Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Fajar baru saja menyapa di ufuk timur, dingin masih meraba kulit Xiao Han. Namun embun, seperti ingin pergi dari sinar mentari yang cerah di pagi ini.
“Kau, Xiao Han ... kau lebih seperti scout daripada asisten pelatih,” kalimat itu dilayangkan seseorang ketika Xiao Han berputar badan 360 derajat. Dia yang tak lain si pria paruh baya dengan rambutnya yang mulai memutih.
“Coach Chen,” sapa Xiao Han. “Selamat pagi.”
“Hmm, aku masih tak percaya kemampuanmu untuk membantuku melatih murid-muridku,” timpal Chen Hao.
“Maaf?”
Tak lama, Chen Hao menghela napas panjangnya. Seakan udara dapat mengusir seluruh beban di dadanya saat dihembuskan perlahan.
“Tapi, aku yang memintamu, ke pacarmu itu setelah dia datang kepadaku.” Chen Hao menyilangkan tangan. “Kau tahu, aku punya masalah tahun kemarin karena nilai akademis sekolah ini meningkatkan standarnya.”
Xiao Han hanya diam, bukan karena penjelasannya, tapi karena. Mengapa dia mengira aku dan Shen Yuexi berpacaran? Di dalam hatinya.
“Aku mulai skeptis untuk melatih, anak-anak lebih mementingkan nilai daripada ekskul, ya itu kewajiban mereka juga,” lanjut Chen Hao. “Konsekuensi yang kuterima? Murid baru enggan masuk ke sepak bola, bukan hanya ekskul ini, tapi yang lain juga.”
Xiao Han akhirnya mengerti, mengapa sepak bola hampir seperti di anak-tirikan oleh sekolah. Dia bertanya, “Apa mungkin ... lima murid yang disebutkan Ibu Ya Lin ada hubungannya?”
“Ya, kau benar ... senior mereka lulus dan mereka yang tersisa.” Chen Hao melangkah menuju bangku panjang yang lapuk, lalu duduk. “Akan gawat jika mereka menghentikan ekskul ini karena kekurangan murid produktif.”
Derap langkah Xiao Han menghampiri Chen Hao. “Coach ... aku memang tak punya pengalaman,” katanya. “Tapi aku punya tekad untuk sepak bola.”
Chen Hao melirik mata Xiao Han, ada keseriusan di sana yang tergambar. “Kenapa? Ini hanya pekerjaan kita saja, kau tak perlu seserius itu, kita hanya perlu menghidupkan ekskul.”
“Gajiku memang tidak seberapa, tapi aku mencintai sepak bola, aku akan menjadi seorang pelatih nanti.”
Seringai dari bibir Chen Hao menaikan dirinya. “Bodoh, aku yang sudah berumur saja, masih sulit untuk lisensi kelas B. Tahu apa kau tentang menjadi pelatih.”
Chen Hao berdiri. “Kau ... jika kau memang serius, masukan nanti lima murid baru berbakat dalam dua minggu, akan aku akui kau sebagai yang jeli pada calon pemain, mata seorang pelatih harus punya itu.”
Coach pun pergi melangkah, namun ia terhenti di tengah-tengah. “Ahh ... aku lupa, datanglah jam 12 siang, itu jam waktu istirahat sekolah. Ekskul dimulai jam 2 setelah selesai jam kegiatan belajar-mengajar. Akan ada rapat tahun ajaran baru nanti oleh Bu Ya Lin.”
Ding.
[ Event Time : Cari 16 pemain berbakat ]
[ Hadiah : 100 Exp ]
Derap langkah Chen Hao semakin menjauh, perlahan lenyap dari pandangannya. Sedangkan Xiao Han membeku, bukan karena perkataan tadi.
Tapi karena sistem.
Yang benar saja ... 16 pemain? Satu saja aku bingung.
Dia akhirnya duduk di kursi panjang yang lapuk, lapangan beton itu dijadikan tempat kontemplasi yang sempurna. Dirinya melabuhkan pikiran pada misi-misi sistem. Bukan hanya semata misi, tapi kontrak 30 hari yang diberikan Ya Lin kepada dirinya.
Jika aku Shen Yuexi, apa yang harus aku lakukan?
Xiao Han bertanya pada senyap, namun hanya napas dirinya yang menjawab. Bayang wajah Shen Yuexi pun bertamu di halaman imajinya. Suaranya seakan menyelinap di antara garis-garis waktu kini dan yang lalu—Aku percaya padamu, Han—kala itu, di ruang inap yang tersulam aroma antiseptik.
Selain misi yang diberikan sistem, kepalanya juga terus berputar tentang data statistik Chen Hao sebelum dirinya pergi meninggalkan Xiao Han.
—PoV Xiao Han—
Aku tidak tahu apa yang mendorongku menatap Coach Chen terlalu lama saat bercengkrama dengannya. Mungkin karena sikapnya yang dingin tapi matanya menyimpan sesuatu. Atau mungkin karena sistem di kepalaku tiba-tiba berdesir pelan, seperti radar yang mendeteksi target.
Layar biru keemasan itu muncul sebelum dirinya pergi meninggalkanku, kali ini dengan data yang lebih kompleks dari biasanya.
Apa sebenarnya yang tadi itu?
Datanya bukan seperti tampilan pemain.
Tapi, seperti data statistik diriku.
Aku menyimpan datanya di dalam inventarisku. Sejauh ini, fungsi inventaris tak hanya menyimpan benda fisik yang di dapat dari sistem. Tapi data seseorang jika aku tidak bertatapan dengan mereka.
...\=~\=~\=~\=~\=~\=...
...Nama: Chen Hao...
...Status: Pelatih Kepala...
...Lisensi: Lisensi B – CFA (Asosiasi Sepak Bola China)...
...Pengalaman: 12 tahun...
...Level Kepelatihan: Profesional...
...Parameter Nilai Keterangan...
...Visi Taktis 78/100...
...Manajemen Pemain 55/100...
...Analisis Lawan 72/100...
...Komunikasi 40/100...
...Motivasi Internal 25/100...
...Pengembangan Pemain Muda 65/100...
...\=~\=~\=~\=~\=~\=...
Aku membaca angka-angka itu satu per satu. Awalnya aku membelalak karena angka 78 di Visi Taktis, 72 di Analisis Lawan, angka yang bahkan tidak pernah aku impikan untuk kumiliki. Tapi semakin ke bawah, senyum di bibirku perlahan mengeras.
Manajemen Pemain 55. Komunikasi 40. Dan yang paling menusuk …
Motivasi Internal 25.
Angka itu terasa seperti pisau yang menyayat dadaku. Bukan karena aku kasihan pada Coach Chen, tapi karena aku tahu persis bagaimana rasanya kehilangan motivasi.
Aku ingat betul saat di rumah sakit, ketika layar televisi menunjukkan gol kelima Lu Gacheng. Saat itu, motivasiku mungkin bahkan tidak sampai 10. Aku ingin menyerah. Aku hampir menyerah.
Tapi Coach Chen sudah bertahan dua belas tahun, setidaknya itu yang aku tahu setelah mencari tahu jenjang karirnya tiga hari belakangan ini. Dan angka 25 itu berkata bahwa ia sudah terlalu lama hidup tanpa api.
“Coach,” aku hampir berucap. Tapi aku menahannya.
Sistem masih bergantung di ujung pandanganku dari inventaris yang kupilih.
Entah mengapa aku mengingat salah satu pelatih Arsenal, Mikel Arteta.
Mikel Arteta menurutku dia ... memiliki kondisi khusus.
Aku bisa berasumsi bahwa dirinya sedang mengalami kondisi stagnasi.
Berapa tahun dia tidak mengembangkan diri? Apa potensi bisa meningkat kembali jika mendapatkan stimulasi baru?
Aku menelan ludah.
Ding!
[ Potensi: Host dapat menjadi katalis perubahan ]
Aku menatap punggung Chen Hao yang membelakangiku saat pergi. Lalu berhenti untuk mengingatkanku akan rapat.
Matanya ... kosong.
Angka 25 itu masih terbayang di kepalaku.
Aku merasa bahwa menjadi asisten pelatih di sekolah sekarat ini bukan hanya tentang membuktikan diriku.
Mungkin juga tentang membantunya mengingat siapa dirinya dulu.
“Hey ...” panggil seseorang, suaranya khas perempuan muda.
“Eughh?!” Sontak aku menoleh pada arah suara. Di hadapanku, sepasang mata ini langsung menyoroti pakaian blouse berwarna lembut yang jatuh rapi mengikuti garis tubuhnya, dipadukan dengan rok sepaha yang memberi kesan profesional sekaligus elegan. Sepasang stocking tipis berwarna netral membungkus kakinya, menambah sentuhan formal yang halus tanpa berlebihan.
“Iya Bu?”
“Siapa yang kau panggil ibu?!” katanya sembari membenarkan rambut hitamnya yang panjang dan klimis halus dipandang. “Aku masih 18 tahun!!”
Alisku berkedut, sedikit kesal mendengar nada tingginya.
Apa lagi sekarang?
“Kau yang melamar menjadi asisten si Chen Hao itu, kan? Sebaiknya, hentikan ... Sepak Bola tak ada artinya untuk murid-murid.”
“Hahh ...” Aku bangkit dengan keluhan napas yang panjang. “Hey ... kita baru berjumpa, dan aku tidak mengenalmu, tapi aku tahu ... kau menyebalkan,” kataku mengemasi barang-barang yang kubawa lalu pergi. “Sampai jumpa, cewek montok.”
“A-APA?!”
Abaikan semua orang, abaikan saja. Fokusmu hanya satu Xiao Han ... hanya satu.
Mengembangkan sepak bola di Hangzhou Xuejun Middle School, walau dunia tak berpihak sekalipun, aku akan terus menggiring si kulit bundar sampai ke dalam gawang.