NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pendekar Naga

Reinkarnasi Pendekar Naga

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.

Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.

Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.

Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …

Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Lamaran?

Keheningan yang mencekam menyelimuti tepi danau. Lu Feng masih membeku, sementara Yue Chan menatapnya dengan tatapan yang mampu melunakkan baja paling keras sekalipun.

​Jian Yi, yang menyadari bahwa atmosfir di sekitarnya sudah berubah menjadi wilayah urusan hati yang berbahaya, perlahan-lahan mundur satu langkah.

Ia melirik Lu Feng yang berkeringat dingin, lalu melirik Yue Chan yang memancarkan aura Pendekar Agung Tahap Menengah—sebuah ranah yang jauh di atas mereka saat ini.

​"Ehem ... Sepertinya aku baru ingat kalau aku harus ... menghitung jumlah kerikil di puncak gunung," gumam Jian Yi tanpa perasaan.

​"Yi! Jangan tinggalkan aku!" bisik Lu Feng dengan nada panik.

​Namun, Jian Yi sudah melesat pergi dengan teknik Langkah Bayangan, menghilang di balik rimbunnya pohon sakura.

Dari jarak yang cukup aman di atas dahan pohon besar, Jian Yi duduk bersila, mengeluarkan sebungkus kuaci jarahan, dan menonton "pertunjukan gratis" itu dengan wajah tanpa dosa.

​Di tepi danau, Yue Chan masih menggenggam tangan Lu Feng. Belati kayu di tangannya bergetar hebat, bereaksi terhadap Qi asli milik Lu Feng yang tidak bisa disembunyikan lagi.

​"Tujuh belas tahun, Lu Feng," suara Yue Chan lembut namun penuh penekanan. "Tujuh belas tahun aku menunggumu di Akademi Cahaya Langit. Banyak pangeran dan murid sekte besar datang melamarku, namun aku menolak mereka semua. Kau tahu kenapa?"

​Lu Feng menelan ludah, berusaha melepaskan genggamannya dengan halus namun gagal total. "B-bibi ... sungguh, aku ini masih remaja puber. Mungkin ini hanya masalah hormon—"

​"Karena aku hanya mencintaimu, Lu Feng! Bodoh!" Yue Chan memotong perkataannya. Matanya yang indah kini berkaca-kaca. "Aku tidak peduli kau bereinkarnasi, berganti wajah, atau menjadi bocah ingusan sekalipun. Jiwamu tetaplah milikku."

​Tiba-tiba, Yue Chan berlutut di satu kaki di depan Lu Feng. Ia mengangkat belati kayu itu dengan kedua tangannya, seolah-olah itu adalah benda paling suci di dunia.

​"Lu Feng ... menikahlah denganku. Aku akan menjagamu sampai kau tumbuh dewasa kembali. Aku akan menjadi perisaimu, menjadi pedangmu, dan menjadi istrimu. Aku tidak akan membiarkanmu mati untuk kedua kalinya."

​Lu Feng hampir saja pingsan. Dilamar oleh seorang wanita secantik dewi dengan ranah Pendekar Agung seharusnya menjadi impian setiap pria, tapi tidak dalam kondisi ia baru saja berusia lima belas tahun dan sedang dalam misi menyelamatkan dunia.

​"T-tunggu dulu, Yue Chan! Dengar," Lu Feng mencoba memasang wajah seserius mungkin meski suaranya agak melengking. "Lihat aku! Aku ini masih kecil! Aku bahkan belum tumbuh kumis yang benar! Secara hukum dan moral ... ini ... ini skandal!"

​Lu Feng menunjuk tubuhnya sendiri yang masih ramping khas remaja. "Lagi pula, aku ini miskin! Aku baru saja kehilangan kuda dan bekalku karena terpeleset kerikil. Bagaimana aku bisa menghidupimu? Masa aku memberimu makan batu sungai?"

​Yue Chan berdiri, wajahnya mendekat ke wajah Lu Feng hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Aroma bunga persik dari tubuhnya membuat otak Lu Feng semakin kacau.

​"Masalah umur? Aku bisa menunggumu tiga atau lima tahun lagi. Masalah harta? Aku adalah Tetua Agung di Akademi Cahaya Langit, hartaku cukup untuk membelikanmu sepuluh gunung seperti ini," ucap Yue Chan dengan nada posesif yang kuat. "Dan soal 'masih kecil' ... bukankah kau sendiri yang bilang padaku dulu bahwa 'cinta tidak mengenal batas ranah dan waktu'?"

​Di kejauhan, Jian Yi yang sedang mengunyah kuaci hampir tersedak tertawa. "Mampus kau, Lu Feng! Senjata makan tuan!" gumamnya pelan sambil terus memperhatikan sahabatnya yang sedang dipojokkan oleh cinta masa lalunya.

​Lu Feng melirik ke arah dahan pohon tempat Jian Yi bersembunyi, matanya berteriak minta tolong. Namun, Jian Yi justru memberikan jempol dan isyarat "lanjutkan" dari jauh.

​"Yue Chan ... kumohon," Lu Feng mencoba beralasan lagi, keringat bercucuran di pelipisnya. "Aku punya urusan penting. Aku dan Jian Yi sedang mencari ... mencari sesuatu yang besar. Aku tidak bisa terikat sekarang."

​Yue Chan terdiam, matanya menatap tajam ke arah Lu Feng, lalu beralih ke arah persembunyian Jian Yi yang langsung membuat Jian Yi merinding. Aura Pendekar Agung-nya sedikit meluap, membuat suhu di sekitar danau turun beberapa derajat.

​"Jika itu masalahnya," Yue Chan tersenyum manis namun terlihat sangat berbahaya. "Maka aku akan ikut denganmu. Ke mana pun kau pergi, aku akan berada di sampingmu. Sebagai tunanganmu."

​Lu Feng lemas. Ia tahu, sekali wanita kaku ini mengambil keputusan, bahkan naga emas pun tidak akan bisa menghentikannya.

​Angin sore di tepi danau terasa semakin dingin, namun suasana di antara Lu Feng dan Yue Chan justru semakin panas.

Lu Feng menyadari bahwa menolak mentah-mentah seorang Pendekar Agung yang sedang dimabuk cinta adalah tindakan bunuh diri sosial (dan fisik).

Dari kejauhan, Jian Yi masih asyik menonton, sesekali menutup mulutnya agar tawa mengejeknya tidak pecah dan mengundang amarah Yue Chan.

​Lu Feng menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang—bukan karena cinta, tapi karena tekanan aura tingkat 7 yang menghimpitnya.

​"Yue Chan, dengar," Lu Feng memulai dengan nada bicara yang dibuat selembut mungkin. "Perjalanan kami ini penuh bahaya. Kami sedang berurusan dengan fragmen jiwa naga dan musuh-musuh kuno. Jika kau ikut, fokusku akan terbagi antara melindungimu dan menjalankan misi."

​Yue Chan menaikkan sebelah alisnya, senyum tipis meremehkan muncul di bibirnya. "Melindungiku? Lu Feng, aku berada di Ranah Pendekar Agung. Seharusnya aku yang melindungimu dan sahabatmu yang bersembunyi di pohon itu."

​Jian Yi tersentak di atas dahan, merasa tersindir namun tetap diam.

​"Bukan begitu!" seru Lu Feng panik. "Maksudku ... secara mental! Aku akan canggung jika tunanganku terus menatapku saat aku bertarung. Aku butuh ruang untuk tumbuh kembali menjadi pria yang pantas untukmu."

​Setelah perdebatan panjang yang melelahkan, Lu Feng akhirnya mengeluarkan kartu asnya. Ia menggigit jarinya hingga berdarah dan menggambar segel kuno di telapak tangannya.

"Aku bersumpah demi sirkulasi Qi-ku. Jika aku telah mencapai ranah yang setara dengannmu atau saat waktunya tepat, aku akan datang melamarmu secara resmi. Ini adalah Kontrak Janji Suci. Jika aku melanggar, biarkan kultivasiku hancur."

​Melihat kesungguhan (dan keputusasaan) di mata Lu Feng, Yue Chan akhirnya melunak.

Ia menyentuh telapak tangan Lu Feng, menyatukan darah mereka dalam sebuah ikatan kontrak yang bersinar keemasan sebelum menghilang ke dalam kulit.

​"Baiklah," ucap Yue Chan dengan nada posesif. "Aku akan menunggumu. Tapi untuk beberapa hari ini, aku akan tetap bersamamu di Sekte Daun Perak sampai kalian benar-benar berangkat."

​Saat mereka kembali ke markas sekte, suasana yang tadinya sibuk dengan urusan jarahan mendadak membeku.

Kedatangan Yue Chan menciptakan gelombang tekanan yang membuat para murid rendahan langsung berlutut tanpa sadar.

​Tetua Han berlari keluar dengan wajah pucat pasi, hampir terjatuh saat merasakan aura Pendekar Agung. "T-Tuan Muda ... siapa wanita dewi ini?"

​"Ini ... ehem ... ini adalah Yue Chan, Tetua Agung dari Akademi Cahaya Langit," jawab Lu Feng dengan wajah merah padam.

​Seluruh sekte gempar. Seorang Pendekar Agung dari akademi ternama menginjakkan kaki di sekte kecil mereka? Murid-murid wanita yang sebelumnya memuja Lu Feng kini hanya bisa menunduk malu, merasa diri mereka hanyalah butiran debu dibandingkan dengan kecemerlangan Yue Chan.

​Malam harinya di paviliun, Jian Yi tidak membiarkan Lu Feng tenang sedetik pun.

Saat Lu Feng sedang mencoba bermeditasi untuk menenangkan diri, Jian Yi berjalan mondar-mandir di depannya sambil memegang dagu.

​"Wah, wah ... Lu Feng sang penakluk bibi-bibi," goda Jian Yi dengan nada suara yang sengaja dikeraskan. "Hebat sekali kau, Lu Feng. Belum juga kumis tumbuh, sudah punya tunangan Pendekar Agung. Apa rasanya dilamar wanita yang usianya dua kali lipat darimu?"

​"Diam kau, Jian Yi! Ini semua gara-gara kau yang menyuruhku mengingat janji itu!" bentak Lu Feng sambil melemparkan bantal ke arah Jian Yi.

​Jian Yi menangkap bantal itu dengan santai. "Hei, aku hanya mengingatkan. Siapa sangka 'Gadis Kaku' itu berubah menjadi 'Dewi Posesif'. Kau harus hati-hati, Lu Feng. Kalau kau melirik wanita lain di jalan, aku yakin dia akan meratakan satu kota hanya untuk mencari matamu."

​Jian Yi kemudian duduk di samping Lu Feng, menyikut lengannya. "Tapi jujur saja, dia sangat cantik. Dan hartanya? Kau benar-benar mendapatkan 'Gunung Emas'. Bagaimana kalau nanti saat pernikahan, aku jadi pendamping pengantinmu?"

​"Dalam mimpimu!" Lu Feng mendengus, meski wajahnya masih memanas.

​"Ayo mengaku saja, kau sebenarnya senang kan? Tadi saat dia memegang tanganmu, detak jantungmu terdengar sampai ke dahan pohon tempatku duduk," lanjut Jian Yi sambil tertawa terbahak-bahak hingga terguling di lantai.

​Lu Feng hanya bisa mengerang frustrasi, menutupi wajahnya dengan tangan.

Ia tahu, perjalanan ke depan tidak akan hanya berat karena musuh, tapi juga karena godaan tiada henti dari Jian Yi dan bayang-bayang tunangannya yang super kuat.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 𝗗𝗔𝗡 𝗦𝗨𝗕𝗖𝗥𝗜𝗕𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁

1
Nanik S
Lanjut terus
Agen One
UP nya santai dulu ya🙏
Agen One
😅
Agen One
🍗
Agen One
🔥🙏
Agen One
🙏
Agen One
👍🙏
Agen One
🚹🙏
Agen One
🤭🙏
Agen One
🙏
Agen One
/Smile/
Agen One
🙏
Agen One
😅
Agen One
🔥🍗
Agen One
👍🍗
Agen One
🚹🍗
Agen One
🍗
Agen One
🤭/Smile/
Agen One
😅🙏
Agen One
🔥🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!