NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:726
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Nadia mengumpat dalam hati, ia tidak menyangka bahwa laki-laki arogan ini terus mengganggunya dengan segala cara dan sial, gubunya merespon semua perlakuan Arya dengan baik.

"Apakah kamu sedang mengumpat dalam hatimu?" Arya membalikkan tubuh Nadia dengan paksa, membuat mata mereka akhirnya saling bertatap. Pria itu mendekatkan wajahnya, bersiap menikmati bibir yang menjadi candunya.

Sebelum bibir itu kembali menyentuhnya, Nadia sudah lebih dulu berbalik, ia enggan menatap wajah laki-laki itu. Kebenciannya terhadap Arya semakin besar, membuatnya ingin segera mencari cara untuk melarikan diri dari masalah ini.

Tiba-tiba Arya tertawa, ia terlihat begitu puas saat menyadari Nadia tidak bisa berbuat apapun di bawah penguasaannya. "Apakah kamu sangat membenciku?" bisik Arya tepat di depan telinga istrinya.

Nadia enggan bersuara, ia tidak sudi untuk berbincang dengan laki-laki itu.

"Kenapa kamu hanya diam? Apakah kamu kehabisan tenaga hanya untuk sekedar berbicara? Atau aku belum bisa memuaskanmu?"

Nadia menghela napas kasar, dia merasa begitu hina setelah kesuciannya direnggut paksa oleh suaminya sendiri. Dan laki-laki itu malah membuat balikkan fakta, dia benar-benar laki-laki yang paling menjengkelkan yang pernah Nadia temui.

"Jujur saja, kita sudah resmi menjadi suami istri, tentu saja kita harus terbuka satu sama lain, ujarnya seraya menyingkirkan helai rambut yang menutupi punggung Nadia.

Pergerakan Arya terhenti tiba-tiba, dadanya sesak saat matanya menangkap noda memar menghitam di punggung Nadia. Jantungnya berdebar tak menentu, campuran antara rasa bersalah yang membara dan malu yang menggigit hati. Jemarinya yang hangat mulai meraba punggung Nadia dengan hati-hati, menyusuri luka itu yang seolah memanggil rasa sakit yang tersembunyi.

Nadia menahan geli ketika sentuhan Arya menusuk kulitnya yang bagaikan terbakar oleh dingin memar itu, bulu kuduknya berdiri tak terkira.

"Sakit...?" tanya Arya lirih, suaranya penuh keraguan, sementara kehangatan aneh merayapi tubuh mereka, membaur menjadi getaran yang tak bisa dijelaskan. Rasa perih dan lembut bersatu dalam keheningan yang tajam, membuat kedua hati bergetar dalam hening yang tak terucap.

Apa-apaan ini? Batin Nadia memberontak. Dia menikmati setiap sentuhan Arya, terlebih ketika laki-laki itu berbicara dengan nada lembut, seolah dia adalah laki-laki yang paling menyayangi Nadia.

Arya mengubah posisinya menjadi duduk, ia menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Suaranya menggema, memanggil asisten janh sedari tadi menunggu di luar pintu.

"Rio!!"

"Saya di sini, tuan," sahut laki-laki itu.

"Ambilkan obat atau salep untuk memar, sekarang!!"

Nadia terkejut, ia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Apakah ia tidak salah dengar? Arya meminta Rio untuk mengambil obat memar?

"Baik, tuan."

Detik berikutnya, terdengar derap langkah teratur yang semakin jauh. Tapi tunggu, sejak kapan Rio ada di balik pintu? Mungkinkah Dia mendengar semua ucapan kotor yang tuannya lontarkan? Apa mungkin Rio juga ada di sana saat dia menggedor pintu untuk meminta pertolongan? Kenapa dia tidak membukakan pintu untuknya? Bukankah dia bisa mendengar dengan jelas suara dari dalam, bahkan teriakannya saat itu lagi kelas dibandingkan suara Arya barusan.

Nadia meratapi keadaannya, ia tahu bahwa tidak ada satupun orang yang bisa menolongnya dari situasi ini. Orang-orang tidak akan berani melawan tuannya yang arogan pemaksaan seperti Arya.

Tak lama pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok Rio dengan tubuh tegapnya yang mulai mendekat ke arah ranjang di salah satu sisi ruangan.

Hati Rio mencelos, begitu menata buku polos Nadia yang terbaring di dekat tuannya. Ada banyak sekali bekas tanda merah di sana dan yang membuatnya iba adalah luka yang cukup besar di bawah bahu wanita itu. Jelas itu adalah hasil dari hantaman kaki Arya beberapa waktu yang lalu.

"Apa yang kamu lihat?!" suara Arya menghujam tajam, matanya menyorot penuh amarah. Tangannya sigap menarik selimut, menutup punggung Lisa seolah melindunginya dari dunia yang tiba-tiba menjadi dingin dan penuh keraguan.

Rio menundukkan kepala, bahunya merunduk dalam penyesalan yang membakar. "Maafkan saya," suaranya pecah, tapi tidak bisa menghapus bayang-bayang perasaan yang mengaduk-aduk dadanya.

"Apa kamu menyukai istriku?" kata Arya dengan bisikan sarkasme yang menusuk hati, seolah kata-katanya adalah pisau yang ingin mengiris kenyamanan terakhir yang tersisa.

Rio bungkam, meskipun kebenaran itu membakar jiwa. Sebagai lelaki yang normal, siapa yang bisa menolak pesona wanita yang telah menjadi milik tuannya itu? Paras Nadia, tak hanya menarik, tapi juga membawa naluri ingin melindungi yang tak tertahankan.

Tiba-tiba, vas bunga di atas nakas melayang di udara seolah dilontarkan oleh kemarahan Arya sendiri lalu menghantam dinding dengan pecahan tajam yang berserakan seperti amarah yang tak terkendali.

"Apakah kamu tidak sadar?!!" teriak Arya detik berikutnya. wajahnya merah padam menahan emosi.

"Maafkan saya, tuan."

"Pergi!" teriak Arya seraya mengambil benda paling yang ada dalam jangkauannya. Ia tidak menyangka Rio akan mengakui tuduhannya tentang Nadia. Laki-laki itu begitu jujur menginginkan istrinya.

Rio segera berlalu setelah meletakkan tabung kecil berisi jalan di memar yang tuannya minta. Dia cukup tahu diri, tidak ingin nyawanya hilang oleh tuannya.

Dibalik selimut tebal ada sepasang mata yang terbelalak, Nadia tidak menyangka akan ada saat dimana Arya murka pada asistennya sendiri.

Arya kemudian menyingkap selimut yang menutupi tubuh Nadia.

"Kamu mendengarnya?" Arya membalikkan tubuh Nadia, mereka bersikap cukup lama. Rahang Arya kembali mengeras menandakan bahwa ia kembali dikuasai amarah.

"Jawab! Apakah kamu mendengarnya?" Ulang laki-laki itu menuntut jawaban.

" Aku tidak tuli, tentu saja aku mendengarnya bapak Arya yang terhormat!" Ujar Nadia dengan ketus. Ia tidak segan menatap balik laki-laki yang ada di depannya. Keberanian yang terus dia pupuk sejak beberapa saat yang lalu akhirnya meledak. Dia tidak akan segan mempertahankan secuil harga dirinya yang tersisa sebagai seorang wanita. Bagaimanapun juga dia harus bisa bertahan di atas kakinya sendiri. Tidak akan ada yang bisa menolongnya untuk terlepas dari jarak dan pria dihadapannya selain dirinya sendiri.

"Kamu berani melawanku?" Ego pria itu bergejolak, mendapati perlawanan dari mulut Nadia.

"Ini mulutku, tentu saja aku bisa menggunakannya, termasuk mem..." Mata Nadia membola saat tiba-tiba bibirnya dibungkam secara paksa.

"Yang harus kamu ingat, tubuhmu hanya milikku. Tidak ada satu orang pun yang bisa memilikinya selain aku. Mbak ganti aku sudah tidak menginginkanmu lagi, aku tidak akan pernah membiarkan orang lain menyentuhmu!" Perkataan laki-laki itu begitu menusuk, membuat Nadia terluka lagi. Harga dirinya kembali diinjak-injak oleh laki-laki bajingan ini.

Jangan tanyakan apa yang akan terjadi berikutnya. Arya kembali mengambil haknya sebagai suami. Kemarahan yang datang menahan ketulusan yang sebelumnya ia tunjukkan. Ia lupa diri, menuruti keinginan hasratnya yang kembali.

Nadia hanya bisa memejamkan mata, tak ada lagi tenaga yang tersisa. Tapi satu yang pasti, dia mulai memahami pria ini, tapi ada yang pemarah dan mudah terpancing emosi membuat Nadia bungkam. Tak akan ada gunanya dia melawan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!