NovelToon NovelToon
Married By Accident

Married By Accident

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu tak diundang 2

"Apa maksudnya semua ini? Kenapa orang ini bicara tentang aborsi dan janin? Jawab Mama!"

Bu Esta tak bisa menahan emosinya. Hanya mendengar perkataan Pak Umar saja sudah membuat otaknya mendidih. Apalagi jika Kaisar memberikan jawaban yang sama.

"Jawab Mama, Kaisar!" paksa Bu Esta. Suaranya semakin keras, menggema.

Kaisar menelan ludah.

Perlahan ia mengangkat wajah menatap ibunya. Matanya berkaca-kaca.

"Maaf, Ma..." ucapnya pelan. "Aku... menghamili Raline."

Degh!

Betapa terkejutnya Bu Esta mendengar pengakuan putranya sendiri.

Ruangan itu seketika hening.

Seolah waktu berhenti berdetak.

Bu Esta menatap Kaisar tanpa berkedip. Wajahnya perlahan memucat, sementara napasnya naik turun tak beraturan.

"Apa…?" suaranya nyaris tak terdengar. "Apa kamu bilang?"

Kaisar menunduk lagi. Ia tak berani mengulanginya, tapi diamnya sudah menjadi jawaban yang paling menyakitkan.

Bu Esta mundur satu langkah. Tangannya gemetar hebat.

Plakk!

Tamparan keras mendarat di pipi Kaisar.

Pemuda itu tak melawan. Kepalanya hanya berpaling ke samping, menerima tamparan itu tanpa protes sedikit pun.

"Anak tidak tahu diri!" suara Bu Esta bergetar antara marah dan hancur. "Mama didik kamu sebaik mungkin! Mama berusaha membuat kamu sama dengan ayahmu! Tapi ternyata ini balasan untuk Mama, hah?!"

Air mata mulai mengalir di pipinya.

"Kamu hancurkan hidup seorang gadis sekaligus menghancurkan Mama! Apa kamu sadar itu?!"

Kaisar memejamkan mata. Dadanya terasa sesak. Setiap kata ibunya seperti pisau yang menusuk tepat ke jantungnya.

"Maaf…" ucapnya lirih lagi. Suaranya pecah.

"Maaf?!" ulang Bu Esta dengan nada tak percaya. "Kata maaf tidak akan pernah cukup mengobati kekecewaan Mama, Kaisar! Percuma kamu terus meminta maaf meski ribuan kali!"

Tak ada jawaban.

Tak ada pembelaan.

Karena Kaisar sendiri tahu… tidak ada yang bisa membenarkan apa yang telah ia lakukan.

"Pantas saja kamu belakangan ini sering melamun," kata Bu Esta. "Ternyata ini yang kamu pikirkan? Ternyata masalahmu memang cukup membuat Mama merasa hancur!"

"Maaf, Ma..." Kaisar lagi-lagi hanya bisa meminta maaf, penuh penyesalan yang mendalam.

"Mama kecewa! Sangat kecewa!"

Bu Esta menangis pelan, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Ia sangat sedih, kecewa dan marah.

Kaisar yang berusaha ia jadikan sebagai pengganti almarhum suaminya justru malah membuat kesalahan besar yang membuatnya terluka.

Kaisar mengangkat kedua tangannya hendak menyentuh bahu ibunya. Tetapi ia merasa tak pantas. Kesalahannya lah yang menyebabkan ibunya menangis.

Suasana tegang terasa semakin kuat di ruangan itu. Tangisan Bu Esta dan Bu Dinar membuatnya semakin mencekam.

Bu Dinar yang sejak tadi berdiri di samping Raline memeluk putrinya erat. Raline kembali menunduk, tubuhnya gemetar pelan.

Air mata jatuh satu per satu tanpa suara.

Beberapa saat tanpa pembicaraan apapun, Pak Umar kembali maju dan mencengkeram kerah kaos Kaisar seperti tadi.

Tubuh Kaisar yang sama tinggi dengannya kini cukup merapat padanya, bahkan wajah mereka begitu dekat.

"Jadi, sekarang apa yang akan kamu lakukan untuk meredam semua ini?" tanyanya dengan rahang mengeras.

"Apa kamu bisa bertanggung jawab menikahi anak saya?"

Suara Pak Umar tidak sekeras tadi. Tapi cukup tegas dan kuat untuk menekan batin Kaisar.

Kaisar menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng kecil, tanda ia memberikan jawaban "tidak".

Sontak saja Pak Umar tersulut amarah yang jauh lebih besar.

"Apa?!" bentaknya.

Tanpa memberi kesempatan sedikit pun, tinjunya kembali melayang.

Bukkk!

Pukulan kedua itu menghantam wajah Kaisar lebih keras dari sebelumnya, tepat di pipi kirinya.

Tubuh Kaisar terhuyung.

Belum sempat ia menyeimbangkan diri, Pak Umar mendorong dadanya dengan kedua tangan penuh tenaga.

Brakkk!

Tubuh Kaisar tersungkur ke lantai. Punggungnya membentur keras permukaan marmer yang dingin. Napasnya tercekat sesaat, rasa sakit menjalar dari punggung hingga ke dada.

Darah kini bukan hanya mengalir dari hidungnya, tapi juga dari sudut bibirnya.

Bu Esta menjerit kaget.

"Astaga! Apa-apaan ini!!!"

Bu Dinar juga refleks menutup mulutnya, tak menyangka suaminya akan berbuat sejauh itu.

Namun yang paling terkejut adalah Raline.

Tanpa berpikir panjang, gadis itu berlari menghampiri Kaisar yang terjatuh.

"Kai!" suaranya bergetar.

Ia berlutut di lantai, lalu memeluk tubuh Kaisar yang masih setengah terbaring.

Tubuh Kaisar terasa lemah di pelukannya.

"Cukup, Pak!" teriak Raline tiba-tiba.

Semua orang terdiam.

Suara Raline pecah. Tangisnya tak terbendung lagi.

"Bapak gak boleh memperlakukan dia seperti ini!" lanjutnya dengan suara gemetar. "Ini kekerasan!"

Pak Umar membeku di tempatnya.

Ia menatap putrinya dengan tak percaya.

"Kamu… membelanya?" tanyanya pelan, tapi penuh tekanan.

Raline menggeleng cepat sambil menangis.

"Aku gak membela dia…" suaranya lirih dan hancur. "Tapi Bapak juga gak boleh menyakitinya seperti ini… Ini bisa jadi tindak pidana, Pak."

Tangannya masih mencengkeram baju Kaisar, seolah takut pemuda itu akan benar-benar hancur di hadapannya, oleh ayahnya sendiri.

Raline hanya tak mau ayahnya mendapatkan hukuman dari perbuatannya nanti. Ia akan semakin merasa bersalah jika itu terjadi.

Kaisar sendiri terdiam sambil merasakan sakit pada lukanya.

Ia merasakan tubuh Raline yang gemetar memeluknya.

Dadanya terasa semakin sesak.

Bukan karena pukulan dari ayahnya Raline, tapi karena kenyataan bahwa gadis yang telah ia sakiti… justru masih berusaha menghentikan orang lain menyakitinya.

"Lin..." gumam Kaisar pelan, suaranya serak.

Raline tidak menjawab.

Air matanya terus jatuh membasahi bahu Kaisar.

Pak Umar mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras.

"Kamu masih peduli padanya setelah semua yang dia lakukan padamu?!" bentaknya.

Raline memejamkan mata.

Beberapa detik ia hanya menangis.

Lalu dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berkata...

"Maaf kalo aku bikin Bapak kecewa dengan mencegah Bapak nyakitin dia…"

Semua orang terdiam.

Raline melanjutkan, suaranya pecah.

"Tapi… aku lebih takut kalo Bapak dilaporkan. Aku gak mau Bapak masuk penjara karena memukuli dia."

Raline terisak, menghapus air matanya dengan tangan.

"Udah aku bilang dari awal kalo dia gak mau tanggung jawab," katanya. "Sekarang Bapak udah tau sendiri jawabannya. Jadi, sekarang kita pulang aja, Pak... Kita gak usah memperpanjang masalah ini."

"Aku... aku anggap bapak anak ini udah mati," tambahnya dengan dada sesak.

Kalimat itu menghantam Kaisar jauh lebih keras daripada pukulan apa pun.

Ia membeku. Matanya melebar.

Ternyata Raline benar-benar telah menganggapnya mati. Pembicaraan mereka kala itu bukan isapan jempol semata.

Raline melepas pelukannya dari Kaisar.

Ia menatap pemuda itu dengan mata yang basah.

"Sorry, Kai. Gue gak nyangka ini bakal terjadi lebih parah dari yang gue bayangin," ucapnya lirih. " Gue harap lo gak akan bawa masalah ini ke jalur hukum. Jangan laporin Bokap gue. Sebagai gantinya, gue gak akan nuntut tanggung jawab dari lo lagi."

Semua orang tercengang. Kaisar tertegun mendengar permintaan Raline.

Begitu juga dengan Pak Umar yang tak menyangka putrinya akan lebih memilih membela dirinya daripada terus menuntut tanggung jawab dari Kaisar.

"Tapi, Neng..." ucap Pak Umar, ingin menolak apa yang diputuskan putrinya.

Namun, Raline menggelengkan kepala dan membantu Kaisar berdiri.

Ia menjauhi Kaisar lalu menghampiri ayahnya.

Sambil menahan tangisnya ia berkata, "Ayo pulang, Pak... Jangan menuntut keadilan kepada orang yang lebih kaya dari kita. Hukum di negara ini akan tunduk pada orang-orang memiliki segalanya meski kita benar."

"Biarkan Tuhan yang membalas dengan cara-Nya."

Raline meraih tangan orang tuanya, menggenggamnya erat dan berusaha tersenyum.

"Biar aku yang tanggung semuanya, Pak, Bu... Ini murni kesalahanku. Kalian gak pantas menerima balasan apapun."

Raline menoleh pada Bu Esta yang kini memeluk Kaisar. Kemudian ia berkata, "Bu, maaf atas apa yang terjadi. Tolong, masalah ini cukup sampai di sini saja. Tolong jangan laporkan orang tua saya. Saya tidak akan terima jika sampai itu terjadi."

Setelah itu, ia menggandeng tangan kedua orang tuanya dan mengajak mereka keluar dari rumah besar itu.

Pintu terbuka lebar, Raline dan orang tuanya melangkah keluar meninggalkan ketegangan yang masih menggantung di udara.

Tanpa menoleh. Tanpa mempedulikan reaksi pemilik rumah.

Kaisar menatap punggung mereka menjauh, tidak bisa mencegah Raline pergi. Tubuhnya masih merasa sakit, rasanya seperti remuk bersamaan dengan hatinya.

Sejenak ia hanya diam memandangi kepergian mereka tanpa bisa berbuat apa-apa. Tapi ketika ia sadar ini kesempatan terakhirnya, ia melepaskan tangan ibunya dan berlari menyusul mereka.

"Raline!"

Ia memanggil Raline.

Namun gadis itu enggan menoleh. Ia melangkah lebih cepat hingga sampai di motor ayahnya yang terparkir di halaman.

Tak membuang waktu lama, Raline dan orang tuanya sudah naik motor. Lalu motor pun bergerak keluar dari halaman rumah itu, meninggalkan Kaisar yang terlambat menyadari bahwa ini mungkin kesempatan terakhirnya untuk memperbaiki keadaan.

Bersambung...

1
Nurul Hilmi
ganteng amat visual kai Thor,,, 😍
Nurul Hilmi
mulai... mulai... kai... lama lama ❤😘
Nurul Hilmi
lanjut Thor.
bacanya Brebes mili
Yantie Narnoe
lanjut...👍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double up Thor
bagus ini cerita😍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
lelaki juga kaisar. gentle dan bertanggung jawab
deeRa
Lepas Dari Kai, kamu & anakmu harus bahagia ya Lin... 😊
deeRa
no comment, ikut alur nya saja😊
next ya
falea sezi
cpet cerai kalo. abis lahiran. ortu. kaisar. toxic
Nurul Hilmi
jangan kasih cinta buat kaisar lin. biar die nyesel😄
Lisdaa Rustandy: cinta akan hadir saat waktu terus berjalan. bahkan saya yg menikah tanpa cinta aja sekarang jadi bucin🤣
total 1 replies
Nurul Hilmi
anak jangan dikasih orang lain, tetep raline yang rawat...
deeRa
Ganbatee Lin💪😊
falea sezi
jangan mau pergi jauh dr situ besarin anak sendiri ibunya egois cucu kandung mau di buang dajjal bgt ne orang
deeRa
Nyesek ya jd raline, 🥺
ROSULA DARWATI
kasihan Raline
Melinda Cen
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!