NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Bintang

Istri Rahasia Sang Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cinta Seiring Waktu / Pernikahan rahasia / Dokter
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Malam turun dengan tenang di atas langit Jakarta. Lampu-lampu taman vila menyala hangat, memantulkan cahaya ke daun-daun yang bergerak pelan tertiup angin. Suara kota masih ada di kejauhan, samar—seperti dunia lain yang tidak ikut masuk ke dalam pagar tinggi tempat mereka berada.

Setelah makan malam yang sempat terasa tegang, suasana perlahan berubah. Tidak sepenuhnya ringan, tapi… cukup untuk bernapas.

Di teras samping vila, sebuah kursi santai panjang menghadap langsung ke taman. Selena dan Elvano duduk di sana, berbagi satu selimut tipis yang menutupi kaki mereka.

Selena bersandar di dada Elvano, posisi yang awalnya terasa canggung, tapi kini… justru terasa natural. Di tangannya, sebuah buku terbuka. Sementara Elvano di sampingnya, bersandar santai dengan iPad di tangan, menelusuri jadwal, skrip, dan beberapa laporan dari Zenithra.

Suasana itu sunyi, tidak ada yang ingin dibicarakan. Tapi karena mereka… mulai nyaman dengan kehadiran satu sama lain tanpa harus selalu mengisi.

Beberapa menit berlalu. Hingga akhirnya—“Begini ya rasanya menikah,” ucap Elvano tiba-tiba.

Suaranya rendah, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri. Selena yang sedang membaca langsung berhenti. Ia mendongakkan kepala, menatap wajah Elvano dari bawah.

“Begini bagaimana?” tanya Selena, alisnya sedikit terangkat, senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

Elvano tidak langsung menjawab. Ia menutup iPadnya pelan, lalu meletakkannya di samping. Matanya menatap ke arah taman, seolah mencari kata yang tepat.

“Biasanya… aku melakukan semuanya sendiri,” katanya akhirnya. “Pulang ke rumah, ya cuma tempat istirahat. Tidak ada yang benar-benar… menunggu.”

Selena diam, mendengarkan.

“Sekarang beda,” lanjut Elvano. “Ada yang… aku pikirkan saat di rumah.”

Selena memiringkan kepala, pura-pura serius. “Memangnya biasanya kamu mikirin apa?” tanyanya santai. “Atau jangan-jangan… nggak pernah mikir?” Nada suaranya ringan, ada sedikit godaan di dalamnya.

Elvano menoleh pelan, menatap Selena. “Bukan begitu,” jawabnya tenang.

“Terus?” kejar Selena, masih dengan senyum jahil.

Elvano menarik napas pendek, lalu menjawab dengan datar—tapi justru itu yang membuatnya terasa jujur.

“Kalau dulu… yang ada cuma kerja,” ucapnya. “Sekarang… yang kepikiran itu kamu.”

Selena terdiam sepersekian detik. Lalu—ia tertawa. Tawa yang tidak dibuat-buat.

“Lucu ya kamu kalau ngomong kayak gitu langsung,” kata Selena sambil menggeleng kecil. “Ini asli? Atau lagi latihan akting?”

Elvano menatapnya tanpa ekspresi berlebihan. “Asli,” jawabnya singkat. “Aku nggak punya alasan buat pura-pura di rumah.”

Selena menatapnya beberapa detik lebih lama. Entah kenapa… ia tidak menemukan kebohongan di sana dan itu justru membuat dadanya sedikit berdebar.

Selena segera mengalihkan pandangan, pura-pura kembali ke bukunya.

“Iya deh… aku percaya,” gumamnya.

Hening kembali turun. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda, lebih hangat, lebih… dekat.

Beberapa saat kemudian, Elvano kembali bersuara. “Kita harus punya panggilan,” ucapnya.

Selena langsung berhenti membaca. “Hah?” ia menoleh cepat. “Panggilan apa?”

“Panggilan sayang,” jawab Elvano santai.

Selena mengerjap. Wajahnya berubah sedikit serius, seolah benar-benar mempertimbangkan.

“Hm…” gumamnya pelan. “Iya juga ya…”

Ia mengangkat tubuhnya sedikit, berpindah posisi agar bisa duduk lebih tegak, tapi tetap bersandar pada Elvano.

“Kalau gitu…” katanya sambil berpikir keras. “Aku panggil kamu… Om CEO.”

Elvano langsung menoleh. “Om?” ulangnya datar.

Selena menahan tawa. “Iya kan kamu lebih tua delapan tahun,” jawabnya polos.

Elvano menghela napas pelan, jelas tidak setuju. “Tidak,” katanya tegas.

Selena terkikik.

“Ya sudah… Daddy?” lanjutnya tanpa dosa.

Elvano menutup mata sebentar, seperti sedang menahan sesuatu.

“Selena,” panggilnya pelan, nada suaranya mulai berubah.

“Iya?” Selena menatapnya polos.

“Itu tidak lucu,” kata Elvano.

Selena malah makin tertawa. “Serius, itu trending loh sekarang,” balasnya santai.

“Aku tidak ikut tren,” jawab Elvano singkat.

“Ya ampun, kaku banget sih kamu,” Selena menggeleng sambil tertawa kecil. “Oke oke… aku cari yang lain.”

Ia berpikir lagi, kali ini benar-benar serius.

Beberapa detik. Lalu—“Hmm… El?” katanya.

Elvano menatapnya. “Itu cuma nama,” komentarnya.

Selena mendesah. “Susah juga ya…” gumamnya.

Elvano menatap Selena beberapa saat. Lalu, tanpa banyak ekspresi—“Sugar,” ucapnya.

Selena membeku. “Hah?” ia menoleh cepat.

Elvano tetap tenang. “Itu cocok buat kamu,” lanjutnya. “Manis, kamu selalu bawa suasana jadi… lebih manis dan hidup.”

Selena menatapnya.

Detik itu terasa sedikit lebih lama dari biasanya.

“Sugar?” ulang Selena pelan.

Elvano mengangguk tipis. “Iya.”

Selena tersenyum kecil. Ada sesuatu yang menghangat di dalam dirinya, tapi ia berusaha menyembunyikannya dengan candaan.

“Berarti aku manggil kamu apa dong?” tanyanya.

Elvano berpikir sebentar. “Bebas,” jawabnya.

Selena menyipitkan mata. “Enak banget jawabannya,” protesnya.

Elvano sedikit mengangkat bahu. “Aku tidak terlalu peduli dipanggil apa. Selama dari kamu.”

Selena terdiam lagi, kali ini… ia tidak tertawa. Ia hanya menatap Elvano, mencoba membaca sesuatu yang sulit dijelaskan. Lalu perlahan, senyum kecil muncul di wajahnya.

“Ya sudah…” katanya pelan. “Aku panggil kamu… El aja.”

Elvano menatapnya. “Kenapa?” tanyanya.

Selena mengangkat bahu. “Karena itu… paling natural,” jawabnya. “Nggak dibuat-buat.”

Elvano tidak langsung menjawab. Namun kali ini—ia tidak menolak.

“Baik,” ucapnya singkat.

Selena kembali bersandar di dadanya, menarik selimut sedikit lebih tinggi.

Suasana kembali tenang, angin malam berhembus lembut. Taman di depan mereka tampak seperti lukisan yang hidup.

**

Langit Jakarta masih berwarna pucat saat ia membuka mata. Beberapa detik pertama terasa hening—terlalu hening untuk sebuah malam yang sebelumnya dipenuhi ketegangan.

Selena menoleh pelan. Di sampingnya, Elvano masih terlelap. Wajah pria itu tampak lebih tenang dibandingkan biasanya. Tidak ada sorot tajam, tidak ada beban yang terlihat. Hanya seseorang yang… akhirnya benar-benar tidur.

Selena menatapnya lebih lama dari yang ia sadari. Rambutnya sedikit berantakan, napasnya teratur. Ada sisi yang jarang dilihat orang lain—dan entah kenapa, Selena merasa beruntung bisa melihatnya.

Ia mengalihkan pandangan cepat, seolah takut ketahuan oleh pikirannya sendiri. Perlahan, Selena bangkit dari ranjang. Ia berusaha tidak menimbulkan suara, mengambil cardigan tipis, lalu berjalan keluar kamar.

Begitu pintu tertutup pelan di belakangnya, Selena menghela napas panjang. Turun ke lantai bawah, aroma rumah yang masih segar menyambutnya. Dapur sudah mulai hidup, Bi Rima tampak sibuk di dekat kompor.

“Selamat pagi, Nona,” sapa Bi Rima ramah begitu melihatnya.

Selena langsung tersenyum. “Pagi, Bi,” balasnya hangat.

Ia berjalan mendekat sambil mengikat rambutnya asal, gerakan sederhana yang membuatnya terlihat jauh dari citra “Dr. Sunshine” di layar—lebih manusia, lebih santai.

“Bi, mulai pagi ini… aku yang masak untuk Elvano ya,” ucap Selena.

Bi Rima berhenti sejenak, menoleh. “Untuk Tuan muda?” tanyanya memastikan.

Selena mengangguk. “Iya. Kondisinya belum stabil. Aku harus kontrol langsung makanannya,” jelas Selena, suaranya lembut tapi tegas.

Bi Rima mengangguk paham. “Baik, Nona.”

“Bibi, hanya perlu siapkan makanan untuk saya, Pak Hari, dan Bibi sendiri,” jawabnya.

“Iya, Nona.”

Selena tersenyum. “Terima kasih, ya Bi.”

Setelah itu, dapur terbagi dalam dua ritme. Bi Rima di satu sisi dan Selena di sisi lain. Namun cara mereka bekerja… berbeda. Bi Rima memasak seperti biasa.

Sementara Selena—ia memasak dengan perhitungan. Selena membuka kulkas, mengambil beberapa bahan yang sudah ia siapkan sejak semalam. Tangannya bergerak cepat, tapi terarah. Setiap bahan dipilih, ditimbang, bahkan cara memotongnya pun tidak asal.

Ia menghela napas pelan, lalu mulai bekerja. “Untuk hari ini…” gumamnya kecil, lebih pada dirinya sendiri.

Menu pagi Elvano bukan sekadar sarapan, itu bagian dari terapi. Gangguan metabolisme yang dialami Elvano bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan obat instan. Stres kronis yang bertahun-tahun ia pendam perlahan mengacaukan sistem tubuhnya—hormon, pencernaan, bahkan pola energi.

Selena sudah menanganinya hampir satu bulan. Dan ia tahu—pria itu tidak mudah diatur.

“Aku juga keras kepala ya…” gumamnya sambil tersenyum kecil.

Selena pun mulai memasak. Oat yang dimasak perlahan dengan susu rendah lemak, dicampur dengan potongan buah segar dan sedikit kacang untuk tambahan protein. Di sisi lain, ia menyiapkan telur dengan teknik khusus—tanpa minyak berlebih, tetap menjaga tekstur dan rasa. Semua terlihat sederhana tapi tidak ada yang asal.

Beberapa menit kemudian, aroma hangat memenuhi dapur. Selena mematikan kompor, lalu menyusun makanan di atas piring dengan rapi.

“Good,” pujinya pada hasil masakannya sendiri.

“Bi, tolong pindahkan ke meja makan, ya. Saya mau membangunkan Elvano dulu.”

“Iya, Nona.”

Selena pun kembali menuju kamarnya, ia pikir Elvano sudah bangun ternyata masih nyaman bergelung dengan selimut.

Selena menarik napas pelan. “El…” Selena menyingkap selimut itu. Elvano masih tidak memberikan respon.

Hingga—”Sayang, bangun.” Selena mendaratkan kecupan manis di pipi Elvano.

Elvano langsung tersenyum dan membuka matanya. “Kiss me, Sugar.” Elvano menunjuk bibirnya yang manyun.

Selena menggeleng kepala sambil tertawa.

Cup…

Selena mengecup bibir Elvano. “Sekarang bangjn, aku sudah buat sarapan pagi buat kamu.”

“Siap, istriku.”

“Aku tunggu di bawah.”

“Iya, sugar.”

Selena kembali ke lantai bawah, menunggu Elvano di ruang makan. Hingga beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar dari arah tangga.

Selena menoleh. Elvano turun dengan langkah santai, mengenakan kaus putih dan celana training hitam. Rambutnya masih sedikit berantakan, wajahnya belum sepenuhnya “CEO mode”.

Selena menatapnya sebentar. “Pagi sayang,” sapa Selena masih berdiri di depan meja, menuangkan minuman ke dalam gelas, rambutnya terikat seadanya, tanpa usaha terlihat sempurna.

Elvano menoleh. “Pagi istriku,” jawabnya singkat.

Elvano berjalan mendekat. Ia menarik kursi, lalu duduk tepat berhadapan dengan Selena.

“Kamu makan dulu,” ucapnya ringan sambil mendorong piring ke arahnya.

Elvano tidak langsung menjawab. Ia melihat isi piringnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil.

“Terima kasih,” katanya singkat.

Selena duduk di kursinya sendiri, menyandarkan punggungnya santai. Selena menatap Elvano sebentar, memastikan pria itu benar-benar makan. Dan ketika melihatnya mulai menyuap tanpa protes—ia tersenyum kecil.

“Mulai hari ini…” ucap Selena pelan.

Elvano mengangkat sedikit pandangannya.

“…aku bakal ambil alih lagi hidup kamu,” lanjut Selena.

Elvano berhenti sebentar. “Maksudnya?” tanyanya.

Selena mengangkat satu jari, seperti sedang menjelaskan sesuatu yang penting.

“Diet kamu, jam makan, jam tidur,” katanya. “Semuanya aku atur lagi.”

Ia menatap Elvano lurus. “Beberapa hari ini kacau gara-gara nikahan kita. Itu harus dibenerin lagi.” Nada suaranya tidak keras tapi jelas—ia serius.

Elvano menatapnya beberapa detik, kemudian mengambil satu suap lagi sebelum menjawab.

“Baik,” ucapnya singkat.

Selena mengedip.

“Baik?” ulangnya.

“Iya,” jawab Elvano tenang. “Kalau itu bagian dari terapi.”

Selena menyipitkan mata. “Hanya karena terapi?” godanya.

Elvano menatapnya. “Ada alasan lain?” tanyanya balik.

Selena tersenyum kecil. “Iya. Karena aku istri kamu,” jawabnya santai.

“Tentu, karena kamu istriku.”

Selena menunduk, menyembunyikan senyum kecilnya. Mereka kembali makan dalam suasana yang tenang.

***

1
irma hidayat
kepo menyiksamu max, lepas ihklas selena bahagianya bukan kamu
Li On
aq tunggu kak
Alana kalista
lanjutkan 🥰
Sri Murtini
Real Selena milik El jika kau cerdas Max ,jgn bloon
irma hidayat
jangan ngotot max, lakukan demi kebaikan selena juga
irma hidayat
dan yg jelas kamu mengusik milik orang lain max, siap hancur
Ambar
suka banget novel genre slow romance yang ga lebay begini
Sri Murtini
gaya cool meluncur tanpa naskah ,mmpukah selena menghindar/Heart//Heart/
Sri Murtini
Max buka mata dan telinga siapa dokter Selena sekarang. jgn sampai kariermu ambyar klu singa mengamuk 🫢🫢🫢
Li On
nunggu up lama banget kak🥺
Sri Murtini
Hati hati Max klu nggk mau hancur kariermu di zenitra dan jagat raya algojo kariermu ada dibelakang sana
Lina RA
semangat thor
Sri Murtini
cie cie merah tu pipi sang super star dpt asupan dr istri/Drool/
Sri Murtini
kak lanjut ya😄😄
Sri Murtini
hati " Elvano turunkan egomu jgn sampai tindakanmu membunuh karakter istrimu, biarkan dia bersinar di profesinya bgmnapun istrimu nggk akan menyaingimu dokter punya batasan mengendalikan diri krn sangat mencintaimu/Heart//Heart//Heart/
Sri Murtini: ingat dr selena istri pilihan oma
total 1 replies
Sri Murtini
semangat yg hangat
Sri Murtini
senangnys elvano ditungguin sang istri
Blu Lovfres
😘😘😘😘😘
Blu Lovfres
seruu jg si permainan sts private 😂😂😂😂
Blu Lovfres
y resiko, sts yg tersembunyi 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!