NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 — Kesadaran yang Terlambat

"Pelan-pelan, Alice... jangan sampai kau memecahkan sesuatu dan membangunkan singa itu."

Alice berbisik pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tenggelam oleh dengung kulkas tua di sudut ruangan. Ia melirik ke arah ruang tengah melalui celah rak dapur. Di sana, di atas sofa abu-abu yang kaku, Leon tampak mematung. Kepalanya bersandar pada dinding beton, kedua tangannya terlipat di depan dada dengan jemari yang masih berada dekat dengan holster senjatanya di pinggang.

Ini adalah pemandangan yang aneh bagi Alice. Selama beberapa hari mengenal pria itu, ia belum pernah melihat Leon benar-benar memejamkan mata. Leon selalu tampak seperti mesin yang terus menyala, waspada terhadap getaran sekecil apa pun. Namun pagi ini, napas pria itu terdengar lebih dalam dan teratur. Ada jejak kelelahan yang sangat manusiawi di wajahnya yang biasanya kaku.

"Kau benar-benar manusia, ya?" gumam Alice lagi, hampir tidak terdengar.

Ia berbalik kembali ke arah konter dapur yang sempit. Alice meraih sebuah panci logam besar yang baru saja dibelikan Leon kemarin. Ia berniat merebus air untuk membuat kopi, sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh mereka berdua setelah pelarian berdarah dari klinik. Alice bergerak dengan sangat hati-hati, memastikan setiap gesekan logam tidak menimbulkan bunyi nyaring. Sebagai seorang dokter, ia tahu tanda-tanda kelelahan ekstrem. Ia melihat kantung mata Leon yang menggelap dan cara bahu pria itu merosot saat ia akhirnya menyerah pada kantuk.

Namun, nasib berkata lain. Saat Alice mencoba meraih stoples kopi di rak atas, ujung apronnya tersangkut pada gagang panci yang diletakkan terlalu pinggir.

PRANG!

Bunyi logam yang menghantam lantai beton meledak di kesunyian apartemen itu seperti dentuman granat di ruang hampa. Suaranya bergema, memantul di dinding-dinding tanpa dekorasi, menciptakan kebisingan yang menyakitkan telinga.

"Sial!" Alice memekik, tangannya menutup mulut secara refleks.

Dalam waktu kurang dari sepersekian detik, sofa di ruang tengah itu sudah kosong.

Leon tidak terbangun seperti orang normal yang mengerjap bingung atau menguap pelan. Ia meledak dari posisinya. Pupil matanya mengecil tajam saat adrenalin membanjiri sistem sarafnya dengan kekuatan yang mendadak. Tanpa sadar, jemarinya melakukan gerakan yang sudah terkunci dalam memori otot selama bertahun-tahun.

Sret! Klik!

Leon sudah berada di ambang pintu dapur dengan posisi merunduk rendah. Pistol Glock-17 di tangan kanannya terarah tepat ke arah dada Alice, jemarinya menekan pelatuk hingga titik picunya hampir lepas. Di tangan kirinya, sebuah pisau taktis berkilat dingin, siap untuk dihujamkan ke titik vital lawan.

"Keluar! Tunjukkan tanganmu atau aku tembak!" Leon berteriak. Suaranya bukan lagi suara Leon yang Alice kenal; itu adalah suara predator yang terpojok, serak, liar, dan penuh ancaman murni.

Alice membeku. Seluruh tubuhnya mendadak lumpuh oleh rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Ia melihat moncong senjata hitam itu bergetar sedikit karena napas Leon yang memburu. Di mata Leon, Alice tidak melihat pengenalan. Ia melihat kehampaan, sebuah insting untuk memusnahkan ancaman yang ada di depan mata sebelum ancaman itu memusnahkannya.

"Leon! Ini aku! Alice!" Alice berteriak, suaranya melengking karena ketakutan yang murni. Kedua tangannya terangkat tinggi ke udara, jemarinya gemetar hebat. "Tolong... jangan tembak! Ini hanya aku!"

Keheningan yang mencekam menyelimuti dapur itu selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Hanya suara panci yang masih bergetar pelan di lantai, mengeluarkan bunyi berdengung yang ironis di tengah ketegangan maut.

Leon mengerjap. Pelan-pelan, kabut merah di matanya mulai memudar. Fokusnya kembali ke realitas. Ia melihat Alice yang gemetar, melihat apron yang sedikit berantakan, dan melihat ketakutan yang terpancar jelas dari mata dokter itu.

"Alice?" Leon berbisik, suaranya pecah dan tidak stabil.

Ia segera menurunkan senjatanya. Dengan gerakan yang kaku, ia memasukkan kembali Glock-nya ke holster dan menyembunyikan pisaunya di balik pinggang. Leon mundur beberapa langkah, menabrak meja makan kayu hingga berderit. Wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini menunjukkan jejak horor. Ia menatap tangannya yang baru saja hampir merenggut nyawa satu-satunya orang yang seharusnya ia lindungi.

"Kau... kau hampir membunuhku," bisik Alice, suaranya serak. Ia menurunkan tangannya perlahan dan bersandar pada konter dapur, kakinya terasa seperti jeli yang tidak sanggup menopang berat badannya.

"Maaf," sahut Leon, napasnya masih tersengal. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Aku... aku pikir ada serangan masuk. Suara itu..."

"Itu panci, Leon," potong Alice, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri yang seolah ingin melompat keluar dari dada. "Hanya panci jatuh. Ya Tuhan, kau benar-benar tidak bisa tidur dengan normal, ya?"

Leon memalingkan muka, rahangnya mengencang hingga otot lehernya menonjol. "Aku tidak seharusnya tidur. Itu kesalahan fatal yang tidak boleh aku ulangi."

"Kau manusia, bukan mesin pembantai!" Alice berseru, kali ini ada nada marah yang dipicu oleh stres berlebih. "Kau tertidur selama hampir delapan jam! Aku melihatmu di sofa dan kau terlihat... sangat hancur. Aku tidak tega membangunkanmu, jadi aku membiarkannya. Aku pikir kau butuh istirahat manusiawi."

"Delapan jam?" Leon membelalak, ia menatap jam dinding dengan pandangan panik. "Aku offline selama delapan jam? Sialan!"

"Kenapa kau begitu marah hanya karena tubuhmu butuh istirahat?" tanya Alice, melangkah mendekat meski ia masih merasa waspada. "Dunia tidak kiamat hanya karena kau menutup mata sejenak, Leon."

"Kau tidak mengerti, Alice!" Leon menyapu wajahnya dengan kasar, napasnya masih menderu seperti mesin yang kelebihan beban. "Insting ini... ini bukan sesuatu yang bisa kunyalakan atau kumatikan sesukaku. Bertahun-tahun aku menempa diri di jalanan, melatih sarafku untuk merespons sebelum otakku sempat berpikir. Suara keras bagiku bukan sekadar gangguan, itu adalah deklarasi perang."

Ia menatap tangannya yang masih mengepal erat di sisi tubuh, buku-buku jarinya memutih. Di dalam kepalanya, Leon mengutuk dirinya sendiri karena telah membiarkan 'disiplin' yang ia bangun selama satu dekade hampir merenggut nyawa wanita di depannya. Baginya, kegagalan barusan bukan karena manipulasi biologis yang tidak ia ketahui, melainkan karena ia telah bertransformasi terlalu sempurna menjadi senjata hidup lewat latihan-latihan brutalnya.

"Tadi itu bukan rencana," lanjut Leon, suaranya rendah dan penuh penyesalan yang tertahan. "Itu adalah refleks murni. Jika aku terlambat menyadarinya tadi, peluruku sudah bersarang di dadamu bahkan sebelum aku tahu siapa yang berdiri di sana."

Alice terdiam. Ia memperhatikan gemetar halus di lengan Leon, sebuah manifestasi fisik dari ketegangan saraf yang mengerikan. Di mata Alice, pria di depannya ini adalah korban dari kehidupan yang terlalu kejam—seseorang yang dipaksa tumbuh dalam kedisiplinan militer yang melampaui batas kemanusiaan hingga rasa kantuk dianggap sebagai kelemahan yang mematikan. Ia melihat Leon sebagai pria yang terjebak dalam 'penjara kewaspadaan' yang ia ciptakan sendiri demi bertahan hidup.

Alice tidak tahu, dan Leon pun tidak menyadari, bahwa apa yang mereka saksikan bukanlah sekadar hasil latihan fisik. Jauh di dalam struktur DNA Leon, zat kimia dari pil eksperimen Helix bertahun-tahun lalu telah merajut ulang cara sarafnya bekerja, memberinya kecepatan yang mustahil dimiliki manusia biasa tanpa alat bantu.

"Tapi kau berhenti," Alice berkata lembut, suaranya kini lebih tenang, mencoba menembus dinding pertahanan Leon yang membeku. "Meskipun latihanmu menuntutmu untuk menghancurkan apa pun yang bergerak, kau berhenti tepat waktu. Itu artinya kau masih Leon, bukan sekadar bayangan yang kau ceritakan padaku."

Leon memalingkan muka, menatap ke arah jendela yang tertutup rapat oleh tirai gelap. "Aku hanya beruntung kali ini, Alice. Latihan yang aku jalani tidak mengenal belas kasihan, dan aku hampir membiarkan itu mengendalikan tanganku."

Alice melangkah mendekat, mengabaikan instingnya sendiri yang menyuruhnya untuk tetap menjaga jarak. "Latihan mungkin bisa membentuk otot dan kecepatan, tapi bukan latihan yang membuatmu menarik kembali tembakan itu di detik terakhir. Itu adalah nuranimu. Kau jauh lebih kuat dari disiplin gila yang kau pelajari selama ini."

Leon terdiam, merasa kata-kata Alice menghantam sesuatu yang keras di dalam dadanya. Ia tetap pada keyakinannya bahwa ia adalah produk dari penderitaan yang ia pilih sendiri di dunia hitam, tanpa tahu bahwa ia adalah mahakarya bioteknologi yang dulu ayahnya Alice coba selamatkan dengan nyawa sebagai bayarannya.

Keheningan kembali menguasai dapur, namun kali ini tidak lagi terasa mencekam. Alice membungkuk, memungut panci logam yang menjadi pemicu badai tadi. Bunyi gesekan logam di lantai beton membuat bahu Leon tersentak sedikit, sebuah bukti betapa tipisnya batas antara tenang dan siaga pada pria itu.

“Duduklah.” perintah Alice, kali ini lebih tegas namun tetap lembut. "Biarkan aku menyelesaikan kopinya. Dan tolong, letakkan tanganmu jauh-jauh dari pistol itu untuk sepuluh menit saja."

Leon ragu sejenak, namun akhirnya ia menarik kursi kayu itu dengan bunyi decit yang pendek. Ia duduk dengan punggung tegak, matanya terus memindai setiap sudut ruangan seolah-olah bayangan di sudut dapur bisa menerjangnya kapan saja.

Alice menyibukkan diri di depan kompor, tangannya masih sedikit gemetar saat menuangkan air panas ke dalam cangkir keramik. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dari moncong pistol yang tadi nyaris mencabut nyawanya. Sebagai dokter, ia tahu bahwa Leon sedang mengalami apa yang sering disebut hyper-vigilance, namun tingkat yang dimiliki Leon berada pada level yang tidak rasional.

"Apa kau selalu begini?" tanya Alice tanpa menoleh. "Apa kau tidak pernah merasa benar-benar... aman?"

Leon menatap cangkir kopi yang diletakkan Alice di depannya. Aroma pahit yang kuat menguar, sedikit menenangkan sarafnya yang tegang. "Aman adalah ilusi yang dijual kepada orang-orang yang tinggal di Distrik 1. Di duniaku, aman berarti kau sudah mati tapi belum menyadarinya."

"Itu cara hidup yang melelahkan, Leon."

"Itu satu-satunya cara hidup yang membuatku tetap ada di sini untuk melindungimu."

Alice menghela napas, ia duduk di hadapan Leon, menopang dagu dengan satu tangannya. Ia memperhatikan garis-garis lelah di wajah pria itu yang baru terlihat jelas di bawah cahaya lampu dapur yang remang. Ada kontradiksi yang besar pada Leon; seorang pembunuh yang efisien, namun memiliki rasa tanggung jawab yang menghancurkan dirinya sendiri.

"Aku mulai berpikir," kata Alice pelan, "bahwa hantu yang mereka bicarakan bukan kau, tapi kehidupan normal yang seharusnya kau miliki."

Leon baru saja hendak menyesap kopinya saat earpiece yang tersembunyi di balik telinganya tiba-tiba mengeluarkan suara statis yang menyakitkan.

Zzzzzt!

Suara Gray meledak di telinganya, penuh dengan urgensi yang belum pernah Leon dengar sebelumnya.

"Leon! Masuk! Kau dengar aku?! Sialan, sinyalmu baru saja muncul kembali di radar!"

Leon segera menekan tombol di earpiece-nya, wajahnya kembali menjadi kaku seperti batu. "Aku di sini, Gray. Apa yang terjadi?"

"Apa yang terjadi?! Kau offline selama delapan jam, bodoh! Helix baru saja melacak anomali transmisi di sektor pinggiran!" suara Gray bergetar karena panik. "Rook tidak menunggu fajar. Dia sudah memobilisasi unit penyisir 'Black-Ops' milik Helix. Mereka tidak menggunakan drone biasa kali ini, mereka menggunakan pelacak biometrik!"

Leon berdiri tegak, kursinya terdorong ke belakang dengan bunyi nyaring. "Berapa lama lagi?"

"Sepuluh menit! Mungkin kurang! Mereka sudah menutup perimeter dua kilometer dari koordinatmu!" teriak Gray. "Leon, mereka tahu kau ada di sana dengan subjek! Mereka diperintahkan untuk melakukan scorched earth (bumi hangus)! Tinggalkan tempat itu sekarang!"

Leon menatap Alice yang baru saja meletakkan cangkir kopi di depannya. Alice melihat perubahan drastis di wajah Leon dan segera menyadari bahwa waktu tenang mereka telah habis.

"Leon? Ada apa?" tanya Alice, suaranya mulai gemetar lagi.

Leon tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menyambar jaket taktisnya dan tas medis Alice dengan satu gerakan efisien. Ia menatap cangkir kopi yang masih mengepul, lalu menatap Alice.

"Kopinya harus menunggu," kata Leon sambil menarik tangan Alice dengan kuat menuju pintu keluar. "Para pemburu itu sudah ada di depan pintu."

Alice tersandung saat mengikuti langkah Leon yang cepat menuju motor di garasi bawah. Ia bertanya dengan napas tersengal, "Leon, bagaimana mereka bisa menemukan kita secepat ini?!"

Leon berhenti sejenak di depan pintu lipat garasi, tangannya sudah memegang tuas pengunci. Ia menoleh sedikit, matanya kembali sedingin es.

"Karena aku tertidur, Alice. Dan di dunia ini, tidur adalah undangan bagi maut untuk masuk.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!