnya.
Kain basah. Yang tadi ayah letakkan di kakinya. Yang jatuh. Yang ia genggam sekarang.
Masih basah. Masih dingin. Masih milik ayah. Masih bukti bahwa seseorang ada. Bahwa seseorang mempedulikan. Bahwa—meski singkat, meski harus pergi, meski tak bisa lebih—ada yang mencoba.
Mahesa meletakkan kain itu di dahi lagi. Sendiri. Tanpa ayah. Tapi dengan kain yang sama. Dengan air yang sama. Dengan sesuatu yang ditinggalkan.
Pagi datang perlahan. Abu-abu di jendela. Ayam berkokok tak peduli siapa yang sakit.
Mahesa melihat ke atas. Ke kasur gantung. Ibu dan Bima masih tidur. Bima dengan senyum—mungkin mimpi indah. Ibu dengan wajah lelah—mungkin mimpi sama dengan kenyataan.
Ia melihat ke kain di tangannya. Yang sudah hangat sekarang. Tak berguna lagi sebagai kompres.
Tapi ia menyimpannya. Di samping tikar. Di pojok paling kering.
Karena itu bukan sekadar kain. Bukan sekadar air.
Itu adalah... malam yang terlewati. Satu malam lagi. Satu demam lagi. Satu pelukan singkat lagi.
Dan ia masih di sini. Masih bernapas. Masih bisa melihat pagi.
Kakinya masih besar. Masih panas. Masih berat.
Tapi ia masih bisa melihat. Masih bisa menyimpan kain basah. Masih bisa menunggu ayah pulang.
Pintu berderit. Ibu bangun. Melihat Mahesa masih terbaring dengan mata terbuka.
"Belum tidur?" tanya ibu. Nadanya bukan tanya. Hanya ucapan.
"Sudah, Bu. Cuma bangun lagi."
Ibu mendekat. Melihat kain basah di samping Mahesa. Mengambilnya. Memeras. "Ini sudah kering. Mau ganti?"
Mahesa menggeleng. "Nggak usah, Bu. Ibu istirahat saja."
Ibu diam. Memandang Mahesa. Lama. Seperti melihat sesuatu yang asing. Lalu berkata: "Nanti siang Ibu ke warung Bu RT. Minta minyak kayu putih."
Mahesa terkejut. Minyak kayu putih. Barang mewah. Hanya untuk Bima kalau demam.
"Bu... buat Bima?"
Ibu menggeleng. "Buat kamu."
Hanya dua kata. Tapi rasanya seperti dunia berhenti.
Ibu berbalik. Kembali ke kasur gantung. Meninggalkan Mahesa dengan kata-kata yang menggantung di udara.
Buat kamu.
Mahesa memegang kain basah itu erat. Memejamkan mata.
Mungkin kata ayah benar. Besok sembuh. Atau tidak hari ini. Tapi mungkin—mungkin—ada yang berubah. Mungkin ibu masih ingat. Mungkin ia masih anaknya. Mungkin...
Air mata lagi. Tapi kali bukan karena sakit. Bukan karena demam.
Karena... karena sesuatu yang hampir ia lupa rasanya.
Karena harapan.
Di luar, hujan reda. Sinar matahari pertama menyelinap masuk melalui celah dinding. Mahesa melihatnya. Hangat. Meski belum sampai ke pojoknya.
Tapi mungkin nanti. Mungkin.
Ia berbaring. Memeluk kain basah itu. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia bisa tidur.
Dengan senyum kecil di bibir. Dengan keyakinan kecil di hati.
Bahwa ia masih ada. Masih dilihat. Masih... anak.
Tiga jam kemudian, Mahesa terbangun oleh suara ibu.
"Mahesa!" Ibu memanggil dari pintu. "Aku pergi ke warung. Jaga Bima!"
Mahesa membuka mata. Mengangguk. Ibu sudah pergi. Cepat. Dengan langkah yang tidak biasa. Seperti... terburu-buru. Seperti... peduli.
Ia tersenyum. Meski tubuh masih panas. Meski kaki masih berat.
Karena hari ini berbeda. Hari ini ibu pergi untuknya.
Ia melihat ke kasur gantung. Bima masih tidur. Dengkur kecil. Tangan menggenggam selimut.
Mahesa duduk. Perlahan. Kaki kanan digerakkan hati-hati. Sakit. Tapi bisa.
Mungkin besok benar-benar sembuh. Mungkin ibu tahu obatnya. Mungkin minyak kayu putih bisa.
Harapan itu kecil. Tapi cukup. Untuk membuatnya bertahan. Untuk membuatnya percaya bahwa dunia tidak sepenuhnya gelap.
Di luar, matahari semakin tinggi. Ayam berkokok lagi. Tapi kali ini tidak seperti ejekan. Seperti... salam. Seperti... selamat pagi.
Mahesa membalas dalam hati: Selamat pagi, dunia. Aku masih di sini.