NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Kapten

Terjerat Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa Mereka?

Damar terus berjalan cepat, menarik tangan Kirana agar tetap mengikutinya. Langkah mereka terseret di antara akar-akar pohon dan semak liar, napas Kirana semakin berat, tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat.

“Kita harus terus bergerak,” ucap Damar tegas tanpa menoleh. “Kalau kita berhenti, mereka akan menemukan kita.”

Kirana tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Aku nggak sanggup lagi,” suaranya bergetar, Damar ikut berhenti, menoleh ke arah Kirana dengan wajah serius.

Kirana menjatuhkan diri berjongkok, lalu menutup wajahnya.

“Aku capek, aku nggak kuat lagi jalan,” isak Kirana pecah, Damar menarik napas panjang, mencoba menahan emosi.

“Kirana, dengarkan saya,” katanya lebih pelan, tapi tetap tegas.

“Kalau kita mau tetap hidup, kita harus terus bergerak.”

Kirana menggeleng keras masih terisak.

“Nggak! Aku mau tunggu di sini aja, pasti akan ada bantuan," Air mata Kirana kini jatuh dia merasa sudah tak sanggup lagi berjalan.

"Atau kita kembali ke desa saja…”

“Itu terlalu jauh,” potong Damar cepat. “Terlalu berisiko, mereka bisa saja sudah menyisir ke sana.”

“Aku nggak peduli!” Kirana berteriak sambil menangis.

“Aku benar-benar nggak kuat! Kakiku sakit, aku nggak bisa,”Hening sejenak Damar menatapnya lama lalu dengan nada dingin dia berkata,

“Baiklah kalau begitu, silakan tinggal di sini.”

Kirana langsung mengangkat wajahnya kaget, Damar berbalik tanpa ragu.

“Saya akan lanjut sendiri.”

“Damar!” teriak Kirana panik namun Damar tetap beranjak.

Ketakutan langsung menyergap Kirana, dia bangkit terburu-buru lalu berlari mengejar.

“Hey! Tunggu!” teriaknya, dengan susah payah Kirana berhasil menyusul, lalu memukul bahu Damar beberapa kali.

“Kamu jahat banget! Ninggalin aku?!”

Damar berhenti mendadak, membuat Kirana hampir menabraknya.

“Ini bukan saatnya untuk drama,” katanya dingin, menatap Kirana tajam. “Kalau kamu mau hidup, berhenti mengeluh.”

Kirana terdiam, tangisannya semakin menjadi-jadi.

“Dunia di luar sana tidak peduli kamu lelah atau tidak,” lanjut Damar. “Musuh kita juga tidak akan menunggu kamu siap.”

Kirana menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis.

“Sekarang pilih,” kata Damar lagi. “Mau hidup atau mau menunggu mati di sini?”

Beberapa detik berlalu akhirnya Kirana mengangguk pelan.

“Aku ikut,”

Damar tidak menjawab dia hanya berbalik menatap Kirana sejenak, Damar tau Kirana kelelahan tapi dia terpaksa harus memaksanya demi keselamatannya.

Mereka kembali berjalan Kali ini Kirana mengikuti Damar meski dengan langkah yang masih goyah. Mereka berjalan menyusuri hutan, mengikuti aliran sungai kecil sebagai penunjuk arah, waktu terasa berjalan lambat.

Matahari mulai condong, dan tubuh Kirana semakin melemah, napasnya memburu pandangannya mulai kabur hingga akhirnya.

BRUK!

“Kirana!” Damar langsung berbalik.

Damar menangkap tubuh Kirana sebelum benar-benar jatuh ke tanah, wajah perempuan itu pucat, bibirnya kering.Damar segera membaringkannya di bawah pohon besar.

“Kirana dengar saya,” ucapnya sambil menepuk pelan pipinya. Kirana membuka mata setengah, nyaris tak fokus.

“…air…” Damar mengangguk cepat mencoba menenangkan Kirana.

“Tunggu di sini, saya akan ambilkan air.” Kata Damar, Kirana tak menjawab hanya mampu mengangguk lemah.

Damar berdiri, menatap sekeliling memastikan semuanya aman, lalu berlari kecil menuju arah sungai.

Beberapa menit berlalu.suasana hutan kembali sunyi dan tiba-tiba dua pria asing muncul dari balik semak mereka langsung berhenti saat melihat tubuh Kirana yang terbaring.

“Target ditemukan,” kata salah satu dari mereka sambil mengangkat radio komunikasi, suara dari radio terdengar samar.

“Langsung eksekusi.” Pria itu menoleh pada rekannya, rekannya mengangguk singkat.

Tanpa ragu, dia mengangkat senjatanya, mengarahkannya ke kepala Kirana, namun.

DOR!

Suara tembakan tiba-tiba pecah dari arah belakang, salah satu pria itu langsung ambruk, pria kedua terkejut, menoleh namun terlambat.

DOR!

Peluru menembus kepalanya dia terjatuh tanpa suara. Radio di tangannya terlepas, masih menyala.

“Target sudah dieksekusi?” suara di radio bertanya.

Damar mendekat wajahnya dingin dia mengambil radio itu.

“Sudah,” jawabnya singkat, menahan napas agar terdengar stabil.

“Kenapa ada dua tembakan?” pertanyaan itu sempat membuat Damar tersentak lalu Damar berpikir cepat.

“Dia bersama seorang prajurit.” Hening sejenak.

“Misi selesai, Kembali ke markas, tinggalkan mayat di sana.”

“Baik, laksanakan.” Damar langsung mematikan radio.

Dia berjongkok sejenak, memastikan kedua pria itu benar-benar tak bernyawa.

Tanpa banyak buang waktu, dia mulai menggeledah mereka mengambil pakaian, perlengkapan, dan apa pun yang bisa digunakan namun dia sedikit merasa curiga orang-orang ini bukan penjahat tapi seorang prajurit seperti dirinya.

Damar kembali ke Kirana, dia segera membuka botol air dan memberikannya perlahan.

“Kirana, minum.”

Kirana meneguk sedikit demi sedikit rona wajahnya perlahan kembali, Damar meletakan dua potong pakaian di samping Kirana.

“Ganti.”

Kirana menatapnya, jijik. “Aku nggak mau pakai baju, bekas mereka."

“Kalau kamu hipotermia, kamu yang jadi mayat,” jawab Damar tegas.

Damar sendiri sudah mulai mengganti pakaiannya dengan cepat Kirana memalingkan wajah, sedikit risih.

“Cepat,” kata Damar sambil membelakanginya. “Kita tidak punya banyak waktu.”

Dengan terpaksa, Kirana mengganti pakaiannya, Tangannya masih gemetar, tapi kali ini dia tidak mengeluh.

Beberapa menit kemudian Kirana selesai menggati pakaiannya.

“Sudah,” ucapnya pelan Damar berbalik, lalu mengangguk.

“Kita harus bergerak lagi, dan ada kabar baik.” ungkap Damar, Kirana menatapnya lelah.

“Apa?”

“Mereka punya kendaraan.” Kata Damar kali ini dia tersenyum mata Kirana sedikit berbinar.

“Serius?”

Damar mengangguk. “Kalau kita cepat, kita bisa keluar dari hutan ini.”

Kirana mencoba berdiri kakinya masih lemah, tapi kali ini dia memaksakan diri untuk tetap berjalan tanpa mengeluh.

Tak butuh waktu lama, Damar menemukan motor yang berada tak jauh dari tempat itu.

Namun saat melihatnya, Damar tertegun motor itu berlogo Brimob Damar menyipitkan mata.

“Kenapa mereka pakai kendaraan ini…?”

Namun dia tidak punya waktu untuk berpikir panjang.

“Kita bahas nanti,” gumamnya, Damar segera naik ke motor.

“Cepat, naik.” Kiran langsung naik ke jok belakangnya.

Pegangannya sempat ragu lalu akhirnya Kirana memeluk pinggang Damar erat.

“Pegangan,” kata Damar. “Jangan sampai jatuh.”

Mesin motor dinyalakan, dan tanpa menoleh ke belakang mereka melaju meninggalkan hutan itu, membawa lebih banyak pertanyaan dari pada jawaban.

1
sitanggang
mcnya ternyata goblok🤦🤦
Rosie: Baca J.R.R Tolkien aja cocok buat anda jangan novel online.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!