Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Hari-hari berikutnya di kantor berjalan dengan ritme yang mekanis. Aku menjalankan peranku sebagai rekan kerja yang sempurna: efisien, tepat waktu, dan yang paling penting, tidak menyentuh ranah pribadi sedikit pun.
Namun, di sudut mataku, aku menyadari sesuatu. Baskara mulai tidak nyaman.
Saat di pantry, ia sengaja berlama-lama menyeduh kopi ketika aku masuk. Saat aku hanya mengangguk sopan dan fokus mengisi botol minumku tanpa berkata apa-apa, ia tampak gusar. Bunyi sendok yang beradu dengan cangkirnya terdengar lebih nyaring dari biasanya.
"Aruna," panggilnya suatu sore ketika kami hanya berdua di koridor menuju lift.
Aku berhenti, menoleh dengan wajah datar. "Ya, Pak Baskara? Ada berkas yang kurang?"
Baskara mendengus, langkahnya mendekat, dan aku bisa melihat gurat frustrasi di dahinya. "Berhenti memanggilku seperti itu. Dan berhenti bersikap seolah aku ini orang asing yang baru kamu kenal kemarin sore."
Aku menaikkan sebelah alisku, tetap tenang. "Bukankah itu yang kamu minta di rooftop tempo hari? Profesional?"
"Profesional bukan berarti menjadi robot, Aruna!" suaranya meninggi satu oktaf. "Dua tahun aku mengenalmu sebagai orang yang impulsif, cuek, dan selalu melakukan apa pun sesukamu. Sekarang, melihatmu yang seperti ini... ini aneh. Apa ini strategi baru supaya aku merasa bersalah?"
Aku menatapnya lurus. Benar dugaanku. Selama dua tahun kami bersama, dia terbiasa dengan aku yang dominan dan semena-mena. Kini, ketenanganku justru menjadi ancaman bagi kenyamanannya. Dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Aruna yang tidak lagi "membutuhkan" emosinya—baik itu cinta maupun kemarahan.
"Maaf kalau sikap tenangku mengganggumu, Bas, tapi aku rasa kamu tidak begitu mengenaliku " ucapku pelan, kali ini tanpa embel-embel 'Pak'. "Tapi dulu aku menyakitimu karena aku terlalu sibuk dengan egoku. Sekarang, aku hanya mencoba memberimu ruang yang bersih. Kamu sudah punya Rasya. Bukankah lebih mudah bagi kalian jika aku menjadi 'robot' seperti ini?"
Baskara terdiam, rahangnya mengeras. Ia tampak ingin membalas, tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan. Tepat saat itu, pintu lift terbuka.
"Aku pulang duluan. Selamat sore," pamitku.
Aku masuk ke dalam lift dan membiarkan pintu tertutup, memutus kontak mata dengannya. Dari celah pintu yang menyempit, aku melihat Baskara masih berdiri mematung di sana. Dia tampak bingung, mungkin karena dia baru menyadari bahwa Aruna yang sekarang benar-benar tidak bisa lagi ia tebak.
Gema itu masih ada di sana, tapi kali ini, aku tidak lagi berteriak menutupinya. Aku membiarkan keheningan yang bicara, sementara Baskara justru mulai tercekik oleh ketenangan yang kubuat.
Aku tidak langsung pulang ke apartemen. Kakiku butuh berpijak di tempat yang tidak berbau kertas laporan atau parfum maskulin Baskara. Kafe mungil di sudut Kebayoran menjadi pelarianku sore itu. Aroma biji kopi yang dipanggang setidaknya bisa sedikit mengusir sesak yang menggelayut sejak kejadian di depan lift tadi.
"Dua tahun pacaran, tapi dia bilang aku 'aneh' cuma karena aku bersikap sopan?" Aku mengaduk es kopi susuku tanpa minat, menatap Danesha yang baru saja melepas kacamata hitamnya.
Danesha terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. "Ya jelas aneh bagi dia, Run. Bayangkan, selama dua tahun dia kenal kamu sebagai badai. Kamu yang suka meledak, kamu yang dingin kalau lagi bosan, kamu yang nggak pernah peduli. Sekarang? Kamu jadi air yang tenang. Dia nggak punya pegangan lagi untuk memprediksi langkahmu."
"Tapi bukannya itu bagus?" balasku, dahi berkerut. "Dia sudah punya Rasya. Harusnya dia lega karena aku nggak lagi jadi pengganggu atau drama dalam hidupnya."
"Masalahnya, Run..." Danesha memajukan tubuhnya, menatapku serius. "Laki-laki itu kadang lebih mudah menghadapi kemarahan daripada keheningan. Keheninganmu itu bikin dia bertanya-tanya: apa kamu sudah benar-benar lupa, atau kamu sedang menghukumnya dengan cara yang paling halus?"
Aku terdiam. Menyesap kopi yang mulai mencair hambar. "Aku nggak menghukum siapa pun, Dan. Aku cuma capek jadi orang brengsek. Aku cuma mau dia bahagia tanpa harus merasa terancam setiap kali melihat wajahku."
"Tapi dia malah tercekik, kan?" Danesha tersenyum tipis. "Kamu tahu apa yang lucu? Dulu, dia yang mengejar-ngejar perhatianmu meski kamu cuekin. Sekarang, saat kamu benar-benar 'melepasnya' secara profesional, dia malah bingung karena dia kehilangan 'peran' sebagai orang yang tersakiti. Kamu mencabut haknya untuk marah padamu."
Gema kata-kata Danesha membuatku merenung. Ternyata, menjadi orang baik pun bisa menjadi senjata yang mematikan jika dilakukan di waktu yang terlambat.
"Jangan terlalu dipikirkan," Danesha menepuk punggung tanganku. "Tujuanmu cuma satu: selesaikan proyek, lalu menjauh. Kalau dia merasa nggak nyaman dengan ketenanganmu, itu masalah dia dengan masa lalunya sendiri, bukan masalahmu lagi."
Aku mengangguk pelan. Aku hanya ingin pulang, menutup mata, dan berharap gema di kantor besok tidak lagi sepusing hari ini. Namun, saat aku merogoh tas untuk mengambil kunci mobil, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang sangat aku hafal.
Baskara: "Besok datang lebih pagi. Ada revisi dari Rasya yang perlu kita diskusikan bertiga sebelum rapat besar."
Aku menatap layar itu lama. Bertiga. Aku, Baskara, dan rumah barunya. Sepertinya, ketenanganku besok akan benar-benar diuji sampai ke titik nadir.